Beranda / Male Adult / Swing Partner / BAB 1 – RETAK

Share

Swing Partner
Swing Partner
Penulis: Ough See Usi

BAB 1 – RETAK

Penulis: Ough See Usi
last update Tanggal publikasi: 2026-05-05 23:14:41

Di usia pernikahannya yang kedua, suaminya selingkuh. Perempuan masa lalu suaminya yang datang kembali sebagai desainer perhiasan untuk perusahaan yang dibangun olehnya tetapi dikelola oleh suaminya. Penunjukannya sebagai desainer perusahaan miliknya murni atas inisiatif suaminya sendiri tanpa persetujuan dirinya sama sekali.

Namanya Cherryl. Cantik dengan rambut gelombang berwarna brunnete yang diberi highlight pirang. Terlihat sangat kosmopolitan dengan model-model baju yang tidak sesuai untuk busana kerja. Terlalu kasual, terlalu ramai dan terlalu ber-vibes summer. Seolah ingin mengumumkan kepada publik bahwa ia tinggal lama di luar negeri.

Dia tahu tentang Cherryl. Cherryl meninggalkan Mas Aldi saat mereka berdua masih bertunangan, jauh sebelum dirinya mengenal Mas Aldi. Cherryl lebih memilih pergi ke Madrid untuk menekuni pembuatan perhiasan. Cerita versi Mas Aldi. Atau mungkin seperti itulah pemikiran polos Mas Aldi.

Namun dirinya mencari tahu dengan meyelidiki sendiri apa yang terjadi pada hubungan mereka tiga tahun yang lalu. Dari media sosialnya, dia menemukan kawan-kawan Cherryl. Dan dari teman-teman Cherryl, terkuak alasan sebenarnya Cherryl meninggalkan Mas Aldi. Dia bertemu dengan pria yang sangat mapan berkewarganegaraan Yunani yang mukim di Madrid. Mas Aldi saat itu baru merintis usaha di bidang advertising.

"Cherryl saat itu, baru 22 tahun. Pria itu, 35 tahun. Sedangkan Aldi saat itu 28 tahun. Cherryl penyuka kemewahan. Aldi memang kaya, tetapi kekayaannya berasal dari orangtuanya yang menjadi petinggi salah satu instansi. Selain itu, Aldi bukan anak tunggal. Dia masih punya adik-adik yang butuh biaya," Sarah tersenyum.

"Bagaimana dengan keluarga Cherryl?" dirinya bertanya sambil menatap khawatir pada bungkus rokok mentol milik Sarah.

Ada kehidupan baru dalam perutnya. Baru ia ketahui pagi tadi. Garis dua pada test pack yang ia beli semalam sepulang dari kantor. Dan ia bertekad akan menjaganya. Membesarkanya seorang diri. Dia belum memberitahukan kepada Mas Aldi tentang ini. Atau mungkin masih bimbang, haruskah ia memberitahukannya atau merahasiakannya agar nanti anaknya tidak malu mempunyai ayah seorang pengkhianat dan pecundang?

Sarah menyesap kopi latte-nya. Kemudian tertawa menatap pada Gladys yang ikut tertawa.

"Lu saja yang cerita, Dys. Gue muak banget dengan kelakuan Cherryl yang manipulatif banget. Sampai detik ini, dia belum balikin duit gue yang dia pinjam sambil nangis-nangis karena keukeuh mau ikut gebetan barunya ke Madrid," Sarah menepis poninya yang jatuh mengenai bulu matanya.

Gladys semakin terkekeh.

"Gila! Lu gak tagih?" alis Gladys terangkat.

"Nomor gue diblokir! Dia jelek-jelekin gue ke teman-teman Desain Produk angkatan gue. Playing victim," Sarah mendengus.

Gladys dan dirinya tertawa. Namun tawanya berhenti saat tangan Sarah mengambil bungkus rokoknya dan mengeluarkan rokok mentol yang ramping. Cepat ia menahan tangan Sarah.

"Tolong, jangan merokok. Saya sedang hamil."

Sarah dan Gladys terperanjat.

"Berapa bulan?" keduanya bertanya bersamaan.

Dirinya menggeleng.

"Saya tidak tahu. Saya baru mengetahuinya pagi tadi dari test pack. Saya belum ke dokter. Tolong, rahasiakan ini dari siapapun."

Keduanya menatap prihatin.

"Gue gak tahu apakah harus mengucapkan selamat atau merasa prihatin," Gladys mengelus punggung tangannya, "Jangan khawatir, rahasia Mbak Rani, aman kok."

"Benar-benar si Cherryl! Gue benci banget dengan pelakor. Ibu gue meninggal gegara makan hati karena ulah pelakor! Jangan khawatir, Mbak Rani. Kita berdua bakal bantu Mbak Ranj," Sarah menatap Gladys, "Dys, bongkar semua tentang Cherryl."

Gladys menganggukkan kepala.

"Cherryl berasal dari keluarga broken home. Genetik ibunya mengalir deras dalam darahnya. Kecantikan wajah dan kemolekan tubuhnya juga sifat manipulatif dan bakat pelakornya menurun secara genetik. Ibunya adalah seorang pelakor. Gue dengan Cherryl sebenarnya masih sepupuan, Mbak. Tapi gak sudi gue untuk mengakui dia sebagai saudara sepupu gue. Najis!"

Gladys melanjutkan ceritanya lagi.

"Om gue punya keluarga yang harmonis. Dia punya anak dua, cewek semua. Istrinya ibu rumah tangga tulen. Masuklah ibunya Cherryl sebagai sekretaris Om gue. Dia sampai gak ingat anak dan istrinya lagi. Mereka ditinggalkan begitu saja. Ditelantarkan. Status pernikahan istrinya digantung sementara dia menikah lagi secara siri sampai beranak Cherryl.”

Gladys menyesap jus melonnya sebelum melanjutkan lagi.

“Istrinya tidak dicerai tapi tidak juga dinafkahi. Keluarga turun tangan untuk membantu gugatan cerai istrinya. Tuhan Maha Adil. Perusahaannya ambruk karena Om gue menyakiti banyak hati. Dia ditinggal begitu saja oleh ibunya Cherryl dalam keadaan miskin dan sakit-sakitan. Ibunya Cherryl kabarnya open BO untuk membiayai gaya hidup mewahnya dan menghidupi Cherryl.”

Tubuhnya menegak, alisnya terangkat sebelah.

“Wow,” komentar awalnya, “Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya.”

Sarah menggeleng.

“Jangan biarkan Cherryl menang, Mbak. Apalagi Mbak sedang hamil. Anak Mbak butuh keluarga utuh. Mbak masih ada orangtua kan?”

Gilirannya menggelengkan kepala.

“Saya anak tunggal, yatim piatu. Kedua orangtua saya meninggal saat saya masih kelas 5 SD. Saya diasuh oleh keluarga tante saya dari pihak Mama. Tapi Beliau juga sudah meninggal tiga tahun yang lalu.”

“Oh no.. Sorry to know,” Gladys kembali menepuk-nepuk punggung tangannya, “Don’t worry. You have us!”

Sarah mengangguk.

“Buat Cherryl dan ibunya jadi buah jatuh sama pohon-pohonnya, Mbak. Karena mereka busuk semua!”

“Mereka?” alisnya terangkat sebelah.

Sarah mengangguk lagi dengan tatapan pasti dan yakin.

“Para pelakor.”

Dari cerita teman-teman Cherryl, Cherryl tidak pernah dinikahi oleh pria asing itu. Mereka tinggal bersama di Madrid dan sering melakukan perjalanan mewah di beberapa negara Eropa, Asia dan Amerika. Di media sosial milik Cherryl, dia selalu meng-upload perjalanannya. Foto-foto yang ditampilkan seolah ia melakukan perjalanan seorang diri.

Dalam perjalanan pulang, Sarah menghubunginya lewat pesan chat.

“Namanya Orion Petralis. Pemilik usaha shipping terkenal di Eropa. Perusahaan keluarga.”

Dia akan mencari tahu tentang pria itu.

Menjelang jam pulang kantor dirinya sampai di lobby The Esthetic Jewelry, perusahaan yang ia bangun tanpa privilege dari keluarga besarnya sebagai seorang Herlambang. Tidak ada yang tahu identitas aslinya bahwa ia adalah bagian dari Herlambang yang “itu”. Bahkan dari suaminya sendiri.

Dia masih sempat memeriksa bagian produksi di lantai 3. Memastikan semua sesuai dengan desain yang sudah dibuat. Suara langkah heelsnya terdengar di koridor berlantai granit warna beige.

Beberapa artisan, istilah untuk perajin, karyawan di bagian produksi, sedang lembur untuk menyelesaikan pesanan partai besar. Mereka bekerja dengan ketelitian tinggi dan kehati-hatian karena memakai material berharga.

Logam-logam mulia seperti emas, perak, paladium, platinum dan rhodium adalah bahan baku perhiasan dari perusahaannya. Juga batuan mulia yang anak buahnya pilih dengan hati-hati.

Denting lift membuatnya berhenti memikirkan hal-hal yang berat. Kakinya melangkah ke arah ruang kerjanya. Tetapi saat melewati ruang kerja suaminya, tubuhnya menegak.

Pintunya tidak tertutup sempurna. Suara-suara di dalamnya, didominasi dengan suara perempuan. Cherryl. Nada manjanya yang memuakkan. Tawa genitnya.

“… jangan di sini…”

“… Mas Aldi, ih…”

“… geli, tahu. Mas Aldi nakal ih, tuh… berkasnya berjatuhan…”

Suara Aldi terdengar pelan. Bergairah. Penuh tuntutan.

“Sekarang ya?”

“Ng… kalau Bu Rani datang bagaimana?”

“Ck!” Mas Aldi berdecak, “Kamu kan tahu sendiri dia pergi sejak jam 2 tadi. Paling juga dia langsung pulang. Sekarang ya?”

“Ini kantor, Mas…”

“Terus kenapa? Aku CEO-nya. Aku yang berkuasa di sini.”

“Bukannya Bu Rani…”

“Aku akan menyingkirkannya. Tidak. Kita akan menyingkirkannya. Sudah saatnya tempat ini hanya punya satu pemimpin. Aku. Dan kamu akan menjadi desainer utama sekaligus pendampingku,” suara Mas Aldi begitu penuh keyakinan.

“Mas yakin?”

“Kamu ingin saham perusahaan ini? Jangan pergi lagi dariku. Aku mencintaimu. Perasaanku tidak berubah meskipun aku menikahi Maharani. Dia… hanya pengganti. Pengisi kekosongan. Aku bersama dengannya hanya karena tuntutan keluarga. Pernikahan ini membuatku muak! Aku bosan bersikap baik kepadanya padahal hatiku tidak untuknya. Hatiku habis hanya untukmu, Cherryl. You are the queen of my heart…”

Cherryl tertawa genit.

“Aku punya rencana bagus untuk menyingkirkannya, Mas…,” suara Cherryl terdengar menggoda, penuh muslihat.

“Nanti saja bicaranya. Tuntaskan dulu ini…”

Suara map berkas dan kertas yang berjatuhan terdengar. Detik berikutnya terdengar pekik manja Cherryl disusul tawa keduanya.

Dirinya yang berdiri di luar pintu membeku. Air mata mengambang di matanya. Panas. Dia menggigit bibirnya agar tidak terisak. Sebelah tangannya mengelus perutnya yang masih rata.

Suara decapan terdengar dari balik pintu. Suara risleting yang dibuka terdengar begitu jelas di tempat yang sudah hening dari aktivitas kantor ini.

Tangannya gemetar saat mengambil gawainya. Menyalakan kamera video. Dia memegang gawainya di depan perutnya. Sebelah tangannya lagi membuka pintu dengan perlahan. Dia hanya membuka sedikit pintunya. Celah secukupnya agar tangannya yang memegang gawai bisa masuk.

Tangannya gemetar. Suara laknat itu semakin nyaring dan semakin intens. Air matanya semakin deras. Hatinya remuk. Egonya terluka. Semua pengorbanan yang sudah ia lakukan terasa bagai debu, tak berarti.

Di dalam sana, suaminya, ayah dari janin dalam kandungannya, tengah bermaksiat di dalam ruang kerjanya dengan jalang masa lalu. Jalang yang pernah meninggalkannya demi laki-laki kaya raya lainnya.

Hatinya terpilin nyeri. Nafasnya terasa sesak. Dia tidak sanggup lagi. Dia menarik tangannya ke balik pintu dengan cepat. Rekaman video itu sudah cukup sebagai bukti.

Dia berbalik ke arah lift. Menghapus air matanya dengan punggung tangannya. Mengenakan tortoise sunglasses-nya saat keluar dari lift. Menarik nafas panjang dan mengeluarkannya dengan perlahan melalui mulut beberapa kali sebelum melangkah keluar dari lift

Beberapa karyawan menyapanya. Dia hanya tersenyum sambil menganggukkan kepala kepada mereka. Dia masih sanggup melangkah tegap walau kakinya gemetar. Dia memegang erat tali tasnya. Mencengkeramnya, seolah itu adalah tali penyelamat.

Di dalam mobilnya yang hening, tangannya bertumpu di atas kemudi. Tangan satunya mengelus pelan perutnya.

“Nak, Mama janji akan selalu menyayangimu. Kita akan hidup berdua. Hanya berdua. Keberadaanmu akan menjadi rahasia kita. Ayahmu tidak pantas untuk mengetahui keberadaanmu, Nak. Karena kau hadir tanpa ada rasa cinta darinya. Kau milik Mama. Hanya milik Mama.”

Dia mengemudi dengan hati-hati. Hatinya patah. Tetapi logikanya masih berjalan.

Di sana, suami dan jalangnya sedang merencanakan untuk mendepaknya dari perusahaan yang ia bangun. Di sini, di kamarnya, ia tengah menyusun rencana untuk membalas perbuatan mereka.

.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Swing Partner   BAB 75 – SEGELAS KOPI GAYO

    Dia tersenyum menatap Orion Petralis yang mendekat ke arahnya. Menerima buket bunga yang dibawakan dengan kedua tangannya lalu secara otomatis menghidu bunga-bunganya. Aromannya lembut dan menenangkan. Bahkan salah satu dedaunannya tercium wangi sitrus.“Good morning, My Queen Maharani. You are looking much better now,” Orion menarik kursi yang ada di samping bed pasien.“Bunga-bunganya cantik sekali dan wangi…”“Seperti dirimu.”“Kemarin aku terlihat sangat berantakan.”“Aku juga.”“Tidak. Kemarin kau terlihat sangat hebat. Masih layak untuk pemotretan sampul majalah olahraga ekstrim,” dia tersenyum.Orion tertawa.“Kau bercanda. Aku anggap ucapanmu itu sebagai pujian untukku.”Dia teringat sesuatu lalu menatap Orion.“Aku mengotori kemejamu…,” ingatannya kembali saat dia tengah berbicara dan tiba-tiba saja, ada aroma besi dan aroma manis yang menyengat datang bersamaan disertai sensasi tersedak tiba-tiba membuatnya terbatuk keras dan darah keluar dari mulutnya.Orion memegangi tan

  • Swing Partner   BAB 74 – PAGI DI RUMAH SAKIT

    Orion Petralis muncul di lobby rumah sakit tepat pukul 08.00. Di tangannya ada buket bunga dan seorang pengawal membawa beberapa kantung paperbag di tangannya. Lorenzo berjalan di samping kanan bosnya. Sesekali dia berbicara pada headset yang dikenakannya.Wajah Orion terlihat segar. Rambutnya disisir rapi. Jasnya terlihat sempurna pas di tubuhnya. Kemeja yang dikenakannya semakin mempertegas warna matanya. Dia tidak tersenyum saat berjalan memasuki pintu otomatis lobby. Auranya memang berbeda saat masuk ke dalam lobby. Kehadirannya mendominasi area lobby. Seperti memiliki magnet tersendiri bagi orang-orang yang sudah berada di dalam sana. Bahkan para dokter yang hendak masuk ke dalam ruang praktek kliniknya menghentikan langkah mereka hanya untuk menatap iring-iringan rombongan Orion yang seperti biasa bersama 4 orang pengawalnya. Para perawat banyak yang menatap sambil ternganga. Keluarga pasien dan pengunjung rumah sakit sengaja mendekat. Entah siapa yang memulai, tetapi tepuk ta

  • Swing Partner   BAB 73 – SEMUA BERGERAK CEPAT

    Malam itu, Banyu dan Embun menyediakan diri untuk menjaga kakak sepupu mereka. Mengingat Aldi masih bebas berkeliaran di luar sana, keamanan di lorong VIP semakin diperketat. Ada sekuriti dari pihak rumah sakit dan sekuriti dari pihak Kak Abdi. Saat pihak kepolisian bermaksud membantu memberikan petugas pengamanan tambahan untuk di area VIP, Om Tara menolaknya. “Ma’afkan saya. Menempatkan pihak kepolisian di saat kasus ini diawali dengan keterlibatan anggota Anda yang mudah sekali disuap untuk melakukan tindak kejahatan, saya rasa bukan keputusan yang bijak. Kami tidak membenci kepolisian karena kami tahu, mereka yang mudah disuap itu dilabeli sebagai oknum. Tetapi kami sangat kecewa sekali dengan hal ini,” kata Om Tara Herlambang saat pejabat kepolisian datang membesuk Maharani.Dari akun anonim Kak Gayatri yang dibuat dengan IP address palsu dengan jebakan pengecoh tracker, rekaman video dari SD Card mobil Maharani diedarkan di sosial media. Dengan cepat, postingan Kak Gayatri dil

  • Swing Partner   BAB 72 – RUANG RAWAT INAP

    “Kurang ajar! Jadi bukan hanya petugas dengan motor patwal saja yang terlibat tetapi juga petugas di mobil patroli!” Om Tara meninju telapak tangannya sendiri.“Mereka mudah disusupi. Mudah diiming-imingi…,” Om Pram menggelengkan kepalanya.Banyu menatap serius pada Orion Petralis.“Apakah di Italia juga sama? Polisi yang bermain kotor?”Orion Petralis tersenyum miring.“Di dunia ini, selalu ada dua sisi berbeda seperti pada uang koin. Begitu juga pada institusi itu. There always bad cop between good cop. Apalagi Italia dikenal sebagai negerinya para mafia…”Mereka fokus lagi menatap layar TV.Mobil trailer menyalip mobil Maharani. Mendahului mobil pickup putih juga. Mobil boks besar yang terlihat kepayahan di jalur tanjakan jalan layang itu mendahului mobil Maharani. Pandangan kamera depan terhalang oleh bagian belakang mobil boks besar.5 detik kemudian suara logam beradu terdengar. Masih tidak terlihat apa-apa Dario kamera depan. Tetapi dari kamera samping, mobil Avanza hitam ya

  • Swing Partner   BAB 71 – REKAMAN KAMERA MOBIL

    Om Tara, Tante Larasati, Tante Amara dan Embun sudah berada di rumah sakit saat ambulans tiba di IGD. Kak Ishaak dan Kak Gayatri dalam perjalanan kembali ke Jakarta begitu mendarat di Surabaya. Kak Abdi masih berada di Bandung. Lintang beberapa kali menelepon Papa atau Mamanya untuk mengetahui kondisi Maharani. Orion turun dari ambulans. Dia mengernyit silau saat beberapa lampu blitz terarah pada wajahnya. Wajahnya kusut. Bagian depan kemejanya masih bernoda merah. Brankar ambulans diturunkan. Beberapa tenaga medis dari rumah sakit sudah bersiap menyambut pasien. Mereka bergerak cepat dan efisien. Brankar ambulans dibawa ke dalam ruang IGD. Orion Petralis mengikuti brankar. Ia tidak melepaskan tangannya dari Maharani. Hingga saat tiba di unit tindakan, petugas medis memintanya untuk menunggu di luar. Orion menggeleng, bersikeras untuk tetap di samping Maharani. Om Tara mendekati Orion. Merangkulnya. “Biarkan

  • Swing Partner   BAB 70 – DILUAR SKENARIO

     Pengawal dari Kak Abdi membentuk barikade. Pengawal Orion merapat di antara Keluarga Herlambang dan tuannya. Tangan Orion sedari tadi menggenggam tangannya. Jalur MBZ belum dibuka pasca evakuasi tetapi padat oleh orang-orang yang rela meninggalkan kendaraan mereka di bawah untuk naik ke tempat TKP. Beberapa lokasi yang terdapat jejak ban mencurigakan sudah ditandai oleh polisi dan difoto.  Helikopter sudah pergi sejak tadi. Kembali ke helipadnya di Prisma Glass Building.  Salah satu pengawal menyerahkan barang-barang miliknya kepada Banyu. “Handphone Ibu Rani tidak berhenti berdering sejak tadi,” kata pengawal saat menyerahkan gawai, tablet, laptop juga tas tote bag miliknya. Beberapa kru TV melakukan siaran langsung sejak tadi. Area jalan layang MBZ mendadak lebih terang dari biasanya. Mobil teman Banyu dengan audio yang luar biasa khas anak muda,  dipakai sebagai sound s

  • Swing Partner   BAB 35 – DEEP TALK

    Perjalanan menuju makam di mobil Orion sunyi. Orion membiarkan dirinya hanyut dalam pikirannya sendiri. Memberinya waktu untuk merenung dan berpikir. Memberinya kesempatan untuk membenahi pikirannya tanpa membebani dengan aneka obrolan yang dipaksakan harus ada demi sopan sant

  • Swing Partner   BAB 19 – MEREKA TERLIBAT

    Rekaman CCTV dimulai saat Kak Ishaak menyerang Aldi. Audionya terdengar jelas. Mereka menonton bersama. Minus Mbak Anggita yang pulang duluan. .  Semua yang diucapkan dirinya melalui hipnotis yang dilakukan oleh Dokter Sita benar adanya. Hal yang tidak pernah ia tahu

  • Swing Partner   BAB 7 – HARI YANG SEMPURNA

    Meeting berjalan lancar. Klien sangat menyukai desain-desain dari para desainer The Esthetic Jewelry. Mereka bahkan meminta tambahan perhiasan di luar pesanan mereka dengan bahan mutiara laut asli Indonesia.Rasa mual yang dirasakan olehnya saat di lift tadi mendadak

  • Swing Partner   BAB 6 – FIGHT BACK!

    Kak Ishaak menghubunginya begitu ia sampai di kantor. Dia bergegas ke ruangannya. Mengabaikan Cherryl yang baru keluar dari ruangan Mas Aldi dengan rok pendek dan tabrak corak yang menyakitkan mata untuk dilihat. “Kak Ishaak…,” suaranya tercekat, “Ma’af. Ma’afka

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status