MasukHidup Salma Aurelia berubah drastis ketika ia kembali ke ibu kota. Pertemuan dengan saudara kembarnya yang lama terpisah justru membawanya pada kenyataan pahit dan sebuah permintaan yang tak masuk akal. Butuh waktu bagi Salma untuk mencerna semuanya, tapi ia harus memberikan keputusan secepatnya. Di tengah dilema, Salma harus memilih: menolak, atau menerima peran yang bisa mengubah seluruh hidupnya. *** "Pernikahan kita sementara, gairahnya pun sementara. Jadi, jangan ditahan." Salma refleks mundur saat Rivan terus mendekat, berusaha menghapus jarak di antara mereka. “To-tolong jangan,” lirih Salma. Namun, Rivan malah semakin menggebu-gebu. “Maksudnya jangan berhenti?” "Rivan, please stop. Ahh...."
Lihat lebih banyak“Sinting!” gumam Salma dengan nada kesalnya. Ia memang jarang mengikuti berita artis, sekalinya melakukan pencarian dengan keyword Nova Aurelia—saudara kembarnya yang telah sukses menjadi selebritas papan atas, kok bisa kebanyakan beritanya berisi hal-hal negatif semua?
Padahal Nova sebentar lagi menikah. Itulah yang menjadi alasan Salma kembali ke ibu kota setelah sepuluh tahun pindah ke sebuah kota nan damai bernama Senjaratu. Ya, Salma akhirnya punya alasan untuk kembali ke Jakarta, yakni untuk menghadiri pernikahan Nova.
Saking kesalnya dengan berita buruk tentang saudara kembarnya, Salma sampai langsung menekan home pada layar ponselnya. Memang paling benar tidak perlu buka-buka berita yang lebih mirip gosip. Terlebih judulnya penuh dengan klikbait.
Sungguh, meskipun Salma sudah berpisah dengan Nova sejak sepuluh tahun lalu, tepatnya saat mereka masih berusia 17 tahun, tapi hubungan mereka tetap baik. Tentu saja Salma kesal dengan segala pemberitaan buruk tentang saudara kembarnya itu.
Salma yang hendak menenggak minumannya, refleks mengurungkan niatnya saat seorang pria tiba-tiba mengambil alih gelas berisi kopi di tangannya. Salma mendongak, seorang pria berjas hitam dengan paras tampan dan tubuh proporsional bak model, saat ini sedang menatap tajam ke arahnya.
Pria tampan itu kemudian menyodorkan sebuah topi berwarna hitam, bahkan memakaikannya pada Salma, membuat wanita itu terperangah.
“Kamu nggak membaca pesan yang saya kirimkan?” tanya pria itu dengan suara baritonnya. Nada bicaranya terdengar dingin. Tatapannya pun se-tajam pisau.
“Pe-pesan apa?” balas Salma lalu mengecek ponsel. Rupanya ada pesan bahwa orang yang menjemputnya sebentar lagi tiba.
“Memangnya kamu siapa?” lanjut wanita itu.
“Memangnya sedang apa kamu di sini? Menunggu jemputan, kan?” Pria itu balik bertanya.
Setelah menempuh perjalanan laut selama kurang lebih tiga jam, Salma memang akan dijemput oleh orang suruhan Nova. Tunggu, apa pria tampan ini benar-benar orang yang diperintahkan menjemputnya?
“Ja-jadi kamu yang menjemputku?”
Pria tampan itu mengulurkan tangannya. “Saya Rivan, calon suaminya Nova.”
Sontak mata Salma membelalak lantaran terkejut. Sebenarnya apa yang ada di benak Nova sampai mengirim calon suaminya untuk menjemput? Maksudnya, memangnya tidak ada orang lain?
“Santai aja,” ucap Rivan, nada bicaranya tidak se-dingin sebelumnya.
Namun tetap saja, untuk ukuran calon suami Nova, menurut Salma ... Rivan itu tidak ada ramah-ramahnya. Bahkan, agak terkesan lancang.
Selama beberapa saat Salma mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Rivan. Tak sampai lima detik, tangan mereka sudah saling melepaskan.
“Pakai masker,” ucap Rivan yang lebih mirip perintah. “Topinya juga benerin.”
“Aku bukan Nova. Kenapa aku harus pakai topi sama masker?”
“Kamu memang bukan Nova, tapi wajah kalian sama,” balas Rivan. “Saya bahkan langsung mengenali kamu, padahal ini pertama kalinya kita bertemu.”
Rivan kembali berbicara, “Apa kamu mau orang-orang mengira bahwa kamu adalah Nova? Kamu nggak masalah dikerubungi banyak orang? Entah se-chaos apa, apalagi semua orang tahunya Nova akan menikah besok. Bisa-bisa menciptakan rumor baru kalau ada orang mengira Nova malah keluyuran di pelabuhan.”
Salma akui wajahnya memang se-mirip itu dengan Nova. Bahkan, terkadang saat ia melihat Nova di layar kaca, rasanya seperti sedang menonton diri sendiri. Hanya saja, mana mungkin orang-orang tidak bisa membedakan?
“Saya mungkin bisa membedakan, tapi orang-orang belum tentu,” ucap Rivan, seolah bisa membaca isi pikiran Salma. “Kamu bahkan seharusnya pakai kacamata juga,” lanjutnya.
Akhirnya, Salma menurut. Ia memakai topi dan masker lalu berjalan beriringan dengan Rivan menuju mobil pria itu.
Sepanjang perjalanan, hanya ada keheningan di antara mereka. Sampai kemudian mobil yang Rivan kemudikan mulai memasuki gerbang tinggi dan besar. Ini pasti rumah Nova. Meskipun ini pertama kalinya Salma datang, tapi ia sudah pernah melihatnya dari media sosial saudara kembarnya itu.
“Kalian jadi menikah besok, kan?”
Jujur saja, Salma merasa heran. Bukankah seharusnya Nova dan Rivan ini jangan bertemu dulu? Apa memang sudah tidak ada yang namanya tradisi pingit-pingitan lagi?
Mobil pun berhenti. Rivan mengajak Salma masuk ke rumah besar itu. Ia lalu diajak ke sebuah kamar yang diyakini sebagai kamar saudara kembarnya.
“Bisa-bisanya dia di kamar aja, alih-alih menyambutku,” gumam Salma, lebih kepada dirinya sendiri.
Detik berikutnya, tanpa banyak bicara Rivan membuka pintu kamar. Betapa terkejutnya Salma saat melihat Nova dalam keadaan terbaring lemah dan tidak sadarkan diri. Tak hanya itu, beberapa alat medis juga terpasang di tubuh kembarannya.
Tunggu, apa ini bagian dari prank? Nova sedang membuat konten menyambut saudara kembarnya dengan cara paling gila. Namun, bukankah ini terlalu niat untuk ukuran sebuah pembuatan konten? Juga, di mana letak kameranya?
“Beginilah keadaan Nova. Sudah tiga bulan dia terbaring koma seperti itu,” jelas Rivan.
“Ini nggak lucu,” jawab Salma. “Kalau ini lelucon untuk mengerjaiku, tolong hentikan.”
“Ini memang nggak lucu. Enggak ada satu pun orang yang menganggap ini lucu.”
Salma berjalan mendekat ke arah ranjang Nova. Kakinya lemas, tangannya pun bergetar. Ia masih ingin denial kalau ini hanyalah lelucon, tapi semakin ingin menyangkal ... semakin semuanya terlihat nyata.
“Dia kenapa?” lirih Salma, nada bicaranya kentara menahan tangis.
“Seperti yang diberitakan, dia jatuh dari lantai tiga. Kepalanya terbentur dan—”
“Enggak ada berita koma. Di berita dia baik-baik aja bahkan udah aktif lagi di medsos. Gimana ceritanya dia koma tiga bulan sedangkan selama ini dia rutin saling berbalas chat sama aku?”
“Itu saya. Makanya nggak pernah mau voice note dan video call,” jawab Rivan. “Sengaja dirahasiakan untuk menghindari hal-hal yang nggak diinginkan.”
“Ya ampun! Kenapa kamu merahasiakannya dariku? Hah?!” marah Salma, suaranya sampai bergetar. “Kamu bahkan tetap menyebarkan undangan pernikahan di saat Nova begini.”
“Untuk itu kamu harus menolong kami.”
Salma mengernyit. “Menolong?”
“Tolong gantikan Nova dan jadilah istri saya untuk sementara ... sampai Nova bangun.”
Salma tercengang.
Menggantikan Nova?
Menjadi istri sementara?
Salma yang masih terbatuk-batuk, hanya bisa memberi isyarat menggunakan tangannya kalau dirinya memang baik-baik saja. Meski ia sebetulnya masih belum bisa mengendalikan batuknya yang seolah tak mau berhenti.“Nova kenapa? Tersedak, ya?” tanya Septi yang baru kembali dari toilet. Ia tetap tenang sambil memukul-mukul punggung Salma bagian atas.“Iya. Dia tersedak,” jawab Anjar, yang masih telihat panik.Lagi, Salma memberikan isyarat pada Septi bahwa dirinya baik-baik saja sehingga tak perlu ada yang dikhawatirkan. Perlahan batuknya pun mereda hingga akhirnya sepenuhnya berhenti.“Aku baik-baik aja,” ucap Salma, membuat Septi dan Anjar terlihat lega.“Kamu ini. Bikin aku panik aja.” Septi berkata seraya mengambil posisi duduk.“Aku, kan, udah kasih isyarat. I’m fine. Masa kamu nggak paham?”“Tetep aja, kamu batuknya nggak berhenti-berhenti.”“Hampir aja aku mau ikutan pukul-pukul punggung kamu,” timpal Anjar.“Aku seperti itu gara-gara pertanyaan kamu, Anjar!” batin Salma.Salma hanya
“Hari ini Pak Rivan sibuk sekali. Bagaimana kalau kita mampir dulu untuk makan siang?” tawar Intan, sekretaris pribadi Rivan.Memang benar hari ini kegiatan Rivan lumayan padat. Sebagai co-owner sekaligus komisaris yang mengelola perusahaan taksi online milik keluarganya bernama Silver Wing, tentu saja Rivan bukanlah orang yang senggang.Pria itu memulai hari dengan meeting online di apartemennya dan dilanjutkan berangkat ke kantor. Melakukan rapat dengan para staf, mengerjakan banyak hal di ruang kerjanya, selanjutnya bertemu orang-orang penting seperti klien dan investor di luar kantor. Seperti beberapa saat yang lalu, Rivan baru saja meeting di kantor klien-nya untuk membicarakan kontrak layanan transportasi.Di usia Rivan yang baru menginjak 32 tahun, bisa dibilang ia mencapai posisi penting di perusahaan berkat privilege orangtuanya. Jika bukan terlahir dari keluarga Antonio yang memang sudah kaya sejak dulu, belum tentu Rivan bisa menduduki kursi co-owner se-pintar apa pun itu.T
Sepuluh tahun yang lalu....“Sebelum kita berpisah dan nggak akan bertemu lagi, aku mau jujur tentang sesuatu yang selama ini kamu belum tahu. Bukannya nggak mau kasih tahu, tapi waktunya selalu nggak tepat. Ternyata sekarang adalah waktunya,” ucap Salma dengan nada serius.Saat itu, Salma dan Anjar masih memakai seragam SMA yang sama. Mereka masih sangat muda.“Dari tadi terus-terusan bilang kita nggak akan bertemu lagi, padahal belum tentu. Aku termasuk yang percaya red string theory,” balas Anjar.“Serius, An. Aku mau jujur tentang sesuatu yang aku pikir bakal bikin kamu kaget. Kaget banget. Pasti.”“Aku rasa nggak ada yang lebih mengejutkan dari tiba-tiba diputusin hanya karena orangtuamu cerai dan kamu mau pindah ke luar kota,” jawab Anjar. “Sampai detik ini pun aku masih belum sepenuhnya mencerna apa yang kamu katakan. Kita putus? Padahal kita baik-baik aja. Kita bisa menjalin hubungan jarak jauh dan—”“Aku punya saudara kembar dan kami kembar indentik. Kami sangat mirip satu sam
Salma tak menduga kalau dirinya bukan sekadar menggantikan Nova untuk sementara, tapi ada hal lain yang menjadi alasan dirinya melakukan segala kemustahilan ini. Ya, selagi Nova koma, ia berjanji akan menjaga Rivan agar jangan sampai berpaling dari adiknya. Terutama setelah melihat sang sekretaris, membuat Salma sadar kalau dirinya memang ditakdirkan untuk menjalani peran ini.“Se-jelas itu, kan? Kayaknya mulai sekarang kamu harus dengerin saranku deh, Nov. Suruh Pak Rivan ganti sekretaris.”“Aku udah mempertimbangkan itu sejak pertama melihat sekretarisnya nggak banget,” balas Salma.“Wah, serius? Biasanya kamu misuh-misuh lalu bad mood, tapi ujung-ujungnya bilang percaya kalau Pak Rivan itu tahan godaan. Enggak mungkin aneh-aneh, apalagi sekretarisnya itu bukan tipe Pak Rivan.”“Memang benar, Intan itu bukan tipenya Mas Rivan. Kamu lihat sendiri tipenya adalah Nova Aurelia. Tapi tetap aja, yang begitu memang harus disingkirkan, sih. Sekalipun Mas Rivan tahan godaan, tapi bukan berart












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan