LOGIN"Jo kamu ngapain di sana? Nggak belajar? Malah ngelamun aja. Bantu Bibi sini! Bibi mau nyiangin sayuran buat besok," tegur Bibi saat melihatnya berdiam diri duduk di depan pintu samping samping rumah sendirian. Bejo menoleh melihat Bibi yang tengah mengeluarkan sayuran dari kulkas. Dia pun mendekati dan duduk lesehan menghadap pada ketiga wadah yang ada di sana. "Nanti aja Bi. Nggak fokus belajar. Mana sini Bejo bantuin! Duh ganteng-ganteng cosplay jadi koki." "Kamu tuh nggak fokus belajar pasti karena mikirin cewek terus. Iya 'kan? Makanya nggak semangat tuh belajarnya." "Cewek yang mana, Bi? Aku nggak punya cewek." "Eh ngakunya ganteng tapi nggak punya cewek. Bohong banget kamu, Jo! Kamu keren begini kok. Pasti cewek kamu banyak 'kan? Makanya kamu pusing sekarang," kata Bibi menggelengkan kepalanya. "Yang suka banyak, yang jadi pilihan belum ada. Jomblo mania, Bi." "Payah kamu! Ganteng-ganteng kok jomblo tapi baguslah. Jangan dulu nikah! Enak di awal doang, Jo. Ke san
Rasanya ingin mengangkat sendok pun berat kalau sudah mendengar ocehan Ibu mertua yang seperti ini. Selama menikah, ocehan ibu mertuanya semakin hari semakin membuat sakit hati. Beruntung tidak tinggal bareng dalam satu atas. Mungkin kalau satu atap, Mila akan kurus kering karena harus makan hati setiap hari mendengar suara sumbang mertuanya. "Mah jangan seperti itu pada Mila. Mungkin memang butuh proses dan waktu yang lebih lama lagi. Yang penting mereka tuh nggak diam. Mereka sudah berusaha. Sabar sedikit!" Papah mertua memang selalu membela setiap kali Mamah mertua mengucapkan kata pedas pada Mila. Hanya saja, Saka yang harusnya menjadi garda terdepan kadang suka diam saja tak menjadi pelindung di depan orang tuanya. "Mau sampai kapan, Pah? Mamah undang mereka ke sini 'kan sudah jelas apa yang mau dibahas. Mamah malu punya mantu mandul. Lagian juga nggak enak ditanyain terus sama keluarga yang lain. Memangnya Papah mau kalau perusahaan yang utama kita itu diambil alih s
"Tangan kamu dingin, Jo." Mila menoleh kebelakang dan melihatnya yang kini mengangkat kedua alis memperhatikan pergerakan wanita itu. "Kamu grogi atau gimana?" tanya Mila dan Bejo meringis mendengar itu. "Grogi sich nggak, Nyonya. Cuma saya jadi mau pipis. Saya keluar dulu ya, Nyonya. Bahaya ini kalau tetap di sini. Dari semalam udah dibikin pusing doang soalnya." Bejo pun memutuskan untuk keluar dari kamar. Haish! Dia laki-laki normal yang sudah mencicipi bunganya wanita. Sudah menikmati sampai di level nagih. Mana mungkin anteng saat menyentuh wanita pertama yang dia tiduri. "Gila! Gila! Otak gue nggak waras lama-lama kalau gini terus. Bahaya emang kerjaan tambahan gue. Udah nyelup sekali kayak nggak bisa lepas. Bawaannya mau nambah aja. Kalau bini udah gue gas. Sayangnya bukan! Yang ada gue kena pelanggaran. Mana gue harus nunggu instruksi dulu." Bejo mengusap wajahnya. Dia memutuskan untuk menunggu Mila di mobil saja. Andai malam ini tidak ada jadwal ke rumah mertu
Bejo mengeringkan rambut Mila yang masih basah. Tangannya dengan terampil mempergunakan hair dryer milik Mila. Sesekali Bejo melihat cermin memperhatikan wajah Mila yang sedang sibuk mengenakan make up. Dalam hati Bejo selalu memuji kecantikan wanita itu. Sejak awal datang sampai sekarang dia bisa semakin dekat. Jadi pertolongan yang diminta oleh Mila adalah mengeringkan rambut wanita itu. Hal pertama yang Bejo lakukan pada seorang wanita. "Tuan kenapa nggak jemput Nyonya?" "Mas Saka itu sibuk, Jo. Udah ada kamu semakin jarang memperhatikan saya. Biasanya jemput karena saya nggak bisa nyetir sendiri." "Hhmm..." Bejo menyibak rambut Mila hingga terlihat leher putih milik wanita itu. Bejo berusaha menahan diri untuk tidak menyergap leher jenjang itu. "Nyonya malam ini nggak pulang? Saya menunggu sampai selesai atau hanya mengantar saja?" "Kayaknya nganter aja. Aku pulang sama Mas Saka. Kalau nginep sich kayaknya nggak." Mila membalikkan tubuhnya dan Bejo pun s
Ternyata, Mila bukan hanya membutuhkan pundaknya tetapi juga membutuhkan pelukannya. Tubuh wanita itu terasa ringkih di pelukannya. Apalagi saat isakan tangis wanita itu pecah, mencubit hati Bejo hingga meringis mendengar itu. Bejo menepuk punggung Mila dengan lembut. Dia yang belum pernah menenangkan hati perempuan, mungkin terasa kaku saat menghadapi Mila yang butuh kelembutannya. "Sabar, Nyonya!" Namun kata sabar sepertinya tak lagi berlaku saat menghadapi wanita yang sudah babak belur hatinya. Bejo mengusap punggung Mila. Namun matanya awas melihat para karyawan yang kepo dengan mereka. "Nyonya, sebenarnya saya mau lama meluk Nyonya. Saya mau lebih lama menenangkan hati Nyonya tapi kayaknya salah tempat. Karyawan Nyonya kepo maksimal. Minta pada diselepet biji nangka mata mereka." Isakan Mila pun mendadak terhenti setelah Bejo mengatakan itu. Mila melepaskan pelukannya dan dia kemudian meringis menatap wanita itu yang kini malah memukulnya. "Kamu gimana sich, Jo? T
"Mas tumben kamu datang ke sini?" Mila beranjak dari duduknya kemudian melangkah mendekati Saka. Mila meraih tangan Saka dan menyalami tangan beliau dengan takzim. Sampai saat ini, Mila masih hormat pada Saka meskipun sakit hati mendera dan pembesan tengah diusahakan. "Ikut aku! Malam ini Mamah dan Papah ingin bertemu." "Malam ini? Ada apa, Mas?" tanya Mila kemudian melangkah mengikuti Saka yang sudah duduk di sofa. Mila lebih dulu mengambil minum di kulkas kemudian memberikannya pada Saka. "Minum dulu, Mas!" "Hhmm..." Mila duduk di samping Saka dan memperhatikan pria itu dengan intens. "Mamah dan Papah ingin bicara. Aku juga tidak tau apa yang ingin dibahas. Kamu siap-siap saja! Mungkin ada pembahasan yang penting." Mila menganggukkan kepalanya dengan banyak pertanyaan yang tidak tersampaikan. Berat sekali kalau sudah diminta bertemu dengan mertua. Sejak awal menikah, Mila tidak pernah nyaman kalau sudah bertemu dengan kedua orang tua Saka. Mungkin karena
"Sudah setahun lebih saya menunggu, tapi mana? Sabar! Sabar! Sabar terus! Kamu tuh bisanya cuma nyuruh orang sabar tapi kamu nggak mau berusaha! Kamu mandul 'kan?"sentak wanita tua itu hingga membuat Bejo menghentikan langkahnya. "Apaan sich? Heboh banget!" "Kalau begitu, seenggaknya kasihlah
"Gila! Yakin malam ini mulai deketin Nyonya? Berat! Berat!" gumam Bejo sesampainya kembali di rumah besar milik majikannya setelah mengantar Tuan Saka ke bandara. Bejo menatap rumah besar itu dan memutuskan untuk masuk lewat belakang. Sebelum menemui Nyonya Mila, lebih dulu Bejo mengambil makan.
Bejo mandi dengan bersih, sedikit rencana untuk membersihkan bulu-bulu halus yang menyelimuti bagian intinya yang akan dia realisasikan dengan baik. Bejo menunduk melihat bagian yang akan digunakan untuk bertempur. Masih belum percaya kalau sebentar lagi akan hilang perjaka. Tentunya hal itu aka
Bejo menarik nafas dalam setelah memasang sabuk pengamannya. Dia melirik lagi wanita yang ada di sampingnya. Nyonya Mila terlihat tenang setelah membuat jantungnya berdebar kencang. "Sialand emang ini jantung! Ngapa jadi merinding sebadan-badan? Perasaan di kampus banyak cewek yang deketin gue t







