Share

RIB35. Bara Pe-aakk

Author: Cheezyweeze
last update publish date: 2026-05-28 14:59:11
Bara menarik napas kasar sebelum akhirnya menjalankan mobilnya lagi. Dalam perjalanan Bara terus berpikir akan pergi ke mana untuk makan siang. Dan sudah diputuskan oleh Bara, akhirnya Bara pergi ke cafe milik sepupunya. Bara akui memang ia tidak terlalu akrab dengannya.

Tambora Cafe, siang itu cukup ramai karena memang waktunya jam makan siang. Bara berjalan sebentar mencari meja kosong dan juga sepupunya. Akhirnya Bara mendapatkan juga meja yang belum berpenghuni, tapi langkah kakinya terhen
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Satu Syarat di Atas Ranjang   RIB103. Memanfaatkan Aluna

    Ya, kali ini pasti mereka akan melakukannya di dalam kamar hotel. Aluna sudah tidak perawan lagi. Jadi, jika Aluna melakukannya dengan pria itu kali ini, tentu tidak akan terlihat perbedaannya sama sekali. ​ Pikiran kotor Bara melangkah semakin jauh dan liar. Jangan-jangan, Aluna juga akan menghisap jemari Elrumi dengan sensual, persis seperti apa yang wanita itu lakukan pada jemarinya di atas ranjang tadi malam. Ruangan kantor itu mendadak hening untuk beberapa saat... ​Bara memejamkan matanya erat-erat, ia mendadak teringat kembali bagaimana rasanya. Ingat dengan teramat jelas bagaimana bibir lembut Aluna menyentuh kulit jarinya, dan ingat bagaimana lidah hangat Aluna bergerak perlahan menelusuri telunjuknya. Bara bahkan mengingat dengan sangat detail bagaimana nikmatnya saat bibir lembut itu melingkupi miliknya sepenuhnya sembari mengeluarkan suara desisan pasrah. Rasanya begitu hangat, kenyal, dan ketika Aluna mulai menghisapnya dengan kuat, kenikmatan yang dihantarkan benar-b

  • Satu Syarat di Atas Ranjang   RIB102. Hanya Makan Siang Saja

    ​"Kau tidak pergi kerja?" tanya Bara dengan dahi berkerut halus sembari menarik kursi kayu mahoni di meja makan. Pria itu sudah bersiap untuk sarapan, akan tetapi ia mendadak heran melihat Aluna masih mengenakan pakaian santai rumah, sama sekali belum bersiap dengan pakaian rapi untuk pergi ke butik seperti biasanya.​"Aku izin libur hari ini," jawab Aluna tenang, sembari meletakkan secangkir kopi hitam yang mengepulkan aroma khas di hadapan sang suami.​"Ada acara?" tanya Bara heran, menghentikan gerakan tangannya yang hendak meraih sendok.​Aluna tidak menjelaskan panjang lebar, ia hanya menganggukkan kepalanya sekali sebagai jawaban. Menatap respons singkat dari istrinya, Bara seketika menyunggingkan senyum sinis.​"Dengan Elrumi?" tebak Bara langsung, nadanya terdengar tajam sebelum ia mendadak menyibukkan diri secara sepihak dengan sepiring sarapan di depannya, berpura-pura acuh tak acuh.​"Itu..." Aluna sempat menjeda kalimatnya, terdengar ada keraguan yang terselip dari nada su

  • Satu Syarat di Atas Ranjang   RIB101. Aku Tahu, Kau Menyukainya

    ​Mata Aluna membelalak sempurna dalam kegelapan kamar saat untaian kalimat perintah itu lolos dari bibir Bara. Ia buru-buru menggelengkan kepalanya dengan kuat sebagai tanda penolakan. Sebagai wanita yang masih sangat awam dengan aktivitas intim sejauh itu, membayangkan permintaan gila Bara saja sudah sukses membuat perutnya mual karena rasa syok. Aluna semakin dirayapi kepanikan saat menyadari tubuh kekar Bara mulai merangkak naik, mengungkungnya demi memaksakan kehendak.​"A-aku tidak bisa, Bar..."​"Karena selama satu bulan ini aku hanya boleh melakukan ini denganmu, jadi kau harus melakukan ini untukku!" potong Bara cepat, suaranya memberat penuh tuntutan ego yang egois.​"Bar, tapi aku...."​"Sebentar saja, Aluna!" potong Bara lagi, memangkas kalimat istrinya tanpa ampun. "Kecuali jika kau ternyata suka dan ingin bermain lebih lama lagi," kekeh Bara rendah, sebuah tawa nakal yang terdengar begitu menyebalkan di telinga Aluna.​Aluna kembali menggelengkan kepalanya dengan cepat se

  • Satu Syarat di Atas Ranjang   RIB100. Gantian Hisap Ini

    ​Suasana di dalam kamar sudah dalam keadaan gelap gulita saat Aluna melangkah masuk dengan perlahan. Siluet tubuh tegap Bara tampak sudah meringkuk di atas ranjang. Aluna merangkak naik dengan gerakan pelan agar tidak mengusik sang suami, lalu berbaring telentang sembari menatap langit-langit kamar yang terlihat samar terpapar sisa cahaya lampu koridor luar.​Mama Kay baru saja menutup panggilan telepon dengannya beberapa menit lalu. Jujur, Aluna tidak tahu harus merasa senang atau sedih mendengar suara mama angkatnya yang terdengar begitu bahagia menceritakan kedatangan Bara malam tadi.​"Bar, kau sudah tidur?" tanya Aluna lirih, memecah keheningan malam.​"Sudah," jawab Bara pendek, suaranya terdengar jernih tanpa serak khas orang mengantuk.​Aluna seketika tersenyum tipis, rasa geli menyergap dadanya. Mana ada orang tidur yang masih bisa menyahut dengan ketus sewaktu ditanyai. Aluna memiringkan tubuhnya, menopang kepala dengan satu tangan sembari menghadap ke arah suaminya. Seolah

  • Satu Syarat di Atas Ranjang   RIB99. Otak Mesum Bara

    ​Aluna sudah kembali sibuk dengan piringnya sendiri saat tiba-tiba ia merasakan tepukan pelan di bahunya. Wanita itu menoleh, mendapati Bara tengah menyodorkan potongan terong balado lainnya dengan tatapan yang sulit diartikan. Tanpa banyak bicara, Aluna kembali memegangi pergelangan tangan kokoh Bara dan melahap makanan itu langsung dari jemarinya demi menjaga situasi di depan Mama Kay.​Damn! umpat Bara dalam hati. Sentuhan basah dari bibir Aluna di ujung jarinya seketika mengirimkan desatan listrik yang menyengat. Sialan, pria itu mendadak menginginkan bibir ranum itu memuaskan hasratnya malam ini juga.​Selesai makan, acara perkenalan yang riuh masih terus berlanjut di ruang tengah. Namun, Bara bahkan tidak peduli lagi dengan nama anak-anak panti. Ia tidak bisa berkonsentrasi karena benaknya terus memutar ulang bagaimana lembutnya bibir Aluna menyentuh kulit jarinya, memberikan sensasi panas hingga miliknya yang berada di bawah sana ikut bereaksi menuntut pelepasan.​Beruntung, se

  • Satu Syarat di Atas Ranjang   RIB98. Gara-Gara Terong Balado

    Mobil pun telah sampai di panti dan Bara bertambah geli saat ponselnya kembali bergetar di genggaman. Pria itu keluar dari dalam mobil, melangkah santai melintasi halaman semen yang sederhana sembari menjawab panggilan dari Aluna. ​"Aku sudah di depan," jawabnya dengan nada santai, sengaja mengulur intonasi suaranya untuk memancing reaksi sang istri. ​"Hah? Okay, tunggu sebentar. Aku pamit dulu dengan Mama dan juga adik-adik." ​Bara tidak berniat menjawab lagi karena langkahnya kini telah sampai di depan pintu utama bangunan panti. Dengan senyum geli yang kian mengembang di sudut bibir, ia mengabaikan kepanikan Aluna di seberang sana dan langsung menekan bel rumah dengan percaya diri. ​"Bar, kau..." Suara Aluna terdengar sangat cemas, memutus kalimatnya sendiri seolah pasokan oksigen di sekitarnya mendadak habis. ​"Aku?" tanya Bara balik, menantang keheningan. ​Tidak ada jawaban dari Aluna melalui sambungan telepon. Namun, hanya butuh beberapa detik bagi Bara untuk mendengar der

  • Satu Syarat di Atas Ranjang   RIB24. 🔥🔥Api Asmara di Lounge Hotel

    Jemari lentik Vio menekan ujung kartu plastik berlogo hotel mewah itu. Sinar lampu lounge yang temaram memantul di permukaan kartu, menciptakan kilatan tipis yang seolah mempertegas tawaran terselubung di antara mereka. Bara menahan napas, menanti dengan sisa logikanya yang kian menipis, bersiap un

  • Satu Syarat di Atas Ranjang   RIB20. Pelarian Baru yang Menyenangkan

    Radit memejamkan mata rapat-rapat. Jauh di lubuk hatinya, ada rahasia yang terkunci rapat yang tidak mungkin ia bagi dengan Amara. Kenyataan bahwa Aluna dan Bara sudah menikah pun, hal itu masih saja menghidupkan ambisi gila ibunya, tetapi juga menyentil ego dan sudut terjauh di hati Radit yang sel

  • Satu Syarat di Atas Ranjang   RIB18. Mas Radit Masih Cinta Aluna?

    "Amara... Amara!!" teriak Bu Citra dengan lantang saat memasuki mansion dengan tiga lantai itu. Teriakan itu terdengar begitu sangat memekatkan telinga.Amara yang sedang berada di kamar dengan suaminya saling pandang saat mendengar sang mama berteriak kencang."Itu mama kenapa, Mar? Manggil-manggi

  • Satu Syarat di Atas Ranjang   RIB16. Sindiran Halus yang Mematikan

    Bu Citra melangkah masuk ke ruang VIP dengan senyum yang sulit diartikan. Tipe senyum basa-basi khas sosialita yang biasanya menyembunyikan rasa ingin tahu yang teramat besar. Begitu pintu kaca tertutup rapat, wanita paruh baya itu langsung mendudukkan diri di sofa beludru tanpa menunggu dipersilaka

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status