LOGINHari Pertama
Alarm itu berbunyi pukul 05.30. Isabela, dalam kondisi setengah sadar, meraihnya dengan gerakan yang sudah ia latih selama bertahun-tahun—tangan kanan menjulur ke kanan, telapak mendarat di layar, dan senyap. Ia kembali memejamkan mata. Alarm kedua berbunyi pukul 05.45, dan bernasib sama. Alarm ketiga pukul 06.00 juga tidak selamat. Dan alarm keempat—tidak pernah ada, karena ia lupa menyetelnya. Yang menarik dari tubuh manusia adalah ia memiliki semacam sensor bencana internal, sesuatu yang bekerja jauh di bawah lapisan kesadaran dan mengaktifkan dirinya sendiri pada momen yang paling krusial. Pagi itu, sensor itu akhirnya berbunyi. Mata Isabela membuka. Langit-langit kamar. Cahaya matahari yang sudah terlalu cerah menyelinap agresif melalui celah gorden. Tangannya meraba ponsel di nakas, dan layar itu menyala dengan angka yang membutuhkan tepat dua detik untuk diproses otaknya. 06.41. Bruk. Isabela jatuh dari tempat tidur—bukan karena terburu-buru berdiri, bukan pula karena bermaksud melakukannya, melainkan karena dalam kepanikan setengah sadar itu ia berusaha bangkit terlalu cepat, selimutnya tersangkut di kakinya, dan gravitasi melakukan sisanya dengan sangat efisien dan tanpa belas kasihan. Ia terduduk di lantai kayu dengan lutut yang memerah dan ekspresi yang tidak bisa dideskripsikan dengan kata-kata sopan, sementara selimutnya melingkar kacau di betisnya seperti boa constrictor yang sedang bermalas-malasan. "Aduh—" Ia duduk di sana selama dua detik, menatap kosong ke depan, memproses. Lalu dengan gerakan yang entah dari mana sumbernya, ia bangkit dari lantai, melepas selimut dari kakinya, dan berlari ke kamar mandi. Empat menit kemudian ia sudah berdiri di depan cermin—rambut masih basah, tangan gemetar saat mengancingkan blazer navy yang untungnya sudah ia siapkan semalam, satu-satunya hal yang ia lakukan dengan benar kemarin malam. Ia menyapukan concealer, maskara, dan lip tint dalam waktu yang tidak akan pernah ia akui pada siapa pun, menyisir rambutnya dengan jemari karena tidak ada waktu untuk mencari sisir, lalu menyambar tas dan sepatu dari rak hampir bersamaan. Ia berhenti sejenak untuk memastikan keduanya benar-benar sepasang. Syukurlah, iya. "Nenek, Bela pergi dulu!" Suara neneknya terdengar samar dari dapur, mungkin sedang menyiapkan sarapan yang tidak akan sempat dimakan oleh siapa pun pagi ini. "Tapi kau belum sarapan, Bela—" "Nanti saja, Nek! Bela akan beli di jalan!" Pintu depan terbuka dan tertutup dalam satu gerakan. Di luar, langit São Paulo sudah terang penuh dan tidak mau tahu tentang masalah siapa pun. Isabela berlari ke tepi jalan, mengangkat tangan menghentikan taksi pertama yang lewat, dan melompat masuk bahkan sebelum kendaraan itu benar-benar berhenti. "BRN Corporation. Secepat mungkin. Tolong." Sang sopir meliriknya dari kaca spion dengan tatapan seseorang yang sudah terbiasa melihat orang-orang São Paulo dalam kondisi panik di pagi hari. Ia tidak berkomentar. Ia hanya menginjak pedal gas. — ✵ — Ruang Rapat Utama Di ruang rapat utama BRN Corporation tidak dirancang untuk membuat orang merasa nyaman. Itu bukan kebetulan. Meja oval dari granit hitam memanjang hampir delapan meter di tengah ruangan, dikelilingi kursi-kursi kulit yang ergonomis namun terasa seperti kursi persidangan jika Anda duduk di sana dengan status yang salah. Dinding kaca di sisi timur menghadap langsung ke cakrawala São Paulo yang masih bersembunyi di balik kabut tipis. Tidak ada dekorasi yang tidak perlu. Yang ada hanya layar presentasi besar di dinding utara, dan di ujung meja yang paling jauh dari pintu, sebuah kursi yang sedikit lebih besar dari yang lain. Kursi itu sudah terisi. Cane duduk dengan punggung tegak, satu pergelangan tangan bertumpu di atas granit, matanya menyapu dokumen di hadapannya. Kemeja putihnya sempurna, tak satu pun lipatannya salah. Jas abu gelap tergantung rapi di sandaran kursi. Di pojok meja kecil di sebelah kirinya, kopi mengepul tipis, belum disentuh. Di sekelilingnya, lima kepala divisi duduk dengan postur yang—jika diamati lebih cermat—semuanya sedikit terlalu tegak untuk disebut santai. Dante Silva berdiri diam di samping kanan Cane, tablet di tangannya, siap menjadi ekstensi dari apapun yang dibutuhkan tuannya dalam hitungan detik. Rapat dimulai tepat pukul 06.50—sepuluh menit lebih awal dari jadwal. Tidak ada yang protes. "Kuartal ketiga. Sektor energi." Cane memulai tanpa basa-basi, tanpa salam pembuka, tanpa bertanya apakah semua orang sudah siap. Suaranya rendah dan datar, jenis suara yang tidak perlu dinaikkan untuk memenuhi seluruh ruangan. Layar di dinding utara menyala—grafik proyeksi pendapatan sektor minyak kuartal ketiga versus realisasi aktual. Dua garis yang seharusnya berhimpitan, tapi tidak. "Realisasi meleset 8,3 persen dari proyeksi. Rafael." Rafael Souza, Direktur Divisi Energi, menegakkan punggungnya. Usianya sekitar empat puluh tahun, pria yang biasanya bicara dengan keyakinan penuh di depan klien mana pun. Tapi di ruangan ini, di bawah tatapan itu, keyakinan itu entah pergi ke mana. "Fluktuasi harga minyak mentah di pasar global, Tuan Cane. Brent turun rata-rata empat dolar per barel sepanjang Juli dan Agustus. Ditambah gangguan operasional di terminal Campos Basin—badai tropis pada minggu ketiga Agustus memaksa kami menghentikan pengiriman selama enam hari. Kerugian volume di sana saja sudah menyumbang hampir separuh dari gap yang ada—" "Aku tidak meminta alasan, Rafael." Suara itu tidak meninggi, namun sanggup memutus kalimat Rafael seperti belati yang memotong urat leher. Lima kata itu keluar begitu pelan, begitu bersih, dan sangat dingin. Butuh sepersekian detik bagi semua orang di ruangan itu untuk menyadari bahwa kalimat tersebut bukanlah jeda bicara, melainkan sebuah perintah untuk berhenti bernapas. Cane tidak bergerak, namun hawa di sekitar meja granit hitam itu seolah menyusut, menghimpit paru-paru siapa pun yang ada di sana. "Aku meminta solusi. Bedakan dua hal itu." Sunyi. Kali ini jenis kesunyian yang menyakitkan telinga. Rafael membuka mulut, namun hanya getaran samar yang terlihat di rahangnya sebelum ia menutupnya kembali. Ia menatap dokumen di tangannya dengan tatapan kosong; kertas-kertas itu mendadak terasa seberat timah. Ada keringat dingin yang mulai merayap di tengkuknya saat ia menyadari bahwa jawaban yang ia butuhkan tidak tertulis di atas kertas, melainkan bergantung pada nyali yang tersisa. Setelah jeda yang terasa seperti menyesakkan, Rafael menarik napas gemetar. "Kami... kami sudah mengidentifikasi tiga operator lepas pantai yang bisa menggantikan kapasitas yang hilang," suara Rafael terdengar lebih rendah, lebih berhati-hati. "Negosiasi kontrak sudah berjalan sejak dua minggu lalu. Proyeksi volume dari kontrak baru ini cukup untuk menutup defisit kuartal tiga dan mendongkrak output hingga sebelas persen di kuartal empat." Rafael menelan ludah, tenggorokannya terasa kering saat melanjutkan. " Selain itu, kami mengajukan perubahan rute distribusi untuk mengurangi ketergantungan pada terminal Campos Basin, sehingga gangguan serupa tidak akan pernah berdampak sebesar ini di masa depan." Cane masih bergeming, matanya yang tajam mengunci pergerakan sekecil apa pun dari lawan bicaranya. "Kontrak ditandatangani kapan?" "Target akhir Oktober, Tuan—" "Aku ingin pertengahan Oktober. Bukan akhir." Permintaan itu bukan sebuah negosiasi. Itu adalah vonis. Rafael tidak mengangguk dengan cepat; tubuhnya justru sedikit kaku seolah baru saja menerima hantaman tak terlihat di ulu hati. Ia mengangguk pelan, sebuah gestur menyerah dari seseorang yang baru saja menyadari bahwa ia sedang berdiri di tepi jurang, dan Tuan Cane-lah yang memegang talinya. "Baik, Tuan. Pertengahan Oktober," bisik Rafael, suaranya nyaris hilang ditelan keheningan ruangan. Cane menggeser pandangannya kembali ke layar. Bukan karena puas, tapi karena topik itu sudah selesai baginya—dan waktu tidak perlu dihabiskan lebih lama pada sesuatu yang sudah memiliki keputusan. Grafik berikutnya muncul: proyeksi versus realisasi distribusi bahan bakar untuk segmen korporat dan industri. Cane menyesap kopinya untuk pertama kali—perlahan, tanpa mengalihkan pandangan dari layar. "Volume distribusi ke segmen industri turun 6 persen bulan lalu. Penyebabnya bukan cuaca." Bukan pertanyaan. Pernyataan. Dan karena itu, Diego Almeida, Kepala Distribusi, tahu bahwa ia tidak punya pilihan selain menjawab dengan jujur—bahkan sebelum namanya dipanggil. "Benar, Tuan. Kami kehilangan dua kontrak distribusi jangka panjang bulan lalu. PT Vasconcelos Manufatura dan Grupo Carvalho sama-sama beralih ke pemasok lain—harga penawaran kompetitor lebih rendah 7 persen dari harga kita saat ini." "Siapa kompetitornya?" "Meridian Energia, Tuan. Perusahaan baru, baru beroperasi delapan bulan. Tapi backing finansial mereka cukup kuat—ada indikasi mereka sedang membakar uang untuk merebut pangsa pasar dengan harga yang tidak masuk akal secara bisnis jangka panjang." Cane memutar gelasnya perlahan di atas meja. Matanya tidak bergerak dari layar, tapi ada sesuatu yang berubah di caranya diam—seperti sesuatu yang sedang berputar di balik ketenangan itu. "Siapa di belakang Meridian?" "Belum terkonfirmasi secara resmi, Tuan. Tapi dari struktur kepemilikannya—ada nama Adriano Figueiredo di lapisan ketiga." Sesuatu di rahang Cane mengencang. Hampir tidak terlihat—tapi cukup untuk membuat Dante, yang sudah terbiasa membaca sinyal-sinyal kecil itu, langsung mengetuk sesuatu di tabletnya dengan diam. "Adriano Figueiredo." Cane mengulang nama itu dengan nada yang tidak mengandung pertanyaan. Hanya pengakuan dingin, seperti seseorang yang baru saja menemukan nama lama di tempat yang tidak ia harapkan. "Lakukan pendalaman, Diego. Aku ingin tahu siapa yang mendanai Meridian, dari mana uangnya, dan apa yang sebenarnya mereka kejar. Bukan harganya—harga itu hanya permukaan." Diego mengangguk, mencatat. "Untuk Vasconcelos dan Carvalho—aku tidak tertarik mengejar mereka dengan perang harga. Cari tahu apa yang sebenarnya mereka butuhkan yang tidak akan sanggup diberikan oleh para oportunis di Meridian. Jaminan pasokan jangka panjang, fleksibilitas kontrak, atau akses ke infrastruktur kita. Tawarkan itu. Bukan diskon. Kita tidak menjual harga, kita menjual stabilitas." Diego membuka mulutnya, tampak ingin mendiskusikan soal tenggat waktu, tapi memilih untuk menutupnya kembali dan hanya mencatat. Rapat berlanjut dalam ritme yang menekan—pertanyaan yang tajam, jawaban yang harus konkret, dan tidak ada ruang bagi retorika kosong. Cane mendengarkan dengan cara yang sangat tidak nyaman bagi siapa pun yang duduk di sana: ia tidak mencatat, tidak mengetuk meja, bahkan tidak menunjukkan emosi. Ia hanya menatap, dan entah bagaimana, tatapan itu terasa jauh lebih berat daripada rentetan pertanyaan mana pun. Dua puluh menit berlalu. Dante memiringkan kepalanya sedikit ke arah Cane. Suaranya sangat rendah, hanya cukup untuk satu telinga "Tuan. Sekretaris baru Anda belum terlihat di mejanya."Seperti janji Cane tadi pagi, Prato Feito sudah tersedia di meja kerja Isabela tepat saat jam makan siang tiba, diantar oleh salah satu staf tanpa banyak basa-basi. Isabela hampir tidak bisa menahan senyum melihat sepiring nasi hangat lengkap dengan kacang dan daging yang mengepul di depannya.Belum sempat ia menyentuh sendok, langkah kaki yang familiar terdengar mendekat. Cane berdiri di ambang pintu, tangan di dalam saku celana, menatapnya sekilas sebelum menempati kursi di seberang meja tanpa diminta."Makanlah," ujarnya singkat, seolah kehadirannya di sana adalah hal paling wajar di dunia.Isabela hanya mengangguk kaku, mulai menyendok nasi dengan gerakan yang lebih pelan dari biasanya. Ia tahu betul rencananya untuk pulang cepat sore ini butuh alasan yang kuat, dan sekarang, dengan Cane duduk tepat di depannya, ini adalah kesempatan sempurna untuk memulai sandiwara itu lebih awal.Baru beberapa suap, Isabela meletakkan sendoknya, menekan perutnya pelan sambil meringis tipis."Ada
Keesokan harinya, di kantor, Isabela sibuk memikirkan pertemuan malam nanti. Di ruangannya, ia sibuk mengetik membalas pesan lewat komputer kantor yang sudah ia sambungkan dengan ponselnya. Tiada habisnya ia tersenyum membalas pesan tersebut."Atau bagaimana biar aku menjemputmu saja setelah kau pulang kerja?"Mata Isabela membelalak membaca pesan yang tertera di monitor. Tidak boleh, tidak boleh. Aku ingin balik cepat hari ini dengan beralasan sakit, jika Theo menjemputku di kantor itu bakal ketahuan kalau aku sebenarnya berbohong. Bisa-bisa aku kena peringatan dari kantor. Tidak, tidak boleh."Tidak perlu! Kita berjumpa di Tordesilhas langsung, aku juga perlu bersiap," balasnya cepat.Belum sempat ia menghela napas lega, tiba-tiba panggilan masuk ke telepon internal kantornya. Isabela langsung mengangkatnya."Buatkan aku kopi," suara bas di seberang telepon terdengar datar, tanpa basa-basi."Ba-" belum sempat Isabela menjawab, sambungan sudah terputus. Nada kosong terdengar di telin
Isabela berlari keluar dari pintu kaca utama gedung BRN Corp seperti ada anjing galak di belakangnya—padahal yang mengejarnya hanya rasa malu yang menumpuk pada dirinya."Bela!"Suara itu membuatnya berhenti mendadak, hampir tersandung kakinya sendiri. Ia menoleh, masih terengah, dan menemukan Elena berdiri beberapa meter darinya, bersandar santai di samping mobil, dengan ekspresi yang campur antara geli dan bingung melihat sahabatnya muncul dari pintu kantor seperti sedang ikut lomba lari seratus meter."Lena?" Isabela menatapnya, masih berusaha mengatur napas. "Buat apa kau di sini?""Itu yang harusnya aku tanya padamu." Elena mengangkat alis, matanya menyusuri Isabela dari atas ke bawah—rambut sedikit berantakan, wajah merah entah karena lari atau karena hal lain. "Kau lari dari apa? Atau dari siapa?""Bukan apa-apa." Isabela cepat-cepat menegakkan punggungnya, berusaha terlihat normal dan gagal total. "Kau belum jawab. Kenapa kau di sini?"Elena melipat tangannya di dada, bersanda
Isabela merosot duduk di lantai, bersandar ke pintu, kedua tangan menutupi wajahnya sendiri. "Sial," gumamnya, lebih ke dirinya sendiri daripada siapapun. "Sial, sial, sial." Ia menarik napas dalam, mencoba menenangkan detak jantungnya yang masih belum normal sejak meninggalkan ruangan Cane. Kenapa harus dia? Pikiran itu muncul tanpa diundang, dan begitu muncul, rasanya seperti membuka pintu yang seharusnya tetap tertutup. Selama ini—sejak SMA, sejak masa kuliah, bahkan sampai bertemu lagi dengan Theo di Madrid—Isabela selalu membayangkan ciuman pertamanya akan seperti apa. Dengan siapa. Dan bukan dengan bos menyebalkan yang suka menyuruhnya lembur sampai tengah malam, yang dingin tujuh hari dalam seminggu, yang sekarang—entah bagaimana—berhasil membuatnya lupa cara bernapas dengan benar. "Kenapa harus dia," ulangnya, kali ini lebih keras, hampir seperti rintihan. "Kenapa bukan... kenapa bukan Theo?" Nama itu terasa aneh diucapkan sekarang, seolah sudah lama tidak ia pikirkan—pa
— ✵ — Isabela membuka mata perlahan, kepalanya berdenyut seperti ditimpa batu. Ia mengerang, tangan langsung naik memegangi pelipis sambil menatap sekeliling—langit-langit yang asing, seprai yang terlalu rapi untuk kamar hotel biasa, aroma yang tidak ia kenal tapi entah kenapa terasa familiar. Lalu matanya berhenti di satu titik. Meja kerja di sudut ruangan. Jam dinding berbentuk minimalis yang hanya ada satu di seluruh gedung ini—di ruangan Cane. Ia melompat dari ranjang seperti tersengat listrik, berdiri dengan napas tercekat. Ini kamar Presiden Cane. Aku tidur di kamar Presiden Cane?. Kakinya bergerak sebelum otaknya selesai berpikir, melangkah cepat ke arah pintu. Tangannya baru menyentuh gagang pintu— —dan berhenti total. Tubuhnya kaku seperti patung. Ingatan itu kembali sekaligus, tanpa peringatan. Bibirnya. Bibir Cane. Ciuman itu. Wajahnya memanas dalam sepersekian detik, merambat dari leher sampai telinga. "Sial." Suaranya hampir tidak terdengar, lebih seperti desisan
— ✵ —Isabela masih tertidur di kursi bar saat Cane mengamatinya beberapa detik lebih lama dari yang seharusnya."Sial," gumamnya pelan, lebih untuk dirinya sendiri daripada untuk siapapun yang mendengar. "Gadis ini menyiksaku."Ia mendekat. Satu lengan terselip di bawah lutut Isabela, satu lagi menopang punggungnya, dan dalam satu gerakan yang tidak memerlukan usaha berarti, ia mengangkatnya dari kursi bar. Kepala Isabela jatuh ke dadanya, rambutnya yang berantakan menyapu lengan jas Cane. Ia tidak terbangun. Hanya mengerang pelan, lalu kembali diam, napasnya teratur dan dalam.Cane membawanya melewati pintu di sisi ruangan, menuju kamar yang lebih sering berfungsi sebagai tempat ia menghilang dari dunia luar untuk beberapa jam daripada tempat ia benar-benar tidur. Ranjangnya rapi, tidak tersentuh sejak terakhir dirapikan oleh staf kebersihan.Ia membaringkan Isabela perlahan, menyesuaikan bantal di bawah kepalanya dengan ketelitian yang tidak biasa ia berikan untuk hal sekecil ini.
"Duduklah. Kita bicara."Felipe melangkah ke arah meja panjang di sisi ruangan — menuangkan segelas anggur kedua, tapi tidak menawarkan ke arah Cane — lalu berbalik dan duduk di kursi utama dengan cara seseorang yang terbiasa menjadi pusat ruangan.Cane duduk di seberangnya.Dante berdiri dua langk
Cahaya masuk dari celah yang tipis.Tirai itu tidak pernah benar-benar tertutup rapat — dan pagi menemukan jalannya masuk dengan cara yang tidak meminta izin, jatuh di seprai putih, di bantal, di wajah Isabela yang masih setengah terkubur di sana.Ia mengerjapkan matanya.Sekali. Dua kali.Pandanga
Cane melangkah masuk. Kamar itu hening, hanya menyisakan cahaya remang dari lampu sudut yang menembus tirai tipis. Isabela sudah terlelap di atas ranjang. Gadis itu tidur dengan posisi yang terlalu tenang, terlalu polos, seolah ia tidak punya beban apa pun di dunia yang sama sekali asing baginya.C
Isabela mengikuti pelayan itu menyusuri koridor — hingga pintu besar di ujungnya terbuka, dan udara dingin garasi langsung menyambutnya. Panjang dan dingin. Lampu putihnya menyinari deretan mobil yang berjejer rapi — masing-masing tertutup rapi, tidak satu pun yang terlihat seperti milik orang bias







