LOGINMila malah tersenyum penuh rencana yang membuat kedua alisnya menukik melihat reaksi wanita itu. Apa yang ada di dalam pikiran Mila? Katanya dengan hamil bisa membalaskan sakit hati tetapi kenapa memilih dimadu? Sepertinya Bejo harus berpikir keras untuk menelaah apa maunya Mila. Kedua mata Bejo menyipit melihat senyum penuh siasat yang terlihat jelas dari wajah Mila. "Kamu akan ada dipihakku 'kan Jo?" tanya Mila meminta kepastian. "Kayaknya dari awal saya udah ada dipihak Nyonya." "Bagus kalau begitu. Aku nggak akan buat kamu kelaparan selama kamu tetap ada di pihakku." "Tunggu! Maksudnya Nyonya membiarkan dimadu tuh kenapa? Jelaskan dulu pada saya, Nyonya!" "Dimadu bukan berarti kalah 'kan, Jo? Sejak awal pernikahan ini hanya untuk memenuhi keinginan orang tua saya saja. Saya tidak mencintai Mas Saka tapi karena saya sadar, saya sudah menjadi istrinya. Maka sekuat mungkin saya berusaha untuk mencinta Mas Saka dan menerima semua tentangnya." "Terus?" tanya Bejo
Mila melirik ponsel yang dimatikan sejak masuk ke dalam kamar tadi. Wanita itu terduduk diam di pinggir ranjang menghadap ke jendela kamar tanpa niat untuk menghubungi Saka. "Malam ini aku akan tidur di sini bersama dengan Bejo." Mila beranjak dari sana dan bertepatan dengan itu pintu pun terbuka. Bejo masuk dengan membawa dua cangkir yang berisikan teh dan kopi untuk mereka. "Minumannya sudah siap Nyonya. Mau duduk dimana? Kamar atau ruang depan, Nyonya?" "Ruang depan saja, Jo. Kita duduk di sofa." "Oke. Ayo, Nyonya!" ajak Bejo. Dia berbalik dan kembali keluar kamar. Bejo meletakkan dua cangkir yang ia pegang di meja sofa. Mila pun duduk di sampingnya dengan wajah yang terlihat lebih tenang. "Apa sudah lebih baik, Nyonya?" tanya Bejo seraya memberikan secangkir teh buatannya pada Mila. Bejo tau, saat dia tengah membuatkan minum, Mila sibuk menenangkan diri di kamar. Mila diam dengan berulang kali melirik benda pipih yang tak bernyawa itu. Mungkin Mila masih b
Mila terisak dalam diam menatap hamparan kebun teh yang menggelap. Lengah sedikit, mungkin ada ular atau gelapnya suasana di sana bisa menjatuhkan wanita itu hingga terluka. Namun Mila tidak memperdulikan semua itu. Bayangan yang menyakitinya semakin menyesakkan dada. Panggilan dari Ibunya semakin menghancurkan hatinya. "Kamu tuh gimana? Saka menghubungi Ibu menanyakan kamu. Kamu di mana sekarang, Mila? Jangan kabur-kaburan! Kalau ada masalah itu diselesaikan dengan baik. Bukan malah pergi! Kamu bikin malu Ibu tau nggak!" Kedua mata Mila memejam mendengar suara Ibunya. Air mata kembali menetes tetapi kaki masih kuat untuk berdiri menahan semua beban yang datang. "Mila hanya butuh sendiri, Bu. Mila harap untuk yang ini Ibu jangan ikut campur!" kata Mila dengan nada suara lirih tetapi terkesan seenaknya sendiri. "Jangan ikut campur gimana? Kamu mau seenaknya gitu? Bagaimana kalau kedua orang tua Saka tau menantu kesayangan mereka suka kabur-kaburan begini? Jangan bikin masa
"Jo kamu ngapain di sana? Nggak belajar? Malah ngelamun aja. Bantu Bibi sini! Bibi mau nyiangin sayuran buat besok," tegur Bibi saat melihatnya berdiam diri duduk di depan pintu samping samping rumah sendirian. Bejo menoleh melihat Bibi yang tengah mengeluarkan sayuran dari kulkas. Dia pun mendekati dan duduk lesehan menghadap pada ketiga wadah yang ada di sana. "Nanti aja Bi. Nggak fokus belajar. Mana sini Bejo bantuin! Duh ganteng-ganteng cosplay jadi koki." "Kamu tuh nggak fokus belajar pasti karena mikirin cewek terus. Iya 'kan? Makanya nggak semangat tuh belajarnya." "Cewek yang mana, Bi? Aku nggak punya cewek." "Eh ngakunya ganteng tapi nggak punya cewek. Bohong banget kamu, Jo! Kamu keren begini kok. Pasti cewek kamu banyak 'kan? Makanya kamu pusing sekarang," kata Bibi menggelengkan kepalanya. "Yang suka banyak, yang jadi pilihan belum ada. Jomblo mania, Bi." "Payah kamu! Ganteng-ganteng kok jomblo tapi baguslah. Jangan dulu nikah! Enak di awal doang, Jo. Ke san
Rasanya ingin mengangkat sendok pun berat kalau sudah mendengar ocehan Ibu mertua yang seperti ini. Selama menikah, ocehan ibu mertuanya semakin hari semakin membuat sakit hati. Beruntung tidak tinggal bareng dalam satu atas. Mungkin kalau satu atap, Mila akan kurus kering karena harus makan hati setiap hari mendengar suara sumbang mertuanya. "Mah jangan seperti itu pada Mila. Mungkin memang butuh proses dan waktu yang lebih lama lagi. Yang penting mereka tuh nggak diam. Mereka sudah berusaha. Sabar sedikit!" Papah mertua memang selalu membela setiap kali Mamah mertua mengucapkan kata pedas pada Mila. Hanya saja, Saka yang harusnya menjadi garda terdepan kadang suka diam saja tak menjadi pelindung di depan orang tuanya. "Mau sampai kapan, Pah? Mamah undang mereka ke sini 'kan sudah jelas apa yang mau dibahas. Mamah malu punya mantu mandul. Lagian juga nggak enak ditanyain terus sama keluarga yang lain. Memangnya Papah mau kalau perusahaan yang utama kita itu diambil alih s
"Tangan kamu dingin, Jo." Mila menoleh kebelakang dan melihatnya yang kini mengangkat kedua alis memperhatikan pergerakan wanita itu. "Kamu grogi atau gimana?" tanya Mila dan Bejo meringis mendengar itu. "Grogi sich nggak, Nyonya. Cuma saya jadi mau pipis. Saya keluar dulu ya, Nyonya. Bahaya ini kalau tetap di sini. Dari semalam udah dibikin pusing doang soalnya." Bejo pun memutuskan untuk keluar dari kamar. Haish! Dia laki-laki normal yang sudah mencicipi bunganya wanita. Sudah menikmati sampai di level nagih. Mana mungkin anteng saat menyentuh wanita pertama yang dia tiduri. "Gila! Gila! Otak gue nggak waras lama-lama kalau gini terus. Bahaya emang kerjaan tambahan gue. Udah nyelup sekali kayak nggak bisa lepas. Bawaannya mau nambah aja. Kalau bini udah gue gas. Sayangnya bukan! Yang ada gue kena pelanggaran. Mana gue harus nunggu instruksi dulu." Bejo mengusap wajahnya. Dia memutuskan untuk menunggu Mila di mobil saja. Andai malam ini tidak ada jadwal ke rumah mertu
"Gila! Yakin malam ini mulai deketin Nyonya? Berat! Berat!" gumam Bejo sesampainya kembali di rumah besar milik majikannya setelah mengantar Tuan Saka ke bandara. Bejo menatap rumah besar itu dan memutuskan untuk masuk lewat belakang. Sebelum menemui Nyonya Mila, lebih dulu Bejo mengambil makan.
"Bejo kamu dipanggil Tuan tuh! Kemana aja sich dari tadi dipanggilin nggak nyaut-nyaut. Bibi nanti ikut kena marah sama Tuan kalau kamu nggak buruan." "Ada apa sich, Bi? Saya abis mandi tadi, basah semua nyuci mobil." "Masuk dulu sana!" Bejo pun melangkah masuk ke rumah besar milik majikan
Bejo mandi dengan bersih, sedikit rencana untuk membersihkan bulu-bulu halus yang menyelimuti bagian intinya yang akan dia realisasikan dengan baik. Bejo menunduk melihat bagian yang akan digunakan untuk bertempur. Masih belum percaya kalau sebentar lagi akan hilang perjaka. Tentunya hal itu aka
"Mulai malam ini kalian harus bisa terbiasa bersama!" "Apa maksudmu, Mas?" tanya Mila dengan suara lirih tetapi penuh penekanan dan Bejo hanya menundukkan kepala melihat ekspresi dari Nyonyanya. Saat ini Bejo diminta ikut ke dalam kamar utama. Di sana terlihat sekali ranjang sedikit berantaka