Share

Chapter 15B

Penulis: Chacha Prima
last update Tanggal publikasi: 2026-06-25 12:34:01

“Kamu harus pulang. Tante Bianca sama Om Davis pasti nyariin.” Jameka berusaha melepaskan diri lantaran rikuh sisi lemahnya telah dilihat Kevino.

Berkebalikan dari Jameka. Kevino menganggap itu sebagai sebuah penolakan yang dibalut kata-kata manis oleh Jameka agar tidak menyinggung perasaannya. Bagaimanapun, penolakan tetap penolakan. Sehalus apa pun bahasa yang digunakan, tetap saja menusuk hati.

Seharusnya Kevino mengurai pelukannya dan pulang, tetapi ia malah menunduk guna menyembunyika
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • TAMING THE BOSS   Penutup

    Menjelang malam, Tito berdiri di depan pintu keberangkatan internasional dengan ransel menggantung di satu bahu.Lampu-lampu putih di langit-langit terminal memantul pada lantai yang mengilap. Suara roda koper beradu dengan pengumuman penerbangan, bunyi pemindai, percakapan para penumpang, dan tangisan seorang anak yang tidak mau melepaskan balon berbentuk pesawat.Di tengah seluruh keramaian itu, Lih berdiri di samping Tito dengan kedua tangan masuk ke saku jaket. Sejak mengantar Tito dari basecamp sampai terminal, pria itu hanya mengeluarkan kalimat seperlunya.Tito sudah mandi, mengganti pakaian, memasukkan dua kemeja ke ransel, lalu berangkat tanpa sempat memeriksa ulang barang bawaannya. Kepalanya masih penuh oleh Jayden, restu yang belum diberikan, serta Jameka yang menatapnya terlalu lama ketika ia pamit dari kantor.Lih melihat ransel di bahunya.“Paspor?”“Ada.”“Tiket?”“Di ponsel.”“Dompet?”“Ada.”“Pengisi daya?”Tito menoleh. “Ada.”“Obat?”“Gue kagak sakit.”“Buat mabuk

  • TAMING THE BOSS   Tie Up Chapter 14B

    Tito menutup tutup wadah makanan Kevino sedikit lebih keras daripada yang diperlukan. “Kenapa?” tanya Jameka tanpa mengangkat wajah dari kroket ketiganya. “Kagak kenapa-kenapa.” “Kalau nggak kenapa-kenapa, itu kotak makan nggak akan lo banting.” “Gue taruh.” “Pakai dendam.” Tito memindahkan seluruh kiriman Kevino ke tas krem. Supnya sudah berkurang setengah, lauk ayam tinggal beberapa potong, sedangkan pudingnya ludes akibat pengorbanan besar Tito dalam menetralisasi jampi premium. Buket mawar masih berdiri di meja Jameka. Merah. Segar. Menyebalkan. Sejak tadi bunga itu terus masuk ke sudut pandangnya. Tito menggeser vasnya sedikit ke kanan. Kurang jauh. Ia geser lagi sampai nyaris jatuh dari ujung meja. “Jangan dirusak,” tegur Jameka. “Gue kagak ngerusak.” “Lo dorong terus dari tadi.” “Ganggu mata.” “Ya, jangan dilihat.” “Merah banget.” “Namanya juga mawar merah.” “Norak.” Jameka menatap bunga tersebut, lalu beralih kepada Tito. “Kroket lo juga bentuknya norak. Te

  • TAMING THE BOSS   Tie Up Chapter 14A

    Tito mendorong pintu ruang CEO memakai bahu. Kedua tangannya penuh. Tas bekal hitam tersangkut di pergelangan kiri, sementara tangan kanannya membawa tas makanan berwarna krem. Buket mawar merah dijepit di antara lengan dan dada sampai beberapa kelopaknya nyaris masuk ke hidung. Ia baru hendak mengumumkan kedatangannya ketika suara Jameka lebih dahulu menyambut. “Iya, Ke. Udah sampai.” Langkah Tito langsung berhenti. Jameka duduk di belakang meja dengan ponsel menempel di telinga. Tatapannya mengarah ke layar laptop, satu tangan menggulir halaman dokumen. Wajahnya tetap datar, tetapi nada bicaranya terdengar jauh lebih lunak daripada saat memerintah Tito mengambil berkas. Tito menatap tulisan nama perusahaan pada tas krem. Lalu menatap mawar. Kemudian menatap Jameka yang masih berbicara dengan mantannya. Lengkap sudah penderitaannya. Jameka menunjuk meja rendah di dekat sofa, memberi isyarat agar semua barang diletakkan di sana. Tito malah berdiri di tempat. “Iya, nanti a

  • TAMING THE BOSS   Tie Up Chapter 13B

    Vivian malah terlihat kagum. “Baik banget, Pak.” “Saya asistennya.” “Kalau semua asisten begini, saya mau jadi CEO juga.” “Coba dulu jadi ketua RT, Bu.” Vivian mendecakkan lidah sambil tertawa. Carissa belum ikut tersenyum. Pandangannya berpindah dari tas makanan Tito menuju kiriman Kevino. Dua makanan untuk satu perempuan. Satu dibuat oleh mantan yang masih dianggap kekasih. Satu lagi dibuat oleh pria yang menurut rumor akan menikah dengannya. Keadaan itu pasti mengganggu sesuatu di dalam kepalanya. Namun, Carissa lekas menarik alasan yang paling mampu menenangkan dirinya. “Pak Kevino memang tahu kesukaan Bu Jameka,” katanya. “Mereka, kan, udah lama dekat.” Vivian langsung menyambut. “Nah, iya. Bundanya juga pasti udah kenal Bu Jameka.” “Pasti.” “Tuh, kan? Berarti mereka emang nggak berantem.” Carissa tersenyum puas. “Dari tadi gue juga bilang begitu.” Tito menatap keduanya bergantian. Mereka sedang membangun kesimpulan dari mawar, makanan, dan satu

  • TAMING THE BOSS   Tie Up Chapter 13A

    “Jangan dibalik, anjir!” Tito menangkap tas bekal yang nyaris meluncur dari jok motornya. Wadah makanan di dalamnya bergeser, menimbulkan bunyi pelan yang langsung membuat tengkuknya menegang. Ia sudah mengorbankan sekian ekor ikan, lima adonan, satu dapur, dan kesehatan ginjal anak-anak basecamp demi membuat makanan itu. Kalau kroketnya hancur sebelum sampai ke mulut Jameka, Tito bakal ikut hancur bersamanya. Tas bekal itu dirapatkan ke dada. Setelah memastikan tutup wadah masih terkunci, Tito memasuki gedung Heratl dengan langkah hati-hati. Baru beberapa meter melewati pintu kaca, langkahnya melambat. Meja resepsionis dipenuhi kiriman. Sebuah tas makanan berwarna krem berdiri di atas meja. Bentuknya elegan, bersih, lengkap dengan pita kecil pada pegangannya. Di sampingnya ada buket mawar merah yang dirangkai bersama bunga-bunga putih mungil. Mewah. Rapi. Menyebalkan. Vivian berdiri sambil membaca kartu kecil yang diikatkan pada tas makanan. Carissa merapat di s

  • TAMING THE BOSS   Tie Up Chapter 13A

    Tito menaruh sepiring kroket di tengah meja ruang makan dengan bunyi sedikit keras. “Coba.” Arga yang tadi duduk sambil memainkan ponsel langsung mengangkat wajah. Lih, di seberangnya, hanya melirik piring tersebut selama satu detik sebelum kembali menatap layar. Tidak ada satu pun tangan yang bergerak. Tito menarik kursi. “Kenapa malah diem?” Arga menunjuk isi piring menggunakan dagu. “Itu makanan?” “Ya iyalah.” “Gue memastikan dulu.” Lima benda berwarna cokelat tua tergeletak di atas piring. Bentuknya berbeda-beda. Satu bulat, dua lonjong, satu pipih, sedangkan benda terakhir tidak memiliki bentuk yang dapat dipertanggungjawabkan. Permukaannya juga mengilap oleh minyak. Lih mengangkat satu kroket memakai garpu, memutarnya perlahan, lalu meletakkannya kembali. “Gosong,” komentarnya. “Kagak gosong.” Tito menarik piring mendekat untuk memeriksa. “Ini namanya matang maksimal.” “Hitam.” “Cokelat tua.” “Hitam.” “Lo buta warna, Bujang.” Lih tidak membantah

  • TAMING THE BOSS   Chapter 2A

    Konspirasi alam semesta yang apik seolah tidak mengizinkan mereka berjalan berdampingan di bumi yang sama —Taming the Boss______________________________________________ “Yakin gue kagak usah turun?” tanya Tito sewaktu mobilnya sudah berhenti di mansion papanya Jameka. “Enggak, gue lagi pengi

  • TAMING THE BOSS   Chapter 1B

    “Udahalah kagak usah banyak drama.“ Jameka langsung protes,“ Banyak drama gimana? Lo tahu sendiri gue kayak bisa!“ Pria itu tidak peduli sedikit pun tentang protes Jameka dan malah dengan entengnya berkata, “Gue yang traktir.” Jameka menganga. Traktir? Hm ... tampaknya si Kadal Sawah ini mem

  • TAMING THE BOSS   Chapter 1A

    You can’t treat people like yourselfRemember, every soul has difference in feeling—Chacha Prima_____________________________________________“Saya rasa kita masih harus meninjau lebih jauh lagi perkara ini. Berhubung sudah hampir jam makan siang, maka, cukup sekian untuk rapat hari ini. Selanjut

  • TAMING THE BOSS   Prolog

    “Good morning, Bae.” Suara serak seorang pria memasuki rungu seorang wanita berbalut sweter cokelat yang salah satu lengannya melorot, mempertontonkan setengah bahunya. Di tengah acara mengaduk teh di kitchen island, senyum mengiringi telengan kepalanya untuk melihat tunangannya berjalan mendekat

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status