LOGIN“Makan yang banyak, Pran. Anggap saja rumah sendiri,” ujar Fadil akrab, sembari menyuap nasi dengan lahap. “Gimana? Sudah nyaman di atas?”
Meja makan malam itu terasa seperti panggung sandiwara yang menyesakkan bagi Shanum. Aroma harum nasi hangat kalah oleh aura dominasi Fadil dan intensitas tatapan Prana yang duduk tepat di seberangnya. Prana tersenyum tipis, sebuah senyum yang tidak sampai ke mata. “Sangat nyaman, Fadil. Terima kasih sudah mengijinkanku tinggal disini” Sesekali mata Prana mengikuti setiap gerakan Shanum yang tengah meletakkan piring atau menuangkan air. “Jangan sungkan, kita ini kan kawan lama,” Fadil menepuk meja dengan keras, suaranya menggelegar bangga. “Anggap seperti di rumah sendiri.” Ia kemudian beralih ke topik yang sejak tadi ingin ia pamerkan. “Oh ya, pesananmu dari Jerman buat klinik barumu itu sudah tiba di gudangku tadi sore. Sekarang dalam perjalanan dikirim ke klinik barumu.” Sebagai pengusaha importir Alat Kesehatan, Fadil memang memiliki jaringan yang luas dengan para dokter, termasuk Prana. Kedekatan mereka berawal dari urusan bisnis, dari pemesanan alat-alat bedah hingga pameran alkes di luar negeri. Mata Prana berkilat. “Cepat juga ya.” “Siapa dulu importirnya,” Fadil terkekeh pongah, dadanya membusung. “Nah, mumpung alatnya canggih dan ada ahlinya di sini, aku mau minta tolong secara pribadi sama kamu, Pran.” “Apa itu?” Gerakan sendok Shanum terhenti di udara. Jantungnya berdegup kencang. Ia tahu ke mana arah pembicaraan ini, dan itu membuatnya merasa mual karena malu. “Tolong periksa istriku ini. Pakai alat-alat terbaru itu,” lanjut Fadil tanpa beban. “Aku curiga dia ini mandul. Bayangkan, lima tahun, Pran! Rahimnya mungkin bermasalah.” Wajah Shanum seketika memanas. Rasa malu yang luar biasa kini bercampur dengan penghinaan yang menembus tulang. Fadil menuduhnya mandul pada pria yang tujuh tahun lalu memujanya penuh cinta. Kini ia merasa seperti barang rusak yang sedang dipertontonkan. “Mas, sebaiknya nanti aja bahas itunya?” sela Shanum lirih, mencoba menyelamatkan sisa-sisa harga dirinya yang hancur. “Masa alat baru datang dari Jerman langsung disuruh dipakai buat meriksa aku. Kita kan bukan pasien special.” “Ngapain nunggu nanti? Prana ada di sini. Alatnya ada. Aku mau pemeriksaan ini dipercepat,” jawab Fadil acuh tanpa menoleh pada istrinya. “Aku dan keluargaku udah nggak sabar pengen punya pewaris, Shanum. Kalau kamu bermasalah, kita harus tahu secepatnya biar bisa 'diperbaiki'.” “Tapi Mas—” “Jangan banyak bantah. Ini buat kepentingan kamu sendiri juga!” potong Fadil tak menerima bantahan. Nadanya tersirat akan ada “hukuman” jika Shanum berani bersuara lagi. “Prana ini dokter terbaik, kamu harusnya bersyukur bisa diperiksa sama dia tanpa perlu antre berbulan-bulan.” Shanum terdiam, jemarinya meremas serbet di bawah meja hingga buku-buku jarinya memutih dan kuku-kukunya menusuk telapak tangan. Ia tak berani mendongak, namun ia bisa merasakan panasnya tatapan Prana yang terpakunya. Prana sendiri sedari tadi hanya menyimak dengan ketenangan yang luar biasa. Ia mengamati bagaimana Fadil memperlakukan Shanum bukan sebagai pendamping hidup, melainkan sebagai aset yang gagal berfungsi. Prana menyesap tehnya perlahan, matanya yang tajam seakan-akan sedang menelanjangi ketidakberdayaan Shanum. “Gimana, Pran? Bisa kan? Sebagai teman, aku minta tolong cari tahu kenapa dia nggak hamil-hamil,” desak Fadil. Lagi-lagi tak menerima penolakan. Prana meletakkan cangkirnya dengan tenang. “Tentu, Fadil. Sebagai dokter, aku bisa memeriksanya. Kalau begitu istrimu bisa diperiksa lusa, setelah alat-alatnya di install di klinik. Kita akan cari tahu di mana letak ‘masalahnya’.” Kalimat Prana terdengar profesional di telinga Fadil. Berbeda dengan Shanum, setiap kata seakan-akan menelanjanginya. Shanum merapatkan kedua pahanya di bawah meja. Ia membayangkan lusa mantan kekasihnya ini akan memiliki akses legal untuk menyentuh tubuhnya. “Bagus kalau begitu,” Fadil tertawa puas, tidak menyadari ketegangan yang hampir meledak di antara istri dan temannya. “Makan yang banyak, Pran! Jangan sungkan.” Shanum tetap menunduk dalam, mencoba menyembunyikan wajahnya yang merah padam. Di bawah meja, dalam keadaan gugup, ia tak sengaja menyenggol kaki Prana. Shanum hendak menarik kakinya dengan cepat, namun Prana justru menahan kaki Shanum dengan kakinya sendiri. Prana tidak menjauh, ia justru memberikan tekanan halus yang disengaja, sebuah sentuhan kulit ke kulit yang membuat napas Shanum tersendat dan area bawahnya terasa berkedut hebat. “Lusa kamu bisa datang ke klinik. Kita bisa memulai pemeriksaannya.” “Bagus kalau begitu. Lebih cepat lebih baik.” Fadil tertawa senang sambil menoleh pada istrinya. “Kamu dengar kan? Lusa kamu bisa langsung program kehamilan,” ujar Fadil. Nadanya terdengar menyalahkan Shanum karena belum memiliki momongan. Shanum menatap Prana dengan mata yang berkaca-kaca karena panik. Kedua mata mereka terkunci sejenak. Ada kilat gelap di matanya yang sulit di artikan. Sementara di bawah meja, kaki Prana terus mengunci kaki Shanum, memberikan sensasi panas yang menjalar ke seluruh tubuh Shanum. Sebuah tindakan provokatif yang sangat kontras dengan ekspresi wajahnya yang tetap tenang dan berwibawa di depan Fadil. “Iya Mas, dengar,” jawab Shanum akhirnya.“Nikah?” ulang Shanum lirih. Matanya berkedip beberapa kali, seperti berusaha memastikan dirinya benar-benar sudah bangun. “Mas... aku gak salah dengar?”“Enggak,” ulang Prana, kali ini dengan artikulasi jauh lebih jelas dan tegas. “Begitu putusan banding dari Pengadilan Tinggi keluar, kita menikah. Aku gak mau nunggu lebih lama lagi.”“Mas, kamu gila?” Shanum langsung bangkit duduk. “Sidang banding aja belum dimulai! Status hukumku masih menggantung. Di luar masih membicarakan kita. Kalau kita menikah sekarang, itu sama saja membenarkan kalau kita berhubungan sebelum aku bercerai.”“Biar saja mereka menuduh apa pun,” sahut Prana, tak bergeming dari posisinya. “Toh... memang kenyataannya aku mau kamu jauh sebelum kejadian ini.”“Mas...” Suara Shanum terdengar sedikit ketakutan dan panik.“Kalau kita menikah, aku punya hak hukum penuh untuk melindungimu. Siapa pun gak akan punya celah lagi buat mengganggumu. Kita pindah dari sini.”Shanum menggeleng-gelengkan kepala, merasa dunia di se
Shanum tersentak bangun. Napasnya memburu, dada naik turun cepat seperti baru saja berlari sangat jauh. Keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya. Refleks, kedua tangannya meraba wajah, leher, lalu turun ke perutnya sendiri—memastikan semua bagian tubuhnya masih utuh.Beberapa detik ia hanya terpaku, berusaha membedakan mana mimpi dan mana kenyataan. Di pinggangnya melingkar lengan Prana yang tertidur di belakangnya, memeluknya dari samping dengan napas pelan dan teratur.Ia memejamkan mata sebentar, mengingat rentetan kejadian kemarin—kedatangan Kartika, video yang diambil Mega, hingga pesan Tiara yang mengabarkan semuanya sudah tersebar luas.“Astaga...” gumamnya lirih dengan tubuh menegang, sadar apa yang terjadi sebelumnya bukan mimpi.Shanum memegang punggung tangan Prana yang menempel di perutnya, mengangkat lengan itu perlahan agar tak mengejutkan sang dokter. Kakinya bergeser menuju tepi ranjang. Namun begitu telapak kakinya menyentuh lantai marmer yang dingin, dekapan di pin
Prana tak bergerak sedikit pun. Dibiarkannya Shanum menangis dalam pelukannya selama yang wanita itu butuhkan. Tangis yang semula pecah keras perlahan berubah menjadi isakan kecil.“Maaf... maafkan aku,” bisik Prana.Napas Shanum yang tadi memburu mulai tenang, meski sesekali masih tersendat. Jari-jarinya tetap mencengkeram erat kemeja Prana. Entah sudah berapa lama mereka berada dalam posisi itu, hingga akhirnya tubuh Shanum perlahan melemas.Kepalanya bersandar di dada Prana, kedua matanya terpejam kelelahan. Bahkan setelah tertidur, alisnya masih berkerut. Sesekali bibir pucat itu bergerak pelan.“Jangan...”Prana langsung menunduk, mendekatkan telinganya ke mulut Shanum.“...jangan pukul aku...”Kalimat lirih itu nyaris tak terdengar. Tapi cukup membuat dada Prana seperti diremas sesuatu yang tak kasatmata. Tangannya yang semula mengusap punggung Shanum berhenti sesaat.“Ada aku, sayang... gak ada yang bisa mukul kamu lagi,” bisik Prana.Pelan-pelan diangkatnya tubuh Shanum, dibar
Ponsel di atas pangkuan Shanum terus berkedip. Nama Prana muncul di layar tanpa jeda, bergantian dengan rentetan notifikasi media sosial yang menyembul dari bagian atas bar gawai tersebut.Mas Prana Calling...Shanum melewatkan panggilan itu. Pikirannya tersedot pada notif media sosialnya yang terus bertambah setiap detik. Jempolnya bergerak pelan, membuka unggahan video yang kini memenuhi beranda.Sesaat ia hanya menatap gambar diam di layar. Jemarinya ragu menyentuh kolom komentar. Tapi rasa penasaran akhirnya mengalahkan ketakutannya. Begitu kolom itu terbuka, ribuan komentar langsung memenuhi layar.Komentar teratas berbunyi, “Gini nih kalau rumah tangga pakai duit haram.”Shanum menelan ludah, ia membaca komentar yang lainnya. “Suami istri sama aja. Dua-duanya tukang selingkuh.”“Suami lagi di penjara malah istrinya tinggal serumah sama dokter bedah. Mungkin enak kali ya bisa main bedah-bedahan.”“Jangan gampang percaya perempuan nangis.”Setiap komentar baru terasa seperti seseo
“Kenapa gak ada yang menghubungiku?” tanyanya menatap aplikasi pesan berwarna hijau. “Tiara juga gak pernah datang lagi.”Shanum menatap nama adik kandungnya itu di daftar kontak. Pertemuan terakhir mereka terjadi sebulan lalu, tepat sebelum ia keluar dari rumah sakit. Saat itu, Shanum sendiri yang melarang Tiara datang menemaninya, takut Fadil akan mengendus keberadaannya lewat sang adik. Tapi menghilang tanpa satu pesan pun selama berminggu-minggu jelas bukan tabiat Tiara yang biasanya cerewet dan mudah cemas.Ibu jarinya menyentuh ikon gagang telepon pada nama sang ayah, Bobby. Ponsel ditempelkan ke telinga. Bukan nada sambung yang terdengar, melainkan suara operator yang menyatakan nomor tersebut di luar jangkauan.Shanum memutus sambungan, beralih menekan nomor ibunya, Ani. Hasilnya sama. Kali ini operator menyebutkan nomor yang dituju tak aktif.Cemas mulai bercampur penasaran. Shanum mencoba menghubungi Tiara. Panggilan langsung terputus dengan bunyi sibuk yang pendek.“Kenapa
“Kamu gak apa-apa kan?” tanya Kalid, suaranya melunak, tak lagi sedingin saat menghadapi Kartika dan anak-anaknya tadi. “Ada yang terluka?”Kedua lutut Shanum langsung kehilangan tenaga. Ia nyaris jatuh jika tak cepat bersandar pada dinding. Wajahnya mendongak pelan, menangkap kedua mata Kalid yang begitu khawatir.Belum sempat ia menjawab, tiga petugas keamanan berseragam lengkap tiba di depan unit mereka dengan napas terengah-engah.Komandan sekuriti yang memimpin di depan mendekat, bertanya dengan nada siaga, “Selamat sore, dokter. Mana orang yang harus kami amankan?”Raut wajah Kalid seketika berubah santai, seakan ketegangan beberapa menit lalu tak pernah terjadi. Ia melirik ke arah lorong lift barang tempat Kartika, Putri, dan Mega melarikan diri, menatap sang komandan dengan senyum tipis.“Itu, orang-orang yang berpapasan sama Bapak pas keluar dari lift tadi,” jawab Kalid santai sambil menunjuk arah lorong. “Mereka baru lari pakai lift barang. Tolong pastikan mereka keluar dari
Begitu mendapat telepon dari Hendra bahwa Fadil sudah ditangkap, Prana langsung menyusul ke kantor polisi tepat setelah menyelesaikan praktik sorenya di klinik. Matanya mengedar liar, menatap setiap ruangan bersekat mencari sosok yang ingin sekali ia hajar habis-habisan.“Mana bajingan itu?!” tanya
“BUGH!!!”Sebuah pukulan mentah langsung mendarat telak di pipi kanan Fadil, membuat tubuhnya terhuyung ke belakang hingga jatuh di lantai kamar. Rasa panas dan linu seketika menjalar di rahangnya.Pelakunya adalah adik keduanya, Gandi. Pria itu berdiri dengan napas memburu, wajahnya merah padam me
“Apa yang kamu lakukan sama Shanum tadi keterlaluan, Fadil!” bentak Kartika, begitu dampai di kediamannya. Telunjuknya menunjuk tepat di depan wajah putranya.“Udahlah, Ma. Kepalaku pusing ini.” Fadil duduk di sofa ruang tengah, sambil memijat kepalanya.“Selama ini Mama masih membiarkan kalau kamu
“Mau apa Pak Tua ini menelepon?” gumam Prana, memandang layar nama dokter Bobby—ayah Shanum—terpampang di layar dengan penuh kebencian.Sebelum menerima panggilan, ia lebih dulu memastikan masker oksigen Shanum terpasang dengan benar. Tatapannya berpindah ke monitor di samping ranjang. Denyut jantu







