LOGINYa, kali ini pasti mereka akan melakukannya di dalam kamar hotel. Aluna sudah tidak perawan lagi. Jadi, jika Aluna melakukannya dengan pria itu kali ini, tentu tidak akan terlihat perbedaannya sama sekali. Pikiran kotor Bara melangkah semakin jauh dan liar. Jangan-jangan, Aluna juga akan menghisap jemari Elrumi dengan sensual, persis seperti apa yang wanita itu lakukan pada jemarinya di atas ranjang tadi malam. Ruangan kantor itu mendadak hening untuk beberapa saat... Bara memejamkan matanya erat-erat, ia mendadak teringat kembali bagaimana rasanya. Ingat dengan teramat jelas bagaimana bibir lembut Aluna menyentuh kulit jarinya, dan ingat bagaimana lidah hangat Aluna bergerak perlahan menelusuri telunjuknya. Bara bahkan mengingat dengan sangat detail bagaimana nikmatnya saat bibir lembut itu melingkupi miliknya sepenuhnya sembari mengeluarkan suara desisan pasrah. Rasanya begitu hangat, kenyal, dan ketika Aluna mulai menghisapnya dengan kuat, kenikmatan yang dihantarkan benar-b
"Kau tidak pergi kerja?" tanya Bara dengan dahi berkerut halus sembari menarik kursi kayu mahoni di meja makan. Pria itu sudah bersiap untuk sarapan, akan tetapi ia mendadak heran melihat Aluna masih mengenakan pakaian santai rumah, sama sekali belum bersiap dengan pakaian rapi untuk pergi ke butik seperti biasanya."Aku izin libur hari ini," jawab Aluna tenang, sembari meletakkan secangkir kopi hitam yang mengepulkan aroma khas di hadapan sang suami."Ada acara?" tanya Bara heran, menghentikan gerakan tangannya yang hendak meraih sendok.Aluna tidak menjelaskan panjang lebar, ia hanya menganggukkan kepalanya sekali sebagai jawaban. Menatap respons singkat dari istrinya, Bara seketika menyunggingkan senyum sinis."Dengan Elrumi?" tebak Bara langsung, nadanya terdengar tajam sebelum ia mendadak menyibukkan diri secara sepihak dengan sepiring sarapan di depannya, berpura-pura acuh tak acuh."Itu..." Aluna sempat menjeda kalimatnya, terdengar ada keraguan yang terselip dari nada su
Mata Aluna membelalak sempurna dalam kegelapan kamar saat untaian kalimat perintah itu lolos dari bibir Bara. Ia buru-buru menggelengkan kepalanya dengan kuat sebagai tanda penolakan. Sebagai wanita yang masih sangat awam dengan aktivitas intim sejauh itu, membayangkan permintaan gila Bara saja sudah sukses membuat perutnya mual karena rasa syok. Aluna semakin dirayapi kepanikan saat menyadari tubuh kekar Bara mulai merangkak naik, mengungkungnya demi memaksakan kehendak."A-aku tidak bisa, Bar...""Karena selama satu bulan ini aku hanya boleh melakukan ini denganmu, jadi kau harus melakukan ini untukku!" potong Bara cepat, suaranya memberat penuh tuntutan ego yang egois."Bar, tapi aku....""Sebentar saja, Aluna!" potong Bara lagi, memangkas kalimat istrinya tanpa ampun. "Kecuali jika kau ternyata suka dan ingin bermain lebih lama lagi," kekeh Bara rendah, sebuah tawa nakal yang terdengar begitu menyebalkan di telinga Aluna.Aluna kembali menggelengkan kepalanya dengan cepat se
Suasana di dalam kamar sudah dalam keadaan gelap gulita saat Aluna melangkah masuk dengan perlahan. Siluet tubuh tegap Bara tampak sudah meringkuk di atas ranjang. Aluna merangkak naik dengan gerakan pelan agar tidak mengusik sang suami, lalu berbaring telentang sembari menatap langit-langit kamar yang terlihat samar terpapar sisa cahaya lampu koridor luar.Mama Kay baru saja menutup panggilan telepon dengannya beberapa menit lalu. Jujur, Aluna tidak tahu harus merasa senang atau sedih mendengar suara mama angkatnya yang terdengar begitu bahagia menceritakan kedatangan Bara malam tadi."Bar, kau sudah tidur?" tanya Aluna lirih, memecah keheningan malam."Sudah," jawab Bara pendek, suaranya terdengar jernih tanpa serak khas orang mengantuk.Aluna seketika tersenyum tipis, rasa geli menyergap dadanya. Mana ada orang tidur yang masih bisa menyahut dengan ketus sewaktu ditanyai. Aluna memiringkan tubuhnya, menopang kepala dengan satu tangan sembari menghadap ke arah suaminya. Seolah
Aluna sudah kembali sibuk dengan piringnya sendiri saat tiba-tiba ia merasakan tepukan pelan di bahunya. Wanita itu menoleh, mendapati Bara tengah menyodorkan potongan terong balado lainnya dengan tatapan yang sulit diartikan. Tanpa banyak bicara, Aluna kembali memegangi pergelangan tangan kokoh Bara dan melahap makanan itu langsung dari jemarinya demi menjaga situasi di depan Mama Kay.Damn! umpat Bara dalam hati. Sentuhan basah dari bibir Aluna di ujung jarinya seketika mengirimkan desatan listrik yang menyengat. Sialan, pria itu mendadak menginginkan bibir ranum itu memuaskan hasratnya malam ini juga.Selesai makan, acara perkenalan yang riuh masih terus berlanjut di ruang tengah. Namun, Bara bahkan tidak peduli lagi dengan nama anak-anak panti. Ia tidak bisa berkonsentrasi karena benaknya terus memutar ulang bagaimana lembutnya bibir Aluna menyentuh kulit jarinya, memberikan sensasi panas hingga miliknya yang berada di bawah sana ikut bereaksi menuntut pelepasan.Beruntung, se
Mobil pun telah sampai di panti dan Bara bertambah geli saat ponselnya kembali bergetar di genggaman. Pria itu keluar dari dalam mobil, melangkah santai melintasi halaman semen yang sederhana sembari menjawab panggilan dari Aluna. "Aku sudah di depan," jawabnya dengan nada santai, sengaja mengulur intonasi suaranya untuk memancing reaksi sang istri. "Hah? Okay, tunggu sebentar. Aku pamit dulu dengan Mama dan juga adik-adik." Bara tidak berniat menjawab lagi karena langkahnya kini telah sampai di depan pintu utama bangunan panti. Dengan senyum geli yang kian mengembang di sudut bibir, ia mengabaikan kepanikan Aluna di seberang sana dan langsung menekan bel rumah dengan percaya diri. "Bar, kau..." Suara Aluna terdengar sangat cemas, memutus kalimatnya sendiri seolah pasokan oksigen di sekitarnya mendadak habis. "Aku?" tanya Bara balik, menantang keheningan. Tidak ada jawaban dari Aluna melalui sambungan telepon. Namun, hanya butuh beberapa detik bagi Bara untuk mendengar der
Di dalam bangsal kelas tiga yang pengap, udara terasa sesak oleh aroma disinfektan dan keputusasaan. Yudi terbaring dengan wajah yang masih memar, ungu kebiruan dengan gips yang menahan rahangnya agar tetap pada tempatnya. Di sisi ranjang, sang ibu duduk gelisah, jemarinya terus memilin ujung kain
Setelah pintu kaca depan tertutup rapat, Aluna membalikkan badannya dengan tenang. Ia menyapu pandangan ke arah para karyawan yang masih berdiri mematung di antara deretan manekin dan gantungan pakaian, dengan wajah tegang sembari berbisik-bisik cemas di sudut-sudut butik. Riuh spekulasi yang sem
Aluna mengembalikan ponsel milik Maya dengan gerakan yang teramat pelan, seolah gawai itu adalah bom waktu yang siap meledak kapan saja. Ditatapnya sang asisten yang masih sesenggukan di atas lantai dengan tatapan yang melembut, menyembunyikan badai kepanikan yang sebenarnya ikut bergemuruh di d
Bau obat-obatan yang menyengat beradu dengan aroma lembap di bangsal kelas tiga rumah sakit umum daerah tempat Yudi dilarikan. Di bawah pendar lampu neon yang berkedip redup, Yudi terbaring dengan kondisi yang mengenaskan. Wajahnya nyaris tidak lagi dikenali. Diperban putih di bagian hidung yang







