Masuk"Nyo--nyonya... Anda yakin mau aku yang melakukannya?!" "Sudah lakukan saja! Aku sudah... uh, aku sudah tidak tahan Bara..." Bagaimana jika sopir sepertimu ternyata sudah diincar sejak lama oleh istri majikanmu sendiri, untuk dijadikan "pelampiasannya"? Pada siang hari, aku harus menemani majikanku yang cantik dan menggoda. Begitu juga saat malam tiba. Bedanya, siang di mobil, malam di kamarnya...
Lihat lebih banyak"Mau dijemput pukul berapa, Nyonya?"
"Bara! Sudah berapa kali kukatakan, jangan panggil aku Nyonya saat si Tua Bangka itu tidak ada!" "Ta-tapi Nyonya, eh Bu...." "Tidak ada tapi-tapian! Panggil aku Nola! N, O, L, A. No--la! Jemput aku pukul lima atau nanti kutelpon!" "Ba-ba-baik, Nyo--, eh maksudku, Nola." Tergesa kutinggalkan bangku kemudi lalu mengitari moncong mobil. Setelah membuka pintu penumpang bagian tengah, dengan kepala membungkuk aku persilahkan wanita yang sudah menjadi majikanku sejak pertama datang mencoba peruntungan di kota ini. "Tidak perlu juga berlebihan kayak gini dong, Bara," katanya saat menjejakkan kaki di tanah. "Kamu ini gimana, sih? Baru saja juga dibilangin." Nyonya Nola sangat jelas frustrasi. Tapi mengingat status diriku, jangankan.mengatakan apa-apa, untuk menegakkan wajah pun aku tidak punya cukup keberanian. Namun, siapa yang menyangka kalau pada saat sedang menunduk dalam inilah Nyonya Nola justru memberiku sesuatu yang benar-benar tidak masuk akal! Wanita bersuami ini tiba-tiba saja mengecup pipiku! Demi Tuhan, aku seperti baru saja menerima sengatan listrik arus pendek. Darahku benar-benar tersirap dibuatnya! Jelang enam bulan menjadi pembantu di rumah wanita 'high class' ini, ini adalah kali pertama dia memberiku sesuatu yang entah apa maksudnya. "Jangan sampai terlambat!" katanya lagi dan melenggang anggun menuju pintu utama sanggar kebugaran. Aku hanya menjawabnya dengan satu anggukan kecil seraya diam-diam menikmati wangi tubuh yang dia tinggalkan. Jeda kemudian, aku memejamkan mata, coba meresapi kembali apa yang baru saja terjadi. Namun, alih-alih. Bahkan, untuk beberapa saat lamanya, dunia seperti berhenti berputar. Semuanya tampak bergeming. Sampai-sampai udara yang mengalir di rongga jantung ini pun seolah ikut terhenti. Kecupan kecil Nyonya Nola barusan, rasa-rasanya itu lebih tuak dari tuak manapun yang ada di muka bumi ini. Dahsyatnya melebihi kedahsyatan serangan candu anggur merah yang pernah menjajal pembuluh darahku. Sungguh, aku sudah lebih dulu mabuk bahkan hanya dengan membayangkan betapa nikmat aromanya. Akan tetapi, apalah halusinasi. Lagipula, memangnya siapa aku di matanya? Baru beberapa menit meninggalkan halaman sanggar kebugaran, ponselku berdering. Ada telepon masuk. Dari Tuan Edy Hidayat. Segera kupinggirkan mobil lalu menerima panggilannya. "Iya, Tuan, saya?" Berbicara dengan yang 'kastanya' berada di atasku seperti Tuan Edy Hidayat, mau tidak mau aku harus mengikuti ritme keformalan mereka. Bukan untuk memanipulasi status sosial, tapi lebih kepada tuntutan profesi. Supir pribadi dan yang setara, atau yang lebih rendah darinya, memang boleh dikatakan hanyalah seorang pembantu. Tapi apa pun sebutannya, tetap saja suatu profesi. "Mungkin itu, Tuan. Nyonya lagi senam sampai tidak sempat angkat telepon." Aku mereka-reka kalimat supaya dapat mengimbangi Tuan Edy Hidayat. "Baik, Tuan, nanti saya sampaikan pesan Tuan." Tuan Edi Hidayat tidak lagi menambahkan, dan langsung memutus sambungan telepon. Sebelum pukul lima, aku sudah 'standby' di halaman sanggar kebugaran yang lokasinya berada tepat di jantung ibukota Provinsi Sulawesi Tenggara. Nyonya Nola baru keluar setelah kira-kira dua puluh menit aku menunggu. "Nyonya, tadi ... eh maaf-maaf, maksudku, Nola." Lagi-lagi aku mempertontonkan watak asliku yang 'kelas coro'. Namun, apa boleh buat. Ujung lisan ini sepertinya masih butuh pembiasaan supaya tidak belibet ketika harus menyebut nama langsung, tanpa harus menyertakan embel-embel apa pun. "Iya, tadi Tuan nelpon," lanjutku seraya fokus menyetir. Sekarang mobil kami mulai merayap di jalan raya. "Hm, terus, si Tua Bangka itu ngomongin apa saja?" Nada bicara hingga isi kalimat Nyonya Nola sangat jelas menggambarkan ketidakempatian. Padahal, orang yang sedang kami bicarakan tidak lain adalah suaminya sendiri. Mengetepikan sikap dia yang sejatinya tak ada hakku untuk ikut campur, kulanjutkan saja dengan tenang apa pesan Tuan Edy Hidayat untuk dia. Dari Nyonya Nola ini 'ngapain' saja, kenapa tidak angkat telepon, tidak juga membalas pesan singkat via W******p, adalah sedikit dari beberapa pertanyaan Tuan Edy Hidayat yang kuinformasikan. Terakhir, kusampaikan pesan Tuan Edy Hidayat yang katanya akan berada di luar kota hingga lima atau enam hari ke depan. "Enam hari? Wah, bagus dong!" Nyonya Nola sudah tidak ubahnya seorang pegawai negeri 'nyambi influencer amatiran' yang mendapatkan voucher libur gratis. Entahlah jika dia sengaja ingin memperlihatkan wajah lain yang tersembunyi di balik status sosialnya yang boleh dibilang serba formal, khususnya ketika sedang berurusan dengan masyarakat kelas bawah sepertiku. "Kok gerah, ya?" ucapnya tiba-tiba. Tidak yakin dia sedang berbicara denganku, aku coba mencari bayangannya pada kaca cermin di langit-langit mobil sejajar dashboard. "Oh astaga?" Aku mendesis dalam kemudian cepat-cepat menarik pandang. Wanita ini ternyata sedang mencopot baju senam yang dia kenakan. Meskipun hanya sekilas, tapi aku sudah melihat dari dekat tubuh bagian atasnya. Kulitnya seputih susu. Sepasang bukit kembarnya, tampak kepenuhan. Size-nya aku perkirakan, paling tidak size 40 kalau bukan size 42. Sudahlah begitu, itu barang ya, tampak menjulang ke depan. Dan... adalah kelemahanku. Entah kenapa, aku selalu tidak bisa menahan diri untuk tidak menelan liur saat melihat barang bagus seperti punyanya Nyonya Nola. Hah... memprihatinkan diriku ini. "Oh ya, Nola, ini langsung pulang atau gimana?" Selain sebagai pengalihan suasana, kebetulan juga boleh dikatakan ini adalah hal wajib untuk ditanyakan. Masalahnya, adakalanya Nyonya Nola ini akan lebih dulu singgah di sana-sini sebelum minta diantar pulang ke rumah. Nyonya Nola menyebut satu nama tempat. Tanpa banyak bicara aku langsung mengarahkan mobil menuju sana. Kendari Beach, demikianlah orang di kota ini menamai tempat dimaksud. Lazimnya pembantu pada majikannya, entah itu akan masuk atau keluar dari mobil, sudah menjadi kewajibanku untuk selalu sigap membukakan pintu, lalu menyeru dengan hormat pada Nyonya Nola atau Tuan Edy Hidayat. Hal ini berlaku juga pada keluarga inti mereka. Sedangkan pada awal senja ini, begitu mobil kami berhenti, Nyonya Nola tidak lagi menunggu. Dia langsung turun sendiri dari mobil. "Temanin aku sebentar, yuk!" "Maaf, Nola, aku di sini saja." "Sudah ... tidak apa-apa. Ayok!" Nyonya Nola meraih lalu menautkan lengannya ke lenganku, memaksa aku untuk melangkah bersama. Kami sudah tidak ubahnya sepasang kekasih di tempat umum begini, jelas ini tidak baik. "Oke oke, tapi tidak perlu juga sampai harus gandengan tangan kayak gini, 'kan?" Aku coba menepis, khawatir ada yang mengenali lalu melaporkan kami pada Tuan Edy Hidayat. Bukan takut, tapi karena suatu alasan, aku tidak boleh sampai kehilangan mata pencaharian. "Memangnya kenapa kalau gandengan tangan?" "Nola ...." Aku mendesis frustrasi. "Demi kebaikan semua pihak, mohon kondisikan dirimu." Nyonya Nola pada akhirnya menurut. Tapi yang tidak aku sangka-sangka adalah, tangannya mendadak luput dari pantauanku. Tiba-tiba ada sentuhan di bawah perutku, dan tanpa basa-basi langsung menjalar ke bawah. Sampai di sini barulah aku sadar, Nyonya Nola ternyata sudah kehilangan akal! "Pegang tangan 'kan tidak boleh, ya? Tapi kalau pegang ini boleh, dong."Rafika berjalan kira-kira lima atau enam langkah di depan Edy Hidayat. Begitu mendekat perhatian langsung dia fokuskan pada Meisya, bukan aku!"Maaf," ucap Rafika, menatap serius wajah Meisya, "apakah kamu yang bernama Meisya?""Benar," sahut Meisya tanpa ada rasa sungkan sedikitpun juga. "Aku Meisya, saudara barumu," tambahnya dan tersenyum ramah."Senang sekali mendengarnya," balas Rafika juga. "Aku berharap mulai saat ini kita akan saling menguatkan satu sama lain.""Pasti, pasti itu Rafika. Maya juga sudah tidak sabar menunggu kedatanganmu."Saat mengatakan itu, Meisya sudah lebih dulu membawa Rafika dalam pelukannya. Mereka berpelukan dengan sangat hangat sekali. Aku bahkan merasa seakan-akan tidak percaya dengan pemandangan ini Pada momen ini, Edy Hidayat kebetulan juga melintasi kami. Sepertinya dia akan menuju ke ruangan di mana Nola berada. Aku tak berkedip mengawasi gerak-geriknya. Pasalnya, setelah melewati kami tanpa menoleh sedikitpun juga, dia lalu melintas di hadapan
"Hei Bara, apa-apaan kau ini, ha? Bisa tidak kamu kondisikan dirimu? Kau bisa saja membuat kita celaka kalau mengemudi seperti orang kesetanan seperti ini, Bara!""Ibu...""Ya Tuhan, Bara, ada apa denganmu? Bukankah sudah kukatakan kau bisa saja membuat kita celaka?"Rafika memang benar, aku mengemudi layaknya orang kesetanan begini, bukan tidak mungkin akan membuat kami bahkan orang lain mengalami kecelakaan. Terlebih lagi dia sudah sampai berteriak panik bukan kepalang seperti itu, memang alangkah baiknya jika aku mengemudi secara normal saja."Maafkan aku, aku terlalu cemas saat ini. Sekali lagi, aku benar-benar minta maaf!" Meskipun mungkin ini sudah sedikit terlambat, tapi aku berucap dengan sepenuh hati. Laju kendaraan pun sudah aku normalkan sebagaimana mestinya Alih-alih menyahut tidak peduli itu semisal mengumpat sekalipun, Rafika justru membuang muka. Namun, setelah kulirik dia sekilas dan mendapati raut wajahnya yang masih diselimuti oleh ketegangan, dan juga bersekutu
"Brengsek, ternyata kalian!" "Iya Bara, ini memang kami. Senang sekali kamu sudah kembali.""Hah, brengsek kalian semua!"Sekali lagi aku memaki, tapi lawan bicaraku justru senyum-senyum sendiri, sebelum kemudian diikuti oleh yang lainnya dengan ekspresi wajah sendiri-sendiri.Sementara itu, aku pada akhirnya hanya bisa kesal sendiri saat tahu siapa orang-orang dalam mobil yang aku cegat di tengah jalan ini.Bodohnya aku, barusan itu ada yang lupa aku pastikan!Tipe kendaraan hingga warnanya memang mirip dengan kendaraan yang membuat masalah pada aku dan Angel di bandara Kendari sana tempo hari, tapi plat nomornya itu yang tidak ada sangkut pautnya dengan apa yang membuatku mendadak sok jagoan.Begitu juga dengan enam orang pria urakan dalam mobil ini, mereka semua adalah teman lamaku!"Oh ya Bara, ngomong-ngomong siapa perempuan di mobil itu? Perasaan kami baru pertama kali lihat dia.""Iya Bara, siapa dia? Apakah dia...""Hah sudah-sudah, aku tidak punya waktu untuk menjawab pertan
"Jadi memang benar ya, aku memang sangat payah di matamu?""Tidak ada yang berpikiran seperti itu, Rafika! Sudah ah, oke baik, aku akan temani kamu. Mari pergi sekarang!"Sebelum dia terlalu jauh memojokkan aku, memang akan lebih baik jika aku ikuti saja kemauannya. Biar dia saksikan sendiri saja akan seperti apa sosokku di pasar sentral ini sebentar nanti.Dan semoga saja dia siap mental untuk menghadapi reaksi orang-orang!Tapi begitu aku keluar dari mobil, ponselnya tiba-tiba berdering. Dan bukannya menerima panggilan atau semacamnya, dia justru mengkerutkan kening."Ada apa? Maksudku siapa yang menelepon? Kenapa tidak diangkat?" tanyaku penasaran."Tidak tahu siapa, nomor baru," katanya, sebelum kemudian me-reject panggilan itu.Tapi hanya selang beberapa saat dari itu, ponselnya kembali berdering. Sampai di sini aku berkata saja sekenanya, "Angkat saja dulu. Siapa tahu itu dari orang di desamu. Ayah atau ibumu misalnya?"Dia masih terlihat enggan. Namun begitu aku meminta dia sek












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan