แชร์

Bab 2 Pria Misterius

ผู้เขียน: Ayuu
last update วันที่เผยแพร่: 2026-05-04 23:28:34

Semua bermula dari kebohongan yang tidak sengaja Nora tebar di koridor rumah sakit semalam.

Pria itu, Ronan, kini benar-benar percaya bahwa dirinya adalah Alex Wilmington—seorang suami abai dan ayah dari anak yang bahkan tidak mengenali wajahnya sendiri.

Amnesia sialan itu telah menghapus identitasnya, menyisakan seorang pria linglung yang mendadak diserahi tanggung jawab atas sebuah keluarga miskin yang hancur berantakan.

Nora melangkah mundur selangkah. Debaran di dadanya kian menggila saat mata hitam Ronan kembali mengunci tatapannya dari balik tubuh mungil Matt yang berada di dekapannya.

"Dia... tidak mengingat apa pun, Dokter?" Nora memastikan sekali lagi. Suaranya bergetar tipis, sengaja dia samarkan sebagai bentuk rasa syok seorang istri yang terpukul.

Dokter Pedro mengangguk pelan sembari merapikan catatan medis di tangannya.

"Sama sekali tidak, Nyonya Wilmington. Cedera di kepalanya cukup parah akibat benturan itu. Untuk sementara, bawa dia pulang ke rumah. Lingkungan yang familier biasanya bisa membantu memulihkan ingatan pasien lebih cepat."

Mendengar kata 'pulang', seluruh pasokan udara di paru-paru Nora rasanya menguap seketika.

Memikirkan jika pria asing itu akan yidur di ranjang yang sama, dan hidup bersama anaknya?! Itu sama saja dengan memelihara bom waktu yang siap meledak kapan saja.

Jika ingatan pria ini kembali saat mereka sedang tidur, Nora tidak bisa membayangkan nasib mengerikan apa yang akan menimpa dirinya dan Matt.

Namun, Nora tahu dia tidak punya pilihan untuk mundur sekarang. Sandiwara ini harus terus berlanjut demi kelangsungan hidup mereka.

"Nora..."

Panggilan itu membuat Nora tersentak dari lamunannya.

Ronan menyebut namanya dengan nada yang teramat asing—rendah, penuh kehati-hatian, dan tanpa ada nada ancaman menuntut seperti yang biasa Alex lakukan.

Pria itu bangkit berdiri dari ranjangnya sambil berjalan mendekat ke arah Nora yang mendekap erat Matt. Postur tubuh Ronan yang tinggi besar dan tegap seketika mendominasi ruangan bangsal yang sempit itu.

"Kita... pulang sekarang?" tanya Ronan, menatap Nora lurus-lurus. Ada kilat rasa bersalah yang melintas di matanya saat mendengar sisa isakan Matt yang masih bersembunyi di ceruk leher Nora. "Maaf, aku membuat anak kita takut."

Nora membuang muka, tidak berani membalas tatapan intens itu terlalu lama. Dia mengencangkan pelukannya pada Matt, lalu berbalik pelan ke arah pintu.

"Iya. Kita pulang," sahut Nora pendek. Suaranya terdengar dingin dan datar.

**

Perjalanan pulang dari rumah sakit terasa seribu kali lebih panjang dan mencekam dari biasanya. Sir Thomas berbaik hati meminjamkan kereta kuda tuanya agar Nora yang sedang hamil tua tidak perlu mendorong gerobak madu lagi.

Sepanjang jalan, keheningan yang pekat menyelimuti mereka berempat. Ronan duduk di sisi seberang, memangku Matt yang akhirnya tertidur pulas karena kelelahan.

Mata tajam Ronan bergerak liar, mengamati pemandangan desa yang asing di luar jendela kereta, sebelum akhirnya pandangannya jatuh pada jemari Nora yang gemetar di atas perut buncitnya.

Ada dorongan aneh di dalam dadanya untuk mengulurkan tangan dan menenangkan wanita itu, namun urung dia lakukan saat melihat bagaimana Nora refleks mengerutkan tubuhnya menjauh, seolah kehadiran Ronan adalah sebuah ancaman besar.

Saat kereta kuda akhirnya berhenti di pekarangan rumah tua mereka yang dipenuhi ilalang tinggi, Ronan turun terlebih dahulu sambil menggendong Matt.

Ia kemudian berbalik, mengulurkan sebelah tangannya yang bebas untuk membantu Nora turun dari tangga kereta.

Nora menatap telapak tangan yang besar dan penuh kapalan itu dengan ragu. Tangan yang semalam dia lihat memegang sekop untuk menggali kubur suaminya, kini terulur begitu sopan di hadapannya.

Dituntun oleh rasa takut yang mendesak, Nora terpaksa menyambut uluran tangan itu. Genggaman Ronan terasa hangat dan kokoh, menahan bobot tubuhnya dengan sangat hati-hati hingga dia menapak di tanah.

"Terima kasih," bisik Nora hampir tak terdengar, segera menarik tangannya kembali seolah baru saja menyentuh bara api.

Ronan tidak membalas. Dia hanya mengangguk pelan dan berjalan mendahului mereka masuk ke dalam rumah.

Langkah kakinya yang berat bergaung di atas lantai kayu yang sebagian masih menyisakan noda samar bekas darah —yang untungnya sudah Nora bersihkan sekenanya dengan lap basah.

Nora melangkah masuk ke dalam rumah dengan perasaan campur aduk. Rumah yang seminggu ini terasa seperti surga kecil yang damai, kini mendadak kembali terasa seperti penjara yang mencekam. Bedanya, kali ini sipirnya adalah orang yang sama sekali berbeda.

Ronan meletakkan Matt yang tertidur di atas sofa lusuh dekat perapian dengan gerakan yang teramat lembut, seolah takut membangunkan anak kecil itu.

Ia kemudian berbalik, mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut ruangan yang berantakan dan pengap. Matanya sempat tertahan lama pada pintu kayu tebal yang menuju ke ruang bawah tanah, membuat jantung Nora mencelos seketika.

"Di mana kamar kita?" tanya Ronan kemudian, memecah keheningan dengan suaranya yang berat.

Nora menunjuk sebuah pintu kamar di sudut ruangan dengan dagunya, tidak berniat membuka suara lebih banyak karena lidahnya terasa kelu.

Ronan berjalan mendekati kamar tersebut, membuka pintunya, dan melihat sebuah ranjang kayu besar yang tampak tua namun rapi.

Pria itu menghela napas panjang, meraba pelipisnya yang kembali berjenis nyeri akibat sisa luka benturan sekop. Ingatannya masih berupa potongan kabut yang buram, ia merasa sangat bersalah karena telah menelantarkan mereka hingga harus hidup di tempat semalang ini.

Nora mengawasi setiap pergerakan pria itu dari ruang tengah dengan waspada. Dia tahu, mulai detik ini, hidupnya tidak akan pernah sama lagi. Dia harus berbagi atap dengan seorang pembunuh amnesia yang mengira dirinya adalah kepala keluarga di rumah ini.

Sambil meremas jemarinya yang dingin, Nora menatap langit-langit rumahnya yang lapuk, kembali merapalkan mantra yang kini terasa kian rapuh di dalam hatinya.

“Tidak apa-apa. Selama Matt bisa makan makanan enak dan tidak dikurung lagi di bawah tanah, semua akan baik-baik saja.”

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Suami Palsuku   Bab 34 Keraguan Ronan

    "Ayah!" panggilan itu memecahkan lamunan Ronan. Ronan berdiri dan memutar badannya, menghadap sosok mungil yang berlari dari pintu. Mata hitam Matt berbinar melihat Ronan. Pipinya yang bulat tertarik oleh senyumnya yang lebar. "Ayah," Matt melompat dan menjatuhkan diri ke arah Ronan -yang dengan sigap menangkap bayi itu. Suara tawa Matt menggema di seluruh dapur. "Ayah sudah pulang? Apa mama sudah pulang juga? Bagaimana adik bayinya?" "Matt, tenanglah anak baik," sir Thomas mengikuti Matt dari belakang. Pria paruh baya itu tertawa kecil lalu tersenyum saat bertatapan dengan Ronan."Aku ke rumah sakit, dan nyonya Morton bilang kalau kau terlihat sakit, jadi aku mengirim istriku kesana untuk menemani istrimu. Aku dan Matt akan menemani mu disini," jelas sir Thomas. "Apa ayah sakit?" Matt bertanya, keningnya berkerut dan matanya mulai berkaca-kaca. Ronan melihat Matt dengan seksama. Dulu maupun sekarang, dia tidak punya niat menyakiti anak ini. Dia bahkan tidak mengira Nora menyela

  • Suami Palsuku   Bab 33 Awal 2

    Nora terengah-engah setelah 2 kali memukul kepala pria berseragam militer itu. Pria itu menelungkup diatas tanah. Darah mengalir dari kepalanya. Nora akhirnya menangis dan meraung. Dia bingung apa yang akan terjadi selanjutnya. Kalau sampai seseorang melihat mayat pria ini. Apa yang terjadi padanya. Apa hal buruk yang akan menimpanya. Apa lebih buruk dari malam ini? Atau lebih buruk dari 5 tahun lalu saat Nora bertemu suaminya?Ditengah kalut pikirannya. Nora beranjak mendekati pria itu, dengan susah payah menanggalkan pakaian militer yang dia kenakan. Menyisakan celana dalam. Nora membawanya ke dalam kandang keledai, menyembunyikan ditumpukan jerami.Nora masuk ke dalam rumah dan bergegas ke bawah tanah. Langsung menuju box dimana dia menyembunyikan Matt. Anak lelakinya itu masih menangis tanpa suara."Anak-anak mama yang pemberani, jangan menangis. Ayo ke atas." Nora menenangkan Matt. "Mama ...." Matt memanggilnya lirih. "Tidak apa-apa Matt. Ayah kalian terluka jadi. Ayo bawa dia

  • Suami Palsuku   Bab 32 Awal

    Ilusi indah yang dibangun Nora berawal dari malam itu. Suaminya -Alex Wilmington- tampak gelisah. Terlihat dari gerak-gerik pria itu yang berbeda dari biasanya. Wajah arogannya terlihat lebih pucat. Sesekali dia terlihat menggigit kukunya. Bahkan suara kecil kaki Matt -anak mereka- yang berlari pun membuatnya terkejut.Nora tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, dia berlari membawa Matt kepangkuannya. Memeluk anak kecil itu erat. Wajah Matt yang ketakutan membuat airmata Nora menetes. Teror yang selalu datang itu akan dimulai.Monster bernama Alex Wilmington itu, terlihat marah, dan terganggu, ia memecahkan piring-piring di dapur. Badannya limbung karena mabuk. Botol-botol wine murah berserakan di lantai. Tiba-tiba pria itu tertawa, lalu berteriak, lalu tertawa lagi. Setiap tawa yang terdengar bagai melodi mengiring tragedi yang akan menimpa Nora.Matt bergetar ketakutan di pangkuan ibunya yang menangis tanpa suara. Dan saat monster itu nyalang memandang mereka. Nora dengan spontan b

  • Suami Palsuku   Bab 31 Ingatan

    Setelah Maggie mengizinkan Nora tidur, Nora langsung tertidur dengan nyenyak. Nyonya Morton menggendong bayi Nora, menimangnya dengan sayang. Sedang Ronan masih berkutat dengan sakit kepalanya yang tidak kunjung menghilang."Kau terlihat tidak baik-baik saja," sedari tadi nyonya Morton melihat gerak-gerik Ronan yang aneh. Bulir-bulir keringat menetes di dahi pria itu, terkadang dia terlihat meringis memegang dada kirinya, keningnya berkerut dan pandangannya kosong."Hanya sakit kepala," jawab Ronan singkat."Pulang dan beristirahatlah," ucap nyonya Morton, nada cemas lolos dari bibir wanita paruh baya itu. Ronan menggeleng, dia tidak mau jauh dari Nora. Apalagi saat Nora sedang tertidur. "Tidak. Aku baik-baik saja Nyonya," ucap Ronan lirih. Dia menunduk menghidari tatapan nyonya Morton yang seakan tahu kalau dia berbohong."Kau ingin aku memanggilkan dokter Pedro atau nyonya Maggie?" tanya nyonya Morton lagi. Masih belum menyerah membujuk Ronan.Ronan menggeleng lagi sebagai jawaban

  • Suami Palsuku   Bab 30 Kelahiran

    Ronan beruntung saat tiba dia langsung bertemu dengan nyonya Maggie. Baginya saat itu, nyonya Maggie adalah cahaya yang membawa kembali akal sehatnya. Dan disinilah dia, mengusap pelan punggung Nora yang sedang meringis kesakitan. Disisi lain ranjang, nyonya Morton menggenggam tangan Nora. Memberi Nora kekuatan dan rasa aman. Erangan keras terdengar dari Nora. Keringat mengucur di dahinya. "Nyonya Maggie..." Panggil Ronan lirih. Pria itu menatap nyonya Meggie dengan tatapan memohon. Maggie hanya bisa tersenyum. "Sebentar lagi, pembukaannya belum sempurna," jawab Maggie tenang. "Tapi dia terlihat kesakitan," bisik Ronan entah pada siapa. "Tentu saja. Semua wanita merasa kesakitan saat melahirkan," nyonya Morton sebenarnya mencoba menenangkan Ronan. Tapi melihat wajah pucat pasi Ronan, dia tahu bahwa usahanya tidak berhasil. "Kurasa... Bayinya sudah akan lahir," ucap Nora disela erangannya. Maggie membantu Nora untuk berbaring terlentang dan memeriksa jalan lahir. Dia tersenyum p

  • Suami Palsuku   Bab 29 Cemburu

    Dulu, Mei selalu merasa kasihan pada Nora. Bagaimana wanita itu setiap hari mendorong gerobak madu dengan tubuh yang terlihat kurang sehat. Awalnya Mei hanya memberikannya segelas air, lalu ada satu hari Mei memberi Nora sepotong kue tar. Dengan hati-hati Nora membungkusnya. Belakangan, Mei tahu dia selalu membawa pulang apa yang Mei berikan untuk dimakan dengan bayinya. Mei merasa dia harus membantu Nora dengan apapun yang dia punya. Nora hanya menolak uang. Maka Mei mencari alternatif lain, dia akan menunggu Nora untuk memberinya roti, dan susu atau beberapa telur. Dan Nora selalu mengucapkan terima kasih dengan wajah lesunya. Sejak saat itu Nora selalu menceritakan kebaikan Mei, dan semua orang desa memuji Mei. Pujian yang terus datang membuat kenyang egonya yang lapar.Tentu saja, Dewa menciptakan keberuntungan dan kesialan. Dan bagi Mei keberuntungan itu adalah dia, dan kesialan itu adalah Nora. Melihat Nora kesulitan membuat Mei merasa beruntung. Dan sudah semestinya, dia sela

  • Suami Palsuku   Bab 16 Pohon Asam

    "Hai sayang... Ini ayah nak," suara Ronan bergetar saat mengucapkannya. Ia merasa sangat emosional. Ronan menelan ludahnya gugup. Dia menatap wajah Nora lagi. Dan lega karena tidak ada ketegangan yang terlihat disana. "Dia berhenti bergerak," ucap Ronan pelan. "Dia tertidur," jawab Nora diiringi

  • Suami Palsuku   Bab 5 Rumah

    Denting pecahan piring yang menghantam lantai kayu dapur terdengar begitu nyaring, memutus keheningan sore itu dengan kejam. Nora berdiri terpaku di tempatnya, menatap potongan keramik yang berserakan di dekat ujung kakinya bersama dengan kuah sup hangat yang tumpah seadanya. Napasnya mendadak

  • Suami Palsuku   Bab 4 Seorang Suami

    Banyak pekerjaan yang harus Ronan lakukan sejak dia terbangun dini hari. Yang pertama kali dia kerjakan adalah bagian dalam rumah. Dia mengeluarkan sofa lusuh dan karpet compang-camping dibawah sofa. Menanggalkan gorden lusuh. Membersihkan perapian, membersihkan dapur. Dan terakhir mengepel lantai.

  • Suami Palsuku   Bab 3 Terbangun

    Hari pertama berjalan dengan ketegangan yang merayap di setiap sudut rumah. Ronan, mencoba membantu sebisanya—mengambilkan air dari sumur luar atau sekadar memindahkan kotak kayu yang berat—meski kepalanya terkadang masih berdenyut hebat. Setiap kali pria itu bergerak mendekat, Nora dan Matt sec

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status