LOGIN"Kau punya dua pilihan, Lexy." "Dengar baik-baik. Opsi pertama, aku menelepon polisi dan menuduhmu melakukan penguntitan serta percobaan pemerasan. Aku punya pengacara yang bisa memastikan kau membusuk di penjara sampai kau lupa bagaimana cara memegang kamera tuamu itu." "Dan opsi kedua?" tanyanya dengan suara bergetar. "Opsi kedua, kau ikut ke kantorku, kita akan buat kesepakatan, dan jadilah tunanganku selama enam bulan ke depan.” "APA?! APA KAU SUDAH GILA? KENAPA AKU HARUS JADI TUNANGANMU?!” Malam itu, di koridor Hotel Astoria yang sunyi, Lexy—seorang fotografer—menyaksikan pemandangan mengerikan yang bisa menghancurkan citra sempurna sang billionaire, Dante Maverick. Di balik setelan jas mewahnya, Dante hanyalah monster yang tengah menghajar seseorang dengan brutal hingga darah mengotori tangannya. Kesalahan fatal terjadi saat kamera Lexy menangkap momen tersebut dalam satu jepretan tajam, membuat sang billionaire menyadari keberadaannya dan menjebaknya dalam cengkeraman kekuasaan yang tak mengenal belas kasihan. Alih-alih menjebloskan Lexy ke penjara, Dante justru menawarkan kesepakatan gila yang tak masuk akal: menjadi istrinya. Lexy awalnya menolak keras tawaran pria arogan tersebut, namun pertahanannya runtuh saat Dante menyebutkan nominal fantastis yang mampu membiayai transplantasi jantung adiknya, Leo, sekaligus menyelamatkan apartemennya dari penyitaan. Terdesak oleh kenyataan pahit, Lexy terpaksa menandatangani kontrak yang mengikat kebebasannya demi nyawa sang adik. Akankah gadis itu bertahan? Atau justru terjebak dalam dunia gila seorang Dante Maverick?
View More"Aku tidak suka mengulang ucapanku, David," gumam Dante sambil membenarkan letak jam tangan Rolex di pergelangan tangannya.
Di bawah pendar lampu kristal yang redup, pria itu berdiri dengan ketenangan yang mengerikan. Suaranya tetap rendah, hampir seperti bisikan—jenis suara yang sanggup membuat nyali siapapun menciut di hadapannya.
"Dimana data cadangan sialan itu? Bicaralah, selagi aku masih baik kepadamu.”
"A—aku tidak–”
BUGH!
Dante melapangkan tinjunya tepat di wajah David, yang membuat pria itu terhuyung ke belakang.
“Sudah kubilang, bukan? Aku tidak menyukai pengkhianat di dunia bisnisku. Katakanlah, sebelum peluru ini menembus ke kepalamu.”
"A—aku tidak tahu, Tuan Maverick! Aku bersumpah, mereka mengambilnya dari mejaku!" David ambruk ke karpet beludru, nafasnya tersengal-sengal.
BUGH!
Dante kembali melapangkan tinjunya, kali ini tepat di ulu hati David, yang membuat pria itu hampir kehilangan kesadarannya.
Beberapa meter di ujung lorong, seorang fotografer menelan ludah dengan susah payah. Apa yang tengah ia saksikan saat ini akan menjadi skandal luar biasa yang mengguncang London.
Dante Maverick, sang miliarder yang diagung-agungkan sebagai penguasa dan kunci kekayaan London, ternyata hanyalah sosok monster di balik layar.
Dengan jari gemetar, Lexy mengangkat kamera Canonnya. Ia mencoba untuk membuat lensanya fokus.
Dan… Klik!
Suara bidikan kamera itu meledak seperti tembakan pistol, memecah keheningan.
Untuk sesaat, segalanya membeku.
Dante tidak bergerak.
Punggungnya masih menghadap kegelapan tempat asal suara itu.
Pria di bawahnya merintih pelan, tapi Dante tidak mempedulikannya. Perlahan, ia menegakkan tubuhnya, sepasang matanya menyapu sekitar dengan teliti, mencoba menemukan seseorang yang diam-diam memotretnya tanpa izin.
"Siapa di sana?" Suaranya terdengar menggema dan penuh otoritas.
Tanpa menunggu lebih lama lagi, wanita itu langsung berlari, Sepatu bot tuanya beradu keras dengan lantai beton menuju tangga darurat.
"Sial, sial, sial," makinya di bawah nafasnya yang tersengal.
Baru saja jemarinya mencoba menyentuh pegangan besi yang dingin, sebuah bayangan besar menyalipnya. Sebuah cengkeraman sekuat baja menyambar bahunya dan menghantamkannya ke dinding.
BRUK!
Pandangannya mengabur.
Seluruh udara terasa lenyap seketika dari paru-parunya. Belum sempat ia protes, tali kamera di lehernya ditarik kencang, mencekiknya selama sedetik.
"Lepaskan! Itu milikku!" teriak Lexy, ia mencoba mencakar lengan yang menguncinya—agar setidaknya memberikan dirinya ruang untuk memberontak, namun usahanya hanyalah sia-sia. Tangan kekar itu justru terasa semakin kuat mencengkramnya.
"Menarik…" Gumam Dante pelan, yang sanggup membuat Lexy bergidik ngeri dengan tatapan tajam milik sang penguasa London itu.
Dante berdiri tepat di hadapannya sekarang. Tubuhnya semakin mendekat ke arah Lexy, membuat aroma cendana mahal berpadu tipis dengan aroma tembakau menyapa indranya.
"Kau tidak seharusnya ada di sini, gadis kecil," ucap Dante tenang.
Tanpa aba-aba, ia menyambar kartu identitas yang tergantung di kemeja Lexy.
"Lexy T. Freelance fotografer. Spesialis menguntit selebriti kelas atas di luar klub malam," bacanya dengan nada datar. Matanya beralih ke layar kamera, ibu jarinya menggulir foto dengan presisi yang tenang. Melihat setiap jepretan yang diambil wanita itu.
"Dan sekarang fotografer selebriti sepertimu mencoba naik ke liga korporat?"
"Aku bukan paparazzi sampah! Aku lihat apa yang kau lakukan pada pria itu! Itu penganiayaan!"
Dante tertawa pelan, lebih seperti meremehkan.
Ia melangkah lebih dekat, mengikis habis jarak hingga ujung sepatu kulitnya yang mengkilap bersentuhan dengan sepatu bot usang Lexy.
"Dengar baik-baik, Nona Lexy. Pria bodoh itu baru saja mencoba menjual rahasia dagang milik perusahaanku senilai miliaran kepada kompetitor asing. Di dalam duniaku, itu disebut pengkhianatan. Dan percayalah, hukumanku jauh lebih ringan daripada apa yang akan dilakukan dewan komisaris jika mereka tahu." Ia merendahkan suaranya.
"Tapi tentu saja, lensa murahmu itu tidak menangkap bagian itu, kan? Kau hanya menginginkan satu jepretan dramatis untuk menyeret namaku ke media. Membuat mereka berpikiran bahwa aku adalah seorang monster yang tengah memukuli seorang pria lemah. Bukankah itu yang kau inginkan? Kau mencoba mengambil keuntungan dariku, jalang kecil?”
Dante semakin memberikan tatapan yang mengintimidasi, namun Lexy menolak untuk tunduk. Matanya semakin berkilat menatap pria itu dengan amarah.
"Reputasimu memang pantas hancur jika kau memperlakukan orang seperti sampah!" balas Lexy dengan sengit, meski kakinya gemetar.
Dante menyeringai melihat perlawanan itu.
Tatapannya jatuh sejenak ke bibir Lexy beberapa detik, sebelum ia kembali menatap matanya.
"Dengarkan baik-baik, saat ini, perusahaanku sedang dalam proses merger terbesar dekade ini. Jika foto-foto sialan itu keluar, nilai sahamku yang bernilai miliaran akan anjlok. Ribuan orang akan kehilangan pekerjaan, dan ekonomi London akan terguncang. Kau pikir egomu sebanding dengan itu?”
"Lalu apa? Kau mau membunuhku?" tantang Lexy, meski jantungnya berdegup kencang.
Bibir Dante melengkung tipis.
"Membunuhmu itu hanya membuatku repot di hadapan hukum. Aku lebih suka sesuatu yang... lebih elegan.”
"Untuk seseorang di posisimu," lanjutnya, "kau membuat pilihan yang sangat berbahaya."
"A—aku melihat semua yang kau lakukan! Aku bisa lapor ke media, dasar monster!" sahut Lexy, memaksakan suaranya agar tetap stabil.
"Kau… kau melihat satu momen, bukan kebenaran yang sesungguhnya, Lexy!"
Dengan gerakan presisi, Dante mengeluarkan baterai dan kartu memori dari kamera Lexy.
KRAK!
Ia menjatuhkan baterai itu ke lantai dan menginjaknya hingga hancur dengan sepatu mahalnya.
"Hei! Kau gila?! Apa kau tahu seberapa mahal harga benda itu, hah?! Aku membelinya dengan uangku sendiri! Itu setara dengan uang sewa apartemenku selama sepuluh tahun, brengsek!"
Lexy mencoba memukul dada pria itu, namun Dante menangkap kedua pergelangan tangannya dengan mudah menggunakan satu tangan.
"Uang sewa? Kau memikirkan uang sewa di saat aku bisa menghapus keberadaanmu dari dunia ini tanpa ada yang bertanya?" Dante menyeringai, ia mencondongkan tubuh hingga Lexy bisa merasakan hawa panasnya.
"Aku punya solusi yang lebih baik untukmu karena membuat suasana hatiku menjadi buruk malam ini. Ikutlah denganku, Lexy."
""Ke mana? Aku tidak sudi pergi kemanapun dengan pria gila sepertimu!"
"Kau punya dua pilihan, Lexy."
"Dengar baik-baik. Opsi pertama, aku menelepon polisi dan menuduhmu melakukan penguntitan serta percobaan pemerasan. Aku punya pengacara yang bisa memastikan kau membusuk di penjara sampai kau lupa bagaimana cara memegang kamera tuamu itu."
Lexy menahan napas. Pria ini terlihat sedang tidak bermain-main dengan ucapannya.
"Dan opsi kedua?" tanyanya dengan suara bergetar.
Dante melepaskan cengkraman pergelangan tangannya namun tidak mundur selangkah pun.
"Opsi kedua, kau ikut ke kantorku, kita akan buat kesepakatan, dan jadilah tunanganku selama enam bulan ke depan."
Mata Lexy membelalak.
"APA?! APA KAU SUDAH GILA? KENAPA AKU HARUS JADI TUNANGANMU?!"
"Karena dunia bisnis butuh alasan mengapa aku berada di lorong kotor ini bersamamu malam ini. Aku tidak ingin mereka berpikir aku sedang melakukan kekerasan. Aku lebih suka mereka percaya bahwa aku sedang mengejar tunanganku yang kabur karena sedang marah kepadaku." Date mengucapkannya dengan nada yang santai.
"Kau bajingan manipulatif! Aku tidak sudi bertunangan dengan monster sepertimu!"
"Ini murni transaksional, Lexy. Kau menyelamatkan namaku, dan aku memastikan kau tidak perlu lagi mengejar selebriti kelas atas hanya demi membayar uang sewa apartemen."
"Aku tidak bisa dibeli, Dante."
"Setiap orang punya harga, baby girl. Kau hanya belum menemukan harga yang tepat untuk dirimu."
Tanpa berbicara panjang lebar lagi, Dante memberi isyarat kepada dua pria bertubuh besar yang muncul dari kegelapan—para pengawalnya.
"Bawa dia ke mobil, Marcus. Pastikan tidak ada kamera yang menangkap wajahnya sampai kita tiba di Mayfair."
"Aku tidak mau pergi ke mana pun bersamamu! Lepaskan aku, bajingan! Lepaskan!"
Lexy memberontak, namun para pengawal itu memegangnya dengan erat meski tak menyakitinya.
Dante berjalan di depan mereka dengan langkah panjang yang angkuh. Ia tidak menoleh ke belakang, seolah-olah Lexy sudah menjadi miliknya.
"Selamat datang di dunia nyata, Lexy," gumamnya saat menyelinap masuk ke dalam limosin hitam yang elegan.
"Kuharap kau suka berlian. Karena mulai besok, hidupmu bukan lagi milikmu sendiri.”
"Daniel, kau terus melihat ke arah balkon, ada apa?" bisik Lexy, suaranya teredam oleh riuh rendah tamu di sekitar mereka. Ia menggenggam lengan Dante, merasakan ketegangan otot di balik jas tuksedo pria itu."Ada tamu tak diundang yang butuh perhatian khusus, sweetheart. Tetaplah di dekat Silas. Jangan menjauh tanpa sepengetahuannya.""Kau tidak akan melakukan sesuatu yang berbahaya, kan? Bahumu belum sembuh total," Lexy menatapnya dengan kekhawatiran."Aku akan melakukan sesuatu yang cerdas. Itu jauh lebih menyakitkan bagi musuhku daripada sekedar pukulan," Dante memberikan senyum yang menenangkan. Ia memberikan kode anggukan kecil pada Marcus yang berdiri di sudut ruangan.Cup!Dante mencium bibir Lexy singkat, lalu perlahan melepaskan diri dari kerumunan, bergerak menuju pintu samping yang menuju ke area ruang penyimpanan bawah tanah. Ia sengaja bergerak perlahan, ingin pria di balkon itu mengikutinya. Dan benar saja, bayangan pirang pucat itu mulai bergerak turun melalui tangga.
Jam sudah menunjukkan pukul tiga pagi. Suara detak jam dinding terdengar seperti dentuman drum di telinga Dante. Ia tidak bisa tidur bukan karena rasa sakit di bahunya, melainkan karena rasa haus akan kendali yang mulai membakar jiwanya kembali.Ia bangkit dari ranjang dengan perlahan, berusaha tidak membangunkan Lexy. Dengan gigi yang terkatup menahan nyeri, ia berjalan menuju ruang kerja pribadinya. Ia duduk di kursinya, menyalakan deretan monitor yang menampilkan pergerakan saham global."Selamat pagi, Tuan Maverick. Kupikir dokter menyarankanmu untuk tidur delapan jam" "Tidur adalah kemewahan bagi orang yang tidak punya musuh, Marcus. Nyalakan sistem keamanan tingkat empat. Aku ingin melihat data aliran dana Apex Global dalam satu jam terakhir.""Kau sedang dalam kondisi pemulihan fisik, Tuan. Bukan sedang mempersiapkan perang.""Fisikku mungkin sedang lambat, tapi otakku tidak pernah secepat ini," Dante menunjuk ke layar yang menampilkan grafik merah. "Liam mengira dia bisa menj
"Daniel, waktunya minum obat dan latihan fisioterapi," suara Lexy terdengar dari ambang pintu."Bawa pergi benda kimia-kimia sialan itu, babe. Aku sudah cukup merasa seperti laboratorium berjalan selama dua puluh tahun."Lexy menghela napas, meletakkan nampan di meja kecil di samping Dante. Ia berjalan mendekat ke suaminya, berjongkok agar mata mereka sejajar. "Ini antibiotik dan pereda nyeri. Kau manusia sekarang. Manusia butuh bantuan untuk sembuh.""Manusia butuh bantuan, tapi seorang pria tidak suka merasa tidak berdaya," geram Dante. Ia menatap tangannya yang sedikit gemetar saat mencoba mencengkeram lengan kursi roda. "Aku tidak bisa mengangkat gelas ini tanpa rasa nyeri yang menusuk sampai ke tulang belakang. Bagaimana aku bisa melindungimu? Bagaimana jika The Founders datang lagi malam ini?""Ada Marcus. Ada Silas. Ada lima puluh pengawal bersenjata di bawah sana," Lexy memegang tangan Dante, mencoba menyalurkan kehangatan. "Kau sudah melakukan bagianmu di dermaga. Sekarang bi
Dermaga itu benar-benar berubah menjadi neraka kecil. Asap dari moncong senjata beradu dengan kabut sungai Thames yang dingin. SUV hitam yang membawa Lexy menderu, bannya mencicit keras di atas aspal basah saat Silas menginjak pedal gas sedalam mungkin. Lexy memberontak dan terus memukuli kaca jendela, wajahnya basah oleh air mata, matanya terpaku pada sosok pria yang berdiri sendirian di tengah kepungan musuh."DANTE! TIDAK! BERHENTI, SILAS! KITA TIDAK BISA MENINGGALKANNYA!" jerit Lexy, suaranya parau hingga tenggorokannya terasa berdarah.Liam duduk di sampingnya, nafasnya tersengal, wajahnya pucat pasi karena trauma. Ia mencoba memegang bahu Lexy. "Lexy, tenanglah! Jika kita kembali, kita semua akan mati!""LEPASKAN AKU, LIAM! KAU PENYEBAB SEMUA INI!" Lexy menyentakkan tangan Liam. "Kau membohongiku! Kau membawa para pria bersenjata itu ke sini! Jika sesuatu terjadi pada Dante, aku bersumpah akan membunuhmu dengan tanganku sendiri!"***Dante berlutut dengan satu kaki. Bahunya be
Helikopter hitam itu mendarat di atap sebuah gedung perkantoran privat di pinggiran Zurich saat fajar masih berupa garis abu-abu yang dingin. Dante dan Lexy melangkah keluar, disambut oleh Marcus yang sudah menunggu dengan setelan jas rapi, seolah ledakan jet kargo beberapa jam lalu hanyalah ganggu
Fajar mulai menyingsing di atas cakrawala Manhattan, menyapu sisa-sisa hujan semalam dengan cahaya jingga yang dingin. Di dalam kediaman Maverick, suasana masih terasa seperti di tengah badai. Dante dan Lexy melangkah keluar dari lift, masih mengenakan pakaian yang sama—yang bernoda debu, darah, da
"Aku dengar ada keributan di kamarmu tadi, Dante," ucap Victoria tanpa menoleh, matanya terpaku pada daftar tamu di layar tablet."Bukan urusanmu, Bu," jawab Dante datar.Victoria meletakkan cerutunya di asbak kristal dan mendongak, menatap Dante dengan tajam."Apa pun yang melibatkan Alexandra ada
Ruang kerja Dante yang luas kini disulap berubah menjadi medan tempur. Di atas meja jati yang mahal, bertumpuk berkas profil anggota dewan komisaris Maverick Corp. Dante berdiri di depan jendela besar, sementara Lexy duduk dengan gelisah, membolak-balik foto-foto pria tua berjas formal."Hafalkan


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.