Share

Sentuhan Panas Sang Bodyguard
Sentuhan Panas Sang Bodyguard
Author: Pipit Chie

BAB 1

Author: Pipit Chie
last update publish date: 2026-05-28 23:06:09

Xavier mengangkat kedua lengannya, menangkis pukulan lawan sebelum melancarkan serangan balik yang cepat dan mematikan. Tinju kanannya menghantam keras rahang pria di depannya, membuat tubuh lawannya limbung sebelum akhirnya jatuh tersungkur di matras. Nafas Xavier sedikit memburu, tapi matanya tetap tajam.

Itu sudah yang keempat.

Dengan ekspresi datar, Xavier melepaskan sarung tinju dari tangannya. Dia bisa merasakan keringat membasahi kulit, tapi tubuhnya masih penuh energi. Xavier melangkah turun dari ring, mengambil botol air dan meneguk isinya tanpa tergesa.

Tanpa dia sadari, sepasang mata mengawasinya dari sudut ruangan yang gelap.

Jagardana Mahesa berdiri diam di sana, tubuhnya nyaris tak terlihat di balik bayangan. Matanya tak lepas dari Xavier—menganalisis, menilai, memperhatikan setiap gerakan pria itu. Jagar sudah melihat semuanya. Kecepatan Xavier, teknik bertarungnya, bagaimana Xavier menghadapi lawan dengan ekspresi dingin yang nyaris tanpa emosi.

Jagar tidak mengatakan apa-apa.

Pria itu hanya diam, lalu berbalik dan menghilang begitu saja ke dalam kegelapan.

Xavier tak menyadari kehadirannya. Yang dia tahu, ruangan itu terasa sedikit lebih sunyi dari sebelumnya.

Pria itu keluar dari ruang latihan dengan membawa botol minumannya, masuk ke kamar prajurit dan berniat untuk mandi, tapi Xavier urung melakukannya saat melihat ada orang yang duduk santai di sofa kamarnya.

”Sir,” Xavier menyapa pelan, Xavier memang sering memanggil Jagar dengan panggilan itu karena pangkat mereka yang berbeda. Jagar berada satu tingkat lebih tinggi darinya. Tapi kadang pula Xavier memanggil pria itu hanya dengan nama saja. Sesuatu yang tidak bisa dilakukan prajurit lain karena hanya Xavier yang bisa melakukannya. “Sofa di kamarku lebih nyaman daripada di ruanganmu?” sindirnya dan membuka kulkas kecil yang menyimpan bir dingin, Xavier melemparkan satu kaleng kepada Jagar yang ditangkap dengan mudah oleh pria itu. Xavier lalu ikut duduk dan meneguk birnya. ”Jadi? Ada apa? Kamu tidak mungkin datang ke sini hanya untuk numpang duduk di sofaku.” Xavier bertanya sambil menikmati birnya.

”Saya mau kamu jadi pengawal Divya.” Jagar bahkan tidak repot-repot berbasa-basi.

Xavier tersedak dan menyemburkan bir dalam mulutnya. Jagar mengumpat pelan karena semburan itu sedikit mengenai wajahnya. Pria itu mengusap wajah dan menatap Xavier dengan tatapan membunuh.

”Apa? Coba ulangi.” Xavier menatap lekat, bahkan bir di mulutnya menetes ke dagu.

”Saya mau kamu jadi pengawal Divya.”

Divya? Divyana Mahesa? Adik Jagar? Oh, shit!

”Bukannya dia punya pengawal?”

”Pengawalnya mengundurkan diri karena akan menikah.”

Xavier menyeka dagunya dengan punggung tangan. “Kenapa aku? Dari sekian banyak prajurit, kenapa aku?”

”Karena saya pembimbing kamu—“

”Jadi pembimbing tidak lantas membuat aku harus patuh—“

”Sumpah ke tiga prajurit: Patuh pada apa pun perintah atasan dan mengerjakan misi dengan sebaik-baiknya.”

”Bangsat.” Xavier bahkan tidak repot-repot memelankan suaranya ketika mengumpat. “Kenapa aku?”

”Karena saya yakin pada kemampuanmu menjaga klien.”

“Prajurit lain bisa melakukannya—“

”Apa kamu membangkang pada atasanmu, Frederick?”

”Apa menjaga adikmu adalah salah satu misi, Mahesa?”

”Tentu saja, jendral sudah menandatangi proposal saya.” Jagar melempar sebuah dokumen ke atas meja.

Xavier meraih dan membacanya. “Bangsat,” ucapnya lagi dengan nada marah. “Menyelamatkan adikmu dari penculikan adalah satu hal, tapi menjadi pengawalnya adalah hal yang berbeda.” Xavier menutup dokumen itu dan melemparnya ke atas meja. “Aku tidak mau terlibat dengan keluargamu, Sir. Cari saja orang lain.”

”Saya tidak peduli kamu menerimanya atau tidak, misi itu sudah menjadi milikmu sejak jendral menandatanganinya.” Jagar berdiri, menatap Xavier lekat. “Jaga Divya dengan nyawamu. Jangan sentuh dia kecuali untuk melindunginya, jangan ada hubungan pribadi apa pun dengannya di luar pengawal dan klien, jangan libatkan dia ke dalam apa pun urusan pribadimu begitu juga sebaliknya. Got it?”

Xavier tidak menjawab dan hanya diam.

”Sumpahmu, Prajurit!” ucap Jagar tegas.

Xavier memicing, menatap Jagar dengan tatapan membunuh, tapi pria itu tidak bisa melakukannya karena sebagai bawahan Jagar, Xavier tidak bisa memukul atasannya begitu saja atau dirinya akan diadili secara hukum militer Eagle Eyes. Pria itu berdiri tegap, tangan kanannya terkepal dan Xavier menyilangkan salah satu tangannya ke dada.

”Aku … Xavier Frederick, menerima misiku yaitu menjaga Divya Mahesa dengan nyawaku, tidak akan menyentuhnya kecuali untuk melindunginya, tidak akan terlibat hubungan pribadi apa pun dengan klienku. Aku bersumpah dengan nyawaku.” Xavier menatap Jagar dingin. “Anda puas?” Nada suaranya benar-benar tidak ramah, Xavier ingin sekali menghajar pria di depannya dan berharap suatu saat bisa melakukannya.

Jagar tersenyum kecil. “Bagus. Misimu akan berjalan selama satu tahun.” Jagar melangkah pergi, namun sebelum mencapai pintu, Jagar melempar sesuatu kepada Xavier. Sebuah plakat misi sebagai tanda Xavier sedang menjalankan sebuah misi, ketika misi selesai, Xavier akan mengembalikan plakat itu kepada Jagar tanda bahwa misinya telah selesai.

Begitu pintu tertutup Xavier melempar plakat itu ke dinding, benda yang terbuat dari baja itu menghantam dinding dan menimbulkan suara nyaring ketika jatuh ke lantai. Xavier membiarkannya di sana, pria itu masuk ke dalam kamar mandi dengan membanting pintunya.

Begitu selesai mandi, Xavier memakai jaket, dengan helm dan kunci motor di tangan, pria itu keluar dari kamar pribadinya yang ada di markas Eagle Eyes, tempat yang menjadi rumah pertama untuknya sejak ia bergabung di organisasi rahasia ini. Langkahnya menyusuri lorong, tatapannya tajam dan siapa pun tidak mau menegurnya karena raut wajah ‘jangan ganggu’ tercetak di wajahnya dengan begitu jelas. Para prajurit yang sudah cukup mengenal watak pria itu memilih untuk tidak menyapa ketika mereka berpapasan. Tidak ada yang mau repot-repot menyapa pria itu kecuali … para letnan.

”Mau ke mana?” Rai bersandar di depan ruang komunikasi, menatap Xavier yang memegangi helm di tangan.

”Apa aku perlu melapor ke mana aku pergi? Ini jam bebas tugas.”

Rai memicing. “Kamu kenapa?”

”Tidak perlu tahu—“

”Apa masalahmu, X?”

Xavier menghela napas, menatap Arland Frederick—kakaknya.

”Apa kalian tahu si brengsek Mahesa menjadikan aku sebagai pengawal adiknya?”

Arland dan Rai saling berpandangan. “Ya.” Rai menjawab santai. “Lantas?”

”Aku tidak mau melakukannya.”

”Well, Paman Radhi—Jendral maksudku,” ucap Arland, “sudah menandatangani dokumenmu.”

Xavier menghela napas. “Aku menyesal ikut dalam penyelamatan adiknya waktu itu,” gerutu Xavier dan segera pergi menuju lift. Meninggalkan Arland dan Rai yang saling berpandangan.

”Setahuku, dia biasa saja waktu menyelamatkan Divya, bahkan tampaknya dia menggoda Divya di hari pernikahan Jagar dan Killa, kenapa dia sekarang seperti anti dengan Mahesa satu itu?”

Rai mengangkat bahu dan kembali duduk di depan komputernya. “Tanya saja padanya.”

”Aku malas bertengkar,” jawab Arland juga duduk di depan komputernya. “Kalau dia sudah emosi, sulit bicara dengannya.”

”Biarkan saja adikmu, dia sudah besar,” gumam Damian yang sedang sibuk melakukan sesuatu di komputernya. “Jangan lihat dia sebagai si bungsu lagi. Dia sudah dewasa.”

”Sulit menatapnya sebagai pria dewasa karena bagiku dia Ironman kecil yang sering menyembunyikan kaus kaki Zelie dulu.” Arland mendesah pelan.

”Dapat!” Damian menyeringai senang.

Rai dan Arland menatap bingung. “Apa?”

”Lokasi perdagangan manusia dan juga markas judi. Akhir-akhir ini banyak sekali orang yang memposting lowongan pekerjaan dengan gaji menggiurkan di internet. Minggu lalu aku baca sebuah utas di internet bahwa ada seorang kakak yang tidak bisa berkomunikasi dengan adiknya setelah adiknya menerima sebuah pekerjaan. Katanya akan dipekerjakan sebagai TKI di Kamboja. Tapi setelah dua minggu, tidak ada kabar dari adiknya. Jadi aku iseng menelusuri kasus itu, mencari-cari siapa yang memposting lowongan dan menemukan alamat IP-nya.”

”Jangan gegabah dan awasi saja dulu,” ucap Rai menepuk bahu Damian lalu keluar dari ruangan, sementara Arland dan Damian memilih menelusuri kasus serupa agar bisa mengumpulkan berbagai data.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Sentuhan Panas Sang Bodyguard   BAB 61

    Divya mundur selangkah, merasakan sakit yang begitu nyata di dadanya. Rasa sesak yang bahkan tidak bisa ia gambarkan dengan kata-kata. Xavier tidak mengalihkan pandangannya, membiarkan luka di mata Divya terlihat jelas, tapi dia tetap diam.Dan pada saat itu, Divya sadar.Pria itu benar-benar telah membuangnya.Divya menatap Xavier tajam, matanya penuh dengan api kemarahan dan kepedihan yang bercampur menjadi satu.“Aku benci padamu.”Xavier tidak terkejut. Dia hanya tersenyum tipis—senyum dingin yang tidak menyiratkan apa-apa selain kehampaan.“Aku tahu.”Tidak ada pembelaan, tidak ada permintaan maaf.Divya mengepalkan tangan, menahan dorongan untuk menangis di depannya. Dia menolak terlihat lemah di hadapan pria yang baru saja menghancurkannya. Jadi, tanpa mengatakan apa pun lagi, dia berbalik dan melangkah pergi.Xavier tetap diam, tidak bergerak. Dia hanya menatap selimut di pangkuannya, tidak berani melihat punggung Divya yang menjauh. Saat

  • Sentuhan Panas Sang Bodyguard   BAB 60

    Xavier mendongak, menatap pria itu dengan tatapan gelap.“Jauhi Divya.”Hening.“Atau saya sendiri yang akan membunuhmu.”Xavier tidak mengatakan apa-apa. Tidak ada janji, tidak ada protes. Ia hanya diam, membiarkan Jagar berjalan keluar dari ruangan tanpa menoleh lagi.Bukan karena Xavier takut. Tapi karena untuk pertama kalinya dalam hidupnya, dia harus menghadapi kenyataan bahwa dia benar-benar telah gagal.Dan itu menghancurkannya lebih dari apa pun. Dia tidak mencoba membela diri, tidak mencoba menyangkal, dan tidak mencoba meyakinkan Jagar akan kemampuannya. Dia membiarkan pria itu keluar dari ruangan tanpa kata-kata. Dan dia tahu … bahwa semua yang dikatakan Jagar adalah kebenaran yang tidak bisa dia bantah.Xavier menatap langit-langit kamar rumah sakit dengan pandangan kosong. Foto-foto yang tadi dilempar Jagar masih tergeletak di pangkuannya, tapi dia tidak lagi melihatnya.Jagar benar.Dia telah gagal.Dia tidak hanya melanggar

  • Sentuhan Panas Sang Bodyguard   BAB 59

    Divya menggeleng, matanya membelalak. “Tidak … tidak mungkin …”Hasan tertawa sinis. “Tentu saja kamu tidak tahu. Kamu terlalu sibuk menjadi putri kecil Mahesa, terlalu sibuk mempercayai saudara-saudaramu. Tapi aku tidak lupa, Nona. Aku tidak pernah lupa.”Divya menelan tangisnya. “Jadi selama ini … kamu hanya menungguku lengah?”Hasan menyeringai. “Tidak hanya itu. Aku menunggumu jatuh ke dalam perangkapku. Aku menunggumu percaya sepenuhnya padaku, membiarkanku masuk ke dalam hidupmu. Dan lihatlah, kamu bahkan tidak pernah curiga sedikit pun, bukan?”Divya merasakan kepedihan yang luar biasa menusuk dadanya.Selama ini, Hasan sudah merencanakannya.Selama ini, dia hanya menunggu momen yang tepat untuk menghancurkannya.“Aku percaya padamu …” suara Divya hampir tak terdengar. “Aku menganggapmu sebagai keluargaku …”Hasan hanya menatapnya dengan datar. “Dan itu kesalahan terbesarmu, Nona.”Ingatan itu membuat Divya menutup wajahnya dengan kedua tan

  • Sentuhan Panas Sang Bodyguard   BAB 58

    Begitu mobil berhenti di markas, para prajurit langsung bergegas menangani para sandera yang berhasil mereka selamatkan. Tangisan, erangan kesakitan, dan suara perintah memenuhi udara saat mereka semua bergerak cepat.Xavier membuka pintu mobil, tapi baru saja dia melangkah keluar, tubuhnya limbung.”X!” Divya langsung menahannya, kedua tangannya menggenggam tubuh pria itu erat-erat. Saat itulah dia merasakan sesuatu yang hangat dan lengket di tangannya.Darah. Darah yang mengalir deras dari punggung Xavier, menembus jaket dan kausnya, menetes ke tanah. Divya membelalakkan mata, napasnya tercekat. “X—”Belum sempat dia menyelesaikan kata-katanya, para prajurit datang membantu, membopong Xavier yang sudah hampir kehilangan keseimbangan. Jagar dan Abhimanyu juga ikut turun dari mobil lain, tubuh mereka berlumuran debu dan keringat. Beberapa letnan lain terluka, segera dibantu masuk ke ruang medis.Divya ingin mengikuti Xavier, ingin memastikan dia baik-baik saja— N

  • Sentuhan Panas Sang Bodyguard   BAB 57

    Divya terengah-engah.Xavier hanya berdiri di sana, dadanya naik turun dengan napas berat, belati masih tergenggam erat di tangan kirinya. Matanya masih tajam, memastikan tak ada yang bangkit lagi.Lalu, dia berbalik, menatap Divya yang masih tampak terkejut. Xavier tidak berkata apa pun. Dia hanya mengulurkan tangan, menggenggam jari-jari Divya yang masih dingin.“Jangan lepas,” suaranya pelan.Divya menggigit bibir, lalu mengangguk, jari-jarinya meremas tangan Xavier sebagai jawaban. Tanpa membuang waktu lagi, mereka kembali berlari, menerobos sisa bayangan malam menuju kebebasan.Suara Damian tiba-tiba terdengar panik melalui earpiece, membuat Xavier langsung waspada.“X! Kamu masih di dalam?!”“Ya. Kenapa?”Dari seberang, suara Damian terdengar lebih cemas. “Keluar sekarang! Gedung ini dipasangi bom! Akan segera meledak! Sialan! Aku tidak punya waktu untuk menjinakkannya. Hanya tersisa beberapa detik lagi. Lari! Keluar sekarang! Kalian semua kelua

  • Sentuhan Panas Sang Bodyguard   BAB 56

    Xavier tetap diam. Tatapannya tajam, dingin, penuh kebencian yang hampir bisa dirasakan di udara. Jarinya menggenggam belatinya erat, sementara matanya mengamati situasi. Lima belas pria bersenjata mengelilingi mereka, semua dengan senapan otomatis teracung siap menembak. Tapi Xavier tidak gentar. Tidak juga Jagar, Abhimanyu, atau Damian yang berdiri di belakangnya.Abhimanyu memutar pedangnya di tangan, logamnya berkilat di bawah cahaya redup. “Kita bisa selesai dalam tiga menit.”Xavier menatap Jagar, memberi isyarat halus. Jagar mengangguk.Lalu neraka pun meledak.Jagar adalah yang pertama melesat, tubuh besarnya bergerak lebih cepat dari yang bisa diduga. Tangannya merobek satu pria dengan gerakan brutal, sementara Abhimanyu mengikuti, pedangnya menyambar leher pria di sebelahnya dengan satu tebasan mulus.Xavier tidak menunggu lebih lama. Dia maju dengan kecepatan yang mengerikan, belatinya melesat ke tenggorokan pria yang mencoba menghalanginya. Darah memu

  • Sentuhan Panas Sang Bodyguard   BAB 31

    Dan Xavier menyerah. Dengan satu gerakan, ia kembali menarik tengkuk Divya, bibirnya kembali menyapu bibir wanita itu, kali ini lebih perlahan, lebih dalam, lebih menghanyutkan. Divya mengeluarkan erangan kecil saat Xavier menghisap bibir bawahnya, sebelum menyusuri bibir atasnya dengan lembut. T

  • Sentuhan Panas Sang Bodyguard   BAB 30

    Panggilan itu lagi-lagi berhasil membuat Xavier membeku untuk sesaat sebelum kembali tersenyum.”Senang kamu menyukainya, Princess.” Pria itu ikut masuk dan menutup pintu. “Film apa yang ingin kamu tonton?”Divya mengangkat bahu. “Aku orang yang belum pernah menonton film, ingat? Jadi pil

  • Sentuhan Panas Sang Bodyguard   BAB 28

    ”Kamu sangat layak, Princess.”Xavier mengangkat dagu Divya dengan lembut, ibu jarinya mengusap kulit halus di bawah bibir wanita itu. Matanya yang tajam menatap dalam, seolah mencari sesuatu di sana—mungkin keraguan, mungkin ketakutan. Tapi yang ia temukan hanyalah kepercayaan yang perlahan

  • Sentuhan Panas Sang Bodyguard   BAB 26

    “Xavier, hentikan.” Sebuah suara yang lembut, tapi penuh ketegasan.Xavier membeku. Tangannya masih di udara, tubuhnya menegang, dan untuk pertama kalinya sejak masuk ke ruangan ini, ia mengalihkan tatapannya dari Anjas.Divya berdiri di ambang pintu. Matanya merah karena menangis, bibirn

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status