LOGINRonan bersiap diatas pohon dengan senapannya. Disisi lain pohon yang sama Karl juga duduk dengan waspada. Jejak serigala akhirnya terlihat tak lama setelah mereka masuk ke dalam hutan. Jelas serigala itu selalu bergerak disana. Empat orang dari kelompok berburu membuat api unggun dibagian hutan yang lapang, empat lainnya naik ke atas pohon untuk berjaga. Karl tidak banyak mengoceh seperti biasanya. Ketegangan terlihat jelas dari wajah pria muda itu. Sedang Ronan anehnya merasa tenang. Peluru yang dia punya tidak banyak. Tapi entah kenapa dia yakin dia bisa berhasil berburu hewan buas itu. Di kejauhan, Ronan bisa melihat pergerakan hewan berbulu itu. Cara berjalan hewan itu terlihat sedang bersiap untuk berburu juga. Mengendap pelan tapi terlihat kuat. Dan sasaran hewan itu adalah kelompok pemburu yang menyalakan api. "Karl arah jam 2," ucap Ronan pelan. "Aku siap, sir," jawab Karl. Ronan membidikan senapannya ke arah target. Ronan mengintruksikan Karl menembak setelah dia menem
Di perjalan pulang, Ronan bertemu dengan nyonya Morton. Wanita paruh baya ramah itu memberinya bucket bunga lili putih. Nyonya Morton bilang dia sedang bosan dan membuatnya, tapi di rumahnya sudah banyak hiasan bunga. Jadi dia memberikan pada Ronan sebagai hadiah. Ronan tidak sampai hati menolak kebaikan nyonya Morton. Jadi dia menerima bunga itu. Berniat memberikan pada Nora. Memasuki pekarangan rumahnya, Ronan merasa heran. Kemana Matt? Biasanya dia akan ribut menyambut Ronan pulang. Bahkan saat memasuki rumahnya, tidak ada wangi makanan manis yang akhir-akhir ini selalu Nora buat. Rumahnya tampak lebih berantakan dari hari-hari kemarin. Nora sepertinya tidak membersihkan rumah hari ini. Di meja makan, piring bekas makan masih ada disana. Perubahan kecil yang membuat Ronan merasa gelisah. Ronan dengan spontan membuka pintu kamar Matt. Anak itu tidak ada disana. Lalu dengan perlahan membuka pintu kamarnya. Dan mendapati istri dan anaknya berbaring saling berpelukan diatas ranjang.
"Matt apa kau bilang?" Suara Nora bergetar gugup, bagaimana dia tidak menyadarinya. Dia kira Matt tidak mengingat wajah ayah kandungnya. Bukan salah anak itu. Dia lah yang selama ini berdelusi. Dia yang berharap pria jahat itu tidak ada di ingatan anaknya. Nora mengangkat Matt dan memangkunya. Memeluknya erat. Menciumi wajah mungil Matt. Suara tawa Matt membuat Nora tenang. Dia membawa anaknya ke sofa. Masih memangkunya. Membelai rambut hitam Matt dengan sayang. "Matt... Kau tahu dia ayah baru?" tanya Nora hati-hati. Matt mengangguk. Mata hitam anak itu menatap ibunya polos. "Kau ingat wajah ayah yang lama?" Nora bertanya lagi. Dia berhasil membuat suaranya terdengar tenang di tengah ribut gemuruh hatinya.Matt mengangguk lagi, perlahan tatapan anak itu berubah. Pupilnya terlihat lebih gelap. Ekspresi cerianya menghilang. Tiba-tiba wajahnya terlihat ketakutan. "Dia tidak akan kembali kan mama?" bisik Matt. Mendengar itu hati Nora mencelos. Dia merasa bodoh karena baru menanyak
Desahan terdengar memecah kesunyian di dalam kamar kecil itu. Nora tidak sadar kapan mereka berpindah dari sofa dekat perapian ke ranjang mereka. Yang memenuhi kepala Nora hanya jejak panas bekas bibir Ronan di seluruh leher dan dadanya. Lebih panas, lebih intens daripada apa yang dia rasakan di bawah pohon asam tempo hari. Jawaban apa yang dia beri saat Ronan bertanya tadi? "Alex...." pekik Nora menyebut nama suaminya saat gaunnya tersingkap ke atas. Nora menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Rasa malu yang tiba-tiba menyadarkan tindakan agresifnya yang tidak bisa dia halau dengan logika. Apa yang dia lakukan? Lagi, dia terbawa arus, terjebak dalam gelombang yang menenggelamkan semua akal sehat yang tersisa di dalam kepalanya. Benda basah dan lembut yang menyentuh kulit diantara kakinya membuat Nora tersentak. Dengan spontan memundurkan pinggulnya menjauh, tapi tangan besar berurat Ronan membawanya kembali mendekat, menahannya untuk tidak bergerak.Di tengan erangan dan d
Nora menghirup teh nya dan menyandarkan punggungnya dengan nyaman pada sandaran sofa. Hawa hangat terasa dari perapian. Malam merayap lebih lambat hari ini. Baginya yang tidak memiliki kegiatan apapun selain merajut benang wol. Dari ujung matanya, dia menangkap Ronan baru keluar dari kamar Matt. Seperti biasa, anak balita itu tertidur dalam pangkuan ayahnya setiap malam. Seperti Nora, Matt pun pasti merasa aman dan nyaman berada dekat pria itu. "Kau melamun?" suara berat Ronan dan sentuhan telapak tangan kasar yang Nora rasakan di pipinya tidak membuatnya tersentak. Sebaliknya ada ketenangan yang menyusup perlahan ke sanubarinya. Hangat, seperti hawa perapian. "Tidak," jawab Nora singkat. Menunggu Ronan duduk disampingnya. "Bagaimana harimu?" tanya Ronan pelan. Tangannya dengan otomatis mengambil rambut terurai istrinya. Kebiasaan yang muncul akhir-akhir ini. "Entah kenapa terasa sangat lambat," Nora tidak melebihkan. Itu yang dia rasakan. Baginya waktu terasa lambat jik
Kediaman Marquess Hildergar tidak semegah yang Ronan bayangkan. Kastil tua itu berdiri di tengah hutan. Jauh dari desa dan kediaman Ronan. Lebih sunyi dari tempat tinggalnya. Ronan mengikuti langkah Thomas. Mereka disambut beberapa pelayan -yang tampak sudah akrab dengan Thomas. Ronan masih mengikuti langkah Thomas dalam diam. Mereka menyusuri jalan dari gerbang besi besar ke arah pintu kastil. Panas terik matahari menyelimuti seluruh badan Ronan. Setetes keringan meluncur dari pelipisnya. Berbeda dengan atmosfer diluar kastil, di dalam kastil Ronan merasa panas matahari yang tadi dia rasa hilang bersama dengan angin yang menyertai langkah kakinya. Semakin Ronan melangkah, hawa dingin semakin dia rasakan. Dinding kastil dipenuhi ornamen kuno, dan lukisan. Di sepanjang lorong yang Ronan lintasi berjajar patung-patung tanah liat. Mereka menaiki tangga, hingga lanyai ke 4 -Ronan menghitung dalam diam. Sampai pelayan mereka berhenti di sebuah pintu kayu Mahogany berpelitur mewah."Si
Denting pecahan piring yang menghantam lantai kayu dapur terdengar begitu nyaring, memutus keheningan sore itu dengan kejam. Nora berdiri terpaku di tempatnya, menatap potongan keramik yang berserakan di dekat ujung kakinya bersama dengan kuah sup hangat yang tumpah seadanya. Napasnya mendadak
Banyak pekerjaan yang harus Ronan lakukan sejak dia terbangun dini hari. Yang pertama kali dia kerjakan adalah bagian dalam rumah. Dia mengeluarkan sofa lusuh dan karpet compang-camping dibawah sofa. Menanggalkan gorden lusuh. Membersihkan perapian, membersihkan dapur. Dan terakhir mengepel lantai.
Hari pertama berjalan dengan ketegangan yang merayap di setiap sudut rumah. Ronan, mencoba membantu sebisanya—mengambilkan air dari sumur luar atau sekadar memindahkan kotak kayu yang berat—meski kepalanya terkadang masih berdenyut hebat. Setiap kali pria itu bergerak mendekat, Nora dan Matt sec
Semua bermula dari kebohongan yang tidak sengaja Nora tebar di koridor rumah sakit semalam. Pria itu, Ronan, kini benar-benar percaya bahwa dirinya adalah Alex Wilmington—seorang suami abai dan ayah dari anak yang bahkan tidak mengenali wajahnya sendiri. Amnesia sialan itu telah menghapus ident







