MasukBejo menggaruk kepalanya yang tidak gatal mendengar pertanyaan dari Mila. Dia pun meringis kemudian menahan pergerakan Mila saat wanita itu hendak menutup kembali pintu kamar. "Tunggu! Maaf Nyonya, maaf! Duh saya masih ngelindur. Nggak sadar tadu, beneran, Nyonya. Sadar-sadar udah di bawah. Itu juga karena kena tegur Bibi. Sumpah!" Bejo memegang tangan Mila agar mendengarkan dulu apa yang iya sampaikan. Mila harus benar-benar mendengarkan dan jangan sampai salah paham hingga merajuk seperti ini. "Tapi memangnya aku seram banget? Kamu nggak lihat muka aku? Matamu melek, Jo!" sahut Mila terdengar gemas sekali. "Iya maaf, Nyonya. Mata saya mungkin masih ketutup belek. Nggak maksud pokoknya. Beneran!" ujar Bejo sesuai dengan apa yang terjadi pagi tadi. Memang antara sadar dan tak sadar, lupa kalau ada penghuni lain ada di kamar itu dan justru dia yang numpang. "Nggak tau ah! Males sama kamu." Mila hendak menarik tangannya tetapi Bejo dengan cepat menahan lagi pergerakan
Mila tertidur pulas setelah tadi Bejo membantu wanita itu untuk membersihkan diri dan memakai pakaian tidur yang hangat. Kini Bejo pun sudah kembali berpakaian dan memungut lingerie Mila juga pakain dalam berupa tali yang tadi dia buang sembarangan. Bejo mengumpulkannya ke dalam wadah pakaian kotor setelah itu kembali mendekati Mila dan duduk di pinggir ranjang. Bejo memperhatikan wajah polos Mila yang nampak sangat cantik sekali malam ini. Kecantikan Mila melebihi dari hari-hari yang sudah mereka lalui bersama. Bejo mengusap kepala Mila dan menepikan rambut yang menutupi wajah ayu wanita itu. "Kasihan kamu..."Bejo menarik nafas dalam dan mengambil alat yang dia pasang di sana kemudian meletakkan lagi setelah mengecek sesuatu. Bejo pun beranjak dari sana. Dia tidak tidur dengan Mila dan memilih duduk di sofa sampai tertidur nyenyak. Mila bangun lebih dulu. Entah di jam berapa tetapi saat inimatahari belum menunjukkan pesonannya. Mila mencari keberadaan Bejo, tangannya mengusap ra
"Saya masih ingin mencumbu Nyonya sebelum masuk ke inti permainan kita."Bejo kembali mengecup, menyesap dan juga membelit lidah Mila dengan gerakan yang sangat menggairahkan. Tangan Bejo pun tak bisa diam. Kedua tangannya bergerak meremas gemas dada Mila dengan sentuhan lembut yang memabukkan hingga wanita itu kembali terbuai setelah tadi sempat terkejut dengan apa yang ia sampaikan. Pagutan begitu asyik, suara decapan begitu aktif dan gerakan semakin liar membuat gejolak semakin tak tau aturan. Tangan Bejo menurunkan tali lingerie yang masih anteng di atas pudak Mila. Kecupan pun mulai turun ke leher jenjang Mila tanpa meninggalkan jejak. Dia sadar bukan saatnya meninggalkan jejak di sana karena Mila tidak sepenuhnya menjadi hak atasnya. Padahal inginnya memberikan tanda usai bercinta yang terkesan seksi untuk Mila dan membuat wanita itu kembali mengingatkan kemudian meminta mengulangnya. Ciuman itu turun sampai Bejo merasak dada Mila naik turun dan remasan di kepalanya yang men
Bejo turun dan mengecek situasi di sana. Dia melangkah pelan menuju dapur seraya memperhatikan pergerakan Bibi yang siapa tau masih aktif. Langkahnya pun terhenti kala dia mengingat akan sesuatu. Bejo bergegas meletakkan dulu piring kotor di dalam wastafel kemudian menuju ruang kerja Saka.Bukan tanpa alasan dia masuk ke sana bahkan itu pun dengan berbagai perhitungan matang dan kehati-hatian. Lebih dulu dia memastikan sesuatu di sana. Berjalan santai tak meninggalkan kecurigaan, tidak juga seperti maling yang mengendap ingin mencuri. Bejo tetap bersikap tenang, masuk ke dalam pun dia bergerak seperti tanpa ada yang dicari tetapi tujuannya satu, ada hal yang harus dia amankan sebelum kembali ke kamar Mila. Di saat yang bersamaan, Bibi masuk kamar Mila berkunjung memastikan kondisi Mila baik-baik saja. Beruntung Bejo sudah keluar dari sana. Hal itu membuat Bibi lega dan tenang."Maaf Nyonya, apa ada yang ingin diminta atau dibutuhkan? Akan Bibi bantu dulu sebelum Bibi tidur. ""Oh t
"Jo sebenarnya apa yang terjadi sama Nyonya dan Tuan? Jangan bilang nggak tau! kamu 'kan dekat sama Nyonya. Pasti tau.""Bibi yang sok tau. Hehehe.... " "Ikh kamu tuh kalau ditanyain sama orang tua begitu!""Hahaha.... Saya nggak tau, Bi. Coba Bibi tanya sendir! Mau ke atas 'kan ngasih makan Nyonya? Saya mau makan, istirahat dan bersih-bersih dulu Bi." "Iya, Nyonya sudah ganti pakaian tadi?""Emang boleh saya yang menggantikannya?""Eh iya, tapi kata Tuan yang mengurus Nyonya di rumah sakit itu semua kamu, Jo. Tuan gimana sih ya, Jo? Nggak takut kalau Nyonya sama kamu ada main di belakang. Bibi aja bayanginnya ngeri. Ini kok suami nggak ada cemburu-cemburunya sama istri. Bahaya, Jo!"Bejo hanya tersenyum saja mendengar ocehan Bibi. Dia sendiri sibuk mencari buah di dalam kulkas dan juga sayur serta protein untuk persiapan malam nanti. Untungnya selama ini tidak sering-sering merokok dan selalu menyempatkan diri untuk berolahraga. Bukan apa, nanti malam acaranya tidak hanya berburu
"Bu kenapa Mila tidak datang ke sini lagi? Apa Mila sudah tidak sayang dengan Ayah? Ayah kok kangen sama Mila." "Bisa nggak Yah nggak usah lagi tanya tentang Mila? Ibu saja tidak tau Mila gimana maunya, Kayaknya emang nggak sayang kamu lagi. Mila mementingkan pekerjaannya. Kata dia yang penting itu uang. Mentang-mentang kaya jadi semua diukur dengan uang." "Kok Mila sampai begitu sama Ayah? Saka juga tidak datang." "Kalau Saka memang sibuk, Yah. Kalau Mila lah ya hanya mengurus toko kue saja tapi sok banget gaya-nya. Udah dia mah ngilang setelah ngasih uang." Ayah Mila terdiam, kondisi beliau sudah jauh lebih baik. Sayangnya beliau tidak tau kalau Mila sakit. Beliau sangat mengharapkan kedatangan Mila tetapi omongan Ibu justru membuat Ayah timbul rasa kecewa pada Mila. "Apa mungkin karena Mila tidak ada yang mengantar? Saka kan sibuk dan Mila tidak bisa bawa mobil sendiri." "Mila itu sudah punya sopir pribadi, harusnya mau kemana aja nggak bingung tapi memang anak kamu saja yan
"Sudah setahun lebih saya menunggu, tapi mana? Sabar! Sabar! Sabar terus! Kamu tuh bisanya cuma nyuruh orang sabar tapi kamu nggak mau berusaha! Kamu mandul 'kan?"sentak wanita tua itu hingga membuat Bejo menghentikan langkahnya. "Apaan sich? Heboh banget!" "Kalau begitu, seenggaknya kasihlah
"Gila! Yakin malam ini mulai deketin Nyonya? Berat! Berat!" gumam Bejo sesampainya kembali di rumah besar milik majikannya setelah mengantar Tuan Saka ke bandara. Bejo menatap rumah besar itu dan memutuskan untuk masuk lewat belakang. Sebelum menemui Nyonya Mila, lebih dulu Bejo mengambil makan.
"Mulai malam ini kalian harus bisa terbiasa bersama!" "Apa maksudmu, Mas?" tanya Mila dengan suara lirih tetapi penuh penekanan dan Bejo hanya menundukkan kepala melihat ekspresi dari Nyonyanya. Saat ini Bejo diminta ikut ke dalam kamar utama. Di sana terlihat sekali ranjang sedikit berantaka
"Bejo kamu dipanggil Tuan tuh! Kemana aja sich dari tadi dipanggilin nggak nyaut-nyaut. Bibi nanti ikut kena marah sama Tuan kalau kamu nggak buruan." "Ada apa sich, Bi? Saya abis mandi tadi, basah semua nyuci mobil." "Masuk dulu sana!" Bejo pun melangkah masuk ke rumah besar milik majikan






