Share

Penculik?

Author: Perfect Wife
last update publish date: 2026-07-01 00:34:18

"Hanya saja..." Kalimat Hazel menggantung di udara. Sebelum sempat ia menyelesaikan kekhawatirannya pada Yaya, getaran kuat disertai nada dering nyaring mendadak memotong dari dalam tas tangannya.

Hazel merogoh tasnya dan menarik keluar ponsel pintar miliknya. Di layar, nama 'Axel' berkedip-kedip. Hazel mendengus muak. Ia menekan tombol kunci di samping ponsel, membiarkan panggilan itu mati dengan sendirinya tanpa niat untuk mengangkat.

"Pria tidak punya otak itu, ya?" Yaya menebak dengan sang
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Sekarang, Giliranku!    Lega

    Saat Luna perlahan mendongakkan kepalanya yang semula tertunduk, kekhawatiran di matanya seketika surut. Rupanya, dugaan buruknya keliru. Ia merasa sangat lega. Axel masih berdiri kokoh di sana, setia menemaninya di tengah keheningan koridor divisi marketing.Axel menatap Luna dengan sorot mata lembut, lalu mengulas seulas senyum menenangkan. Ia mengusap pundak Luna pelan. "Aku sangat ingin menemanimu di sini lebih lama, Luna. Tapi sayangnya... Papa baru saja mengirim pesan, beliau memintaku segera ke kantor pusat untuk menghandel urusan darurat perusahaan," ujar Axel dengan nada suara yang terdengar begitu meyakinkan.Awalnya, Luna sempat dirayapi rasa ragu. Instingnya berbisik bahwa itu mungkin hanyalah alasan klise yang dibuat Axel agar bisa lolos darinya. Ia curiga jika di balik kalimat itu, Axel sebenarnya berniat untuk menemui Hazel secara diam-diam di Divisi Desain."Jangan bilang kalau Kak Axel kepikiran sama wanita jalang itu!" gerutu Luna dalam hatinya. "Jangan harap! Kak

  • Sekarang, Giliranku!    apa reaksinya?

    Di ruangan Divisi Desain, suasana kembali produktif. Lembaran-lembaran kertas sketsa dan dokumen analisis material perhiasan tampak tersebar rapi di atas meja kerja Hazel. Gadis itu mencondongkan tubuhnya, mendengarkan dengan saksama setiap patah kata yang keluar dari bibir Senja. Fokusnya tak teralihkan sedikit pun; ia benar-benar tidak ingin melewatkan satu jengkal pun ilmu, trik, ataupun penjelasan teknis yang disampaikan oleh kepala divisinya itu.Melihat sepasang mata Hazel yang berbinar penuh determinasi, Senja perlahan menghentikan penjelasannya. Sebuah tawa kecil yang renyah lolos dari bibirnya, membuat atmosfer di antara mereka terasa semakin hangat."Kamu ini bersemangat sekali, ya," ujar Senja sembari merapikan beberapa draf proyek. Ia menopang dagunya dengan satu tangan, menatap Hazel penuh rasa penasaran. "Tapi, Hazel... kalau boleh jujur, sebenarnya aku agak penasaran. Kenapa kamu justru memilih untuk bergabung di Divisi Desain sebagai karyawan magang? Padahal dengan st

  • Sekarang, Giliranku!    Orang Baru Yang Baik

    Hazel menggelengkan kepalanya pelan, menyunggingkan senyum tipis untuk menenangkan rekan-rekan barunya. "Aku benar-benar tidak apa-apa, Bu Senja. Tolong jangan khawatir."Begitu pintu kaca benar-benar tertutup rapat dan langkah kaki John serta rombongannya menghilang di ujung koridor, ketegangan di dalam ruangan Divisi Desain pecah seketika. Nana, Miya, dan Layla langsung menghampiri meja Hazel dengan wajah bersungut-sungut, tidak bisa lagi membendung uneg-uneg yang sejak tadi menyumbat dada mereka."Gila! Aku benar-benar tidak menyangka bakal melihat drama murahan seperti itu langsung di depan mataku!" Nana menghentakkan kakinya kesal. "Bagaimana bisa dia memutarbalikkan fakta dengan begitu mulus? Benar-benar bermuka dua!""Iya, konyol sekali! Dia yang memprovokasi, tapi begitu pria itu datang, dia langsung berakting seolah-olah dia korban yang teraniaya," sahut Miya sembari melipat tangan di dada, mendengus sinis. "Lalu dengan gampangnya dia memfitnah kita semua tidak mau menolong

  • Sekarang, Giliranku!    diam

    Langkah kaki yang berat dan tergesa memecah ketegangan di ambang pintu. John melangkah masuk dengan wajah yang sudah memerah padam. Rupanya, salah seorang karyawan dari divisi lain terlanjur melaporkan keributan di Divisi Desain ini langsung kepadanya. John mengedarkan pandangan galak, menatap ketiga anak muda di depannya dengan napas memburu. "Apa-apaan ini?! Belum ada satu jam kalian menginjakkan kaki di kantor ini, sudah membuat keributan yang memalukan!" bentaknya berang.Hazel memilih untuk menutup mulutnya rapat-rapat. Ia berdiri mematung dengan posisi tegak, menolak untuk mengeluarkan satu patah kata pun untuk membela diri. Percuma.Apapun kalimat yang keluar dari bibirnya pasti hanya akan dianggap sebagai angin lalu oleh papanya. John tidak akan pernah memercayainya dan pasti jauh lebih memihak Luna. "Seperti biasa, pasti aku yang jadi kambing hitamnya lagi," batinnya pasrah. Ditambah lagi keberadaan Axel di sana yang sudah siap pasang badan untuk membela adik tirinya, memb

  • Sekarang, Giliranku!    pantas saja

    Luna beranjak dari tempatnya. Langkah kakinya yang beralaskan sepatu hak tinggi berketuk pelan di atas lantai, sengaja dibuat lambat saat ia berjalan menghampiri meja kerja Hazel.Hazel menghentikan gerakan jemarinya di atas permukaan meja. Ia berusaha keras untuk tetap tenang dan mengatur napasnya, namun seluruh indranya mendadak siaga, waspada penuh dengan apa pun tingkah gila yang akan diperbuat oleh Luna.Setelah jarak di antara mereka terkikis habis, Luna membungkuk sedikit. Dengan senyum manis yang dipaksakan menghias wajahnya agar terlihat biasa saja dari kejauhan, ia mendekatkan bibirnya ke telinga Hazel."Harusnya kamu mati bersama mamamu yang jalang itu!" bisik Luna, suaranya begitu rendah, penuh dengan racun dan kedengkian yang pekat. "Kalian berdua sama-sama jalang yang tidak tahu diri!"Plak!Suara hantaman keras berkumandang kuat, memotong keheningan ruangan Divisi Desain.Dada Hazel naik-turun memburu, napasnya tersedat oleh amarah yang mendidih hingga ke ubun-ubun. Se

  • Sekarang, Giliranku!    masuk perusahaan

    Arlo terdiam beberapa detik. Alih-alih memberikan jawaban yang memuaskan rasa penasaran Hazel, pria itu hanya mengulas senyum tipis yang sulit diartikan. Ia mengetuk kemudi mobilnya pelan. "Pertanyaanmu terlalu berat untuk dijawab malam-malam begini, Hazel. Lebih baik kamu masuk dan istirahat," sahut Arlo enggan, memilih untuk langsung berpamitan pulang. "Selamat malam."Hazel menghela napas, sadar bahwa pria di sampingnya ini tidak akan membuka mulut. "Ya sudah. Selamat malam," balas Hazel.Mobil Arlo perlahan bergerak menjauh, membelah kegelapan jalanan. Hazel masih terpaku di tempatnya berdiri, menatap sisa lampu belakang mobil yang kian meredup. Ia bergumam lirih pada diri sendiri, menebak-nebak motif di balik semua kebaikan pria itu. "Apakah seorang Arlo benar-benar tulus membantuku? Atau jangan-jangan... memang ada udang di balik batu?"Namun, Hazel segera menggelengkan kepala, bersikap masa bodoh untuk saat ini. Yang terpenting tujuannya tercapai. Ia pun membalikkan badan dan

  • Sekarang, Giliranku!    5. Familiar

    Entah kenapa Hazel merasa jika senyuman Arlo begitu familiar, seperti ia pernah melihatnya sebelumnya. Hanya saja Hazel tidak bisa mengingatnya dengan jelas. Denyut di pelipis Hazel kian mengencang. Ia memejamkan mata sesaat, berusaha keras menggali tumpukan memori di kepalanya, mencari tahu di ma

  • Sekarang, Giliranku!    4. Salah Sangka

    Sumpah matinya untuk tidak lagi menjadi wanita tertindas bergaung kuat di kepalanya. Hazel mengangkat telapak tangannya tinggi-high di udara, berniat melayangkan tamparan kedua yang jauh lebih keras ke pipi Mona.Namun, pergelangan tangan Hazel mendadak tertahan di udara. Sebuah cengkeraman yang ku

  • Sekarang, Giliranku!    3. Drama Picisan

    "Kau tidak bisa mencampakkanku begitu saja, Arlo! Hubungan kita tidak bisa berakhir hanya karena keegoisanmu!" seorang wanita dengan gaun desainer mencolok berteriak, matanya sembap oleh air mata amarah. Pria yang dipanggil Arlo itu berdiri tegak, memunggungi Hazel. Postur tubuhnya tinggi tegap,

  • Sekarang, Giliranku!    1. Pengkhianatan

    Lampu kristal di langit-langit restoran mewah itu berpendar redup, memantulkan bayangan dua orang yang kontras di lantai marmer. Hazel mencengkeram tepi meja, jemarinya gemetar hebat menahan rasa sakit yang mendadak menjalar hebat dari dadanya. Napasnya terengah, terasa berat dan beracun. Di depan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status