Share

Bab 16. Bebas

Author: weni3
last update publish date: 2026-06-26 23:56:16

"Saya anak yatim piatu, Nyonya."

Deg

Bejo melirik Mila yang duduk di belakang sana mendadak linglung mendengar jawabannya. Sementara Bejo sendiri sudah terbiasa dengan pertanyaan itu. Hanya saja memang Bejo tidak menunjukkan kesendirian dan kesedihannya.

"Tidak usah merasa nggak enak, Nyonya. Aman aja!" kata Bejo lebih dulu mendahului ucapan Mila berikutnya.

Bejo sudah tau apa yang akan Mila katakan setelah ini. Sudah banyak pengalaman begitu jadi Bejo seolah hafal dengan tanggapan o
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • TUGAS TAMBAHAN UNTUK SOPIR PERKASA    Bab 35. Sakit Jiwa!

    Mila malah tersenyum penuh rencana yang membuat kedua alisnya menukik melihat reaksi wanita itu. Apa yang ada di dalam pikiran Mila? Katanya dengan hamil bisa membalaskan sakit hati tetapi kenapa memilih dimadu? Sepertinya Bejo harus berpikir keras untuk menelaah apa maunya Mila. Kedua mata Bejo menyipit melihat senyum penuh siasat yang terlihat jelas dari wajah Mila. "Kamu akan ada dipihakku 'kan Jo?" tanya Mila meminta kepastian. "Kayaknya dari awal saya udah ada dipihak Nyonya." "Bagus kalau begitu. Aku nggak akan buat kamu kelaparan selama kamu tetap ada di pihakku." "Tunggu! Maksudnya Nyonya membiarkan dimadu tuh kenapa? Jelaskan dulu pada saya, Nyonya!" "Dimadu bukan berarti kalah 'kan, Jo? Sejak awal pernikahan ini hanya untuk memenuhi keinginan orang tua saya saja. Saya tidak mencintai Mas Saka tapi karena saya sadar, saya sudah menjadi istrinya. Maka sekuat mungkin saya berusaha untuk mencinta Mas Saka dan menerima semua tentangnya." "Terus?" tanya Bejo

  • TUGAS TAMBAHAN UNTUK SOPIR PERKASA    Bab 34. Kawin Dua

    Mila melirik ponsel yang dimatikan sejak masuk ke dalam kamar tadi. Wanita itu terduduk diam di pinggir ranjang menghadap ke jendela kamar tanpa niat untuk menghubungi Saka. "Malam ini aku akan tidur di sini bersama dengan Bejo." Mila beranjak dari sana dan bertepatan dengan itu pintu pun terbuka. Bejo masuk dengan membawa dua cangkir yang berisikan teh dan kopi untuk mereka. "Minumannya sudah siap Nyonya. Mau duduk dimana? Kamar atau ruang depan, Nyonya?" "Ruang depan saja, Jo. Kita duduk di sofa." "Oke. Ayo, Nyonya!" ajak Bejo. Dia berbalik dan kembali keluar kamar. Bejo meletakkan dua cangkir yang ia pegang di meja sofa. Mila pun duduk di sampingnya dengan wajah yang terlihat lebih tenang. "Apa sudah lebih baik, Nyonya?" tanya Bejo seraya memberikan secangkir teh buatannya pada Mila. Bejo tau, saat dia tengah membuatkan minum, Mila sibuk menenangkan diri di kamar. Mila diam dengan berulang kali melirik benda pipih yang tak bernyawa itu. Mungkin Mila masih b

  • TUGAS TAMBAHAN UNTUK SOPIR PERKASA    Bab 33. Harga Diri

    Mila terisak dalam diam menatap hamparan kebun teh yang menggelap. Lengah sedikit, mungkin ada ular atau gelapnya suasana di sana bisa menjatuhkan wanita itu hingga terluka. Namun Mila tidak memperdulikan semua itu. Bayangan yang menyakitinya semakin menyesakkan dada. Panggilan dari Ibunya semakin menghancurkan hatinya. "Kamu tuh gimana? Saka menghubungi Ibu menanyakan kamu. Kamu di mana sekarang, Mila? Jangan kabur-kaburan! Kalau ada masalah itu diselesaikan dengan baik. Bukan malah pergi! Kamu bikin malu Ibu tau nggak!" Kedua mata Mila memejam mendengar suara Ibunya. Air mata kembali menetes tetapi kaki masih kuat untuk berdiri menahan semua beban yang datang. "Mila hanya butuh sendiri, Bu. Mila harap untuk yang ini Ibu jangan ikut campur!" kata Mila dengan nada suara lirih tetapi terkesan seenaknya sendiri. "Jangan ikut campur gimana? Kamu mau seenaknya gitu? Bagaimana kalau kedua orang tua Saka tau menantu kesayangan mereka suka kabur-kaburan begini? Jangan bikin masa

  • TUGAS TAMBAHAN UNTUK SOPIR PERKASA    Bab 32. Mencari

    "Jo kamu ngapain di sana? Nggak belajar? Malah ngelamun aja. Bantu Bibi sini! Bibi mau nyiangin sayuran buat besok," tegur Bibi saat melihatnya berdiam diri duduk di depan pintu samping samping rumah sendirian. Bejo menoleh melihat Bibi yang tengah mengeluarkan sayuran dari kulkas. Dia pun mendekati dan duduk lesehan menghadap pada ketiga wadah yang ada di sana. "Nanti aja Bi. Nggak fokus belajar. Mana sini Bejo bantuin! Duh ganteng-ganteng cosplay jadi koki." "Kamu tuh nggak fokus belajar pasti karena mikirin cewek terus. Iya 'kan? Makanya nggak semangat tuh belajarnya." "Cewek yang mana, Bi? Aku nggak punya cewek." "Eh ngakunya ganteng tapi nggak punya cewek. Bohong banget kamu, Jo! Kamu keren begini kok. Pasti cewek kamu banyak 'kan? Makanya kamu pusing sekarang," kata Bibi menggelengkan kepalanya. "Yang suka banyak, yang jadi pilihan belum ada. Jomblo mania, Bi." "Payah kamu! Ganteng-ganteng kok jomblo tapi baguslah. Jangan dulu nikah! Enak di awal doang, Jo. Ke san

  • TUGAS TAMBAHAN UNTUK SOPIR PERKASA    Bab 31. Kejam

    Rasanya ingin mengangkat sendok pun berat kalau sudah mendengar ocehan Ibu mertua yang seperti ini. Selama menikah, ocehan ibu mertuanya semakin hari semakin membuat sakit hati. Beruntung tidak tinggal bareng dalam satu atas. Mungkin kalau satu atap, Mila akan kurus kering karena harus makan hati setiap hari mendengar suara sumbang mertuanya. "Mah jangan seperti itu pada Mila. Mungkin memang butuh proses dan waktu yang lebih lama lagi. Yang penting mereka tuh nggak diam. Mereka sudah berusaha. Sabar sedikit!" Papah mertua memang selalu membela setiap kali Mamah mertua mengucapkan kata pedas pada Mila. Hanya saja, Saka yang harusnya menjadi garda terdepan kadang suka diam saja tak menjadi pelindung di depan orang tuanya. "Mau sampai kapan, Pah? Mamah undang mereka ke sini 'kan sudah jelas apa yang mau dibahas. Mamah malu punya mantu mandul. Lagian juga nggak enak ditanyain terus sama keluarga yang lain. Memangnya Papah mau kalau perusahaan yang utama kita itu diambil alih s

  • TUGAS TAMBAHAN UNTUK SOPIR PERKASA    Bab 30. Nyonya, Oke?

    "Tangan kamu dingin, Jo." Mila menoleh kebelakang dan melihatnya yang kini mengangkat kedua alis memperhatikan pergerakan wanita itu. "Kamu grogi atau gimana?" tanya Mila dan Bejo meringis mendengar itu. "Grogi sich nggak, Nyonya. Cuma saya jadi mau pipis. Saya keluar dulu ya, Nyonya. Bahaya ini kalau tetap di sini. Dari semalam udah dibikin pusing doang soalnya." Bejo pun memutuskan untuk keluar dari kamar. Haish! Dia laki-laki normal yang sudah mencicipi bunganya wanita. Sudah menikmati sampai di level nagih. Mana mungkin anteng saat menyentuh wanita pertama yang dia tiduri. "Gila! Gila! Otak gue nggak waras lama-lama kalau gini terus. Bahaya emang kerjaan tambahan gue. Udah nyelup sekali kayak nggak bisa lepas. Bawaannya mau nambah aja. Kalau bini udah gue gas. Sayangnya bukan! Yang ada gue kena pelanggaran. Mana gue harus nunggu instruksi dulu." Bejo mengusap wajahnya. Dia memutuskan untuk menunggu Mila di mobil saja. Andai malam ini tidak ada jadwal ke rumah mertu

  • TUGAS TAMBAHAN UNTUK SOPIR PERKASA    Bab 06. Seksi

    Bejo mandi dengan bersih, sedikit rencana untuk membersihkan bulu-bulu halus yang menyelimuti bagian intinya yang akan dia realisasikan dengan baik. Bejo menunduk melihat bagian yang akan digunakan untuk bertempur. Masih belum percaya kalau sebentar lagi akan hilang perjaka. Tentunya hal itu aka

  • TUGAS TAMBAHAN UNTUK SOPIR PERKASA    Bab 05. Warna Lingerie

    Bejo menarik nafas dalam setelah memasang sabuk pengamannya. Dia melirik lagi wanita yang ada di sampingnya. Nyonya Mila terlihat tenang setelah membuat jantungnya berdebar kencang. "Sialand emang ini jantung! Ngapa jadi merinding sebadan-badan? Perasaan di kampus banyak cewek yang deketin gue t

  • TUGAS TAMBAHAN UNTUK SOPIR PERKASA    Bab 04. Mandul

    "Sudah setahun lebih saya menunggu, tapi mana? Sabar! Sabar! Sabar terus! Kamu tuh bisanya cuma nyuruh orang sabar tapi kamu nggak mau berusaha! Kamu mandul 'kan?"sentak wanita tua itu hingga membuat Bejo menghentikan langkahnya. "Apaan sich? Heboh banget!" "Kalau begitu, seenggaknya kasihlah

  • TUGAS TAMBAHAN UNTUK SOPIR PERKASA    Bab 01. Bercintalah Dengannya

    "Bejo kamu dipanggil Tuan tuh! Kemana aja sich dari tadi dipanggilin nggak nyaut-nyaut. Bibi nanti ikut kena marah sama Tuan kalau kamu nggak buruan." "Ada apa sich, Bi? Saya abis mandi tadi, basah semua nyuci mobil." "Masuk dulu sana!" Bejo pun melangkah masuk ke rumah besar milik majikan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status