تسجيل الدخول“Aku menolak!”
Setelah jamuan makan malam yang menyesakkan itu usai, ketegangan beralih ke ruang yang lebih privat tapi tetap disaksikan oleh para petinggi istana. Di sana, Meghan berdiri dengan punggung tegak, mengabaikan tatapan memohon dari ayahnya yang sudah berkeringat dingin. Nadira, dalam jiwa Meghan, tidak bisa lagi membendung rasa muak yang ia rasakan. Ia baru saja mendapatkan kesehatan yang ia dambakan, dan ia tidak akan membiarkan hidup barunya dimulai dengan menjadi sekadar alat pelunas utang bagi keluarganya dan menikah dengan seorang anak selir. "Aku menolaknya!” Lagi. Suara Meghan memecah keheningan ruangan, tenang tapi begitu tajam hingga membuat Carl tersentak kecewa. "Setelah merenungi posisi dan harga diri keluarga Valerius, aku memutuskan bahwa perjodohan ini adalah sebuah kesalahan. Aku adalah putri dari garis keturunan bangsawan yang sah, dan bersanding dengan seorang anak selir adalah sebuah penghinaan yang dilemparkan tepat di wajahku!" Ruangan itu seketika menjadi sunyi senyap. Carl mematung dengan wajah merah padam karena malu yang luar biasa, sementara Baron Valerius gemetar hebat. Sang Baron segera berlutut di hadapan Permaisuri, suaranya parau menahan murka sekaligus ketakutan. "Maafkan putri hamba, Ibu Ratu! Maafkan kelancangannya! Meghan pasti sedang tidak sadar, dia ... dia hanya terlalu gugup!" Baron Valerius menoleh ke arah Meghan dengan mata yang nyaris melompat keluar. "Tarik ucapanmu, Meghan! Kau sudah berusia dua puluh dua tahun! Siapa lagi bangsawan yang mau meminangmu jika membuang kesempatan emas ini?!" Di tengah kekacauan itu, Ralph yang sedari tadi hanya mengamati dari kursi kebesarannya mulai menunjukkan reaksi. Ia tidak marah atas kelancangan Meghan. Sebaliknya, ia merasa sangat terhibur. Ralph kemudian memanggil penasihat kerajaan yang berdiri di sudut ruangan. "Penasihat, ingatkan aku kembali, pada umur berapa Paduka Raja, ayahku, mengambil selir pertamanya?" Penasihat itu membungkuk dalam, suaranya sedikit bergetar. "Dua puluh tiga tahun, Pangeran Mahkota." Ralph tersenyum miring. Ia melirik Meghan dari ujung kaki hingga ujung kepala, menikmati kepanikan yang mulai menjalar di ruangan itu. "Ah, berarti aku setahun lebih cepat darinya," ucap Ralph dingin. "Meghan Valerius menolak menjadi istri dari anak seorang selir karena ia merasa terlalu cantik dan terhormat untuk kasta serendah itu.” Ralph kemudian berbalik, memberikan perintah yang menggelegar kepada para pengawal. "Panggilkan pelukis tubuh kerajaan sekarang juga! Aku ingin dia mengukir namaku di tengkuk bangsawan kelas tiga ini. Jika dia merasa terlalu tinggi untuk menjadi istri seorang anak selir, maka biar dia merasakan bagaimana rasanya menjadi selir dari Pangeran Mahkota!" Meghan terbelalak. Di tahun 1290, tato kerajaan di tengkuk bukan sekadar hiasan, itu adalah tanda kepemilikan mutlak. Sebuah label peliharaan yang membuat seorang wanita tidak akan pernah bisa dinikahi oleh pria lain seumur hidup. Sementara itu, Baron Valerius jatuh terduduk di lantai marmer, wajahnya pucat pasi seputih kapas. Harapannya untuk melihat putrinya menjadi istri sah dari seorang putra raja kini musnah, berganti dengan kenyataan pahit bahwa Meghan akan menjadi barang milik Pangeran Mahkota. "Pangeran, kau tidak bisa melakukan ini! Ini adalah malam pertunanganku! Dia adalah calon istriku!" Carl berkata dengan suara yang pecah antara amarah dan kekecewaan. Ralph hanya melirik Carl sekilas, sebuah tatapan yang penuh dengan kejijikan. "Dia baru saja menolakmu di depan seluruh bangsawan. Kau masih ingin memilikinya setelah dia meludahi harga dirimu?" Dua orang pengawal bertubuh besar segera merangsek maju dan memegangi lengan Meghan. Nadira, dalam tubuh Meghan, merasakan amarah yang memuncak. Ia baru saja mendapatkan tubuh yang sehat, baru saja menghirup napas lega tanpa bantuan mesin, dan sekarang ia akan ditandai seperti seekor hewan ternak. "Lepaskan aku!" Meghan meronta, tapi tenaga pria-pria itu jauh lebih kuat. Seorang pelukis tubuh kerajaan masuk dengan tergesa-gesa, membawa kotak kayu berisi jarum-jarum perak halus dan tinta hitam yang pekat. Suasana menjadi gelap dan mencekam saat Ralph mendekat ke arah Meghan. Pangeran itu dengan kasar menyibakkan rambut panjang Meghan ke samping, mengekspos tengkuknya yang putih. "Jangan bergerak, Meghan Valerius," bisik Ralph di telinganya, napasnya yang hangat terasa kontras dengan kata-katanya yang dingin. "Kau menginginkan kehidupan yang panjang dan terhormat, bukan? Maka kau akan menjadi saksi bagaimana aku menghancurkan setiap pria yang berani menatapmu." Tanpa ampun, jarum pertama menusuk kulit halus di tengkuk Meghan. "Argh!" Meghan memejamkan mata rapat-rapat. Rasa sakitnya tajam, menjalar hingga ke saraf tulang belakangnya. Namun, di tengah rasa sakit itu, memorinya kembali berputar. Wajah Ralph yang sangat dekat ini benar-benar serupa dengan pria di masa lalunya. Pria yang pernah berkata bahwa ia tidak mau menjadi duda karenanya. 'Dulu dia membuangku karena aku akan mati, sekarang dia memberiku tanda karena aku hidup.' Tinta hitam itu mulai membentuk pola rumit. Lambang kerajaan beserta nama Ralph yang terukir permanen di sana. Setiap tusukan jarum seolah menjadi pengingat bagi Meghan bahwa perjuangannya baru saja dimulai. Ia tidak akan membiarkan tanda ini menjadi belenggu. Jika Ralph ingin menjadikannya selir, maka ia akan menjadi selir paling mematikan yang pernah ada dalam sejarah kerajaan ini. Ia akan membuat pria ini bertekuk lutut, mencintainya sampai gila, lalu menghancurkannya tepat saat Ralph merasa telah memilikinya sepenuhnya. Ralph tidak membiarkan Meghan menjauh. Tangannya yang besar dan kuat masih mencengkeram rahang Meghan, memaksanya untuk terus menatap mata yang penuh dengan kilat obsesi itu. Di tengah aula yang kini mulai dikosongkan dari para tamu. Pelukis tubuh tadi sudah pergi, meninggalkan aroma tinta dan darah. Meghan bisa merasakan sisa tinta hitam di tengkuknya mulai mengering, menarik kulitnya dengan rasa perih yang konstan. Namun, rasa perih itu justru membuatnya merasa sangat hidup. Ia berdiri dengan kaki yang kokoh, tidak lagi gemetar seperti Nadira yang dulu selalu merasa kedinginan di bawah selimut rumah sakit. Ralph memperpendek jarak di antara mereka hingga hidung mereka hampir bersentuhan. Ia menatap bibir Meghan yang sedikit terbuka, lalu beralih ke matanya yang tajam. Prajurit yang mengawal Meghan tidak memberikan sedikit pun kesempatan baginya untuk berdiri tegak ketika Ralph mendekat. Dengan satu sentakan kasar di bahu, Meghan dipaksa jatuh. Suara lututnya yang menghantam lantai marmer dingin bergema di seantero aula, memutus keheningan yang mencekam. Baron Valerius hanya bisa terpaku dengan wajah pucat pasi, menyaksikan putri tunggalnya kini berada di posisi paling rendah di hadapan seluruh bangsawan. Ralph tidak segera bicara. Ia membiarkan Meghan tetap dalam posisi terhina itu, membiarkan mata semua orang menguliti harga diri wanita itu. "Kau sangat tenang untuk wanita yang baru saja kehilangan masa depannya. Atau mungkin, kau memang sudah merencanakan ini? Menolak adikku yang lemah demi merangkak ke ranjangku?" desis Ralph, napasnya hangat berbau anggur kerajaan yang telah lama difermentasi. Meghan tidak bisa melawan secara fisik. Ia tetap berlutut, tapi ia menolak untuk memalingkan wajah. Ia membiarkan matanya menatap langsung ke dalam mata elang pria itu, memberikan tatapan yang tenang namun sarat akan harga diri yang tersisa. "Bawa dia ke Paviliun Barat. Pastikan dia tidak meninggalkan kamar itu sampai aku sendiri yang datang untuk menjemput sisa keberaniannya.""Paduka! Yang Mulia Putri Anneliese ... napasnya telah berhenti!" Pekikan panik dari pelayan senior itu memecah keheningan paviliun utama seperti sambaran petir. Tak butuh waktu lama bagi langkah kaki yang berat dan berwibawa untuk bergema di sepanjang koridor batu. Ralph datang dengan jubah hitamnya yang berkibar, membawa atmosfer kematian yang pekat. Wajahnya datar, tapi sepasang matanya berkilat kejam, siap menjatuhkan titah hukuman mati bagi Elanor atas kegagalan melahirkan penerus yang tangguh. Namun, tepat di ambang pintu kamar Ratu, langkah sang Raja terhenti. Sosok Meghan berdiri di sana, pasang badan dengan kedua tangan terentang, menghalangi jalan masuk Ralph. "Paduka, Ratu Elanor tidak bersalah," ucap Meghan, suaranya bergetar hebat menahan rasa takut yang luar biasa. Namun sepasang matanya menatap lurus ke dalam manik mata gelap sang Raja tanpa beralih sedikit pun. "Jika Paduka membutuhkan nyawa sebagai ganti atas kegagalan ini, ambil nyawaku. Jadikan aku kambing
Satu minggu berlalu seperti kabut tebal yang mencekik paviliun utama. Pagi itu, Meghan berdiri di koridor yang sunyi saat pintu ek besar kamar Ratu Elanor terbuka. Sosok tegap Ralph melangkah keluar. Pria itu menampilkan raut wajah yang datar, sedingin dinding batu kastil tua, seolah tidak baru saja menjenguk istri dan anak kandungnya sendiri. Saat berpapasan, sepasang mata gelap Ralph sempat bergulir ke arah Meghan. Namun, tidak ada sapaan, tidak ada kata, bahkan tidak ada binar kejam seperti malam terkutuk itu. Ralph melangkah pergi begitu saja, mengabaikannya sepenuhnya. Meghan mengembuskan napas pelan, ia justru sangat senang diabaikan oleh sang tirani. Hubungan mereka memang paling benar jika tetap sekaku belati. Meghan segera mengetuk pintu dan menyelinap masuk ke dalam kamar. Hawa hangat bercampur aroma ramuan obat langsung menyergap indra penciumannya. Hubungan Elanor dan Meghan sebenarnya tidak terlalu hangat, ada sekat tak kasat mata antara sang Ratu dan seorang
"Bertahanlah, Yang Mulia! Demi Tuhan, kumohon bertahanlah!" Meghan memeluk tubuh Elanor dari belakang dengan sisa-sisa kekuatannya yang hampir habis. Dada Meghan bergetar hebat. Rasa dingin danau yang masih tersisa di tulang-tulangnya seketika menguap, digantikan oleh rasa panas yang membakar saat kulitnya bersentuhan dengan tubuh Elanor yang bersimbah keringat dan darah. Pakaian pelayan Meghan yang baru diganti kini mulai ternoda oleh darah persalinan sang Ratu, namun ia tidak peduli. Tidak sedikit pun. Elanor mengerang mengerikan, sebuah jeritan parau yang menyayat hati terdengar dari tenggorokannya yang kering. Kepala Ratu terkulai ke belakang, menghantam bahu Meghan, sementara jemarinya yang berlumuran darah mencakar lengan Meghan dengan sangat kuat hingga menembus kain bajunya. Rasa sakitnya menular, mencabik-cabik psikis Meghan yang memang sudah hancur sejak semalam. "Aku tidak kuat, Meghan ... sakit sekali ...," racau Elanor, air matanya menetes melewati pipi piasnya dan
Meghan merasa harga dirinya sudah tidak bersisa lagi. Kejadian semalam bukan sekadar merenggut paksa kesucian raganya, melainkan menghancurkan berkeping-keping psikisnya hingga ke dasar yang paling kelam. Sebagai seorang selir, ia sudah tahu bahwa khalayak umum tidak akan pernah menaruh hormat padanya. Namun, dijadikan tontonan dan diperlakukan bagai binatang pemuas birahi di depan wanita lain benar-benar berada di luar batas kemanusiaannya. Tanpa melepas sehelai pun kain tipis yang membungkus tubuh penuh memarnya, Meghan melangkah masuk ke dalam air danau yang sedingin es. Sebenarnya, apa yang ia lakukan bukan lagi sekadar berendam untuk membersihkan diri. Meghan sengaja menenggelamkan tubuhnya, membiarkan air danau yang pekat merayap naik ke dada, leher, hingga akhirnya seluruh permukaan kulit kepalanya ikut masuk dan menghilang di bawah permukaan air. Meghan memejamkan mata. Ia berharap Tuhan berbaik hati untuk mendengar jeritannya kali ini, cabut sekali lagi nyawanya, dan t
Ralph tidak memberi Meghan waktu untuk memikirkan skenario pembunuhan di kepalanya. Sentakan pria itu begitu kuat hingga punggung polos Meghan menghantam kasur sutra dengan keras, menyisakan sensasi dingin yang kontras dengan suhu tubuh Ralph yang membakar. Pria itu mengungkung Meghan sepenuhnya. Kedua tangan kekarnya langsung mengunci pergelangan tangan Meghan ke atas kepala, menekan urat nadinya begitu erat hingga jemari Meghan yang semula berniat meraih tusuk rambut perak itu mati kutu, tak berdaya di atas bantal. "Buka kakimu," perintah Ralph, suaranya bukan lagi bariton yang tenang, melainkan geraman rendah yang sarat akan syahwat dan dominasi mutlak. Meghan memalingkan wajah, menggigit bibir bawahnya hingga hampir berdarah saat merasakan lutut Ralph yang kokoh memaksa kedua paha bagian dalamnya terbuka lebar. Hawa malam paviliun Utara terasa menusuk bagian tubuhnya yang paling intim, yang kini terekspos sepenuhnya di bawah tatapan lapar Ralph dan sepasang mata Vespera yan
"Se-seperti ini caranya melayani Paduka." Suara Meghan bergetar hebat, nyaris tenggelam dalam keheningan kamar paviliun Utara yang mencekam. Jemarinya yang dingin bergerak ke arah ikatan terakhir dari gaun pelayannya yang sudah compang-camping. Dengan satu tarikan napas yang terasa mencekik tenggorokan, kain koyak itu akhirnya ia lepas, meluncur jatuh ke lantai batu bersama dengan kain dalamnya. Meghan berdiri telanjang di bawah temaram cahaya lilin. Kulitnya yang pias meremang, bukan hanya karena hawa malam yang menusuk, melainkan karena rasa hina yang teramat pekat mulai menguliti harga dirinya lapis demi lapis. Vespera, yang sejak tadi berdiri di dekat pilar ranjang, menatap tubuh Meghan tanpa banyak berkomentar. Tidak ada binar kepuasan, tidak ada pula rasa jijik di matanya yang sedingin es. Wanita dari Kerajaan Barat itu hanya menonton dengan tatapan kosong seorang tawanan yang sudah mati rasa terhadap segala bentuk kegilaan di istana ini. Namun, di balik wajah Meghan yan







