مشاركة

Bab 6

مؤلف: CAHAYA HATI
last update تاريخ النشر: 2026-02-05 22:05:41

Pukul empat sore, Senja sudah tiba di depan pintu rumah kakaknya, tangan segera menekan bel.

Ting tong...

Bunyi suara bel bergema, tak lama, suara langkah kaki mendekat, dan pintu terbuka perlahan. Di balik pintu, Bi Atun tersenyum manis, wajahnya berseri menyambut kedatangan adik dari majikannya. "Non Senja sudah sampai, silahkan masuk, Non," sapanya ramah dengan suara hangat yang membuat Senja mengangguk kecil.

Senja membalas senyum itu dengan lembut, menundukkan kepala sedikit, "Makasih, Bi." Ia melangkah masuk, merasakan udara rumah yang familiar namun tetap membawa beban pikiran yang belum usai. Langkahnya mantap meski hatinya masih penuh perasaan campur aduk. Ia melewati ruang tamu yang rapi dan harum, menuju kamar yang selalu menjadi tempatnya beristirahat saat menginap di sini.

Senja hanya meletakkan tas yang di bawahnya ke dalam kamar, setelah itu ia kembali keluar untuk menanyakan keberadaan keponakan nya pada Bi Atun. "Bi... Gala dimana ya?"

Dari arah dapur, Bi Atun berjalan tergopoh-gopoh menghampiri Senja. Di tangan nya membawa minuman dingin dan cemilan untuk Senja. "Den Gala ada di dalam kamarnya Non, mungkin lagi mandi. Silahkan di munim dulu Non, pasti lelah setelah perjalanan panjang." Ujar Bi Atun meletakkan minuman dan makanan di atas meja ruang keluarga.

"Makasih banyak, Bi." Ucap Senja, tulus. "Sebenarnya Bibi tidak perlu repot-repot, Senja bisa ambil minum sendiri." Jawabnya dengan nada santai.

Gadis tersebut duduk di sofa, mengambil minuman yang sudah di sediakan Bi Atun, lalu meneguknya hingga tersisa setengah. "Ah... seger banget Bi. Tenggorokan Senja yang kering langsung basah. Ya udah Bi, Senja mau lihat Gala dulu di kamarnya."

"Silahkan, Non. Den Gala pasti happy banget kalau tau aunty nya sudah datang. Dari sejak pulang sekolah, Den Gala sudah heboh cerita kalau aunty nya mau datang." Kata Bi Atun, memberi tahu Senja.

Senja tersenyum manis, senang karena keponakan nya itu begitu antusias menanti kedatangannya. Perasaan yang awalnya setengah hati untuk datang ke rumah sang kakak, kini berubah menjadi senang karena keponakan nya. "Kalau gitu Senja, pamit ke kamar Gala dulu Bi." Pamitnya sekali lagi.

"Silahkan, Non." Jawab Bi Atun, singkat.

Senja segera melangkah menuju kamar keponakan nya di lantai atas, gadis itu sampai berlari kecil karena tidak sabar memberi kejutan pada Gala, tentang kedatangannya. Saking senangnya, Senja sampai tak sengaja menabrak Sky yang baru saja keluar dari kamarnya.

Bruuukk...

Bunyi suara sesuatu yang jatuh ke lantai, siapa lagi kalau bukan tubuh Senja yang menimpa tubuh kakak iparnya, Sky. Gadis itu merasakan sakit di bagian dadanya karna kedua benda kenyal miliknya menumbuk dada atletis kakak iparnya. "Aduh... sakitnya susu ku." Keluh Senja, lirih.

Meski suaranya sangat lirih, namun masih terdengar jelas oleh kakak iparnya. "Makannya kalau jalan itu lihat-lihat," jawab Sky dengan nada datar.

Senja segera beranjak dari atas tubuh kakak iparnya, kemudian merapikan rambutnya yang sedikit berantakan. "Ma_maaf Mas, Senja nggak sengaja." Ucapnya dengan nada sedikit bergetar.

Sky tidak menjawab, dia pun segera berdiri lalu berjalan melewati adik iparnya tanpa berniat menjawab permintaan maaf adik iparnya.

Senja mendesah kecil, kemudian melanjutkan langkahnya menuju kamar sang keponakan. Tampak pintu kamar Gala terbuka sedikit, Senja langsung saja masuk ke kamar keponakan nya. "Gala..." Sapanya pada bocah berusia lima tahun.

Gala yang baru selesai menyisir rambut di bantu oleh pengasuhnya, segera menoleh ke sumber suara. Wajahnya langsung berbinar saat melihat Senja masuk ke kamar nya. "Aunty Senja udah datang. Yey... yey... Aunty Senja udah datang." Sorak Gala berlari kecil menghampiri aunty nya.

Senja tersenyum manis, ia langsung membawa Gala ke dalam gendongan nya. "Aunty kangen banget sama Gala," ujar Senja sambil mencium gemas pipi Gala.

Bocah itu cekikikan di dalam gendongan Senja, merasakan geli karna kelakuan aunty nya. "Gala juga kangen banget sama aunty, tapi aunty jangan ciumin Gala kaya gini! Geli aunty,"

Senja langsung menghentikan kelakuannya, kemudian menurunkan tubuh kecil sang keponakan. "Ya udah... sekarang kita turun ke lantai bawah yuk, kita nonton filem kartun di ruang keluarga." Ajak Senja pad Gala.

Lagi-lagi bocah kecil itu mersorak kegirangan, kalau ada aunty nya di sini, Gala tidak akan merasakan kesepian lagi sebab Senja begitu perduli dan sayang pada keponakan nya itu. Mungkin jika bisa memilih, Gala ingin Senja saja yang jadi ibunya.

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Tergoda Pesona Adik Ipar   56

    Pukul tujuh malam, ruangan makan di rumah mewah milik Sky sudah dipenuhi suara riuh rendah keluarga yang tengah berkumpul. Di meja panjang, piring-piring berisi lauk tersusun rapi. Semua anggota keluarga sudah duduk rapi, kecuali Lena yang hingga kini belum juga pulang ke rumah. Entah dimana keberadaan wanita itu saat ini, dia selalu mengabaikan tugas nya sebagai seorang ibu dan istri. Meski demikian, suasana meja makan tetep terlihat normal, seolah-olah sudah terbiasa tanpa kehadiran nya.Senja dengan sigap menghidangkan makanan untuk Sky dan Gala, ayah dan anak yang menjadi pusat perhatian malam itu. Ia tersenyum lembut, matanya berbinar saat melihat Gala yang begitu antusias menatap piringnya. Bu Asih, yang sebelum nya protes saat Senja melayani kakak iparnya Sky, kini tampak mulai terbiasa menyaksikan pemandangan itu. Ia duduk di sebelah Gala dengan tenang, mengisi piring nya sendiri. Sebenarnya Senja hendak melayani ibunya juga, tapi Bu Asih menolak halus, menyuruh Senja fokus m

  • Tergoda Pesona Adik Ipar   Bab 55

    Selesai melaksanakan akad nikah, Senja dan Sky langsung bergegas pulang ke rumah. Saat ini mereka sudah berada di perjalanan pulang yang terasa sunyi, hanya deru mesin mobil yang mengisi ruang di antara mereka. Senja menatap lurus ke depan, wajahnya tampak tegang dan tatapan nya gelisah, menahan gelombang kecemasan yang mulai menguasai. Jantungnya berdebar tak karuan, bayangan kakaknya yang garang dan ibu yang penuh pertanyaan menggerayangi pikirannya. Tangan yang sebelumnya gemetar kini saling bertautan di pangkuan.Sky, yang duduk di sampingnya, merasakan kegelisahan itu. Tanpa ragu, tangannya meraih tangan Senja dan menggenggamnya erat, memberi kekuatan yang tak terucap. Matanya menatap Senja dengan penuh ketulusan, seolah ingin menyampaikan bahwa Senja tidak lagi sendirian. "Kamu tidak perlu takut, sayang. Ada aku di sini. Kita akan hadapi semuanya bersama," bisiknya lembut, suaranya hangat dan menenangkan.Senja menoleh sebentar, menatap mata Sky yang tenang itu, dan perlahan ia

  • Tergoda Pesona Adik Ipar   Bab 54

    Saat ini Sky dan Senja sudah berada didalam mobil, mereka baru saja cek out dari hotel mewah. Sky mengemudikan mobil dengan kecepatan sedang, menggenggam setir dengan mantap, matanya sesekali menyapu jalanan yang cukup padat, lalu menoleh ke arah Senja yang duduk di sampingnya. Wajah Senja tampak tegang, bibirnya bergetar pelan seolah menahan gelombang kecemasan yang sedari tadi menggerogoti hatinya. Matanya berkaca-kaca, memancarkan campuran rasa takut dan keraguan yang sulit disembunyikan.Menyadari itu, Sky meraih tangan Senja dan menggenggamnya erat, jari-jarinya mengunci dengan penuh kehangatan. Suaranya lembut namun penuh keyakinan. "Tidak perlu takut, Sayang. Ada aku yang akan selalu melindungi kamu."Senja menundukkan kepala sejenak, lalu mengangguk kecil, napasnya yang tadinya tersendat mulai sedikit mereda. Namun, ketegangan itu masih mengendap di matanya, seakan bayangan masa depan yang belum pasti dan kemarahan dari ibu dan kakak nya terus membayangi pikirannya. "Aku udah

  • Tergoda Pesona Adik Ipar   Bab 53

    Bu Asih berjalan mondar-mandir di ruang tamu rumah menantu dan anak nya dengan langkah tergesa dan wajah penuh kecemasan. Matanya yang mulai berkaca-kaca terus menatap ke arah pintu depan, berharap segera melihat sosok Lena, Senja dan menantunya Sky yang belum juga pulang sejak tadi malam. Setiap detik yang berlalu seperti menambah beban di dadanya, membuat napasnya terasa sesak."Ini mereka pada kemana sih? Kenapa sampai pagi ini belum pada pulang juga, di hubungi tidak bisa... semoga saja tidak terjadi sesuatu pada mereka semua," gumamnya pelan, suaranya nyaris tersendat oleh rasa takut yang menghimpit hatinya.Di sudut ruangan, pintu kamar terbuka perlahan. Gala, cucu kecilnya yang baru bangun tidur, melangkah keluar dengan mata yang masih sembab dan rambut acak-acakan. Bocah itu menatap sang nenek dengan wajah polos penuh tanya. "Nenek..." Sorak nya dengan nada ceria, tadi malam ia tidur bersama sang nenek. Gala berlari kecil menghampiri nenek nya, kemudian bertanya. "Nenek lagi

  • Tergoda Pesona Adik Ipar   Bab 52

    Sinar lembut matahari pagi menembus celah jendela kamar hotel, menari di atas tumpukan selimut yang kusut akibat aktivitas panas yang terjadi tadi malam. Senja terbaring di ranjang itu, tubuhnya terasa lelah dan remuk. Perlahan, kelopak matanya berkedip, berusaha menangkap cahaya yang menusuk retina. Kepala Senja berdenyut nyeri, seakan ada badai kecil yang mengamuk di dalamnya. "Ssttt... aduh, kenapa pusing banget?" gumamnya dengan suara serak, bibirnya meringis menahan sakit yang menggelayuti. Tiba-tiba, rasa perih yang tajam menjalar di area paling pribadi sampai membuatnya menahan napas, wajahnya berkerut kesakitan. Pandangan Senja mulai menjelajah sekeliling ruangan yang terasa asing, ia sadar jika ini bukan lah kamar nya. "I_ini aku ada dimana?" Gumamnya dalam hati. Memori samar-samar malam tadi mulai mengintip dari sudut pikirannya, terpecah menjadi potongan-potongan kabur dan desahan yang menggema di ruangan itu. Senja menekan pelipisnya, mencoba menyusun kembali kejadian

  • Tergoda Pesona Adik Ipar   Bab 51

    Lena sudah kembali menghampiri Ronald, senyumnya dipaksa mengembang saat menghampiri kekasihnya itu. "Maaf ya Mas, kamu nunggu lama. Tadi perut aku sakit banget," cicitnya beralasan.Ronald mengagguk kecil, bibir nya tersenyum tipis. "Nggak apa-apa sayang, yang penting sekarang kamu sudah kembali." Jawabnya dengan nada santai.Ronald menarik lembut tubuh Lena, membawa kekasih gelapnya itu dalam dekapannya. "Ayo kita lanjutkan dansanya," ajak Ronald. Lena langsung mengangguk setuju meski suasana hatinya saat ini tengah badmood setelah kejadian tadi.Ronald memeluk erat pinggang Lena, sesekali menciumi bibir wanita itu. Lena tidak menolak, namun tidak membalas juga seperti sebelumnya. Bayangan suaminya yang lebih membela Senja terus memenuhi pikirannya, membuat nya tampak kurang bergairah.Ronald dapat merasakan perubahan Lena, bukannya kecewa atau kesal... pria itu justru tersenyum tipis seolah-olah tengah menikmati permainan yang paling seru di dunia.Sky sudah menghabiskan jusnya, ia

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status