Home / Romansa / Satu Syarat di Atas Ranjang / RIB61. Ancaman Mengerikan

Share

RIB61. Ancaman Mengerikan

Author: Cheezyweeze
last update publish date: 2026-06-09 15:15:29

​Yudi melangkah mendekat dengan napas yang memburu kasar, tatapan matanya kosong laksana orang yang telah kehilangan akal sehat. Di bawah temaramnya langit sore yang kian meredup di area ruko tua itu, ia tidak lagi terlihat seperti pria yang pernah Maya cintai. Pria di hadapannya saat ini adalah seorang kriminal yang terdesak.

​"Yud, tolong jangan begini. Biarkan aku pergi," jerit Maya, suaranya bergetar hebat saat ia mencoba menyalakan kembali mesin motornya dengan tangan yang gemet
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Satu Syarat di Atas Ranjang   RIB104. Curahan Hati Aluna

    Aluna berdiri membisu di depan sebuah batu nisan yang tampak bersih. Tangan rampingnya terulur perlahan, mengusap permukaan batu yang terasa dingin itu dengan lembut. Beberapa menit yang lalu, ia baru saja selesai mencabuti rumput liar yang sempat meninggi di sekitar pusara. Ada rasa bersalah yang menyelusup di dadanya; sudah beberapa bulan ini ia absen datang karena terlalu sibuk dengan dunianya sendiri.​"Bu, maaf ya jika aku lama tidak datang untuk menjenguk Ibu," bisik Aluna. Ia mengulas senyum tipis, namun sedetik kemudian senyum itu berubah getir.​Suasana makam mendadak hening. Hanya terdengar cicit burung liar di kejauhan serta embusan angin yang menerpa wajahnya, menerbangkan beberapa anak rambut Aluna yang lolos dari jepitan rambutnya. Walaupun tumbuh besar di panti asuhan setelah sang ibu tiada, Aluna beruntung karena ia masih sempat mengenal dan merekam jelas kehangatan serta kenangan dari ibu kandungnya.Walaupun ia tumbuh di panti, namun ia masih mengenal ibunya. Bertemu

  • Satu Syarat di Atas Ranjang   RIB103. Memanfaatkan Aluna

    Ya, kali ini pasti mereka akan melakukannya di dalam kamar hotel. Aluna sudah tidak perawan lagi. Jadi, jika Aluna melakukannya dengan pria itu kali ini, tentu tidak akan terlihat perbedaannya sama sekali. ​ Pikiran kotor Bara melangkah semakin jauh dan liar. Jangan-jangan, Aluna juga akan menghisap jemari Elrumi dengan sensual, persis seperti apa yang wanita itu lakukan pada jemarinya di atas ranjang tadi malam. Ruangan kantor itu mendadak hening untuk beberapa saat... ​Bara memejamkan matanya erat-erat, ia mendadak teringat kembali bagaimana rasanya. Ingat dengan teramat jelas bagaimana bibir lembut Aluna menyentuh kulit jarinya, dan ingat bagaimana lidah hangat Aluna bergerak perlahan menelusuri telunjuknya. Bara bahkan mengingat dengan sangat detail bagaimana nikmatnya saat bibir lembut itu melingkupi miliknya sepenuhnya sembari mengeluarkan suara desisan pasrah. Rasanya begitu hangat, kenyal, dan ketika Aluna mulai menghisapnya dengan kuat, kenikmatan yang dihantarkan benar-b

  • Satu Syarat di Atas Ranjang   RIB102. Hanya Makan Siang Saja

    ​"Kau tidak pergi kerja?" tanya Bara dengan dahi berkerut halus sembari menarik kursi kayu mahoni di meja makan. Pria itu sudah bersiap untuk sarapan, akan tetapi ia mendadak heran melihat Aluna masih mengenakan pakaian santai rumah, sama sekali belum bersiap dengan pakaian rapi untuk pergi ke butik seperti biasanya.​"Aku izin libur hari ini," jawab Aluna tenang, sembari meletakkan secangkir kopi hitam yang mengepulkan aroma khas di hadapan sang suami.​"Ada acara?" tanya Bara heran, menghentikan gerakan tangannya yang hendak meraih sendok.​Aluna tidak menjelaskan panjang lebar, ia hanya menganggukkan kepalanya sekali sebagai jawaban. Menatap respons singkat dari istrinya, Bara seketika menyunggingkan senyum sinis.​"Dengan Elrumi?" tebak Bara langsung, nadanya terdengar tajam sebelum ia mendadak menyibukkan diri secara sepihak dengan sepiring sarapan di depannya, berpura-pura acuh tak acuh.​"Itu..." Aluna sempat menjeda kalimatnya, terdengar ada keraguan yang terselip dari nada su

  • Satu Syarat di Atas Ranjang   RIB101. Aku Tahu, Kau Menyukainya

    ​Mata Aluna membelalak sempurna dalam kegelapan kamar saat untaian kalimat perintah itu lolos dari bibir Bara. Ia buru-buru menggelengkan kepalanya dengan kuat sebagai tanda penolakan. Sebagai wanita yang masih sangat awam dengan aktivitas intim sejauh itu, membayangkan permintaan gila Bara saja sudah sukses membuat perutnya mual karena rasa syok. Aluna semakin dirayapi kepanikan saat menyadari tubuh kekar Bara mulai merangkak naik, mengungkungnya demi memaksakan kehendak.​"A-aku tidak bisa, Bar..."​"Karena selama satu bulan ini aku hanya boleh melakukan ini denganmu, jadi kau harus melakukan ini untukku!" potong Bara cepat, suaranya memberat penuh tuntutan ego yang egois.​"Bar, tapi aku...."​"Sebentar saja, Aluna!" potong Bara lagi, memangkas kalimat istrinya tanpa ampun. "Kecuali jika kau ternyata suka dan ingin bermain lebih lama lagi," kekeh Bara rendah, sebuah tawa nakal yang terdengar begitu menyebalkan di telinga Aluna.​Aluna kembali menggelengkan kepalanya dengan cepat se

  • Satu Syarat di Atas Ranjang   RIB100. Gantian Hisap Ini

    ​Suasana di dalam kamar sudah dalam keadaan gelap gulita saat Aluna melangkah masuk dengan perlahan. Siluet tubuh tegap Bara tampak sudah meringkuk di atas ranjang. Aluna merangkak naik dengan gerakan pelan agar tidak mengusik sang suami, lalu berbaring telentang sembari menatap langit-langit kamar yang terlihat samar terpapar sisa cahaya lampu koridor luar.​Mama Kay baru saja menutup panggilan telepon dengannya beberapa menit lalu. Jujur, Aluna tidak tahu harus merasa senang atau sedih mendengar suara mama angkatnya yang terdengar begitu bahagia menceritakan kedatangan Bara malam tadi.​"Bar, kau sudah tidur?" tanya Aluna lirih, memecah keheningan malam.​"Sudah," jawab Bara pendek, suaranya terdengar jernih tanpa serak khas orang mengantuk.​Aluna seketika tersenyum tipis, rasa geli menyergap dadanya. Mana ada orang tidur yang masih bisa menyahut dengan ketus sewaktu ditanyai. Aluna memiringkan tubuhnya, menopang kepala dengan satu tangan sembari menghadap ke arah suaminya. Seolah

  • Satu Syarat di Atas Ranjang   RIB99. Otak Mesum Bara

    ​Aluna sudah kembali sibuk dengan piringnya sendiri saat tiba-tiba ia merasakan tepukan pelan di bahunya. Wanita itu menoleh, mendapati Bara tengah menyodorkan potongan terong balado lainnya dengan tatapan yang sulit diartikan. Tanpa banyak bicara, Aluna kembali memegangi pergelangan tangan kokoh Bara dan melahap makanan itu langsung dari jemarinya demi menjaga situasi di depan Mama Kay.​Damn! umpat Bara dalam hati. Sentuhan basah dari bibir Aluna di ujung jarinya seketika mengirimkan desatan listrik yang menyengat. Sialan, pria itu mendadak menginginkan bibir ranum itu memuaskan hasratnya malam ini juga.​Selesai makan, acara perkenalan yang riuh masih terus berlanjut di ruang tengah. Namun, Bara bahkan tidak peduli lagi dengan nama anak-anak panti. Ia tidak bisa berkonsentrasi karena benaknya terus memutar ulang bagaimana lembutnya bibir Aluna menyentuh kulit jarinya, memberikan sensasi panas hingga miliknya yang berada di bawah sana ikut bereaksi menuntut pelepasan.​Beruntung, se

  • Satu Syarat di Atas Ranjang   RIB72. Berhutang Dua Kali

    ​Matahari sore itu tenggelam lebih cepat, tertutup oleh gumpalan awan mendung yang gelap. Belum sempat Maya memacu sepeda motor matic tuanya menjauh dari area butik, rintik hujan mulai turun membasahi jalanan kota yang padat. Sialnya, kemalangan tidak berhenti di situ. Di tengah kepungan gerimis

  • Satu Syarat di Atas Ranjang   RIB71. Apakah Bara Cemburu Pada Tama

    ​Dentang halus sendok dan garpu yang beradu dengan piring porselen terdengar selaras dengan alunan musik jazz instrumen yang mengalir tenang di dalam restoran mewah bergaya klasik modern itu. Seminggu setelah badai hukum bergulir cepat dan menyeret Yudi ke balik jeruji besi, atmosfer mencekam yan

  • Satu Syarat di Atas Ranjang   RIB70. Bukan Aluna-ku

    ​Di dalam bangsal kelas tiga yang pengap, udara terasa sesak oleh aroma disinfektan dan keputusasaan. Yudi terbaring dengan wajah yang masih memar, ungu kebiruan dengan gips yang menahan rahangnya agar tetap pada tempatnya. Di sisi ranjang, sang ibu duduk gelisah, jemarinya terus memilin ujung kain

  • Satu Syarat di Atas Ranjang   RIB69. Dunia Ini Kejam, May

    Setelah pintu kaca depan tertutup rapat, Aluna membalikkan badannya dengan tenang. Ia menyapu pandangan ke arah para karyawan yang masih berdiri mematung di antara deretan manekin dan gantungan pakaian, dengan wajah tegang sembari berbisik-bisik cemas di sudut-sudut butik. Riuh spekulasi yang sem

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status