Share

BAB 53

Author: RAJJA-M
last update publish date: 2026-06-22 09:59:26
Isabela merosot duduk di lantai, bersandar ke pintu, kedua tangan menutupi wajahnya sendiri.

"Sial," gumamnya, lebih ke dirinya sendiri daripada siapapun. "Sial, sial, sial."

Ia menarik napas dalam, mencoba menenangkan detak jantungnya yang masih belum normal sejak meninggalkan ruangan Cane.

Kenapa harus dia?

Pikiran itu muncul tanpa diundang, dan begitu muncul, rasanya seperti membuka pintu yang seharusnya tetap tertutup. Selama ini—sejak SMA, sejak masa kuliah, bahkan sampai bertemu lagi d
RAJJA-M

KALO ADA YANG BACA KOMEN DONG.

| Like
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • THE DEVIL'S LITTLE SECRETARY - A Mafia Romance    BAB 54

    Isabela berlari keluar dari pintu kaca utama gedung BRN Corp seperti ada anjing galak di belakangnya—padahal yang mengejarnya hanya rasa malu yang menumpuk pada dirinya."Bela!"Suara itu membuatnya berhenti mendadak, hampir tersandung kakinya sendiri. Ia menoleh, masih terengah, dan menemukan Elena berdiri beberapa meter darinya, bersandar santai di samping mobil, dengan ekspresi yang campur antara geli dan bingung melihat sahabatnya muncul dari pintu kantor seperti sedang ikut lomba lari seratus meter."Lena?" Isabela menatapnya, masih berusaha mengatur napas. "Buat apa kau di sini?""Itu yang harusnya aku tanya padamu." Elena mengangkat alis, matanya menyusuri Isabela dari atas ke bawah—rambut sedikit berantakan, wajah merah entah karena lari atau karena hal lain. "Kau lari dari apa? Atau dari siapa?""Bukan apa-apa." Isabela cepat-cepat menegakkan punggungnya, berusaha terlihat normal dan gagal total. "Kau belum jawab. Kenapa kau di sini?"Elena melipat tangannya di dada, bersanda

  • THE DEVIL'S LITTLE SECRETARY - A Mafia Romance    BAB 53

    Isabela merosot duduk di lantai, bersandar ke pintu, kedua tangan menutupi wajahnya sendiri. "Sial," gumamnya, lebih ke dirinya sendiri daripada siapapun. "Sial, sial, sial." Ia menarik napas dalam, mencoba menenangkan detak jantungnya yang masih belum normal sejak meninggalkan ruangan Cane. Kenapa harus dia? Pikiran itu muncul tanpa diundang, dan begitu muncul, rasanya seperti membuka pintu yang seharusnya tetap tertutup. Selama ini—sejak SMA, sejak masa kuliah, bahkan sampai bertemu lagi dengan Theo di Madrid—Isabela selalu membayangkan ciuman pertamanya akan seperti apa. Dengan siapa. Dan bukan dengan bos menyebalkan yang suka menyuruhnya lembur sampai tengah malam, yang dingin tujuh hari dalam seminggu, yang sekarang—entah bagaimana—berhasil membuatnya lupa cara bernapas dengan benar. "Kenapa harus dia," ulangnya, kali ini lebih keras, hampir seperti rintihan. "Kenapa bukan... kenapa bukan Theo?" Nama itu terasa aneh diucapkan sekarang, seolah sudah lama tidak ia pikirkan—pa

  • THE DEVIL'S LITTLE SECRETARY - A Mafia Romance    BAB 52

    — ✵ — Isabela membuka mata perlahan, kepalanya berdenyut seperti ditimpa batu. Ia mengerang, tangan langsung naik memegangi pelipis sambil menatap sekeliling—langit-langit yang asing, seprai yang terlalu rapi untuk kamar hotel biasa, aroma yang tidak ia kenal tapi entah kenapa terasa familiar. Lalu matanya berhenti di satu titik. Meja kerja di sudut ruangan. Jam dinding berbentuk minimalis yang hanya ada satu di seluruh gedung ini—di ruangan Cane. Ia melompat dari ranjang seperti tersengat listrik, berdiri dengan napas tercekat. Ini kamar Presiden Cane. Aku tidur di kamar Presiden Cane?. Kakinya bergerak sebelum otaknya selesai berpikir, melangkah cepat ke arah pintu. Tangannya baru menyentuh gagang pintu— —dan berhenti total. Tubuhnya kaku seperti patung. Ingatan itu kembali sekaligus, tanpa peringatan. Bibirnya. Bibir Cane. Ciuman itu. Wajahnya memanas dalam sepersekian detik, merambat dari leher sampai telinga. "Sial." Suaranya hampir tidak terdengar, lebih seperti desisan

  • THE DEVIL'S LITTLE SECRETARY - A Mafia Romance    BAB 51

    — ✵ —Isabela masih tertidur di kursi bar saat Cane mengamatinya beberapa detik lebih lama dari yang seharusnya."Sial," gumamnya pelan, lebih untuk dirinya sendiri daripada untuk siapapun yang mendengar. "Gadis ini menyiksaku."Ia mendekat. Satu lengan terselip di bawah lutut Isabela, satu lagi menopang punggungnya, dan dalam satu gerakan yang tidak memerlukan usaha berarti, ia mengangkatnya dari kursi bar. Kepala Isabela jatuh ke dadanya, rambutnya yang berantakan menyapu lengan jas Cane. Ia tidak terbangun. Hanya mengerang pelan, lalu kembali diam, napasnya teratur dan dalam.Cane membawanya melewati pintu di sisi ruangan, menuju kamar yang lebih sering berfungsi sebagai tempat ia menghilang dari dunia luar untuk beberapa jam daripada tempat ia benar-benar tidur. Ranjangnya rapi, tidak tersentuh sejak terakhir dirapikan oleh staf kebersihan.Ia membaringkan Isabela perlahan, menyesuaikan bantal di bawah kepalanya dengan ketelitian yang tidak biasa ia berikan untuk hal sekecil ini.

  • THE DEVIL'S LITTLE SECRETARY - A Mafia Romance    BAB 50

    Sementara itu, di ruangan rapat sudah selesai. Cane keluar lebih dulu, Dante sudah menunggu di luar dan langsung mengikuti dua langkah di belakangnya seperti biasa. Di belakang mereka, satu per satu kepala divisi menyusul keluar, menyebar ke arah masing-masing tanpa banyak bicara — beberapa langsung menuju lift, beberapa lainnya berhenti sebentar di koridor untuk menelepon. Langkah Cane tetap tenang menyusuri koridor menuju ruangannya sendiri.Ia melewati ruangan Isabela sekilas — lalu melirik ke dalam. Kosong."Di mana dia?" tanyanya, tanpa menyebut nama, tanpa perlu menyebut nama.Dante sedikit terkejut ditanya, tapi menjawab cepat. "Kurang tahu, Tuan. Tapi mungkin sedang makan siang di kantin lantai tiga — sekarang jam istirahat."Cane tidak menjawab. Tangannya sudah di gagang pintu, siap mendorongnya terbuka bersama Dante yang menunggu di belakang untuk lanjut membahas urusan tadi.Tapi sesuatu menahannya.Aroma. Manis, samar, sudah sangat ia kenal.Ia melirik sekali lagi ke dalam

  • THE DEVIL'S LITTLE SECRETARY - A Mafia Romance    BAB 49

    BRN CorporationDi kantin lantai tiga selalu penuh di jam makan siang — meja-meja panjang yang terisi dari ujung ke ujung, suara sendok di piring, percakapan yang tumpang tindih, dan aroma makanan yang bercampur jadi satu hal yang tidak bisa didefinisikan tapi sangat familiar.Isabela duduk di tengah meja keempat dengan nampan di depannya — nasi, ayam panggang, dan segelas air yang belum disentuh. Di sekelilingnya empat orang lain dari divisi yang berbeda, obrolan ringan yang mengalir tanpa beban. Ia sudah mulai rileks.Lalu Vanessa duduk di seberangnya."Boleh?"Sudah duduk sebelum Isabela menjawab. Nampannya rapi, senyumnya rapi, semuanya rapi dengan cara yang selalu membuat Isabela tidak bisa menemukan alasan spesifik untuk tidak nyaman tapi tetap saja merasa tidak nyaman."Tentu." Isabela tersenyum.Obrolan di meja berlanjut — seseorang sedang cerita soal klien yang menyebalkan, seseorang lain menimpali, tawa kecil di sana-sini. Vanessa makan dengan tenang, sesekali ikut tertawa d

  • THE DEVIL'S LITTLE SECRETARY - A Mafia Romance    BAB 22

    Isabela berdiri sendirian — punggung masih menempel di dinding, kemeja putih di tangannya, jantungnya berdegup dengan ritme yang tidak normal.Astaga, Isabela. Apa yang kau pikirkan.Ia memegang kedua pipinya sendiri — yang sudah terasa panas bahkan sebelum ia sentuh — lalu menarik napas panjang.D

  • THE DEVIL'S LITTLE SECRETARY - A Mafia Romance    BAB 21

    "Presiden Cane, boleh aku ke toilet sebentar?"Cane tidak langsung menjawab. Ia mendongak dari dokumennya."Kemana?"Isabela menatapnya.Apa pria ini tuli? Aku baru saja bilang akan ke toilet. Kenapa harus ditanya lagi?"Ke toilet, Presiden Cane.""Pakai toilet di ruangan itu." Ia menganggukkan da

  • THE DEVIL'S LITTLE SECRETARY - A Mafia Romance    BAB 20

    Isabela masih berdiri di depan pintu ruangan Cane.Koridornya sepi. Ia menatap pintu yang tertutup di hadapannya — lalu mengembuskan napas dan berbalik.Kembali ke mejanya.Ia duduk. Membuka dokumen. Menatapnya.Kenapa orang itu tidak suruh saja anak buahnya yang carikan? Satu perintah. Selesai. Mu

  • THE DEVIL'S LITTLE SECRETARY - A Mafia Romance    BAB 19

    Cahaya pagi masuk dari celah tirai yang tidak tertutup rapat.Isabela mengerjapkan mata — pelan, setengah sadar, membiarkan penglihatannya menyesuaikan diri dengan terang yang mulai memenuhi ruangan. Di luar, São Paulo sudah mulai bergerak. Samar-samar terdengar deru kendaraan dari bawah, klakson y

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status