Share

BAB 21

Author: RAJJA-M
last update publish date: 2026-06-18 12:15:06
"Presiden Cane, boleh aku ke toilet sebentar?"

Cane tidak langsung menjawab. Ia mendongak dari dokumennya.

"Kemana?"

Isabela menatapnya.

Apa pria ini tuli? Aku baru saja bilang akan ke toilet. Kenapa harus ditanya lagi?

"Ke toilet, Presiden Cane."

"Pakai toilet di ruangan itu." Ia menganggukkan dagu ke arah pintu di sisi kanan ruangannya, pintu yang selama ini tidak pernah Isabela perhatikan.

Isabela menatap pintu itu sebentar.

Dia pasti takut aku kabur dan tidak menyelesaikan pekerjaank
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • THE DEVIL'S LITTLE SECRETARY - A Mafia Romance    BAB 57

    Sore hari sudah tiba. Jam menunjukkan pukul 17.02 ketika Isabela terbangun dari tidurnya. Ia tidur sangat nyenyak, mungkin karena pengaruh obat yang diberikan dokter tadi.Cane masuk ke ruangan itu. Ia bahkan tidak kembali ke kantornya, melainkan memindahkan seluruh pekerjaannya ke ruang rawat Isabela, hanya demi mengawasi gadis itu."Apa kau sudah bangun? Bagaimana perutmu?" tanya Cane lembut, seperti seorang ayah yang mengkhawatirkan putrinya. Matanya menyusuri wajah Isabela terlalu lama sebelum ia kembali bicara."Sudah mendingan. Jadi, Presiden Cane, apa aku sudah boleh pulang sekarang?" tanya Isabela, tidak sabar ingin segera bertemu Theo."Tentu saja boleh. Tapi makan dulu, sebentar lagi Dante akan membawakan makanannya," kata Cane."Umm, tidak perlu. Aku makan di rumah saja, berasama nenek," jawab Isabela."Tidak," sahut Cane cepat. "Kata dokter, kau harus makan dulu di sini supaya kita bisa melihat reaksinya. Kalau perutmu bermasalah lagi, kau bisa dirawat inap beberapa hari s

  • THE DEVIL'S LITTLE SECRETARY - A Mafia Romance    BAB 56

    Seperti janji Cane tadi pagi, Prato Feito sudah tersedia di meja kerja Isabela tepat saat jam makan siang tiba, diantar oleh salah satu staf tanpa banyak basa-basi. Isabela hampir tidak bisa menahan senyum melihat sepiring nasi hangat lengkap dengan kacang dan daging yang mengepul di depannya.Belum sempat ia menyentuh sendok, langkah kaki yang familiar terdengar mendekat. Cane berdiri di ambang pintu, tangan di dalam saku celana, menatapnya sekilas sebelum menempati kursi di seberang meja tanpa diminta."Makanlah," ujarnya singkat, seolah kehadirannya di sana adalah hal paling wajar di dunia.Isabela hanya mengangguk kaku, mulai menyendok nasi dengan gerakan yang lebih pelan dari biasanya. Ia tahu betul rencananya untuk pulang cepat sore ini butuh alasan yang kuat, dan sekarang, dengan Cane duduk tepat di depannya, ini adalah kesempatan sempurna untuk memulai sandiwara itu lebih awal.Baru beberapa suap, Isabela meletakkan sendoknya, menekan perutnya pelan sambil meringis tipis."Ada

  • THE DEVIL'S LITTLE SECRETARY - A Mafia Romance    BAB 55

    Keesokan harinya, di kantor, Isabela sibuk memikirkan pertemuan malam nanti. Di ruangannya, ia sibuk mengetik membalas pesan lewat komputer kantor yang sudah ia sambungkan dengan ponselnya. Tiada habisnya ia tersenyum membalas pesan tersebut."Atau bagaimana biar aku menjemputmu saja setelah kau pulang kerja?"Mata Isabela membelalak membaca pesan yang tertera di monitor. Tidak boleh, tidak boleh. Aku ingin balik cepat hari ini dengan beralasan sakit, jika Theo menjemputku di kantor itu bakal ketahuan kalau aku sebenarnya berbohong. Bisa-bisa aku kena peringatan dari kantor. Tidak, tidak boleh."Tidak perlu! Kita berjumpa di Tordesilhas langsung, aku juga perlu bersiap," balasnya cepat.Belum sempat ia menghela napas lega, tiba-tiba panggilan masuk ke telepon internal kantornya. Isabela langsung mengangkatnya."Buatkan aku kopi," suara bas di seberang telepon terdengar datar, tanpa basa-basi."Ba-" belum sempat Isabela menjawab, sambungan sudah terputus. Nada kosong terdengar di telin

  • THE DEVIL'S LITTLE SECRETARY - A Mafia Romance    BAB 54

    Isabela berlari keluar dari pintu kaca utama gedung BRN Corp seperti ada anjing galak di belakangnya—padahal yang mengejarnya hanya rasa malu yang menumpuk pada dirinya."Bela!"Suara itu membuatnya berhenti mendadak, hampir tersandung kakinya sendiri. Ia menoleh, masih terengah, dan menemukan Elena berdiri beberapa meter darinya, bersandar santai di samping mobil, dengan ekspresi yang campur antara geli dan bingung melihat sahabatnya muncul dari pintu kantor seperti sedang ikut lomba lari seratus meter."Lena?" Isabela menatapnya, masih berusaha mengatur napas. "Buat apa kau di sini?""Itu yang harusnya aku tanya padamu." Elena mengangkat alis, matanya menyusuri Isabela dari atas ke bawah—rambut sedikit berantakan, wajah merah entah karena lari atau karena hal lain. "Kau lari dari apa? Atau dari siapa?""Bukan apa-apa." Isabela cepat-cepat menegakkan punggungnya, berusaha terlihat normal dan gagal total. "Kau belum jawab. Kenapa kau di sini?"Elena melipat tangannya di dada, bersanda

  • THE DEVIL'S LITTLE SECRETARY - A Mafia Romance    BAB 53

    Isabela merosot duduk di lantai, bersandar ke pintu, kedua tangan menutupi wajahnya sendiri. "Sial," gumamnya, lebih ke dirinya sendiri daripada siapapun. "Sial, sial, sial." Ia menarik napas dalam, mencoba menenangkan detak jantungnya yang masih belum normal sejak meninggalkan ruangan Cane. Kenapa harus dia? Pikiran itu muncul tanpa diundang, dan begitu muncul, rasanya seperti membuka pintu yang seharusnya tetap tertutup. Selama ini—sejak SMA, sejak masa kuliah, bahkan sampai bertemu lagi dengan Theo di Madrid—Isabela selalu membayangkan ciuman pertamanya akan seperti apa. Dengan siapa. Dan bukan dengan bos menyebalkan yang suka menyuruhnya lembur sampai tengah malam, yang dingin tujuh hari dalam seminggu, yang sekarang—entah bagaimana—berhasil membuatnya lupa cara bernapas dengan benar. "Kenapa harus dia," ulangnya, kali ini lebih keras, hampir seperti rintihan. "Kenapa bukan... kenapa bukan Theo?" Nama itu terasa aneh diucapkan sekarang, seolah sudah lama tidak ia pikirkan—pa

  • THE DEVIL'S LITTLE SECRETARY - A Mafia Romance    BAB 52

    — ✵ — Isabela membuka mata perlahan, kepalanya berdenyut seperti ditimpa batu. Ia mengerang, tangan langsung naik memegangi pelipis sambil menatap sekeliling—langit-langit yang asing, seprai yang terlalu rapi untuk kamar hotel biasa, aroma yang tidak ia kenal tapi entah kenapa terasa familiar. Lalu matanya berhenti di satu titik. Meja kerja di sudut ruangan. Jam dinding berbentuk minimalis yang hanya ada satu di seluruh gedung ini—di ruangan Cane. Ia melompat dari ranjang seperti tersengat listrik, berdiri dengan napas tercekat. Ini kamar Presiden Cane. Aku tidur di kamar Presiden Cane?. Kakinya bergerak sebelum otaknya selesai berpikir, melangkah cepat ke arah pintu. Tangannya baru menyentuh gagang pintu— —dan berhenti total. Tubuhnya kaku seperti patung. Ingatan itu kembali sekaligus, tanpa peringatan. Bibirnya. Bibir Cane. Ciuman itu. Wajahnya memanas dalam sepersekian detik, merambat dari leher sampai telinga. "Sial." Suaranya hampir tidak terdengar, lebih seperti desisan

  • THE DEVIL'S LITTLE SECRETARY - A Mafia Romance    BAB 34

    Cane melangkah masuk. Kamar itu hening, hanya menyisakan cahaya remang dari lampu sudut yang menembus tirai tipis. Isabela sudah terlelap di atas ranjang. Gadis itu tidur dengan posisi yang terlalu tenang, terlalu polos, seolah ia tidak punya beban apa pun di dunia yang sama sekali asing baginya.C

  • THE DEVIL'S LITTLE SECRETARY - A Mafia Romance    BAB 24

    Isabela mengikuti pelayan itu menyusuri koridor — hingga pintu besar di ujungnya terbuka, dan udara dingin garasi langsung menyambutnya. Panjang dan dingin. Lampu putihnya menyinari deretan mobil yang berjejer rapi — masing-masing tertutup rapi, tidak satu pun yang terlihat seperti milik orang bias

  • THE DEVIL'S LITTLE SECRETARY - A Mafia Romance    BAB 23

    Kafe lantai tiga tidak pernah terlalu ramai di jam makan siang.Vanessa duduk di meja pojok — meja yang sama yang selalu ia pilih karena menghadap ke pintu masuk dan bisa melihat siapa saja yang masuk tanpa terlihat terlalu mencolok. Gelasnya sudah hampir habis. Es batunya sudah mencair separuh.Ia

  • THE DEVIL'S LITTLE SECRETARY - A Mafia Romance    BAB 22

    Isabela berdiri sendirian — punggung masih menempel di dinding, kemeja putih di tangannya, jantungnya berdegup dengan ritme yang tidak normal.Astaga, Isabela. Apa yang kau pikirkan.Ia memegang kedua pipinya sendiri — yang sudah terasa panas bahkan sebelum ia sentuh — lalu menarik napas panjang.D

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status