INICIAR SESIÓN“Kenapa kamu yang datang?” tanya Kaisar balik, tawa lirihnya terdengar seperti sedang menangkap basah Kaira.
“A-aku diminta—” “Jadi kamu pekerjanya Madam Rose?” Kedua mata Kaira membulat, “Madam Rose siapa, Mas? Aku datang soalnya—” “Duduklah dulu,” pinta Kaisar, dagunya sekilas mengarah ke sofa. Pria itu melakukan hal yang sama, sejenak berkutat dengan ponselnya sebelum meletakkan gawai miliknya ke atas meja, mendorongnya pada Kaira. “Madam Rose bilang kalau kamu emang anak buahnya.” Kaira menunduk, menatap layar ponsel Kaisar di mana di sana ada percakapan dengan nomor yang tidak disimpannya, yang mengkonfirmasi foto Kaira yang baru saja diambil Kaisar diam-diam. [Benar, Tuan. Dia wanita yang akan menemani Tuan malam ini. Selamat bersenang-senang.] Membaca itu, Kaira tahu bahwa Madam Rose adalah seorang penyedia jasa wanita malam, dan kemungkinan Zia telah memberikan identitasnya pada wanita itu. Mereka bekerja sama menjebak Kaira untuk ke kamar ini, tanpa tahu si pemesan adalah Kaisar. “Aku nggak kenal siapa orang itu, Mas,” kata Kaira, tak dapat menyembunyikan kepanikannya karena saat ini Kaisar pasti menganggapnya sebagai perempuan panggilan. Dadanya sesak, ia meremas jemarinya saat bergumam, “Apa Zia sengaja melakukan ini?” Ia menoleh pada Kaisar, berusaha meyakinkannya karena jika kesalahpahaman ini mencoreng nama baiknya, Kaira akan tamat. Kaira tahu orang seperti apa Kaisar. Pria berhati dingin yang sepanjang ia lihat di kantor tegas dan tak kenal kompromi. “Aku ke sini karena Zia minta buat ambil baju kliennya yang mau direvisi.” Kaisar menggeleng, pria itu menuangkan wine ke dalam gelas berkaki yang ada di atas meja. “Nggak mungkin, Kaira,” jawabnya. “Aku pemilik kamar ini.” “Tapi aku beneran bukan perempuan panggilan, Mas.” Salah satu alis Kaisar terangkat naik, pria itu meneguk wine perlahan, lirikannya seperti sedang menelaah kejujuran Kaira. Keheningan yang terjadi di antara mereka luruh saat Kaira memberanikan diri bertanya, “Kenapa … Mas Kaisar memesan perempuan?” “Ini pertama kali aku melakukannya.” “Tapi kenapa?” Kaisar menghela dalam napasnya, menggoyang gelas wine di tangannya penuh pertimbangan. “Davina nggak mau berhubungan denganku,” akunya. Kalimat itu membuat ingatan Kaira tertarik ke belakang, pada pertengkaran yang tak sengaja didengarnya saat itu, perihal Davina yang meminta Kaisar agar mencari wanita manapun yang ia inginkan. Jadi, seperti itu alasannya? Padahal rumah tangga mereka terlihat baik-baik saja. “K-kenapa Mbak Davina nggak mau, Mas?” “Davina nggak punya ketertarikan dengan hubungan seperti itu, dia aseksual.” Jawaban itu membuat kedua mata Kaira seketika terbeliak. “Jadi … Mas Kaisar memutuskan buat ketemu wanita lain?” “Mau gimana lagi?” balas Kaisar dengan tenang. “Aku butuh keturunan buat memastikan aku layak jadi pewaris Maha Group, dan minta sekretarisku buat mengatur, dia memintaku nunggu di sini, tanpa tahu kalau kamu yang bakal datang.” “Aku ke sini karena beneran disuruh Zia setelah dia bilang mau bujuk Mama buat balikin fasilitas Ibu yang dihentikan,” lirih Kaira. “Aku nggak nyangka kalau dia menjebakku dengan cara kotor begini.” Kaira menunduk dalam, hancur karena menyadari betapa murahnya harga dirinya di mata keluarga suaminya sendiri. Kaisar tak begitu saja membalasnya, pria itu menarik selembar tisu dari depannya dan menyerahkannya pada Kaira. “Menangis nggak akan mengubah fakta kalau ibumu sedang butuh bantuan sekarang.” Kaira mengusap air matanya, memalingkan sedikit wajahnya dari Kaisar. “Saya minta maaf karena udah ganggu Mas Kaisar,” balas Kaira. “Saya permisi.” Belum sempat Kaira beranjak, suara bariton Kaisar mencegahnya. “Lalu setelah keluar dari sini kamu mau apa?” tanyanya. “Pulang dan berlutut di kaki Mahesa? Atau mengemis ke ibu mertuamu?” Rahang kecil Kaira terasa nyeri, karena jujur saja … ia tidak memiliki jawabannya. “Jadi apa yang harus saya lakukan?” Kaisar meletakkan gelas winenya ke atas meja, menatap Kaira dengan maniknya yang segelap palung laut. “Aku tahu ini gila, tapi mungkin ini akan menyelesaikan masalah kita.” “Maksud … Mas Kaisar?” “Kamu butuh uang saat ini juga, aku bisa kasih itu ke kamu. Tapi, apa kamu juga mau melakukan sesuatu untukku?” “Apa itu, Mas?” Rahang tegas Kaisar mengetat, “Mengandung anakku.” Jawaban itu seketika menghantam tengkuk Kaira. Bibirnya bergerak tanpa suara, tubuhnya membeku. ‘Apa dia bilang?’ “Aku nggak memaksamu, Kaira. Tapi kalau kamu mau, aku pastikan kamu nggak akan kehilangan ibumu secara sia-sia. Malam ini juga, operasinya akan dilakukan.” Drrt …. Getar dan dering ponsel Kaira terdengar dari atas meja. Layarnya menyala, bertubi-tubi pesan dari suster yang merawat ibunya terpampang di sana, mengatakan Ibu harus segera dioperasi, Ibu baru saja sesaat kehilangan detak jantungnya, Ibu harus segera ditindak. Karena Kaira tak kunjung menjawab, Kaisar bangun dari duduknya dan menjauh. Sebelum pria itu berubah pikiran, Kaira menyusulnya, meraih kemeja di pinggang Kaisar, menghentikannya. Kaira tahu ini gila. Namun ia tidak punya pilihan lain, ibunya harus diselamatkan. “Akan aku lakukan, Mas,” kata Kaira dengan yakin. Kaisar menoleh, menatap Kaira yang berusaha meyakinkannya. “Aku akan mengandung anaknya Mas Kaisar, tapi tolong Ibu dulu,” kata Kaira. Suaranya terdengar parau, begitu putus asa. Kaisar tak menjawab, pria itu menunduk, memandang ponselnya, mengirim pesan entah pada siapa dan sesaat kemudian mengatakan, “Sudah. Ibumu akan dioperasi secepatnya.” Ada kelegaan yang besar memenuhi dada Kaira saat mendengar itu. Sesak yang memburunya kemudian raib. Namun, ini bukan akhir dari segalanya. Kesepakatannya dengan Kaisar baru saja dimulai. Pria itu menghadapkan tubuhnya, mendekat dan mengikis jarak di antara mereka. Kaira menengadahkan wajah, di depan Kaisar ia hanya berdiri setinggi dadanya. Kaisar menyentuh dagu Kaira dan di bibir bagian bawahnya sebelum berbisik, “Kamu nggak boleh mundur, kita nggak bisa berhenti sekarang.” Kaira memejamkan matanya, mengangguk dan menatap kembali pria itu. Usapan Kaisar terasa sangat sensual dan membuat jantung Kaira berdegup kencang. Kecupan ringan yang dijatuhkan pria itu di bibirnya berubah menjadi lumatan yang menuntut, meminta Kaira membuka mulut sehingga lidah mereka saling menemukan dan berkelindan. Begitu ahli pria ini menciumnya, ia menggigit dan memainkan tempo yang membuat Kaira pasrah. Tak ia sangka, pria yang dikenalnya berhati dingin ini menyentuhnya dengan hangat. Napasnya terengah saat Kaisar menarik wajahnya, memberi jeda di kala Kaira merasa sekeliling bibirnya kesemutan. “Ah—!” Kaira tidak siap, tubuhnya meremang saat Kaisar mengangkatnya, berpindah dari dekat sofa presidential suite ke arah ranjang besar yang ada di sana. Tubuh Kaira dijatuhkannya dengan perlahan, dikunci di antara kedua lutut Kaisar. Pria itu menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Kaira, menguraikan kancing blouse miliknya dan menariknya turun. Bahu mulus Kaira terlihat, begitu pun dengan keindahan di bawah tulang selangkanya. Senyum Kaisar penuh godaan saat pria itu terus terpaku di sana sehingga Kaira harus memanggilnya. “M-Mas Kaisar?” Kaisar menatap matanya sejenak sebelum kembali menunduk, mendekatkan wajahnya dan menjulurkan lidah, menyentuh puncak merah muda di dada Kaira. “Kita mulai dari sini, Kaira ….”“Kenapa kamu yang datang?” tanya Kaisar balik, tawa lirihnya terdengar seperti sedang menangkap basah Kaira.“A-aku diminta—”“Jadi kamu pekerjanya Madam Rose?”Kedua mata Kaira membulat, “Madam Rose siapa, Mas? Aku datang soalnya—”“Duduklah dulu,” pinta Kaisar, dagunya sekilas mengarah ke sofa. Pria itu melakukan hal yang sama, sejenak berkutat dengan ponselnya sebelum meletakkan gawai miliknya ke atas meja, mendorongnya pada Kaira.“Madam Rose bilang kalau kamu emang anak buahnya.”Kaira menunduk, menatap layar ponsel Kaisar di mana di sana ada percakapan dengan nomor yang tidak disimpannya, yang mengkonfirmasi foto Kaira yang baru saja diambil Kaisar diam-diam.[Benar, Tuan. Dia wanita yang akan menemani Tuan malam ini. Selamat bersenang-senang.]Membaca itu, Kaira tahu bahwa Madam Rose adalah seorang penyedia jasa wanita malam, dan kemungkinan Zia telah memberikan identitasnya pada wanita itu. Mereka bekerja sama menjebak Kaira untuk ke kamar ini, tanpa tahu si pemesan adalah Kai
“Akh—!” Kaira menjerit kecil saat Sasmita menguraikan kakinya yang semula tertumpuk. Gerakan mendadak itu mengenai bahu Kaira sehingga ia kehilangan keseimbangan dan bersimpuh di lantai. Kaira meremas jemarinya, meski air matanya menggantung oleh hinaan itu, ia bersikeras menunggu jawaban ibu mertuanya. “Akan aku pikirkan,” kata Sasmita akhirnya. “Sekarang keluarlah, aku mau tidur.” Kaira bangun, meski tak mendapat kejelasan, bukankah ia tidak bisa menuntut? Ia menundukkan kepalanya, berterima kasih. “Terima kasih, Ma.” Pandangannya sejenak tertuju pada ayah mertua yang ada di sudut sana, beliau tak menoleh, seolah tidak mau tahu. Kaira kembali ke kamar, hatinya remuk saat ia meraih tasnya dan berpamitan ke rumah sakit pada Mahesa yang tidak memberi tanggapan. Sesampainya di sana, sang Ibu sedang terbaring di ICU dengan banyak alat penopang kehidupan. Kaira tergugu dalam tangis di depan jendela besar itu, ‘Apa yang harus Kaira lakukan, Bu?’ Seandainya ada kesempatan yang dapa
‘Di mana aku?’ tanya Kaira saat membuka mata dan menjumpai langit-langit yang asing mengapung di atasnya, kepalanya sedikit pusing saat ia memaksa dirinya untuk bangun. Ini adalah sebuah kamar hotel yang mewah. Menelaah sejenak ke belakang, Kaira ingat ia tadi pingsan dan menimpa Kaisar. Pria itu ada di sana, duduk di sofa yang ada di seberang ranjang, menatap Kaira dengan sepasang iris gelapnya. “M-maaf, Mas,” katanya seraya menelan rasa malu. “Terima kasih udah nolongin.” “Istirahatlah dulu, dan pulang denganku setelah ini.” Kaira menggeleng, “Aku harus balik ke kantor, ada kerjaan yang harus aku selesaikan.” Ia turun dari ranjang, mengenakan kembali sepatunya. “Aku udah minta staf lain buat handle kerjaanmu hari ini.” Kalimat itu membuat tangan Kaira yang sedang menggapai tas dari atas meja mendadak kebas. “Kerjaan apa yang kamu bicarakan, Kaira? Punya Mahesa?” Kaira menoleh pada Kaisar yang bersandar dengan tenang di tempatnya duduk. “Mas Kaisar tolong nggak usah ikut
Sekalipun tidak ada yang bicara, Kaira bisa merasakan seluruh pasang mata yang ada di sana menatapnya dengan penuh kebencian. Ia beranjak dengan kaku, melepas celemek dan menyimpannya di pangkuan. Suara kursi di samping Kaira berderak, Mahesa menyelesaikan makannya dan pergi dari sana tanpa menoleh. “Mulai hari ini jangan ribut lagi di depan makanan,” kata Kaisar tanpa ada yang menjawabnya. Sasmita tampak bergegas bangun dari duduknya padahal makanan di piringnya masih utuh. Disusul yang lain dan menyisakan Kaira serta Kaisar saja. Kaira bergerak tidak nyaman, merasa sungkan karena semua orang tak jadi makan sebab ada dirinya. Ia urung menyuap, diliriknya Kaisar yang tak terbebani dengan segala hal yang terjadi di sekitarnya. “Makanlah,” ucap pria itu, sepertinya sadar Kaira sedang mencuri pandang padanya. “I-iya.” “Kamu bukan pembantu, Kaira. Udah ada orang yang dibayar buat melakukan semua tugas itu. Jadi kamu nggak perlu sekeras itu ke dirimu sendiri.” Kaisar meraih gelas
Meski pertemuan semalam membuat Kaira merasa malu sebab Kaisar tahu bagaimana ia diperlakukan di rumah itu, tapi mereka bersikap profesional saat ada di kantor. Di dalam ruang kerja Kaisar, Kaira kembali mewakili Mahesa menghadapnya. Kali ini untuk menyerahkan laporan analisis hambatan penjualan produk. Setelah mendengar semua yang disampaikannya, Kaisar tertawa lirih. “Laporannya nggak bertele-tele kayak yang terakhir dibuat Mahesa di depanku. Ini kamu yang bikin, Kaira?” tanya Kaisar, membalik beberapa lembar laporan yang seketika membuat suara Kaira tercekat. “B-bukan, Pak.” “Kamu pikir aku nggak bisa nilai atau bedain setiap orang yang kerja denganku?” “Saya cuma bantu Pak Mahesa mengumpulkan datanya.” “Berusaha melindunginya karena dia suamimu?” Kaira menggigit bibirnya, memilih diam daripada salah berucap. Ia lalu menerima satu map lain dari Kaisar yang kembali berujar, “Ibumu kelihatan lebih baik, sakitnya udah sembuh?” Kaira mendengus, tak dapat membendung rasa kesal
Dengan tangan yang kebas, Kaira menerima kertas itu. Ia menegakkan tubuhnya dan terbata mengucap, “T-terima kasih.” Kaisar berlalu seolah tak melihat apapun, diikuti oleh seorang pemuda yang merupakan sekretarisnya. Kaira menghela dalam napasnya, bergegas ke meja kerjanya untuk mengambil beberapa berkas dan pergi ke ruang pertemuan. Ia menggantikan Mahesa untuk melakukan presentasi dan menyerahkan laporan. Semua berjalan lancar hingga orang-orang membubarkan diri, menyisakan dirinya yang merapikan file dan Kaisar di kursi kepala. “Prosedur steril tadi … punyamu?” Suara Kaisar memecah kebisuan yang terjadi di antara mereka. Kaira tidak langsung menjawab, sudut matanya mengarah pada Kaisar yang duduk menumpuk kaki, menunggunya. “I-iya, Pak,” jawabnya. “Mahesa yang nyuruh?” Diam yang diberikan Kaira sepertinya adalah jawaban yang cukup bagi Kaisar. “Keputusan bersama?” tanya pria itu lagi. Kaira mengangkat wajah, menatap Kaisar yang biasanya tidak peduli pada urusan bawahan, a







