Masuk“Ikut aku!”
Haikal mencekal pergelangan tangan Natasha yang baru saja tiba di rumah. Lalu membawanya masuk ke kamar mereka.
“Kamu mau buat perusahaan aku bangkrut, Natasha?!” cecar pria itu dengan tatapan penuh amarah.
Kening Natasha berkerut. “Apa maksud kamu, Mas?”
“Kenapa kamu nggak datang ke kamar Pak Candra?!” bentak Haikal.
“Apa? Aku–”
“Padahal aku nggak bercanda waktu aku bilang akan menghentikan biaya pengobatan ibumu!” Haikal menatap Natasha tajam.
Natasha menggeleng cepat. “Nggak, Mas. Aku mohon jangan. Tadi malam aku–”
“Apa?!” sela Haikal cepat, tanpa memberi kesempatan pada Natasha untuk bicara.
“Mau cari alasan apa? Kamu nggak dengar perintahku? Padahal apa susahnya temani dia satu malam! Tapi kamu malah pergi dan menghancurkan rencanaku!”
Haikal menonjol dinding di samping kepala Natasha, membuat Natasha berjengit dengan mata terpejam sejenak.
Natasha terdiam dengan linglung.
Jelas-jelas tadi malam dirinya masuk ke kamar investor itu, bahkan Natasha harus menanggung rasa bersalah atas apa yang mereka lakukan.
Dia sudah kehilangan keperawanan yang selama ini dijaga baik-baik.
Tapi kenapa sekarang Haikal justru marah dan berpikir Natasha kabur?
Apa jangan-jangan….
Tidak mungkin!
Natasha menggeleng cepat. Tidak mungkin dia salah masuk kamar, bukan?
Natasha lalu menatap Haikal yang kini sedang marah sambil membanting barang-barang yang ada di atas meja ke lantai.
Lelaki itu memang tempramental. Pemandangan seperti itu sudah menjadi hal yang biasa bagi Natasha.
“Mas, boleh aku tahu… seperti apa Pak Candra?”
Haikal mendengus. Dia menatap Natasha sambil berkacak pinggang. Napasnya memburu.
“Kenapa? Apa karena dia laki-laki tua dan berperut buncit kamu jadi nggak mau menemani dia?” tudingnya tak berperasaan. “Kamu pikir siapa dirimu? Seharusnya kamu ngaca!”
Ekspresi wajah Natasha seketika menegang. Lelaki yang tidur dengannya tadi malam tampak masih muda dan perutnya jelas-jelas tidak buncit.
Tidak mungkin!
“Nggak pernah sekalipun kamu jadi istri yang berguna, Natasha!” pungkas Haikal sebelum akhirnya keluar dari kamar dan membanting pintu keras-keras, yang membuat Natasha sedikit berjengit.
Natasha menghela napas berat. Haikal selalu menganggapnya sebagai istri yang tidak berguna.
Natasha sakit hati mendengarnya, tentu saja.
Tetapi di rumah ini dia tidak memiliki kebebasan untuk mengungkapkan perasaan.
Setiap kali dia menyuarakan isi hati, dia langsung dicap sebagai istri pembangkang.
Masuk ke kamar mandi, Natasha tercenung di depan cermin lebar.
Jika bukan Candra yang tidur dengannya semalam… lalu siapa?
***
Siang harinya, Natasha diberi perintah oleh ibu mertuanya untuk membantu Bik Yati memasak, karena nanti sore ada acara makan malam keluarga.
Haikal memang tinggal bersama orang tua dan adik-adiknya di mansion mewah ini.
“Kita masak lebih banyak dari biasanya ya, Bik,” ucap Natasha seraya menatap daftar menu makanan yang sudah ditulis ibu mertuanya dalam secarik kertas.
“Iya, Non. Katanya Pak Bian mau datang,” jawab Bik Yati yang tengah memotong daging merah.
“Pak Bian?” Natasha mengerutkan kening. “Tamu ya, Bik?”
“Bukan.” Bik Yati menggeleng. “Beliau omnya Den Haikal. Anak bungsu Tuan Wira.”
“Oh… aku baru tahu.” Tangan Natasha dengan cekatan memotong wortel di atas talenan.
Memang selama ini Natasha tidak pernah dilibatkan dalam urusan keluarga apapun itu.
Dia juga belum terlalu mengenal semua anggota keluarga Wijaya–sebuah keluarga konglomerat yang memiliki perusahaan raksasa bernama Wijaya Group.
Dan Haikal adalah cucu pertama Tuan Wira Wijaya. Haikal memegang salah satu anak usaha Wijaya Group, yaitu Wijaya Land.
“Pasti Non Natasha nggak tahu, soalnya Pak Bian tinggalnya di New York dari kecil,” ujar Bik Yati. “Beliau cuma datang ke sini beberapa tahun sekali.”
“Ooh….” Natasha mengangguk-angguk paham. Lalu setelah itu keduanya kembali sibuk dengan pekerjaan mereka.
Hingga sore harinya, semua sajian untuk makan malam telah siap dihidangkan.
Natasha mandi dan mengganti pakaiannya terlebih dulu. Wajahnya hanya dirias make up tipis agar terlihat lebih segar.
Kemudian dia kembali ke dapur. Sementara di ruang tengah, ibu mertuanya, Haikal dan kedua adiknya sudah berkumpul. Mereka mengobrol dan tertawa.
Sedangkan Natasha hanya mendengarkan suara tawa mereka di dapur. Seolah-olah dia bukan bagian dari keluarga itu.
Sesaat kemudian, Natasha menggenggam nampan berisi beberapa cangkir teh hangat. Dia membawanya ke ruang tamu.
Dari kejauhan, Natasha mendengar suara seorang pria yang berat serta cukup asing di antara suara ibu mertuanya dan Haikal.
Sepertinya pamannya Haikal sudah datang, pikir Natasha.
Dia juga menghidu aroma parfum pria yang bukan milik Haikal di ruangan itu.
Tetapi entah mengapa Natasha merasa familiar dengan aroma woody itu.
Setibanya di ruang tengah, tatapan Natasha tertuju pada seorang pria yang duduk tegap di single sofa, membelakanginya.
“Cepat bawa minumannya kemari,” perintah sang ibu mertua seraya menatap Natasha datar.
Natasha mengangguk. “Iya, Ma.”
Di saat yang sama, pria di single sofa itu menoleh. Pandangan Natasha refleks beralih padanya.
Natasha seketika terhenyak.
Matanya terbelalak hingga langkahnya terhenti. Wajahnya mendadak kehilangan warna.
Pria itu… pria yang telah menghabiskan malam dengannya tadi malam!
***
“Mas, sudah ada tagihan dari rumah sakit. Kapan Mas Haikal akan membayarnya?”Natasha memberanikan diri bertanya pada Haikal setelah kemarin siang mendapat email tagihan biaya pengobatan ibunya dari pihak rumah sakit.Haikal mendengus. “Kamu masih minta aku membayarnya?”“Itu perjanjian kita dari awal ‘kan, Mas?”“Sekarang tidak lagi!” tegas Haikal seraya menatap Natasha dengan tajam. “Kamu sudah membuat aku gagal dapat investasi dari Pak Chandra. Jadi jangan harap aku masih mau menanggung biaya pengobatan ibumu.”Natasha terhenyak. “Mas! Terus gimana dengan ibuku?”“Bukan urusanku.”Bibir Natasha terbuka hendak bersuara kembali, tetapi Haikal sudah pergi dari hadapannya dan sempat membanting pintu.Natasha seketika terdiam. Mengingat jatuh tempo tagihan itu yang tinggal beberapa hari lagi membuatnya sesak.Jika tidak segera dilunasi, pihak rumah sakit akan menghentikan beberapa fasilitas perawatan yang selama ini diterima ibunya.Tapi dari mana Natasha bisa mendapat uang sebanyak itu
Natasha menahan napas. Wajahnya mendadak pucat seolah kehilangan warna.Bisa-bisanya Bian membahas soal malam terkutuk itu di saat mereka sedang berada di rumah keluarga suaminya?“M-Maaf, saya nggak mengerti maksud Pak–eh Om… Bian,” elak Natasha, pura-pura tidak paham dengan apa yang pria itu bicarakan.Satu sudut bibir Bian terangkat samar. Dia menegakkan tubuhnya kembali lalu bersedekap dada.“Jadi, kenapa tadi pagi meninggalkan saya?”Deg!Jantung Natasha terasa seperti ditarik ke bawah perut ketika lagi-lagi Bian membahas soal kejadian itu.“Sebenarnya apa yang Om bicarakan?” Natasha tertawa hambar untuk menyembunyikan perasaan gugupnya. “Saya sama sekali nggak mengerti.”“Saya cukup kecewa,” lanjut pria itu dengan suara rendah. “Bayangkan saja, saat bangun tidur, wanita yang semalaman bercinta dengan saya ternyata sudah menghilang.”Natasha menggigit bibir bawahnya kuat-kuat seraya mencengkeram piring. Matanya terpejam sejenak.“Saya menyuruh sekretaris saya untuk mencari wanita
Prang!Salah satu cangkir di atas nampan yang bergetar itu terjatuh ke lantai.Natasha terkesiap. Semua pasang mata di ruangan itu sontak menoleh ke arahnya.“Maaf.” Natasha buru-buru berjongkok dan menaruh nampan di lantai, lalu meraih satu persatu serpihan beling dengan tangan gemetar.Rupanya benar, dia salah masuk kamar tadi malam.Pria yang menghabiskan malam dengannya bukan Pak Candra.Melainkan… paman suaminya sendiri!Dada Natasha terasa bergemuruh dan sesak. Dia menunduk semakin dalam berusaha menghindari tatapan Bian.Di antara semua tatapan mata di ruangan itu, Natasha merasakan tatapan Bian seperti sedang mengulitinya.“Ya Tuhan, Non.” Bik Yati mendekat. “Biar saya yang bersihin, Non. Nanti tangan Non Nata berdarah.”“Nggak usah dibantu, Yati,” ucap Kartika–ibu mertua Natasha, dengan suara dingin. “Biarin aja dia bertanggung jawab atas kecerobohannya sendiri.”Bik Yati tampak serba salah. Tetapi Natasha langsung mengangguk menenangkan.“Nggak apa-apa, Bik. Tolong pinjam la
“Ikut aku!”Haikal mencekal pergelangan tangan Natasha yang baru saja tiba di rumah. Lalu membawanya masuk ke kamar mereka.“Kamu mau buat perusahaan aku bangkrut, Natasha?!” cecar pria itu dengan tatapan penuh amarah.Kening Natasha berkerut. “Apa maksud kamu, Mas?”“Kenapa kamu nggak datang ke kamar Pak Candra?!” bentak Haikal.“Apa? Aku–”“Padahal aku nggak bercanda waktu aku bilang akan menghentikan biaya pengobatan ibumu!” Haikal menatap Natasha tajam.Natasha menggeleng cepat. “Nggak, Mas. Aku mohon jangan. Tadi malam aku–”“Apa?!” sela Haikal cepat, tanpa memberi kesempatan pada Natasha untuk bicara.“Mau cari alasan apa? Kamu nggak dengar perintahku? Padahal apa susahnya temani dia satu malam! Tapi kamu malah pergi dan menghancurkan rencanaku!”Haikal menonjol dinding di samping kepala Natasha, membuat Natasha berjengit dengan mata terpejam sejenak.Natasha terdiam dengan linglung.Jelas-jelas tadi malam dirinya masuk ke kamar investor itu, bahkan Natasha harus menanggung rasa
Natasha terhenyak ketika pria itu memenjarakannya di dinding dan mengunci kedua pergelangan tangannya di sisi kepala.“Lebih cepat dari dugaan saya,” bisik pria itu, yang membuat Natasha mendongak menatapnya dengan tatapan takut dan panik.Hingga dia temukan wajah tegas seorang pria. Alisnya tebal, hidung mancung dan bibir penuhnya memiliki belahan kecil di tengah bibir bawah.Sementara mata kelamnya memandang lurus dengan ekspresi datar yang sulit ditebak.Belum sempat Natasha mencerna apa yang terjadi, pria itu sudah lebih dulu membenamkan bibirnya ke ceruk lehernya. Melumatnya pelan.“Ah!”Tanpa sadar, desahan itu keluar dari bibir Natasha.Natasha buru-buru menggigit bibir bawahnya seraya mendorong dada pria itu agar berhenti menyentuhnya.“A-Apa yang Anda lakukan?”Napas Natasha semakin berat. Tubuhnya yang panas bergerak semakin gelisah.“Menurutmu…,” bisik pria itu seraya menjepit dagu Natasha dengan jemarinya. “Untuk apa saya menyewamu?”Kening Natasha berkerut. Dia tidak meng
“Malam ini temani Pak Candra di hotel, serahkan tubuhmu padanya.”Wajah Natasha seketika menegang mendengar kata-kata yang baru saja keluar dari mulut suaminya.“A-apa maksud Mas? Kenapa… kenapa Mas nyuruh aku menyerahkan tubuhku ke investor itu?”“Karena kamu masih perawan.”“Apa?” Natasha membelalak. Dadanya seketika diserang rasa sesak. “Apa sebenarnya yang sedang Mas Haikal bicarakan?”“Dengar, Sha.” Haikal mencondongkan tubuhnya ke arah Natasha yang duduk di hadapannya. “Aku butuh dana besar untuk perusahaanku. Dan satu-satunya investor yang sanggup menggelontorkan dananya dalam waktu dekat cuma Pak Candra. Kamu harus bantu aku sekali ini saja!” tegasnya, tak ingin dibantah.“Dengan menyerahkan tubuhku?”“Ya.”Perut Natasha terasa mencelos. Dia masih bisa menerima perlakuan tidak adil dari suaminya selama satu tahun mereka menikah.Natasha tetap bersabar dan berusaha menjadi istri yang baik, sekalipun Haikal tidak pernah menganggapnya sebagai seorang istri.Namun, permintaannya m







