LOGIN"Maafkan aku, Mikaila. Aku tidak pernah mencintaimu." Dalam satu hari, dunia Mikaila Alexandra runtuh. Pria yang ia cintai selama bertahun-tahun menolaknya. Ibunya memaksanya menikah dengan seorang pria asing bernama Sean Valentino. Dan semalam kemudian... Mikaila terbangun di apartemen pria itu. Sebelum ia sempat melarikan diri, foto dirinya keluar dari apartemen Sean sudah memenuhi berita hiburan. Karier yang baru saja ia bangun terancam hancur. Hanya ada satu cara untuk menyelamatkan semuanya. Menikahi Sean Valentino. Namun Sean bukan pria biasa. Ia terlalu kaya. Terlalu berbahaya. Terlalu terbiasa mendapatkan semua yang ia inginkan. Dan kini... Sean hanya menginginkan satu hal. Mikaila Alexandra. Tetapi benarkah pernikahan itu akan menyelamatkannya... atau justru menjadi awal dari obsesi paling berbahaya dalam hidupnya?
View More"Maafkan aku, Mikaila. Aku tidak pernah menyukaimu. Aku menyukai wanita lain."
Kalimat itu menghantamku jauh lebih keras daripada yang mampu kubayangkan.
Seolah seseorang meremas jantungku dengan tangan telanjang, memaksaku menerima kenyataan yang selama ini mati-matian kutolak.
Aku hanya mampu menatap Phillip dalam diam.
Pria yang telah mengisi hampir seluruh harapanku selama dua tahun terakhir kini berdiri di hadapanku dengan tatapan penuh penyesalan.
Ironisnya, penyesalan itu bukan karena ia mencintaiku.
Melainkan karena ia tidak pernah bisa membalas perasaanku.
Kotak kue ulang tahun yang kubawa masih tergeletak di atas meja rias. Lilin angka dua puluh sembilan bahkan belum sempat dinyalakan ketika Phillip memilih menghancurkan seluruh harapanku lebih dulu.
Aku datang dengan keyakinan bahwa hari ini akan menjadi awal dari hubungan kami.
Ternyata…
Hari ini justru menjadi akhir dari semua angan yang kubangun sendirian.
Selama dua tahun terakhir kami berada di bawah manajemen musik yang sama. Kami sering dipasangkan dalam berbagai proyek, mulai dari pemotretan, iklan, hingga duet dalam single terbarunya.
Kedekatan itu membuatku percaya bahwa perhatian-perhatian kecil yang ia berikan memiliki arti yang lebih dalam.
Aku salah.
Sangat salah.
"Oh..."
Aku memaksa bibirku tersenyum, meski rasanya wajahku mulai mati rasa.
"Maaf jika kau berpikir seperti itu, Phillip. Sungguh... aku tidak pernah memikirkan hubungan kita sejauh itu."
Sebuah kebohongan.
Kebohongan paling menyakitkan yang pernah keluar dari mulutku.
Aku lebih memilih menghancurkan harga diriku sendiri daripada membiarkannya tahu bahwa aku benar-benar mencintainya.
Phillip mengembuskan napas lega.
"Terima kasih sudah mengerti."
Tatapannya masih dipenuhi rasa bersalah.
"Hei... aku serius. Aku benar-benar minta maaf."
Aku hanya mengangguk pelan.
Sementara sengatan panas mulai memenuhi pelupuk mataku.
Sedikit lagi…
Sedikit lagi air mata ini akan jatuh.
"Kau terlalu baik, Mika."
Phillip tersenyum tipis.
"Bagiku, kau lebih cocok menjadi adik perempuan daripada seorang kekasih."
Kalimat itu...
Lebih menyakitkan daripada penolakannya sendiri.
Adik perempuan.
Jadi selama ini hanya aku yang salah mengartikan semua perhatian, semua perhatian kecil yang membuatku berharap terlalu jauh.
Aku tertawa kecil.
Tawa yang bahkan terdengar asing di telingaku sendiri.
"Syukurlah."
Aku mengangkat bahu seolah semua ini hanyalah kesalahpahaman yang lucu.
"Kalau begitu, aku juga tidak perlu merasa canggung."
Padahal di dalam dadaku...
Ada sesuatu yang sedang runtuh sedikit demi sedikit.
Tepat saat keheningan mulai menyelimuti ruangan, suara pintu ruang rias terbuka lebar.
"Surprise!"
Letusan konfeti memenuhi udara.
Rebecca, Caroline, Jane, Andrew, dan beberapa rekan satu manajemen berhamburan masuk sambil membawa balon dan hadiah ulang tahun.
Mereka menyanyikan lagu selamat ulang tahun dengan riang, sama sekali tidak menyadari bahwa beberapa detik sebelumnya seseorang baru saja menghancurkan hatiku.
Phillip tersenyum lalu meniup lilin yang akhirnya sempat kutyalakan.
Aku ikut bertepuk tangan.
Berusaha terlihat biasa saja.
Sampai Rebecca menatap kami bergantian dengan senyum penuh rasa ingin tahu.
"Jadi..."
Ia menggerakkan alisnya jahil.
"Kalian resmi jadian hari ini?"
Jantungku kembali berhenti berdetak.
Aku berharap...
Setidaknya kali ini Phillip akan mengalihkan pembicaraan.
Namun harapan itu kembali dipatahkan.
Phillip merangkul bahuku dengan santai.
"Mikaila?"
Ia tersenyum hangat.
"Dia lebih cocok jadi adik perempuanku."
Ruangan mendadak dipenuhi tawa kecil.
"Oh, sayang sekali," ujar Caroline spontan. "Padahal aku benar-benar mengira kalian bakal bersama."
Aku menoleh cepat ke arah sepupuku.
Tatapanku memohon.
Tolong...
Jangan lanjutkan lagi.
Caroline langsung terdiam. Senyumnya perlahan memudar, seolah baru menyadari ada sesuatu yang tidak beres.
Sementara aku...
Masih berdiri di sana.
Masih tersenyum.
Padahal harga diriku baru saja hancur untuk kedua kalinya dalam hari yang sama.
~~
Aku tidak ingat bagaimana kakiku membawaku keluar dari studio.
Yang kuingat hanyalah dadaku terasa sesak hingga sulit bernapas.
Begitu pintu mobil tertutup, seluruh kepura-puraan yang kutahan sejak tadi runtuh begitu saja.
Isak tangisku memenuhi kabin mobil.
Aku membungkukkan badan hingga dahiku menyentuh kemudi, sementara kedua tanganku mencengkeram setir begitu erat sampai buku-buku jariku memutih.
"Kenapa..." bisikku lirih.
"Kenapa aku bisa sebodoh ini?"
Dua tahun.
Dua tahun aku menunggu.
Dua tahun aku berharap.
Dua tahun mengartikan setiap perhatian Phillip sebagai sesuatu yang istimewa.
Padahal...
Aku hanya sedang jatuh cinta sendirian.
Aku mengusap air mata dengan punggung tangan, berusaha mengatur napas.
Tanpa sengaja pandanganku tertuju ke arah pintu keluar gedung studio.
Seorang wanita turun dari sebuah mobil putih sambil membawa buket mawar merah dan kotak kue ulang tahun.
Wanita itu cantik.
Elegan.
Ia mengenakan gaun sederhana berwarna krem dengan rambut panjang yang tergerai rapi.
Beberapa detik kemudian Phillip keluar dari gedung.
Senyum yang tadi tak sempat kulihat...
Kini mengembang begitu tulus di wajahnya.
Wanita itu menyerahkan buket bunga kepadanya.
Phillip menerimanya dengan wajah berbinar.
Lalu...
Tanpa ragu ia menggenggam tangan wanita itu.
Wanita tersebut memeluk Phillip dengan hangat, sementara Phillip membalas pelukan itu sambil mengusap lembut punggungnya.
Aku memalingkan wajah.
Dadaku terasa semakin nyeri.
Jadi...
Dialah wanita yang disukai Phillip.
Dan aku...
Bahkan tidak pernah benar-benar menjadi pilihan.
Air mataku kembali jatuh tanpa bisa kutahan.
Hari ini benar-benar mempermalukanku habis-habisan.
Ponselku tiba-tiba bergetar di atas kursi penumpang.
Mama Calling.
Aku membiarkannya berdering hingga berhenti.
Beberapa detik kemudian, panggilan itu masuk lagi.
Aku menarik napas panjang berkali-kali, menyeka sisa air mata di pipiku, lalu memaksakan suaraku terdengar normal sebelum menerima telepon itu.
"Halo, Ma."
"Mika, Sayang, kau sedang di mana?"
"Aku... baru selesai dari studio."
"Bagus. Mama sedang makan malam bersama teman lama Mama dan Papa. Mereka ingin bertemu denganmu."
Aku memejamkan mata sejenak.
Sejujurnya aku hanya ingin pulang, mengunci diri di kamar, lalu melupakan hari ini.
Namun aku tak tega mengecewakan Mama.
"Kami sedang di Restoran Logos," lanjutnya. "Katakan saja pada pramutamu kalau kau tamu Tuan Abraham."
Aku mengangguk pelan meski Mama tak mungkin melihatnya.
"Baik, Mom. Aku segera ke sana."
Telepon berakhir.
Aku menatap pantulan wajahku di kaca spion.
Mataku sembap.
Lipstikku mulai memudar.
Aku merapikannya sekadarnya.
Setidaknya...
Tidak ada seorang pun yang perlu tahu kalau beberapa menit yang lalu hatiku baru saja dihancurkan.
Aku menyalakan mesin mobil.
Sama sekali tidak menyadari...
Bahwa malam ini akan mempertemukanku dengan pria yang kelak mengubah seluruh jalan hidupku.
~~~
Restoran Logos selalu menjadi salah satu restoran paling eksklusif di Singapura.
Lampu kristal yang menggantung di langit-langit memantulkan cahaya hangat ke seluruh ruangan, sementara alunan musik piano mengalun pelan, menciptakan suasana yang elegan.
Aku menyerahkan nama reservasi kepada pramutamu.
"Saya bersama rombongan Tuan Abraham."
Pria itu langsung mengangguk sopan.
"Tentu, Nona Mikaila. Silakan ikut saya."
Aku mengikutinya melewati lorong panjang yang dibatasi dinding kayu berwarna gelap hingga berhenti di depan sebuah ruang VIP.
Pramutamu membuka pintu.
"Tamu Anda sudah menunggu."
Aku mengangguk pelan sebelum melangkah masuk.
Langkahku langsung terhenti.
Untuk sesaat...
Aku lupa cara bernapas.
Sepasang mata berwarna madu menatap lurus ke arahku.
Tatapan itu begitu tenang.
Namun entah mengapa...
Aku merasa pria itu sedang melihat sesuatu yang jauh lebih dalam daripada sekadar wajahku.
Seolah-olah...
Ia telah mengenalku sejak lama.
Aku belum pernah melihat pria setampan itu.
Rahangnya tegas.
Tatapannya dingin, tetapi anehnya justru memberi rasa aman.
Setelan jas hitam yang dikenakannya membuat auranya semakin berwibawa.
Pria itu tidak tersenyum.
Ia hanya memperhatikanku dalam diam.
Dan anehnya...
Dadaku justru berdebar semakin cepat.
"Mikaila."
Suara ibuku membuyarkan lamunanku.
"Ayo kemari."
Aku buru-buru mengalihkan pandangan, merasa wajahku mulai menghangat tanpa alasan.
Aku menghampiri kursi di samping ibu.
"Maaf membuat semuanya menunggu."
"Tidak sama sekali," jawab seorang pria paruh baya berwajah Timur Tengah sambil tersenyum ramah.
"Ibumu sering sekali membicarakanmu."
"Terima kasih, Tuan."
"Perkenalkan," ujar ibuku.
"Ini Tuan Abraham dan istrinya, Nyonya Ramia."
Aku segera menundukkan kepala dengan sopan.
"Senang bertemu dengan Anda."
"Nak..."
Ramia tersenyum hangat.
"Kau tumbuh menjadi wanita yang sangat cantik."
Aku membalas senyumnya.
"Terima kasih."
Wanita itu kemudian menoleh ke arah pria bermata madu yang sejak tadi belum sekalipun mengalihkan pandangannya dariku.
"Dan ini..."
Putranya.
"Sean Valentino."
Pria itu menganggukkan kepala pelan.
"Senang bertemu denganmu."
Suaranya rendah.
Tenang.
Namun cukup untuk membuat jantungku kembali berdetak tidak normal.
"Senang bertemu dengan Anda juga."
Aku buru-buru memalingkan wajah.
Ada apa denganku?
Kenapa hanya karena ditatap pria asing ini aku bisa segugup ini?
Beberapa menit berikutnya diisi percakapan ringan antara kedua keluarga.
Sebagian besar membahas masa lalu ayahku ketika masih tinggal di Thailand.
Aku hanya mendengarkan.
Sesekali menjawab ketika ditanya.
Sampai akhirnya...
Tuan Abraham meletakkan gelasnya.
"Aku rasa..."
Ia tersenyum kepada ibuku.
"Kita tidak perlu menunda lagi."
Ibuku mengangguk pelan.
Jantungku tiba-tiba berdebar.
Menunda apa?
Ramia ikut tersenyum.
"Keluarga besar kami sudah menunggu kabar baik ini cukup lama."
Aku mengernyit bingung.
Lalu...
Kalimat berikutnya membuat seluruh tubuhku membeku.
"Kami ingin mempercepat pernikahan Sean dan Mikaila."
Aku menatap ibuku.
Lalu Sean.
Kemudian kembali menatap ibuku.
"Apa?"
Suaraku hampir berbisik.
"Apa maksudnya?"
Ibuku menggenggam tanganku pelan.
"Sayang..."
"Dulu, sebelum ayahmu meninggal, beliau dan Tuan Abraham membuat janji."
Aku hanya menatapnya.
Tidak mengerti.
"Kalian akan menikah."
Dunia seolah berhenti berputar.
Aku menarik tanganku perlahan dari genggaman ibu.
"Tidak..."
Aku menggeleng.
"Mom..."
"Ini tidak lucu."
"Ibu tidak bercanda."
Suara ibu terdengar lembut.
"Ini memang keinginan terakhir ayahmu."
Dadaku semakin sesak.
Aku baru saja ditolak pria yang kucintai.
Karierku baru mulai menanjak.
Dan sekarang...
Aku diminta menikah dengan pria yang bahkan baru lima menit kukenal?
Aku berdiri begitu cepat hingga kursiku bergeser.
"Maaf."
Aku menatap satu per satu wajah di hadapanku.
"Aku tidak bisa."
"Mikaila—"
"Aku tidak akan menikah dengan pria yang bahkan baru pertama kali kutemui."
Aku meraih tasku.
Lalu berbalik menuju pintu.
"Maafkan aku."
Tanpa menunggu jawaban siapa pun...
Aku keluar dari ruang VIP itu.
Namun tepat sebelum pintu tertutup sepenuhnya...
Suara Sean menghentikan langkahku.
Tenang.
Datar.
Namun entah mengapa terdengar begitu yakin.
"Kau boleh menolakku hari ini, Mikaila."
Aku menoleh.
Sean masih duduk di tempatnya.
Tatapan mata madunya tidak sedikit pun berubah.
"Tapi pada akhirnya..."
Ia menatapku seolah telah mengetahui akhir dari cerita kami.
"Kau tetap akan menjadi istriku."
Aku pulang menjelang sore dengan kepala yang terasa jauh lebih berat daripada saat meninggalkan gedung Oslo Enterprise. Tapi setidaknya, Caroline dan Eden bisa menjadi orang-orang yang mau memberiku ruang untuk memikirkan hal ini bersama. Mobil mini cooper Caroline berhenti di halaman rumah bergaya kolonial modern yang sudah kutinggali sejak kecil bersama Mama. Rumah ini selalu menjadi tempat paling nyaman bagiku. Sayangnya, hari ini bahkan rumah pun terasa seperti ruang sidang.Sebelum aku turun, Caroline menahan pergalangan tanganku, aku menoleh menatap Caroline yang menatapku dengan tatapan cemas. "Apa?" "Kalau kau jadi nyonya Valentino jangan pernah berpikir untuk memecatku." Perkataan Caroline membuatku melongo sejenak lalu berdecak dan memutar mata. "Kalau aku menikah dengan Sean kau yang akan dapat manfaat terbanyak dari pernikahan ini." Aku tersenyum dengan wajah menggoda pada Caroline dan dia balas tersenyum lebar sebelum aku meninggalkannya turun dari mobil.Begitu pint
Map hitam itu masih berada di pangkuanku sejak aku meninggalkan gedung Oslo Enterprise.Aku bahkan tidak langsung meminta sopir taksi mengantarku pulang. Mobil berhenti di tepi Singapore River, sementara aku hanya duduk diam menatap lalu lalang orang di luar jendela.Tanganku kembali membuka map itu.Perjanjian pernikahan.Aku membaca setiap halaman untuk kedua kalinya, berharap ada bagian yang tadi salah kubaca.Tetapi tidak.Sean benar-benar menuliskan semuanya dengan jelas.Rumah.Saham Oslo Enterprise.Perlindungan hukum.Rekening bersama.Bahkan jika pernikahan kami berakhir suatu hari nanti, sebagian aset itu tetap menjadi milikku.Aku menutup map itu pelan."Pria itu benar-benar sudah gila."Tidak ada laki-laki waras yang menyerahkan sebanyak ini kepada perempuan yang bahkan baru dikenalnya beberapa hari.Kecuali...Ia sedang menyembunyikan sesuatu yang jauh lebih besar.Aku kembali teringat tatapan Sean saat mengatakan syarat terakhirnya."Setelah kontrak Aurora Beauty selesai
Aku terbangun lebih pagi dari biasanya akibat suara ponsel yang berdering tanpa henti di atas nakas. Kelopak mataku masih terasa berat ketika kuraih benda itu dengan malas.Caroline.Belum sempat aku menyapa, suara paniknya langsung memenuhi telingaku."Mika, dengarkan aku baik-baik."Aku langsung terduduk."Ada apa?""Jangan buka media sosial."Aku mengernyit."Apa maksudmu?""Pokoknya jangan buka dulu. Aku sedang menuju rumahmu. Kita bahas di kantor saja."Nada bicara Caroline terdengar jauh lebih serius daripada biasanya."Aku baik-baik saja, Carry.""Bukan itu masalahnya." Ia mengembuskan napas panjang. "Mika... berita tentangmu ada di mana-mana."Sambungan telepon terputus beberapa detik kemudian setelah Caroline berkata ia akan segera menjemputku.Aku masih memandangi layar ponsel dengan dahi berkerut.Berita?Tentangku?Rasa penasaran mengalahkan peringatan Caroline. Jemariku membuka salah satu aplikasi media sosial, lalu mengetik nama panggungku.Mika Alexa.Butuh kurang dari
Rasa berdenyut di kepalaku membuatku terbangun dengan kelopak mata yang terasa berat. Aku meringis pelan sambil mengangkat tangan untuk memijat pelipisku. Rasanya seperti ada seseorang yang tanpa henti memukul tengkorakku dengan palu.Sial... kepalaku.Aku memaksa membuka mata sedikit demi sedikit. Langit-langit berwarna putih dengan lampu kristal yang menggantung tepat di atas ranjang menyambut pandanganku. Aku mengerutkan dahi.Ini... bukan kamarku.Jantungku langsung berdegup lebih cepat.Aku bangkit tergesa-gesa, tetapi kepalaku kembali berdenyut hingga membuatku kehilangan keseimbangan. Tanganku spontan menopang tubuh di atas kasur yang berantakan.Kasur...Berantakan?Napasku tercekat.Aku menunduk menatap diriku sendiri."Ya Tuhan..."Aku hanya mengenakan sebuah kemeja putih pria yang panjangnya hampir menutupi pahaku. Kemeja itu jelas bukan milikku. Ukurannya terlalu besar hingga salah satu bahunya melorot memperlihatkan kulit bahuku.Panik mulai menjalar ke seluruh tubuhku.A






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.