MasukNesya sungguh tidak pernah menyangka, jika kekasihnya, Adipati ternyata menantu bosnya di kantor. Entah drama apa yang Tuhan hadirkan dalam hidupnya. Hingga ia harus mengalami kemalangan. Gunawan, bos Nesya sangat marah saat tahu putri semata wayangnya di khianati Adipati. Ia gelap mata dan menodai Nesya dengan begitu kejam. Sampai akhirnya, Nesya hamil dan Gunawan tidak mau bertanggung jawab. Nesya terpaksa harus menggunakan kekuatan keluarganya untuk menekan Gunawan agar menikahinya. Tujuan Nesya adalah untuk membalaskan dendam atas penderitaannya karena Gunawan telah menghancurkan masa depannya. Berhasilkah Nesya membalas semua rasa sakitnya kepada Gunawan, Adipati dan istrinya? Jika pada akhirnya rasa itu tumbuh seiring berjalannya waktu. Meski ia telah sekuat tenaga menolaknya.
Lihat lebih banyak“Ya, Sarah.”
“Mas dimana? Ini udah jam berapa belum sampai rumah, katanya hari ini pulang?” cerocos Sarah, istri Adipati. “Aku masih ada rapat, mungkin besok aku pulang ke Surabaya.” "Awas aja kalau di Jakarta kamu selingkuh ya! Tak pites gendakanmu!” ancam Sarah. Adipati tersenyum ke arah Nesya, karena Nesya berjalan menghampirinya sambil membawa potongan kue ulang tahunnya.“ Ora, wis yo, aku iseh sibuk.” Adipati memutuskan sambungan ponselnya begitu saja lalu secepat mungkin ia mengantongi ponselnya. “Siapa, Mas. Rekan kerja?” tanya Nesya. “Iya.” Adipati memeluk Nesya begitu erat seolah tidak ingin berpisah. Adipati tidak tahu jika beberapa bulan ini sang istri sudah curiga dan terus memantau suaminya. Benar saja Adipati kedapatan selingkuh dengan Nesya bawahnya di kantor. Namun, Sarah diam dan ingin membuktikan sendiri jika suaminya selingkuh. Saat sedang asyik suap-suapan, ada seseorang yang menekan tombol bell apartemennya dengan begitu tidak sabar. Nesya mengerutkan dahinya siapa gerangan tamu yang datang, sebab ia tidak mengundang siapapun di ulang tahunnya. “Ya, sebentar!” Nesya berjalan ke arah pintu lalu membukanya. Nesya terkejut saat tahu siapa yang datang yaitu pemilik perusahaan tempat ia bekerja dan bersama wanita muda yang usianya jauh dibawahnya yaitu sekitar dua puluh tahunan. Pria tersebut adalah Gunawan Seno dan putrinya, Sarah. “Maaf, Pak. Ada perlu apa datang ke apartemen saya? Apa ada pekerjaan penting yang harus saya kerjakan.” tanya Nesya ramah. Gunawan hanya diam sambil terus melihat Nesya dari atas sampai bawah, asap rokoknya ia hembuskan ke wajah Nesya. Sarah yang sudah geram dan tidak tahan melihat Nesya pun bertanya, memastikan bahwa dihadapannya itu adalah Nesya, selingkuhan suaminya. “Kamu yang namanya Nesya Cantika?” tanya Sarah. “Iya benar, Maaf. Mbaknya cari siapa ya?” "Siapa, Sayang?” seru Adipati yang tidak tahu jika sang istri datang ke apartemen Nesya. Tanpa kata dan emosi yang sudah memuncak, ditambah mendengar suara suaminya dari dalam. Sarah menjambak rambut Nesya dan membawanya masuk kedalam apartemen sambil berjalan ke arah Adipati. Nesya berteriak kesakitan dan mengikuti langkah Sarah masuk ke dalam apartemennya. Sedangkan Adipati terkejut melihat kedatangan sang istri. Sementara itu, Gunawan menutup pintunya karena tidak ingin orang lain mendengar putrinya memberi pelajaran pada Nesya. Ia santai berdiri di daun pintu, merokok sambil melihat Sarah menghajar habis-habisan Nesya. "Dasar pelakor gak tahu diri!” teriak Sarah. Sarah dengan brutal mengamuk, menampar dan menjambak rambut Nesya. Adipati syok saat melihat istrinya yang begitu brutal menghajar kekasihnya. Sementara Gunawan, menghampiri Adipati dan langsung menamparnya dengan penuh amarah, mertua Adipati yang masih gagah dan tampan itu meluapkan kekesalannya pada sang menantu karena putrinya diselingkuhi. “Kamu aku tempatkan di perusahaan cabang disini, bukan untuk mengkhianati putriku!” Sekali lagi Gunawan menampar Adipati sampai tersungkur, walau begitu dengan cepat ia menolong Nesya dari kebrutalan istrinya. “Cukup Sarah, dia bisa mati!” Adipati menarik Sarah kemudian menolong Nesya dan memeluknya. Nesya ketakutan dan terdiam, ia begitu syok dengan serangan yang begitu tiba-tiba. “Oh...!Kamu lebih milih dia.” Sarah kemudian menarik Adipati dengan sisa kekuatannya lalu menghempasnya begitu saja sampai suaminya tersungkur. “Sini perempuan murahan!” Sarah kembali menjambak Nesya. “Lepasin! Salahku apa?” mohon Nesya. “Perempuan murahan. Aku kasih tahu ya, Adipati itu suamiku. Aku nikah sama dia udah tiga tahun.” Sarah terengah-engah melihat tajam Nesya. “Apa?” Nesya sontak melihat ke arah Adipati, pria yang dua tahun ini menjalin kasih dengannya. Nesya menghampiri lalu mendorong Adipati dan melihatnya penuh arti. Hati Nesya begitu sakit selama ini telah dibohongi pria yang sangat ia cintai. Nesya menampar Adipati.“ Jadi kamu bohong sama aku tentang status kamu selama ini? Katakan, Mas!” teriak Nesya. Adipati terdiam dan hanya bisa memandangi Nesya seolah membenarkan semuanya.“Maafkan aku.” Adipati mencoba mengusap air mata Nesya. Namun, Nesya menepisnya. Sarah kemudian menghampiri keduanya, ia begitu muak dengan drama air mata Nesya. Sarah yang masih dikuasai amarah kemudian menarik suaminya keluar dari apartemen Nesya. Sebelum sampai di pintu keluar, Sarah melihat sang papa yang sedari tadi berdiri sambil merokok melihat sinis Nesya. “Urus sisanya, Pa. Kasih pelajaran sama perempuan murahan itu, kalau perlu buat dirinya hancur. Sehancur-hancurnya.” Gunawan hanya mengebulkan asap rokoknya lalu membiarkan Sarah keluar sambil menarik suaminya, Gunawan menutup pintu apartemennya dengan menggunakan kakinya, mengunci pintu apartemennya. Setelah itu menghampiri Nesya dengan tatapan seolah ingin memangsa. Pria dewasa berstatus duda berusia empat puluh tiga tahun itu berdiri dihadapan Nesya, mensejajarkan tingginya dengan gadis yang saat ini meringkuk memeluk lututnya dan masih menangis. Gunawan menghembuskan asap ke arah Nesya membuat Nesya terbentuk-batuk. Gunawan meraih dagu Nesya “Nesya Cantika, kamu bermain asmara sama menantuku, bagaimana kalau sekarang kita bermain juga.” Tatapan Gunawan sudah dipenuhi hasrat. “Apa maksud, Bapak?” Nesya mundur dengan sisa tenaganya. Gunawan tertawa lalu bangkit membelakangi Nesya kemudian menghisap rokoknya lagi. Gunawan melepas dasi dan kancing kemejanya satu persatu lalu membalikkan tubuhnya. “Ayolah, gak usah munafik. Kamu pasti puas sama aku daripada sama suami Putriku.” Gunawan tersenyum miring, mengejek ketidakberdayaan Nesya. Nesya bangkit dan menjauh dari Gunawan. Gunawan menyeringai dan terus mengikuti Nesya yang menghindari dirinya sampai ia terduduk di sofa. “Pak Gunawan, Bapak mau apa?” Nesya berusaha menjauh. Namun sayang, Gunawan berhasil meraih lengannya dan merobek paksa dress Nesya bagian depan. “Gak usah ngelawan!” Gunawan menampar Nesya dengan tega sampai sudut bibir gadis dua puluh tujuh tahun itu berdarah. Namun, Nesya hanya bisa berteriak meminta tolong tetapi sekuat apapun ia berteriak tidak akan ada yang mendengar. Pria bertubuh tegap itu mulai melancarkan aksinya menggagahi gadis cantik yang tidak tahu apa-apa tentang kekasihnya yang sudah mempunyai istri dan rupanya istrinya adalah Putri dari bos tempat ia bekerja. Gunawan melepas paksa semua yang melekat di tubuh Nesya. Namun, sebelum itu ia mengikat tangan Nesya dengan dasinya sehingga mudah baginya untuk menodai gadis malang tersebut. “Pak, saya minta maaf. Saya benar-benar gak tahu kalau mas Adipati punya istri. Jangan lakuin ini sama saya,” mohon Nesya berlinang air mata. Gunawan membekap mulut Nesya dengan tangan besarnya, ia tidak peduli dan terus melancarkan aksinya. Ia mengira gadis dibawah Kungkungan saat ini sudah menyerahkan semuanya pada Adipati, mana mungkin ia masih suci. “Pak, tolong. Jangan lakuin ini atau Bapak nanti menyesal.” lirih Nesya dalam bekapan tangan Gunawan. Gunawan sukses merenggut kesucian gadis tersebut. Air mata Nesya semakin meleleh dan ia berusaha menyingkirkan tubuh Gunawan dari atas tubuhnya. Namun, apa daya tenaganya kalah dari Gunawan. Akhirnya ia pun pasrah kehilangan mahkotanya. Gunawan sejenak melihat wajah pasrah Nesya ia menyeringai lalu melanjutkan perbuatannya. Gunawan baru sadar saat melihat bagian inti Nesya yang berdarah. “Kamu masih perawan? Oh … Shit!” batin Gunawan tanpa merasa bersalah terus bermain tanpa melihat Nesya kesakitan, hatinya sudah dipenuhi hasrat yang tidak terbendung dan disertai amarah pada Nesya. Karena gadis dibawanya itu sudah berani menjalin hubungan terlarang dengan menantunya, menyakiti hati putri semata wayangnya. Nesya hanya diam, tenaganya seolah sudah habis untuk memberontak. Mahkota yang selama ini ia jaga dan ingin ia serahkan untuk suaminya kelak, sirna sudah.Gunawan dengan begitu menahan emosi memasuki kantornya, ia berjalan begitu tergesa-gesa. Pandangannya lurus kedepan dan ingin sekali secepatnya sampai di ruangannya. “Shinta!“ teriak Gunawan memanggil Shinta, rekan kerja Nesya dulu, yang sudah diangkat menjadi sekretaris Gunawan.Sinta terperanjat, ia berdiri dengan rasa takut mendengar suara bariton sang bos. Mata Sinta melihat ke arah pintu masuk ruangan Gunawan dan sesekali melihat seseorang yang duduk di kursi kekuasaan Gunawan. ‘Braakk!’ pintu ruangan dibuka dengan kasar. “Sinta!” Gunawan seketika terdiam saat melihat pria yang duduk di kurasi kerjanya. “Kau siapa? Beraninya duduk di kursiku!” ucap Gunawan dengan lantang. “Aku bukan siapa-siapa, tapi sekarang aku pemilik perusahaan ini,” jawab pria tersebut santai. “Pak, beliau ini tuan Arjuna. Pamannya tuan Arya. “Apa? Maksud kamu tuan Arjuna?” tanya Gunawan memastikan.“Iya, Tuan.” Arjuna tertawa melihat ekspresi wajah Gunawan.“Tepat sekali. Oh iya, saat pernikahan ka
Nesya membuka mata, lalu melihat suaminya yang masih tidur disampingnya sambil memegang perutnya. Nesya menghela nafas panjang, pelan-pelan ia menyingkirkan tangan suaminya dari perutnya. Tangan satunya meraih ponsel di meja nakas. “Ck, kenapa aku lupa mencharge hp ku,” keluhnya setelah melihat ponselnya mati.Ia melihat ponsel Gunawan dan mengambilnya, beberapa kali ia memasukkan password nya, namun tetap gagal. Nesya tersenyum miring, ia berniat membangunkan Gunawan yang masih tertidur. Ia baru ingat jika orang bangun tidur pasti sedikit linglung dan sudah pasti akan memberikan password tersebut.“Bangun, Mas. Mas.” Nesya menggoyang pelan bahu Gunawan.“Hem,” balas Gunawan masih memejamkan mata.“Aku pinjam hp kamu ya? Mau telpon kak Arya,” ucap Nesya pelan lalu mencium pipinya. “Hem.” masih dengan posisi yang sama. “Passwordnya apa?”“Tanggal lahir Sarah,” jawab Gunawan parau dan masih posisi yang sama. Nesya menghembuskan nafas kesal, bisa-bisanya ia tidak terpikir selama ini
Nesya berjalan santai di samping Gunawan saat memasuki kantor cabang yang dulunya tempatnya bekerja. Tidak peduli tatapan semua karyawan lain padanya, ditambah perutnya yang sudah mulai terlihat membesar dan Gunawan menggenggam tangannya dengan erat seolah tidak ingin melepasnya. Gunawan tersenyum bangga karena bisa mendapatkan Nesya yang begitu cantik, cerdas dan bisa dibilang primadona kantornya. Namun tidak dengan Shinta yang sudah tahu misi Nesya. Shinta hanya diam dan diam-diam mendukung apa yang dilakukan Nesya.Sesampainya di ruangan, Gunawan meminta Nesya duduk di sofa dan bersantai. Sedangkan dirinya meeting bersama karyawannya. “Nes,” panggil seseorang.“Shinta,” balas Nesya. Keduanya saling berpelukan melepas rindu karena sudah beberapa bulan tidak bertemu.“Apa kabar? Bagaimana jadi istri bos. Pasti pak bos manjain kamu ya?” goda Shinta membuat seulas senyum kecut dibibir Nesya."Iya sih, tapi aku masih benci sama dia. Misiku tetap masih sama, aku mau di masuk penjara.
Nesya diam-diam ke ruangan kerja Gunawan, ia mencari beberapa berkas perusahaan penting. Ia tahu perusahaan suaminya itu sedang tidak baik-baik saja dan ia ingin mengambil alih perusahaan tersebut dengan bantuan sang kakak, Arya. “Dimana berkas perusahaan itu, hari ini aku harus menemukannya,” gumam Nesya mencari di lemari rak buku dan berkas penting lainnya. “Nes, kamu ngapain!” seru seseorang membuat Nesya terkejut.Nesya menoleh rupanya sang suami sudah pulang dari kantor.“Ah, ini aku cari buku yang kemarin kamu baca,” Nesya kemudian menarik nafas dalam-dalam lalu membuangnya perlahan.“Oh, Buku itu ada di laci meja nakas.” Gunawan menghampiri Nesya lalu memeluknya.“Kamu sudah makan,” tanya Gunawan masih memeluk Nesya.Nesya mengatur nafasnya. Ia takut ketahuan mencari dokumen penting perusahaan suaminya.“Belum, aku pengen makan ramen.”Gunawan melepaskan pelukannya. Ia tersenyum melihat Nesya lalu mengusap perutnya.“Baiklah, kita ke restoran langganan kita.” Nesya tersenyum ti
“Lepaskan aku.” Nesya terus memberontak saat Gunawan menariknya masuk ke dalam apartemen milik Nesya sendiri.Gunawan menghempaskan Nesya ke lantai sampai Nesya tersungkur. “Apa Adipati menemui tadi?” tanya Gunawan.“Tidak!” “Bohong!” Gunawan kemudian menarik rambut Nesya. “Jujur padaku!” teriak Gunaw
Nesya dengan malas membuka pintu apartemennya, karena ia juga baru bangun tidur. Ia tidur setelah pulang dari kantor karena merasa tubuhnya begitu lelah. Jam juga menunjukan jam sembilan malam. “Mas Adipati? Kamu mau ngapain datang kemari lagi? Kamu mau buat aku susah lagi?” tanya Nesya tanpa jeda
Nesya sudah sedikit membaik dimata Bintang dan Bulan, walau sebenarnya Nesya begitu trauma dengan apa yang sudah ia alami. Nesya juga tidak menceritakan jika dirinya dinodai Gunawan. Ia pura-pura sudah tidak apa-apa. Karena Nesya juga tidak ingin merepotkan mereka berdua terlalu lama.“Ya sudah, ka
Nesya masih meringkuk di tempat tidurnya, sudah satu minggu ia tidak ke kantor. Air matanya seolah tidak pernah kering, ia terus meratapi nasibnya. Bintang yang dari awal terus menemani bersama Bulan pun tidak bisa berbuat banyak, ia hanya bisa menghibur sebisanya. Karena mereka juga tidak tahu p












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasanLebih banyak