登入Sampai sekarang terkadang Bejo tak menyangka jika bisa mendapatkan kenikmatan dunia dari wanita yang memiliki status sah dengan pria lain dengan kegadisannya. Dara keperawanan bahkan dia yang memecahkannya sampai benar-benar mampu menguasai tubuh wanita itu. Penyakit yang menjadi alasan bisa dilalui dengan baik. Dia bisa membuat Mila merasakan surga dunia yang selama ini belum pernah wanita itu rasakan. Bejo pun bisa membuat Mila merasakan kenyamanan kala bercinta yang belum didapatkan dari suaminya. Bejo memperlakukan dengan sangat lembut. Keluar masuk tanpa menyakiti dan itu salah satu yang Mila butuhkan selama ini. Jeritan tak semuanya tentang kesakitan tetapi jeritan kali ini karena Mila dibuat klimaks berulang kali. Tubuh wanita itu menggelinjang manja setelah Bejo masuk dan memompa dengan frekuensi yang rendah. Masih awal, mau masuk saja butuh kesabaran. Bejo harus benar-benar membuat Mila rileks dan kembali membuai hingga merelakan punggungnya berdarah-darah karena ca
"Bagaimana? Belum kamu temukan juga keberadaan istri saya?" "Belum Tuan, tapi tadi bukankan Bejo sudah ikut mencari?" "Sudah, tapi dia juga belum mendapatkan hasil." Saka tidak bisa tidur saat tak kunjung pulang. Ditambah lagi orang-orang yang diminta untuk mencari keberadaan Mila, semua tidak mendapatkan hasil. Jejak Mila menghilang. Titik terakhir memang ada di Bogor sesuai dengan apa yang Bejo katakan tadi tetapi setelah orang-orang dari Saka menuju ke tempat yang Bejo sampaikan pun tidak ada yang berhasil menemukan Mila di sana. "Sekarang Bejo dimana, Tuan?" "Saya tidak tau Bejo dimana. Coba saja kamu lacak dimana keberadaan dia sekarang! Bejo juga tidak becus kerjanya!" umpat Saka sewot sekali. Bukan hanya karena tidak berhasil mendapatkan Mila tetapi juga payah di ranjang karena belum bisa menakhlukkan sang istri. Hal itu yang semakin membuat Saka kesal pada Bejo. Asisten dari Saka pun segera melacak. Beberapa menit tak ada yang bersuara. Saka sendiri kini
"Tunggu, Nyonya! Hape saya berdering," kata Bejo menghentikan pergerakan Mila yang sudah singgah dan terpaksa harus turun lagi. Bejo mengeluarkan ponselnya untuk melihat siapa yang menghubungi. Terlihat nama Saka dengan foto profil wajah pria itu. Bejo menunjukkan layar ponselnya pada Mila agar wanita itu tau siapa yang menghubunginya. "Tuan yang telpon, Nyonya," bisik Bejo. "Angkat dan aktifkan loud speakernya, Jo! Aku ingin mendengarnya." "Oke." Bejo mematuhi apa yang Mila perintahkan. Dia segera menerima panggilan itu dan melirik Mila yang terlihat serius memperhatikan. Diam-diam Bejo gemas melihat wajah penuh keingintahuan yang terlihat sangat lucu bagi Bejo. Ingin rasanya Bejo mencubit pipi wanita itu tetapi sebisa mungkin dia menahan diri. "Hallo Tuan." "Dimana kamu, Bejo?" "Saya masih mencari Nyonya, Tuan." "Kamu nggak becus, Jo! Sudah lewat tengah malam tapi kamu belum juga menemukan istri saya. Cari yang bener, Jo!" "Baik, Tuan. Ini juga sa
Mila malah tersenyum penuh rencana yang membuat kedua alisnya menukik melihat reaksi wanita itu. Apa yang ada di dalam pikiran Mila? Katanya dengan hamil bisa membalaskan sakit hati tetapi kenapa memilih dimadu? Sepertinya Bejo harus berpikir keras untuk menelaah apa maunya Mila. Kedua mata Bejo menyipit melihat senyum penuh siasat yang terlihat jelas dari wajah Mila. "Kamu akan ada dipihakku 'kan Jo?" tanya Mila meminta kepastian. "Kayaknya dari awal saya udah ada dipihak Nyonya." "Bagus kalau begitu. Aku nggak akan buat kamu kelaparan selama kamu tetap ada di pihakku." "Tunggu! Maksudnya Nyonya membiarkan dimadu tuh kenapa? Jelaskan dulu pada saya, Nyonya!" "Dimadu bukan berarti kalah 'kan, Jo? Sejak awal pernikahan ini hanya untuk memenuhi keinginan orang tua saya saja. Saya tidak mencintai Mas Saka tapi karena saya sadar, saya sudah menjadi istrinya. Maka sekuat mungkin saya berusaha untuk mencinta Mas Saka dan menerima semua tentangnya." "Terus?" tanya Bejo
Mila melirik ponsel yang dimatikan sejak masuk ke dalam kamar tadi. Wanita itu terduduk diam di pinggir ranjang menghadap ke jendela kamar tanpa niat untuk menghubungi Saka. "Malam ini aku akan tidur di sini bersama dengan Bejo." Mila beranjak dari sana dan bertepatan dengan itu pintu pun terbuka. Bejo masuk dengan membawa dua cangkir yang berisikan teh dan kopi untuk mereka. "Minumannya sudah siap Nyonya. Mau duduk dimana? Kamar atau ruang depan, Nyonya?" "Ruang depan saja, Jo. Kita duduk di sofa." "Oke. Ayo, Nyonya!" ajak Bejo. Dia berbalik dan kembali keluar kamar. Bejo meletakkan dua cangkir yang ia pegang di meja sofa. Mila pun duduk di sampingnya dengan wajah yang terlihat lebih tenang. "Apa sudah lebih baik, Nyonya?" tanya Bejo seraya memberikan secangkir teh buatannya pada Mila. Bejo tau, saat dia tengah membuatkan minum, Mila sibuk menenangkan diri di kamar. Mila diam dengan berulang kali melirik benda pipih yang tak bernyawa itu. Mungkin Mila masih b
Mila terisak dalam diam menatap hamparan kebun teh yang menggelap. Lengah sedikit, mungkin ada ular atau gelapnya suasana di sana bisa menjatuhkan wanita itu hingga terluka. Namun Mila tidak memperdulikan semua itu. Bayangan yang menyakitinya semakin menyesakkan dada. Panggilan dari Ibunya semakin menghancurkan hatinya. "Kamu tuh gimana? Saka menghubungi Ibu menanyakan kamu. Kamu di mana sekarang, Mila? Jangan kabur-kaburan! Kalau ada masalah itu diselesaikan dengan baik. Bukan malah pergi! Kamu bikin malu Ibu tau nggak!" Kedua mata Mila memejam mendengar suara Ibunya. Air mata kembali menetes tetapi kaki masih kuat untuk berdiri menahan semua beban yang datang. "Mila hanya butuh sendiri, Bu. Mila harap untuk yang ini Ibu jangan ikut campur!" kata Mila dengan nada suara lirih tetapi terkesan seenaknya sendiri. "Jangan ikut campur gimana? Kamu mau seenaknya gitu? Bagaimana kalau kedua orang tua Saka tau menantu kesayangan mereka suka kabur-kaburan begini? Jangan bikin masa
Bejo mandi dengan bersih, sedikit rencana untuk membersihkan bulu-bulu halus yang menyelimuti bagian intinya yang akan dia realisasikan dengan baik. Bejo menunduk melihat bagian yang akan digunakan untuk bertempur. Masih belum percaya kalau sebentar lagi akan hilang perjaka. Tentunya hal itu aka
Bejo menarik nafas dalam setelah memasang sabuk pengamannya. Dia melirik lagi wanita yang ada di sampingnya. Nyonya Mila terlihat tenang setelah membuat jantungnya berdebar kencang. "Sialand emang ini jantung! Ngapa jadi merinding sebadan-badan? Perasaan di kampus banyak cewek yang deketin gue t
"Sudah setahun lebih saya menunggu, tapi mana? Sabar! Sabar! Sabar terus! Kamu tuh bisanya cuma nyuruh orang sabar tapi kamu nggak mau berusaha! Kamu mandul 'kan?"sentak wanita tua itu hingga membuat Bejo menghentikan langkahnya. "Apaan sich? Heboh banget!" "Kalau begitu, seenggaknya kasihlah
"Gila! Yakin malam ini mulai deketin Nyonya? Berat! Berat!" gumam Bejo sesampainya kembali di rumah besar milik majikannya setelah mengantar Tuan Saka ke bandara. Bejo menatap rumah besar itu dan memutuskan untuk masuk lewat belakang. Sebelum menemui Nyonya Mila, lebih dulu Bejo mengambil makan.







