Partager

Perjodohan

Auteur: Dahlia Cici
last update Date de publication: 2026-06-06 06:03:29

Pagi itu suasana ruang makan terasa jauh lebih tenang dibanding biasanya. Aroma kopi dan roti panggang memenuhi udara. Maya sedang menuangkan teh ke dalam cangkir, sementara Arman membaca berita di tablet miliknya.

Di sisi lain meja, Naura berusaha fokus pada sarapannya, karena sejak tadi ia bisa merasakan satu pasang mata yang terus mengarah kepadanya.

Raka.

Pria itu sesekali menyesap kopinya, lalu diam-diam melirik ke arah Naura. Naura tahu, dan ia sangat sadar. Namun Naura memilih pura-pura
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé
Commentaires (1)
goodnovel comment avatar
Liyan Damiyanti
rumit nanti nya ini mah
VOIR TOUS LES COMMENTAIRES

Dernier chapitre

  • Serumah Dengan Mantan   terbuai

    "Iya," bisiknya akhirnya. Suaranya nyaris tak terdengar. "Hangatkan aku. Aku kedinginan." Raka tidak perlu mendengar ucapan itu dua kali. Ia menarik Naura ke dalam pelukannya dengan erat. Tubuh Naura yang menggigil perlahan mulai tenang, tenggelam dalam kehangatan yang terpancar dari Raka. Tapi pelukan itu tidak bertahan lama. Karena keduanya tahu, pelukan saja tidak cukup. Raka melepas pelukannya perlahan, tapi tangannya tetap di pinggang Naura. Matanya menatap gadis itu, mencari persetujuan, mencari kepastian. "Naura," bisiknya. "Aku sudah mengunci pintu. Dan aku sudah kirim pesan ke sekretarisku kalau aku ingin istirahat dan tidak mau diganggu. CCTV pun sudah aku non aktifkan." Naura tersenyum kecil. "Kamu sudah merencanakan ini?" "Nggak. Tapi aku tahu aku nggak akan bisa berhenti jika sudah mulai." Naura menggigit bibir bawahnya. Tangannya naik ke dada Raka, jari-jarinya menyentuh kancing kemeja pria itu. "Raka." "Hm?" "Aku takut." "Takut apa?" "Takut ini salah. Takut

  • Serumah Dengan Mantan   Godaan

    Mereka berpelukan cukup lama. sampai akhirnya, Raka melepaskan pelukannya perlahan, tapi tangannya masih bertahan di pinggang Naura. "Naura," panggil Raka dengan lembut. "Hm?" "Aku harus selesaikan kerjaan dulu. Ada laporan yang harus dikirim sore ini." Naura mengangguk. "Oke. Aku nggak ganggu." Raka tersenyum. "Kamu sudah ganggu sejak pertama kali kamu masuk ke ruangan ini." Naura mendengus. "Itu bukan ganggu. Itu... menghibur." "Menghibur?" Raka mengangkat alis. "Dengan cara membuatku cemburu?" "Aku nggak sengaja!" "Iya, iya." Raka terkekeh kecil. Lalu ia mengecup kening Naura sekali lagi sebelum melepaskan tangannya dan berjalan ke meja kerjanya. Naura kembali ke sofa, menarik jaket Raka lebih erat ke tubuhnya. Ia memperhatikan pria itu yang kini kembali fokus di depan laptop, alis sedikit mengernyit, jari-jarinya mengetik dengan cepat, sesekali berhenti untuk membaca dokumen. 'Ganteng banget kalau serius,' ucap Naura dalam hati. Raka mengangkat wajah tanpa berhenti men

  • Serumah Dengan Mantan   Aku Cinta Kamu

    Selesai makan, mereka kembali ke lantai delapan. Naura berjalan di samping Raka, masih dengan jaket pria itu melingkar di tubuhnya. Suasana di lift terasa hangat dan nyaman, sampai mereka melangkah keluar menuju ruang terbuka. Di sana, seorang karyawan laki-laki mungkin umur dua puluh lima tahun, dengan kemeja biru dan senyum ramah sedang berdiri di dekat mesin kopi. Begitu melihat Naura, matanya berhenti. Bukan lirikan biasa. Tatapan itu terlalu lama. Naura menangkap tatapan itu. Tanpa berpikir, ia tersenyum kecil ke arah pria itu. Hanya senyum sopan, tidak lebih. Tapi bagi Raka, Naura tidak seharusnya membalas senyuman pria yang tidak ia kenal. Seketika rahang Raka menegang. Matanya menyipit. Ia melangkah lebih cepat, hampir menarik Naura melewati ruang terbuka dengan langkah panjang. "Raka, kenapa cepat-cepat?" tanya Naura bingung. "Nggak kenapa-kenapa." "Nggak. Kamu jalannya cepet banget." Raka tidak menjawab. Ia membuka pintu ruangannya, masuk lebih dulu, lalu menun

  • Serumah Dengan Mantan   Kecupan Kening

    Naura membeku, begitu juga dengan Raka.Kancing lengan kemeja Raka benar-benar tersangkut di rambut Naura, terjalin di antara helai-helai rambut panjang gadis itu. Keduanya terdiam, terkejut dengan situasi yang tiba-tiba terjadi.Raka mencoba menarik tangannya perlahan, tapi rambut Naura justru semakin kusut."Aduh!" Naura merintih pelan."Maaf, tunggu..." Raka berusaha melepaskan dengan hati-hati, tapi posisi mereka malah semakin tidak nyaman. Kini Raka harus membungkuk lebih dekat ke arah Naura, satu tangannya terangkat di dekat kepala gadis itu, sementara tubuhnya hampir menempel. Jarak mereka menjadi sangat dekat.Naura bisa merasakan napas Raka di wajahnya. Bisa melihat bulu matanya yang lebat. Bisa mendengar detak jantung yang berdegup kencang walaupun mungkin itu detak jantungnya sendiri."Naura... diam dulu," bisik Raka, suaranya serak."Aku diam," jawab Naura dengan suara hampir tak terdengar.Raka mencoba lagi melepaskan kancingnya dari rambut Naura. Jari-jarinya bergerak pe

  • Serumah Dengan Mantan   Ruang Yang Membosankan

    Tiba di Kantor RakaGedung itu tidak terlalu besar, tapi terlihat modern dengan kaca-kaca gelap yang membentang dari lantai satu hingga delapan. Raka memarkir mobil di basement, lalu berjalan di samping Naura menuju lift.Naura diam-diam memperhatikan sekeliling. Semua tampak rapi dan bersih. Lantai marmer mengkilap, dinding putih dengan lukisan abstrak, dan meja resepsionis di lantai dasar yang dijaga oleh seorang wanita muda dengan senyum ramah.“Selamat pagi, Pak Raka,” sapa resepsionis itu.“Pagi, Maya.” Raka mengangguk singkat. Lalu ia menoleh ke Naura. “Ini adik saya. Naura.”Naura tersenyum kaku. “Halo.”“Oh, selamat pagi, Mbak Naura.” Maya tersenyum ramah, tapi matanya sempat melirik sekilas, terlalu lama untuk sekadar lirikan biasa.Kenapa ya? pikir Naura. Tapi ia mengabaikannya.Lift membawa mereka ke lantai delapan. Begitu pintu lift terbuka, Naura disambut oleh ruang terbuka dengan beberapa meja kerja, komputer, dan karyawan yang mulai sibuk. Suasana kantor terasa santai t

  • Serumah Dengan Mantan   Ganggu Hidup Bertahun-tahun

    Naura langsung membulatkan matanya.Wajahnya yang mulai reda kembali memerah dalam sekejap. Ia membuka mulut, tapi tidak ada suara yang keluar. Kata-kata Raka tadi menusuk tepat sasaran. Karena memang benar. Mereka sudah macam-macam. Bahkan lebih dari sekedar macam-macam.“Itu... itu beda!” jawab Naura akhirnya dengan suara meninggi.“Beda apa?”“Beda! Kalau dulu aku mabuk! Aku nggak sadar kalau kita...”“Iya iya... jadikan terus itu sebagai alasan. Nyatanya kamu begitu menikmati.""RAKA!" bentak Naura.Raka hanya cekikikan. Ia sangat suka menggoda Naura, terlebih saat wajah Naura kini terlihat memerah."Naura, coba lihat aku," pinta Raka.Naura yang masih memalingkan wajah dan menatap ke arah jendela, ia hanya diam. Ia benar-benar malu, apalagi jika ingatan malam itu terus diungkit. Naura tau jika malam itu, ia lah dalang dari semuanya, sampai akhirnya kesuciannya terenggut."Ayo lihat ke sini. Aku pengen lihat wajah kamu.""Enggak."Raka menghela napas. Dengan lembut ia meraih dagu

  • Serumah Dengan Mantan   Berhutang

    Bibir Naura hampir menyentuh pipi Raka. Satu senti lagi. Dua senti lagi. Naura bisa merasakan hangatnya kulit Raka. Bisa mencium wangi sabun yang melekat di tubuh pria itu. Jantungnya berdebar begitu kencang, hampir meledak di dadanya. Dan saat bibirnya hampir mendarat... Klik. Suara pintu ut

  • Serumah Dengan Mantan   Mister Posesif

    Naura langsung menegang mendengar perkataan Raka. “Hah? Maksudnya?” Tanya Naura. Suaranya terdengar lebih pelan dari yang ia inginkan.Raka tidak langsung menjauh. Napas hangatnya masih terasa di dekat telinga Naura, membuat tubuh Naura masih menegang, bahkan bulu kuduknya berdiri tegak.“Dari tadi

  • Serumah Dengan Mantan   Masih Posesif

    Wajah Raka semakin mendekat. Nafas Naura langsung tercekat. Jarak mereka kini hanya beberapa senti. Terlalu dekat sampai Naura bisa merasakan hembusan nafas hangat Raka menyentuh wajahnya.Deg.Deg.Deg.Jantungnya berdetak kacau.“Raka…” bisik Naura lirih, hampir tak terdengar. Tangannya bahkan ma

  • Serumah Dengan Mantan   Sebuah Perhatian

    Naura menatap Raka beberapa detik. Dadanya terasa semakin sesak, tapi kali ini bukan karena terkejut, melainkan karena sakit yang terlalu familiar.“Iya… harusnya aku sadar dari tadi,” gumam Naura pelan sambil tertawa kecil.Raka tidak menjawab. Namun tatapannya tetap dingin, seolah tidak ada celah

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status