Share

13. Posting Dong

Penulis: Perfect Wife
last update Tanggal publikasi: 2026-06-11 15:51:16

Di hadapan mereka, berdiri sebuah bangunan megah dengan dinding kaca transparan yang menampilkan deretan manekin berbalut gaun putih mewah yang menjuntai indah.

Sebuah butik gaun pengantin eksklusif.

Dada Hazel seketika bergemuruh oleh rasa terkejut dan kekesalan yang naik ke ubun-ubun. Tanggal pernikahan saja belum pernah dibahas secara resmi oleh kedua keluarga, tapi pria ini sudah berani mengambil keputusan sepihak.

"Axel, apa-apaan ini?" protes Hazel langsung, suaranya meninggi begitu me
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Sekarang, Giliranku!    Kebenaran Waktu Itu

    "Apa yang sebenarnya ingin kamu katakan? Dari tadi aku lihat kamu seperti memikirkan sesuatu yang sangat berat." Hazel bisa merasakan ada beban pikiran yang mendadak menggelayuti pria di samping kemudinya itu.Arlo menoleh sekilas ke arah Hazel saat mobil mereka berhenti di bawah pendar merah lampu lalu lintas. Jemarinya mencengkeram lingkar kemudi sedikit lebih erat, sebelum akhirnya ia menyuarakan pertanyaan yang mengusik benaknya sejak di pelataran parkir tadi."Kenapa... kamu tadi berpihak padaku, Hazel?" tanya Arlo lirih, matanya menatap lurus menembus kaca depan yang dibasahi sisa embun malam. "Di depan Axel, di depan banyak orang... kamu lebih memilih membelaku dan menepis dia."Hazel mengembuskan napas panjang, melipat kedua tangannya di atas pangkuan. Sebuah senyuman tipis yang hambar terukir di bibirnya."Tentu saja karena aku sudah tahu sejak awal," jawab Hazel dengan tenang, suarasa terdengar begitu masuk akal. "Aku tahu betul kalau dalang di balik semua keributan membabi

  • Sekarang, Giliranku!    Dia Lagi

    Melihat perhatian seluruh pengunjung dan staf restoran kini tertuju penuh ke mejanya, wajah Hazel memerah padam, bukan karena malu, melainkan karena amarah yang ditahannya setengah mati. "Ikut aku!" perintah Hazel. Tanpa membuang waktu, Hazel langsung menyambar pergelangan tangan Arlo dan lengan jas Axel sekaligus, lalu menarik kedua pria bertubuh tegap itu keluar secara paksa dari area restoran. Yaya mengikuti dari belakang dengan langkah terburu-buru dan napas memburu, panik setengah mati melihat situasi yang makin lepas kendali.Setelah melangkah cukup jauh dari area pintu masuk restoran berhenti di sudut pelataran parkir yang agak remang dan sepi, Hazel melepaskan cengkeramannya dengan sentakan keras. Ia memutar tubuhnya, menatap Axel dengan sorot mata yang sarat akan kilatan amarah. "Apa-apaan kamu, Axel?!" bentak Hazel, suarasa bergetar menahan luapan emosi. "Kenapa kamu tiba-tiba membabi buta mengamuk seperti orang kesetanan di tempat umum?! Apa kamu tidak malu, ha?!"Axel,

  • Sekarang, Giliranku!    Ribut di Resto

    Hazel menggelengkan kepalanya pelan, menepis lembut usikan tentang Arlo yang sempat mengacak-acak fokusnya. Ia menarik napas panjang, menghembuskannya perlahan, lalu menatap layar monitor yang menampilkan spesifikasi proyek perhiasan dari Bound & SE. Bagi Hazel, tidak ada waktu untuk terjebak dalam teka-teki perasaan pria mana pun. Saat ini, pembuktian diri adalah satu-satunya prioritas utama."Miya, Nana, Layla... bisakah kalian mendekat sebentar?" panggil Hazel dengan nada tenang namun tegas.Seketika, ketiga rekan kerjanya menggeser kursi masing-masing dan berkumpul mengelilingi meja Hazel. Selama beberapa jam berikutnya, Hazel mengesampingkan seluruh pemikiran pribadi dan mulai membahas detail proyeknya bersama rekan tim kerjanya. Mereka berdiskusi secara intens, menukar ide mengenai pilihan material emas putih hingga teknik pemotongan berlian yang presisi. Ruangan Divisi Desain seketika dipenuhi aura profesionalisme yang hangat dan padu.Waktu berjalan cepat hingga jam kerja be

  • Sekarang, Giliranku!    Proyek Pertama

    Seminggu telah berlalu sejak hari pertamanya menginjakkan kaki di Divisi Desain. Dalam kurun waktu yang terbilang singkat itu, Hazel membuktikan bahwa dirinya bukan sekadar anak pemilik perusahaan yang menumpang nama. Berkat ketekunan, kejelian, dan bimbingan telaten dari Senja, Hazel dirasa sudah mampu menguasai beberapa hal penting mengenai seluk-beluk perancangan perhiasan eksklusif perusahaan.Melihat perkembangan pesat itu, Senja merasa Hazel sudah sangat siap untuk menerima sebuah proyek mandiri guna mengembangkan kemampuannya lebih jauh. Senja berani mengambil langkah ini tentu bukan tanpa dasar. Ia telah menyerahkan laporan evaluasi komprehensif mengenai hasil magang Hazel selama seminggu ini langsung kepada John. Membaca laporan yang memuaskan tersebut, John pun mengakui bahwa Hazel memang memiliki bakat alami yang luar biasa—sebuah keahlian yang diwariskan langsung dari mendiang ibunya.Pagi itu, di dalam ruangan Divisi Desain yang hangat oleh paparan sinar matahari, Senja

  • Sekarang, Giliranku!    Bikin Cemas

    "Ada apa dengan butik, Ya? Hal urgent apa?!"Hazel mencecar pertanyaan itu dengan napas yang sedikit terengah.Tangan kirinya mencengkeram erat ponsel di telinga, sementara jemarinya yang lain merapikan tas tangan yang meluncur di bahunya. Angin malam yang berembus keras di tepi trotoar membuat suaranya terdengar makin panik.Telepon yang Hazel dapatkan rupanya dari Yaya. Suara sahabatnya di seberang sana terdengar begitu tegang, mendesak Hazel untuk segera datang ke butik malam ini juga karena ada hal yang sangat darurat. Hazel sudah berulang kali meminta Yaya untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi lewat telepon, namun Yaya terkekeh cemas dan menolak. Ia mengotot meminta Hazel untuk datang dan melihatnya sendiri secara langsung.Untung saja, tak lama setelah panggilan ditutup, sebuah taksi berlampu hijau melintas di depan restoran. Tanpa membuang waktu, Hazel melambaikan tangan, masuk ke dalam kabin taksi, dan meminta pengemudi untuk bergegas melaju menuju butik milik mereka.

  • Sekarang, Giliranku!    perasaannya saja

    Sisa-sisa tawa renyah Hazel yang semula mengudara perlahan surut. Tiba-tiba saja, tengkuknya terasa meremang. Ada sebuah sensasi aneh yang tak kasat mata namun begitu nyata merayapi kulitnya sebuah rasa seperti ada sepasang mata yang tengah mengunci keberadaannya dari kejauhan, mengawasinya dengan intensitas yang teramat dalam.Hazel merasa ada yang terus memperhatikannya.Refleks, ia menghentikan sapuan sendoknya di atas piring. Hazel mencoba untuk melihat ke segala arah, memutar pandangannya menyusuri setiap jengkal interior restoran bernuansa hangat itu. Matanya memindai deretan meja kayu, sudut-sudut lampu gantung, hingga menembus kaca besar yang membatasi restoran dengan jalanan luar yang remang. Ia berusaha mencari tahu siapa gerangan yang sedari tadi terus mengawasinya tanpa henti, namun ia tak menemukan siapa pun. Jalanan di luar tampak biasa, hanya menyisakan deretan kendaraan yang melintas cepat. Hazel merasa ada yang tidak beres. "Perasaanku saja ataukah memang daritadi

  • Sekarang, Giliranku!    5. Familiar

    Entah kenapa Hazel merasa jika senyuman Arlo begitu familiar, seperti ia pernah melihatnya sebelumnya. Hanya saja Hazel tidak bisa mengingatnya dengan jelas. Denyut di pelipis Hazel kian mengencang. Ia memejamkan mata sesaat, berusaha keras menggali tumpukan memori di kepalanya, mencari tahu di ma

  • Sekarang, Giliranku!    4. Salah Sangka

    Sumpah matinya untuk tidak lagi menjadi wanita tertindas bergaung kuat di kepalanya. Hazel mengangkat telapak tangannya tinggi-high di udara, berniat melayangkan tamparan kedua yang jauh lebih keras ke pipi Mona.Namun, pergelangan tangan Hazel mendadak tertahan di udara. Sebuah cengkeraman yang ku

  • Sekarang, Giliranku!    3. Drama Picisan

    "Kau tidak bisa mencampakkanku begitu saja, Arlo! Hubungan kita tidak bisa berakhir hanya karena keegoisanmu!" seorang wanita dengan gaun desainer mencolok berteriak, matanya sembap oleh air mata amarah. Pria yang dipanggil Arlo itu berdiri tegak, memunggungi Hazel. Postur tubuhnya tinggi tegap,

  • Sekarang, Giliranku!    1. Pengkhianatan

    Lampu kristal di langit-langit restoran mewah itu berpendar redup, memantulkan bayangan dua orang yang kontras di lantai marmer. Hazel mencengkeram tepi meja, jemarinya gemetar hebat menahan rasa sakit yang mendadak menjalar hebat dari dadanya. Napasnya terengah, terasa berat dan beracun. Di depan

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status