Home / Zaman Kuno / Sentuh Aku, Renshu! / 36. Pesta Teh dan Sentuhan Maut

Share

36. Pesta Teh dan Sentuhan Maut

Author: Donat Mblondo
last update publish date: 2026-06-04 02:10:58
​Pesta teh musim semi digelar meriah di Taman Kerajaan. Bunga-bunga plum dan persik bermekaran sempurna, tetapi aroma manis di udara sama sekali tidak bisa menutupi persaingan beracun di antara para selir dan bangsawan wanita yang hadir. Kipas-kipas sutra bergetar menutupi bibir yang saling melempar gosip dan hinaan terselubung.

​Liying duduk tenang di paviliun utama. Ia mengabaikan tatapan merendahkan dari beberapa putri bangsawan lain. Di belakangnya, Xiaoxiao berdiri mematung layaknya patung
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Sentuh Aku, Renshu!   88. Mendobrak Gerbang Emas

    Pawai berdarah itu akhirnya tiba di ujung Jalur Perak. Di hadapan mereka, berdiri megah kompleks Istana Kekaisaran Longjing. Gerbang Emas raksasa setinggi sepuluh meter menjulang tertutup rapat, memisahkan dunia luar dari Ruang Takhta.​Di pelataran batu granit yang luas tepat di depan gerbang tersebut, lima ratus Prajurit Elit Istana, pasukan pribadi Perdana Menteri yang paling mematikan, telah menunggu. Mereka membentuk formasi kura-kura, menyusun perisai baja berat mereka menjadi sebuah dinding raksasa yang tak tertembus, dengan ribuan ujung tombak menyembul dari sela-sela perisai. Di atas tembok istana, ratusan pemanah telah merentangkan tali busur mereka, siap menghujani kelompok Renshu dengan panah besi.​Liying mengangkat tangannya ke udara, memerintahkan pasukan bayangan untuk berhenti di batas jarak tembak musuh. Sang Ratu Selatan menatap dinding baja di hadapannya dengan senyum miring yang luar biasa dingin. Liying, yang kini telah bertransformasi sepenuhnya menjadi wanita t

  • Sentuh Aku, Renshu!   87. Pawai Sang Kematian di Siang Bolong

    Matahari bersinar terik tepat di atas ubun-ubun Ibu Kota Longjing, namun hawa dingin mencekam justru menyelimuti seluruh jalanan batu kota tersebut. Asap hitam mengepul tebal dari arah barak Garda Pertahanan Kota di sayap timur, menandakan bahwa kerusuhan internal berdarah yang dipicu oleh rumor Liying tengah mencapai puncaknya. Ribuan prajurit elit Zixiao sibuk menebas leher rekan mereka sendiri, meninggalkan jalan raya utama ibu kota dalam keadaan kosong tanpa penjagaan militer yang berarti.​Memanfaatkan jendela waktu emas ini, Chu Renshu tidak menyelinap melalui lorong tikus layaknya seorang buronan.​Sang Pangeran melangkah keluar dari bayang-bayang gang, berjalan lurus membelah jalan raya utama (Jalur Perak) yang membentang langsung menuju Istana Kekaisaran. Renshu kini tidak lagi mengenakan jubah kulit hitam polosnya. Ia mengenakan zirah baja ringan berwarna hitam pekat, dengan jubah sutra panjang berkibar di punggungnya. Di bagian dada zirahnya, terukir lambang Naga Langit yan

  • Sentuh Aku, Renshu!   86. Kekosongan Komando dan Pembersihan Tangan

    ​Berita kematian tragis Jenderal Ma meledak layaknya mesiu di seluruh penjuru barak Garda Pertahanan Kota. Dua puluh ribu prajurit elit yang bertugas menjaga ibu kota mendadak kehilangan kepala naga mereka. Kepanikan dan kebingungan melanda, menciptakan celah emas yang sama sekali tidak dibiarkan terbuang percuma oleh otak iblis Putri Liying.​"Perdana Menteri-lah yang melakukannya!" bisik seorang perwira menengah di sudut barak, yang sebenarnya adalah agen bayangan loyalis Zixiao di bawah komando Shao. "Jenderal Ma menolak menyerahkan buku emas logistik militer kepada rubah tua itu! Perdana Menteri membunuhnya di tengah malam untuk membungkam korupsi emas tentara kita!"​Rumor beracun itu menyebar lebih cepat dari api yang melahap padang rumput kering. Ketidakpuasan yang selama ini terpendam di antara faksi militer terhadap kerakusan Perdana Menteri meledak menjadi kemarahan tak terkendali. Para prajurit yang loyal pada mendiang Jenderal Ma menolak menerima perintah dari utusan Perda

  • Sentuh Aku, Renshu!   85. Hadiah Fajar untuk Perdana Menteri

    Kabut pagi yang tebal dan dingin masih menyelimuti jalanan batu Ibu Kota Longjing. Hujan badai semalam telah menyisakan genangan air di setiap sudut kota, mencuci bersih jejak-jejak kematian yang terjadi dalam kegelapan. Di pusat distrik bangsawan, kediaman Perdana Menteri Zixiao berdiri megah layaknya sebuah istana kecil, dikelilingi oleh tembok setinggi enam meter yang melambangkan kekuasaan absolut faksi pemberontak.​KREAAAK!​Pintu gerbang kayu mahoni raksasa yang berlapis tembaga itu didorong terbuka oleh dua orang penjaga bersenjata tombak. Mereka bersiap untuk pergantian sif jaga pagi. Namun, saat tatapan salah satu penjaga terangkat ke arah pilar utama gerbang, napas pria itu tercekat hebat."​AAARGHHH!"​Sebuah jeritan melengking yang dipenuhi teror murni membelah kesunyian fajar, menggelegar ke seluruh penjuru halaman kediaman. Penjaga itu jatuh terduduk, tombaknya terlepas dan berdenting keras menghantam lantai batu. Tangannya yang gemetar menunjuk ke atas dengan wajah sep

  • Sentuh Aku, Renshu!   84. Tarian Naga di Ruang Tertutup

    Kamar tidur utama Jenderal Ma dilapisi oleh permadani tebal dari Persia dan diterangi oleh cahaya temaram dari lentera minyak beraroma cendana. Suara hujan di luar terdengar samar, teredam oleh ketebalan dinding batu dan pintu kayu berlapis baja.​KREK...​Salah satu panel jendela kayu di sudut ruangan terbuka perlahan tanpa menimbulkan derit engsel. Sebuah bayangan besar menyelinap masuk dengan keanggunan yang sangat mematikan, tidak sepadan dengan postur tubuhnya yang gagah. Air hujan menetes dari rambut dan ujung jubah kulit Chu Renshu, membasahi permadani mahal di bawah kakinya.​Sang Pangeran mencabut pedang bajanya dari sarungnya secara perlahan. Bunyi gesekan logam yang nyaris tak terdengar itu mengudara di dalam ruangan yang hening.​Namun, Jenderal Ma bukanlah seorang bangsawan korup yang hanya tahu cara menikmati kemewahan. Ia adalah komandan militer tertinggi yang posisinya dibangun di atas tumpukan mayat musuh. Meski sedang tertidur lelap, insting militernya yang tajam mer

  • Sentuh Aku, Renshu!   83. Hujan Senyap di Sarang Ular

    Gema dari deklarasi berdarah Chu Renshu masih menggantung di udara ruang komando yang dingin. Para loyalis Zixiao yang masih berlutut menatap pangeran mereka dengan kobaran fanatisme yang baru saja tersulut. Namun, di tengah gelombang euforia pemberontakan itu, Liying memecah suasana dengan sebuah ketukan keras di atas meja perunggu.​"Simpan sorak-sorai kalian untuk hari penobatan," potong Liying tajam, mengalihkan perhatian seluruh ruangan kembali pada peta topografi ibu kota. Sang Putri menunjuk ke arah sebuah kompleks bangunan besar yang terletak tepat di jantung distrik militer Longjing. "Ini adalah kediaman Jenderal Ma, Komandan Garda Pertahanan Kota. Pria ini memegang kendali atas dua puluh ribu prajurit elit yang menjaga gerbang ibu kota dan tembok istana."​Shao melangkah maju, wajahnya menegang. "Kediaman Jenderal Ma dijaga sangat ketat, Nona. Terdapat rotasi patroli setiap lima belas menit dan tiga menara pengawas yang dijaga oleh penembak jitu. Jika Yang Mulia Pangeran mem

  • Sentuh Aku, Renshu!   40. Darah hitam

    Ancaman nyata terhadap nyawa wanitanya ini memaksa Renshu untuk melanggar aturan istana demi menyelamatkan wanitanya. Menghunuskan pedang ke arah pengawal pribadi Putra Mahkota adalah sebuah makar. Hukumannya adalah eksekusi mati.​Namun, urat-urat di leher dan lengan Renshu yang mengeras membuktika

  • Sentuh Aku, Renshu!   39. Bencana Keluarga Feng

    ​Gema kemarahan Kaisar Jianhong masih tertinggal di udara aula yang dingin. Titah absolut telah dijatuhkan, dan pengawal lapis baja segera bergerak maju tanpa ampun. Sebagai puncak ketegangan dari skandal memalukan tersebut, Yuchen dan Ruolan diseret untuk dihukum. Teriakan histeris Yuchen yang mem

  • Sentuh Aku, Renshu!   38. Panggung Kehancuran

    Hari pernikahan yang dimajukan itu akhirnya tiba. Di dalam Istana Kaca Kusam, Selir Lan sibuk mengitari Liying. Wanita yang sangat gila harta dan takhta itu terus mengagumi gaun pengantin sutra dan menghitung daftar mahar kekaisaran dengan mata berbinar rakus. Selir Lan sama sekali tidak peduli pada

  • Sentuh Aku, Renshu!   33. Siksaan di Mata Sang Elang

    Di luar aula utama Paviliun Kaca Kusam, matahari menjelang siang bersinar terik, mengusir sisa-sisa embun dari dedaunan. Namun, di sudut teras barat yang terhalang dari pandangan, suhu udara terasa sedingin gletser abadi.​Chu Renshu berdiri mematung membelakangi dinding, bersembunyi di balik bayan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status