LOGINMentari pagi mulai menghangatkan halaman rumah sakit.Hujan yang semalaman mengguyur kota kini hanya menyisakan embun di dedaunan. Namun, bagi keluarga Pranawa, malam panjang itu seolah masih belum benar-benar berakhir.Di dalam ruang rawat intensif, Adji kembali terlelap setelah dokter memberikan obat penghilang nyeri. Kirana masih enggan melepaskan genggaman tangan suaminya.Jarinya mengusap pelan buku-buku jari Adjie yang dipenuhi bekas luka lama.Baru sekarang ia sadar bahwa tangan itu tidak hanya pernah bekerja keras mencari nafkah. Tapi, tangan itu juga pernah diborgol, dipukul bahkan pernah menahan dinginnya lantai penjara.Namun tangan yang sama ini tidak pernah sekalipun menyakitinya."Non."suara Mario terdengar dari balik pintu. Mengalihkan Kirana dari lamunannya."Pak Pandu ingin bertemu."Kirana mengangguk pelan, mendengar ucapan Mario. Sebelum pergi, ia membungkuk lebih dulu, mengecup lembut punggung tangan Adji."Aku menemui Ayah sebentar ya, aku janji nggak akan ningga
"Dokter!"Suara Kirana memecah keheningan lantai ICU. Ia reflek berdiri sambil terus menggenggam tangan Adji yang baru saja bergerak. Air matanya tak berhenti mengalir.Beberapa detik kemudian, dua dokter dan seorang perawat bergegas masuk."Silakan mundur sebentar, Bu."pinta perawat.Kirana menggeleng panik."Dia menggenggam tangan saya... dia benar-benar menggenggam."Dokter tersenyum menenangkan."Kami akan memeriksa kondisi beliau dulu."dengan langkah berat, Kirana mundur satu langkah. Namun tatapannya tak pernah lepas dari wajah Adji.Dokter menyinari mata Adji dengan senter kecil."Pak Adji... kalau bisa mendengar saya, coba buka mata pelan-pelan."Ruangan kembali hening.Kelopak mata Adji bergetar.Sekali.Lalu perlahan terbuka.Pandangannya masih kabur.Lampu ruang ICU terasa menyilaukan. Ia mengernyit pelan sebelum mengalihkan pandangannya ke samping.Di sana...Seorang wanita sedang menangis sambil tersenyum."Kirana..."suara Adji serak. Nyaris tak terdengar.Mendengar namanya
Malam merambat pelan.Koridor rumah sakit yang siang tadi dipenuhi langkah kaki kini berubah sunyi. Hanya terdengar bunyi mesin monitor dari setiap ruang perawatan dan langkah perawat yang sesekali melintas.Di ruang ICU. Adji terbaring tak bergerak. Selang infus terpasang di punggung tangannya. Perban putih membalut bahu kirinya yang tertembus peluru. Wajahnya tampak jauh lebih pucat daripada biasanya.Tidak ada lagi senyum hangat yang selalu menyambut Kirana. Tidak ada lagi suara lembut yang selalu memanggilnya, "Istriku."Kirana duduk di samping ranjang. Masih mengenakan pakaian yang sama seperti saat di gudang. Bercak darah yang sudah mengering masih menempel di lengan bajunya.Semua orang sudah memintanya beristirahat.Pandu.Bi Ina.Mario.Bahkan dokter.Namun ia menolak.Ia sudah berjanji untuk tidak pergi kemana-mana. Bukan setelah Adji mempertaruhkan nyawanya demi dirinya.Perlahan, Kirana meraih tangan Adji yang terasa sangat dingin. Berbeda dengan tangan hangat yang selalu meng
Dokter!"Suara Mario menggema di lorong Instalasi Gawat Darurat.Brankar yang membawa Adji melaju cepat menembus pintu otomatis rumah sakit. Beberapa tenaga medis segera mengelilinginya."Pasien laki-laki, usia tiga puluh dua tahun. Luka tembak di bahu kiri, kehilangan banyak darah!""Tekanan darah turun!""Siapkan ruang operasi!"Kirana hanya mampu memandang dari kursi rodanya. Tangannya masih dipenuhi noda darah Adji.Darah itu mulai mengering di sela-sela jarinya, tetapi ia sama sekali tidak berniat membersihkannya.Baginya...Darah itu menjadi pengingat bahwa Adji benar-benar mempertaruhkan nyawanya demi dirinya.Pintu ruang operasi tertutup. Lampu merah di atasnya menyala. Seolah menjadi garis pemisah antara harapan dan ketakutan.Kirana menundukkan kepala. Air matanya kembali jatuh, pikirannya kalut saat ini."Non..."Bi Ina yang baru tiba langsung memeluknya dari belakang.Begitu mendengar suara wanita yang sudah dianggap seperti ibunya sendiri itu, pertahanan Kirana runtuh.Ia
Gudang tua itu dipenuhi bau mesiu. Suara hujan yang menghantam atap seng bercampur dengan napas berat orang-orang di dalamnya.Moncong pistol masih mengarah tepat ke dada Adji. Sementara Adji berdiri kokoh di depan kursi roda Kirana.Meski wajahnya mulai pucat karena kehilangan banyak darah, sedikit pun ia tidak bergeser dari tempatnya berdiri."Apa kamu pikir ,kamu bisa melindunginya dengan keadaan seperti ini Adjie ? "pria paruh baya itu menyeringai. Nadanya jelas meremehkan Adjie"Aku tidak perlu berpikir untuk menyelamatkannya."suara Adji terdengar tenang namun menusuk."Aku memang akan melindunginya.""Kamu rela mati?"Adji tersenyum tipis mendengar pertanyaan bodoh itu. "Kalau itu harga agar dia tetap hidup, aku rela untuk mati."Air mata Kirana kembali mengalir. Tangannya mencengkeram ujung kemeja Adji hingga buku-buku jarinya memutih."Adjie,jangan ngomong sembarangan !"bisiknya."Aku nggak mau hidup kalau kehilangan kamu."lanjut Kirana yang membuat Adjie menoleh sedikit.Tat
"ADJIIIIE !!"jeritan Kirana menggema memenuhi gudang.Waktu seolah terasa begitu lambat, jantung Kirana berdebar sangat kencang. Matanya membelalak saat melihat seorang pria mengangkat pistol ke arah punggung Adji yang masih berusaha melepaskan ikatan di kedua tangannya."Di belakang!"teriak Kirana sekuat tenaga pada Adjie membuat Adjie refleks menoleh.Dor!Suara tembakan memekakkan telinga.Peluru melesat begitu cepat tanpa aba-aba.Adji memutar tubuhnya secepat mungkin. Peluru itu tidak mengenai punggungnya.Namun...Duar!"Ahh!"Peluru berhasil menembus bahu kiri Adjie. Tubuhnya terdorong hingga jatuh menghantam lantai semen."ADJI!"tangisan Kirana pecah melihat kejadian di depannya. Wajahnya seketika memucat melihat darah yang mengalir deras membasahi lengan kemeja Adji.Namun pria itu masih berusaha bangkit. Dengan tangan yang masih terikat sebagian, ia berguling menghindari tembakan kedua.Dor!Peluru kembali menghantam lantai. Percikan semen beterbangan."Majuu!"teriak Pandu dar
Pernikahan ini sama sekali tidak seperti yang pernah Kirana bayangkan dulu. Tidak ada ribuan kolega politik Ayah, tidak ada sorotan kamera stasiun televisi nasional, dan tidak ada kemewahan yang dipamerkan. Bagi keluarga sekelas Pranawa, prosesi di kapel pribadi di sudut vila mewah ini terasa sepe
"Kirana, Kamu harus menikah dengan Adji.” Dada Kirana mendadak sesak, seperti dihantam batu besar. Kirana ingin berdiri, memaki, atau minimal pergi dari ruangan itu. Namun, jangankan melangkah, menggeser kakinya sendiri saja dia tidak mampu. Adji? Kok bisa-bisanya Ayahnya, Pandu memaksa putri t
"AAAHHHHHH!"Jeritan frustrasi itu lolos begitu saja dari tenggorokan Kirana, membelah keheningan paviliun tak lama setelah langkah kaki Adji menghilang di selasar. Wajah Kirana merah padam karena amarah yang memuncak. Dengan napas memburu, ia menyambar bantal di sampingnya dan melemparkannya ke ar
Suasana ruang makan itu mendadak hening setelah kalimat tajam Kirana menghantam Rendy. Pandu Pranawa hanya menyesap kopinya dengan tenang, seolah-olah pertikaian di depannya hanyalah musik latar yang menemani sarapan. Sudah biasa bagi Pandu melihat keluarganya saling gigit.Adji, yang masih berdi







