تسجيل الدخولPOV Farhan
Pintu ruang arsip terbuka perlahan.Ruangan itu dipenuhi rak-rak besi yang menjulang tinggi, berisi dokumen perusahaan yang telah disimpan selama puluhan tahun.Seorang petugas arsip segera berdiri ketika melihat Farhan datang."Selamat siang, Pak Farhan.""Selamat siang.""Saya ingin melihat dokumen penggabungan perusahaan sekitar lima sampai enam tahun yang lalu.""Baik, Pak."Petugas itu berjalan menuju salaPOV NauraPintu ruang rapat terbuka.Tiga orang berpakaian rapi memasuki ruangan bersama sekretaris perusahaan.Naura segera berdiri menyambut mereka."Selamat pagi. Terima kasih sudah datang."Salah seorang pria paruh baya mengulurkan tangannya."Selamat pagi, Bu Naura. Saya Richard, Komisaris Utama PT Arunika Capital. Ini rekan saya, Ibu Melissa dan Pak Andika."Naura menyalami mereka satu per satu."Silakan duduk."Mahendra dan Gibran ikut duduk di samping Naura.Richard membuka pembicaraan."Terus terang, kami sempat mempertimbangkan untuk menghentikan kerja sama.""Kasus yang terjadi beberapa waktu terakhir membuat kami kehilangan kepercayaan."Naura mengangguk."Saya memahami kekhawatiran Bapak dan Ibu.""Karena itu saya tidak akan meminta kepercayaan tanpa membuktikannya."Richard memperhatikan Naura."Lalu, apa yang akan And
POV NauraMahendra membaca surat yang baru saja diberikan Naura.Ia mengernyit pelan."Investor ini adalah salah satu investor terbesar perusahaan.""Kalau mereka menarik investasinya, beberapa proyek besar kita akan terhenti."Gibran ikut membaca isi surat tersebut."Mereka tidak meminta kompensasi.""Mereka hanya ingin memastikan perusahaan benar-benar berada di bawah kepemimpinan yang bersih."Naura mengembuskan napas panjang."Itu artinya.""Mereka masih memberi kita kesempatan."Mahendra mengangguk."Benar.""Tujuh hari.""Dalam tujuh hari kita harus meyakinkan mereka."Naura menutup map di hadapannya."Kalau begitu kita mulai hari ini."---Rapat kembali dilanjutkan.Naura berdiri di depan seluruh jajaran direksi."Saya ingin mendengar kondisi setiap divisi.""Tidak ada yang boleh ditutupi."
POV NauraDua minggu telah berlalu sejak putusan pengadilan.Kasus yang selama lima tahun membayangi keluarga Noel akhirnya berakhir.Nama Noel dipulihkan.Tomi resmi menjalani hukuman lima belas tahun penjara.Sementara Farhan mulai menjalani hukuman satu tahun penjara.Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, rumah Jolina dipenuhi suasana hangat.Tidak ada lagi tangisan.Tidak ada lagi rasa takut.Di meja makan, Noel memandang putri semata wayangnya dengan mata berkaca-kaca."Naura.""Iya, Yah?""Terima kasih."Naura tersenyum bingung."Untuk apa?""Karena kamu tidak menyerah memperjuangkan Ayah.""Kalau bukan karena kamu, mungkin Ayah akan menghabiskan sisa hidup sebagai orang yang dianggap pengkhianat."Naura menggenggam tangan ayahnya."Ayah tidak perlu berterima kasih.""Aku hanya melakukan apa yang seharus
POV NauraRuang sidang kembali dipenuhi suasana tegang.Setelah seluruh saksi selesai memberikan keterangan, ketua majelis hakim mempersilakan jaksa penuntut umum menyampaikan tuntutannya.Jaksa berdiri sambil membawa berkas tebal."Berdasarkan hasil audit forensik, keterangan para saksi, barang bukti, serta fakta yang terungkap di persidangan, penuntut umum berkesimpulan bahwa terdakwa Tomi terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan pemalsuan dokumen perusahaan, penggelapan dana perusahaan, penyalahgunaan jabatan, serta memberikan keterangan yang menyebabkan Noel menjadi pihak yang dipersalahkan."Ruangan kembali hening.Jaksa melanjutkan,"Atas perbuatannya, penuntut umum menuntut terdakwa Tomi dengan pidana penjara selama lima belas tahun."Wajah Tomi memucat.Diah yang duduk di bangku pengunjung langsung menangis.Farhan hanya menundukkan kepalanya.Jaksa kembali membuka berkas b
POV NauraSatu bulan setelah putusan perceraian berkekuatan hukum tetap.Naura resmi menyandang status janda.Namun, ia tidak memiliki waktu untuk larut dalam kesedihan.Hari ini adalah awal perjuangan yang sesungguhnya.Di hadapannya berdiri gedung Pengadilan Negeri yang akan menentukan nasib perusahaan keluarganya.Mahendra menghampiri Naura yang sedang menatap gedung pengadilan."Gugup?"Naura mengembuskan napas perlahan."Sedikit.""Bukan karena takut.""Tapi karena aku sudah menunggu hari ini selama bertahun-tahun."Mahendra tersenyum tipis."Hari ini bukan hanya tentang perusahaan.""Tapi juga tentang nama baik ayahmu."Naura mengangguk mantap."Iya.""Dan aku akan memperjuangkannya sampai akhir."Tak lama kemudian, Gibran datang membawa beberapa map tebal."Semuanya sudah siap.""Hasil audit indepen
POV NauraSuasana di ruang perawatan kembali tenang setelah para penyidik selesai mengambil keterangan Ardi.Mahendra, Gibran, Naura, dan Jolina berpamitan agar Ardi dapat beristirahat."Terima kasih, Pak Ardi," ucap Naura sambil menyalami pria itu.Ardi tersenyum lemah."Jangan menyerah, Nak. Ayahmu menunggu keadilan."Naura mengangguk mantap."Saya janji."---Saat mereka keluar dari rumah sakit, ponsel Mahendra tiba-tiba berdering.Ia melihat nama asistennya, Reno.Mahendra langsung mengangkat telepon."Halo.""Pak Mahendra, kami berhasil menemukan dua orang yang selama ini kita cari."Mahendra langsung menghentikan langkahnya."Siapa?""Ibu Dewi, mantan sekretaris pribadi Pak Tomi.""Dan Pak Budi Santoso, mantan kepala bagian keuangan."Mata Mahendra langsung berbinar."Bagaimana kondisi mereka?""Ibu
Mobil yang dikendarai Farhan akhirnya memasuki area lokasi acara.Sejak tiba di gerbang utama, suasana sudah terlihat sangat ramai. Para tamu undangan, rekan bisnis, investor, dan awak media mulai berdatangan.Farhan turun lebih dulu, lalu membukakan pintu untuk Naura.
Naura tanpa sadar terlalu banyak bercerita tentang pernikahannya dengan Farhan. Dari awal mereka menikah muda, lima tahun menjalani rumah tangga bersama, hingga akhirnya Farhan ketahuan berselingkuh dan ia tetap mencoba memberikan kesempatan kedua.“Aku tidak menyangka Farhan sudah menya
Tahun pertama pernikahan mereka terasa seperti mimpi. Farhan masih sering pulang tepat waktu. Mereka makan malam bersama, tertawa pada hal-hal sederhana, dan sesekali pergi berlibur singkat ke luar kota. Semua terasa cukup. Semua terasa utuh. Naura berusaha menjadi istri yang sempurna ban
Naura menatap kosong ke arah jendela. Pikirannya melayang jauh kembali ke masa ketika semuanya belum serumit ini. Ke awal. Ke Farhan. Ia pertama kali mengenal Farhan saat masih duduk di bangku SMP. Sore itu, rumahnya lebih ramai dari biasanya. Aroma teh hangat dan kue buatan ibunya meme







