ВойтиLangit malam telah sepenuhnya menggantikan pendar jingga senja di pesisir Fregene saat SUV hitam yang dikemudikan Marvin kembali membelah jalan tol menuju utara. Perjalanan panjang meninggalkan Roma menuju Florence membentang di hadapan mereka, ditemani oleh alunan musik instrumental lembut dari radio mobil yang mengiringi kesunyian malam.Di kursi penumpang sebelah pengemudi, Felly tampak bersandar nyaman dengan mata yang perlahan meredup. Kelelahan setelah seharian penuh berjalan-jalan di Ostia Antica dan menyusuri pantai akhirnya mengambil alih kesadarannya. Napas wanita itu teratur, terlelap dalam lelap yang tenang.Marvin melirik sekilas ke arah sang istri, mendapati kepala Felly sedikit miring ke samping. Sudut bibir pria itu terangkat membentuk senyum tipis yang sarat akan kelembutan. Berbeda dari perjalanan antar-kota sebelumnya yang sempat diwarnai ketegangan, rasa curiga, dan jarak emosional yang menyesakkan, perjalanan kali ini terasa begitu ringan. Hati mereka sudah sama-s
Sisa debar dari kamar mandi masih melekat erat di kulit mereka saat Marvin mengegndong Felly keluar dari kepulan uap hangat. Tanpa membuang waktu, pria itu merebahkan tubuh istrinya secara perlahan di atas seprai putih berukuran king-size yang menghadap langsung ke dinding kaca kamar suite.Sentuhan Marvin langsung berubah intens namun dibalut kelembutan yang teramat sangat. Di atas ranjang luas itu, seolah jarak sebulan menjalani Long Distance Relationship dan segala emosi yang sempat tertahan melebur menjadi satu dalam setiap gerakannya. Tangan kokoh suaminya menangkup wajah Felly, memaksa wanita itu menatap langsung ke dalam manik mata gelapnya yang memuja."Kamu milik saya, Felly... sepenuhnya milik saya," bisik Marvin serak, suaranya menghanyutkan dan menuntut kepasrahan mutlak.Jari-jari pria itu menelusuri garis rahang istrinya turun ke leher, memberikan sengatan panas di setiap titik yang disentuhnya. "Hm, dari kemarin di Florence saya sudah pengen buat kamu begini... mendesah
Matahari yang tadinya membingkai langit sore Fiumicino dengan rona oranye keemasan kini telah sempurna tenggelam, digantikan pekat malam yang turun merayap menyelimuti jalanan kota abadi.Laju SUV hitam yang dikemudikan Marvin membelah arus lalu lintas malam Roma, membawa mereka merapat ke sebuah hotel butik mewah berarsitektur klasik di kawasan jantung kota. Setelah proses check-in kilat di meja resepsionis privat yang terbebas dari keramaian, langkah kaki keduanya menuju pintu kamar suite eksklusif yang langsung terdorong terbuka lebar.Felly melangkah masuk lebih dulu, dan sedetik kemudian, sebuah helaan napas kagum tanpa sadar terlepas dari bibirnya. Dinding kaca berukuran besar dari lantai hingga langit-langit kamar menyuguhkan panorama lanskap malam kota Roma yang berpendar indah di bawah temaram ribuan lampu jalanan kuno dan bangunan bersejarah.Suasana di dalam ruangan seketika terasa begitu privat, kontras dengan hiruk-pikuk bandara beberapa jam lalu. Tas belanja dan koper te
Deretan papan petunjuk berukuran besar akhirnya mengarahkan SUV hitam milik Marvin memasuki area Bandara Internasional Leonardo da Vinci–Fiumicino, Roma. Langit sore mulai berhias rona oranye keemasan, membiaskan cahaya hangat yang menembus kaca depan kendaraan. Perjalanan antar-kota yang melelahkan itu tuntas tepat waktu, menyisakan jarak beberapa jam sebelum jadwal penerbangan Bu Dyas kembali ke Jakarta.Marvin memutar kemudi dengan sigap, melipir perlahan menuju area drop-off terminal keberangkatan internasional yang riuh oleh hilir mudik calon penumpang. Begitu mesin mobil dimatikan, Bu Dyas di kursi belakang terbangun pelan dari tidur lelapnya. Beliau merapikan tatanan rambutnya yang tetap anggun, lalu kembali mengenakan kacamata hitamnya dengan gerakan yang elegan."Sudah sampai, Ma," ucap Marvin datar sembari melepas sabuk pengaman, lalu menoleh ke belakang sekilas."Cepat sekali," gumam Bu Dyas sembari menyimpulkan senyum tipis. Beliau melirik Felly yang berada di samping kemu
Roda-roda SUV mewah milik Marvin bergulir perlahan meninggalkan kompleks kampus Florence. Mobil garang yang selalu siap di garasi rumah pribadinya yang kini ia taruh di garasi rumah Bu Dyas yang ditempati Felly di Italia itu melaju mulus, membawa mereka bertiga membelah jalanan kota sebelum akhirnya lepas menuju jalur antar-kota.Pemandangan di luar jendela secara bertahap berubah—bangunan berarsitektur renaisans tergantikan oleh hamparan perbukitan Tuscany yang membentang luas. Dedaunan hijau memudar hangat di bawah paparan sinar matahari Jumat siang, menciptakan garis siluet indah di sepanjang jalur menuju Roma.Di balik kemudi, Marvin duduk tegap. Jemari tangannya yang panjang terkepal santai di atas lingkar kemudi. Suasana hatinya jauh berbeda dibanding saat perjalanan menuju kampus pagi tadi—rahangnya yang tadinya mengeras kaku kini tampak jauh lebih rileks.Penampilannya hari ini sudah kembali ke standar seorang Marvin yang sempurna—kemeja kasual terlipat rapi hingga siku, rambu
Pagi itu, suasana meja makan kembali diwarnai denting halus cangkir porselen dan aroma kopi yang menyeruak. Namun, berbeda dari dugaan Felly yang mengira ibu mertuanya akan terburu-buru mengejar penerbangan pagi, Bu Dyas justru duduk dengan santai sembari membolak-balik layar ponselnya."Perasaan kemarin Mama bilang penerbangannya jam sepuluh pagi?" celetuk Felly hati-hati, memecah keheningan di antara mereka.Bu Dyas mengalihkan pandangan dari ponselnya, lalu menyunggingkan senyum anggun. "Mama sengaja memilih penerbangan sore yang berangkat dari Bandara Fiumicino. Kita bisa naik mobil dari sini, hitung-hitung road trip singkat."Mendengar itu, Felly langsung meneguk ludahnya sendiri. Otaknya bekerja cepat menyambungkan benang merahnya. Kalau jadwal terbang Bu Dyas sore nanti di Roma, artinya... mertuanya benar-benar serius dengan ucapannya semalam!"Jadi... Mama tetap mau ikut ke kampusku pagi ini?" tanya Felly lagi, memastikan dengan nada bergetar."Tentu saja," jawab Bu Dyas cepat
Marvin membawa Felly ke club Devan. Di sana sudah lengkap formasi, seolah sengaja datang untuk menyambut Felly.“Hai, Felly!” Olivia tak lagi dingin seperti dulu. Wanita itu lebih ramah pada Felly, bahkan menyambut dengan pelukan hangat seolah bertemu teman lama.Felly awalnya kikuk, bingung bagaim
“Mas, mama … mama juga cerita tentang Vania.”Marvin membeku.“Mas?” Felly melambaikan tangan di depan wajah Marvin yang tak memberi respons apa pun.Marvin tersadar saat Felly menyenggol lengannya pelan. “Ah? Y-ya?” ucapnya terbata. “Maaf… Mas melamun.”Felly menghela napas, lalu menyandarkan tubu
Perkuliahan selesai lebih cepat dari biasanya, Felly dengan cepat merapikan mejanya dan bergegas pergi setelah berpamitan pada Gista. Sahabatnya itu tidak curiga apapun, mengira dirinya akan bekerja di minimarket seperti biasanya.Padahal di sinilah Felly berada. Di depan sebuah gedung apartemen me
Seakan seluruh udara di dadanya tersedot habis.Felly merangsek maju, suara gemetar keluar dari mulutnya. “Pak, ini maksudnya apa? Kenapa rumah saya ditempeli ini?”Salah satu pria menoleh. Formal, rapi, ekspresinya datar, bahkan terlalu datar untuk berita yang bisa meruntuhkan hidup seseorang.“Se







