INICIAR SESIÓN“Eira! Jangan berlari seperti itu! Nanti terjatuh!” seru Eryas, panik, berlari menyusul Eira yang melesat cepat dalam keadaan basah kuyup, hanya dibalut handuk kecil yang nyaris tak cukup menutupi tubuhnya.
Dari atas balkon, Eryas menunduk, matanya menangkap tubuh mungil Eira yang melintas di lantai bawah. Tanpa pikir panjang, ia melompat menuruni pagar dengan gerakan cekatan, mendarat tepat di hadapan gadis itu. “Mau ke mana?” tanyanya tajam. Tanpa memberi kesempatan, Eryas langsung merengkuh Eira ke dalam pelukannya, menahan tubuhnya yang masih berusaha meronta dengan tenaga kecil yang nyaris tak berarti baginya. “Hmph!” Eira menggeliat, mencoba melepaskan diri. Tapi Eryas tak bergeming. Dengan satu gerakan tegas, ia mengangkat tubuh gadis itu seperti mengangkat karung beras. Langkah kakinya mantap saat membawa Eira kembali ke kamar. Tanpa banyak bicara, ia meletakkan tubuh Eira di atas ranjang dengan hati-hati. Eira kembali meronta, tapi Eryas segera menahan kedua tangannya, memaksanya diam. “Jangan bergerak dulu! Kita pakai baju dulu! Nanti masuk angin!” Tatapan Eryas tajam. Ia beranjak ke arah lemari pakaian, membuka koper berisi pakaian Eira yang sebelumnya telah disiapkan oleh Renaldi. Ia mengambil sepasang piyama lengan panjang berwarna merah muda, bahannya lembut dan hangat. “Pakai ini saja agar kau lebih mudah bergerak.” Ia kembali mendekat, lalu memegangi tangan Eira dan memakaikannya baju dengan gerakan hati-hati. Eira tak melawan. Tubuhnya menggigil kedinginan, dan dia memilih diam saat Eryas menyelimutinya dengan pakaian hangat itu. “Baiklah, sudah selesai.” Eryas menghela napas, melepaskan pelan-pelan genggamannya dari tangan Eira. Namun tak lama, Eira menggeliat di atas ranjang, berguling-guling gelisah. Ia turun dan membuka koper pakaiannya sendiri, mengobrak-abrik isinya seperti mencari sesuatu. “Apa? Mau ganti pakaian?” tanya Eryas sambil mendekat. Eira menarik sebuah bra dan menyodorkannya ke arah Eryas dengan ekspresi polos namun bersikeras. Eryas mengangkat satu alis, memandangi bra itu. “Tidak usah pakai! Sekarang saatnya tidur siang. Kalau memakai itu saat tidur, akan membuatmu tidak nyaman.” Eira menggeleng cepat. Jelas sekali dia tidak berniat tidur. “Tidak mau tidur?” Eira mengangguk. Eryas mendengus pelan. “Tidak! Kau harus tidur!” katanya tegas, sebelum kembali mengangkat tubuh Eira dan membaringkannya ke atas ranjang, kali ini dengan kekuatan yang lebih serius. “Diam di sini! Aku tidak akan mengizinkanmu keluar!” Dengan cepat, Eryas berjalan menuju pintu dan menguncinya rapat. Ia menoleh, menyeringai jahil. “Bagaimana? Mau kabur ke mana?” Eira menatap tajam, penuh protes. Ia menarik seprei, mengacak-acaknya dengan kesal dan frustrasi. “Itu tidak akan berhasil, Eira…” ucap Eryas datar. Ia membuka lemari, mengambil belt hitam miliknya dan mengangkatnya ke udara. “Mau diam atau—” Belum sempat kalimat itu selesai, Eira sudah bersembunyi cepat di balik seprei, tubuhnya bergetar ketakutan. Eryas langsung membeku. Matanya menajam. Aura serius perlahan menghapus gurat kejahilan di wajahnya. Ia mendekat dengan pelan, berlutut di sisi ranjang. Tangannya menyibak seprei sedikit, lalu mengusap kepala Eira dengan lembut. Tatapannya jatuh ke punggung gadis itu yang tampak gemetar. “Luka di punggungmu... Apa karena dicambuk belt?” tanyanya, nyaris berbisik. Tangannya mengelus rambut Eira perlahan, berusaha tidak memancing trauma lebih dalam. Eira mengangguk pelan. “Boleh aku melihat lukanya?” tanya Eryas lagi, kali ini dengan nada yang sangat hati-hati. Namun Eira langsung menggeleng keras, membungkus tubuhnya erat-erat dengan seprei. “Ya sudah kalau tidak mau, tidak masalah.” Eryas berdiri perlahan, meletakkan belt ke tempat semula di lemari. Gerakannya seolah ingin menyingkirkan semua hal yang membuat Eira takut. Eira mengintip dari balik seprei, matanya mengawasi setiap gerak-gerik Eryas dengan waspada. Ia melihat pria itu membuka pintu kamar, lalu melangkah keluar tanpa mengucap sepatah kata pun, meninggalkannya sendirian dalam keheningan. Begitu pintu tertutup, Eira segera menoleh ke sekeliling. Pandangannya menyapu setiap sudut ruangan, mencari tempat persembunyian, jalan keluar, atau skenario darurat seandainya sesuatu yang buruk terjadi. "Pria itu... dia sebenarnya baik atau jahat?" pikir Eira dalam hati. "Dia ingin apa dariku?" Tatapannya perlahan menunduk, dan pikirannya melayang jauh ke masa lalu. --- Flashback: "Eira, besok kau harus menikah dengan Eryas." Nada suara ayahnya, Renaldi, terdengar dingin dan penuh tekanan. "Layanilah pria itu dengan baik! Ayah sangat tidak sabar ingin melihat anak hasil persilangan antara pria jenius dan wanita gila sepertimu. Entah gen siapa yang akan mendominasi anaknya." Tatapan Renaldi tajam menembus sanubarinya. "Jika Eryas melakukan sesuatu padamu, kau harus diam! Terima saja semua perlakuannya!" Flashback off. --- "Melayani? Melayani apa?" Eira mengerutkan kening, duduk sambil memeluk lutut di atas ranjang. "Soal anak... aku pernah membacanya di buku. Itu adalah proses biologis di mana sel sperma membuahi sel telur... tapi aku tidak tahu detailnya seperti apa..." gumamnya lirih, wajahnya menunjukkan kebingungan yang mendalam. Lamunannya buyar ketika tiba-tiba pintu terbuka kembali. Eryas muncul membawa sekantong camilan dan sebuah kotak obat. Langkahnya tenang namun pasti, menyiratkan niat yang jelas. Ia duduk di sisi ranjang, lalu menyodorkan sepotong kue cokelat pada Eira. "Ayo kita barter. Kau boleh makan cokelat ini... tapi aku boleh melihat lukamu." Eira menatap kue itu dengan waspada. Matanya menyipit, pikirannya kembali menuduh dengan cepat. "Apa itu? Trik sogokan murahan! Dia sama saja dengan Ayah! Selalu menghalalkan segala cara demi mencapai tujuan! Apa ya namanya... suap?" Tatapan Eryas menajam. Ia memperhatikan ekspresi Eira yang terlihat berpikir keras, mencurigakan. "Gawat! Aku akan ketahuan kalau dia sampai mencurigai pikiranku!" batin Eira panik. Dengan cepat, Eira meraih cokelat itu dari tangan Eryas dan menunjukkannya dengan raut bahagia yang dibuat-buat. Ia langsung menggigit cokelat itu—tanpa melepas bungkusnya terlebih dahulu. “Krek!” Suara plastik terdengar jelas saat gigi kecilnya menggigit permukaan keras. Eryas melipat kedua tangan di dada, menatap Eira dengan dingin. "Jangan pura-pura bodoh. Kau tahu plastik itu harus dibuka dulu sebelum bisa memakan cokelat di dalamnya." "Ketahuan! Bagaimana ini?!" Eira membeku. Ekspresi kagetnya malah memperjelas kepura-puraannya. Seluruh tubuhnya menegang, matanya membulat panik, seperti anak kecil yang baru saja tertangkap basah mencuri biskuit.Udara malam yang tenang hanya dipecah oleh suara napas dua insan yang kini berada dalam ruang yang sama—ditemani aroma lembut minyak aromaterapi yang menyelimuti seluruh ruangan. Cahaya lampu redup memantul di kulit Eira, menciptakan bayangan halus di sepanjang lekuk punggungnya yang dipijat perlahan oleh tangan Eryas. "Jadi, kita tidak perlu melakukan hal seperti itu untuk mendapatkan anak?" tanya Eira dengan polos, suaranya terdengar lembut namun menggantung di udara. Eryas tersenyum kecil, tetap fokus pada pijatannya. "Sebenarnya hal itu diperlukan untuk foreplay. Tapi rencanaku adalah membuatmu relaks. Otot tubuhmu terlihat tegang. Ditakutkan jika melakukan penetrasi akan merasa sakit." Ia menekan lembut punggung Eira, suaranya terdengar lebih dalam namun tetap menenangkan. "Yang penting sekarang, nikmati dulu pijatannya. Buat dirimu relaks dan katakan jika ada yang membuatmu tidak nyaman!" Eira hanya mengangguk pelan. Ia menutup matanya perlahan, menyerahkan diri pada kehang
Matahari sudah sepenuhnya tenggelam, meninggalkan langit dalam balutan gelap pekat. Lampu di kamar menyala redup, menyebarkan cahaya hangat yang memantul di dinding. Di atas ranjang, sepasang suami istri itu telah berbaring berdampingan. Eryas memiringkan tubuhnya, menghadap Eira. Tatapannya lembut, namun di balik ketenangan itu ada aura dominan yang samar—seolah ia mengamati, menilai setiap reaksi kecil yang muncul di wajah Eira. Eira, yang menyadari tatapan itu, menoleh perlahan. Sorot matanya bertemu dengan mata Eryas, dan dalam sekejap udara di antara mereka menjadi begitu sunyi. Detak jam dinding terdengar jelas, berdenting pelan seperti menghitung waktu yang melambat. Eryas mengulurkan tangan, jemarinya menyentuh pipi Eira dengan lembut. Suaranya pelan, nyaris seperti bisikan. “Sudah malam. Ayo tidur,” titahnya lembut. Eira menggeleng cepat. “Tidak mau! Aku belum bisa tidur. Aku masih penasaran.” Eryas mengangkat alis sedikit, suaranya tetap tenang. “Tentang apa? Tentang c
“Kau mau uang?” tanya Eryas dengan nada datar tapi matanya menyiratkan rasa ingin tahu yang dalam. Ia kemudian merogoh sakunya perlahan, mengeluarkan dompet kulit berwarna hitam yang tampak sudah sering dipakai. Gerakannya tenang, penuh perhitungan, seolah bahkan tindakan sekecil itu memiliki makna tersendiri. Dari sela lipatan dompet, Eryas menarik selembar uang berwarna ungu, halus dan masih kaku, lalu menyerahkannya kepada Eira. “Karena kau baru pertama kali memegang uang, aku akan mengawasimu. Sekarang, ayo kita ke kantin dan aku akan mengajarimu cara menggunakan uang.” Eira menerima uang itu dengan kedua tangan, memandangi kertas berwarna ungu itu seperti benda asing dari dunia lain. Mata peraknya menatapnya penuh kebingungan dan kekaguman sekaligus. “Kantin?” gumamnya pelan, seolah kata itu sendiri terdengar aneh di telinganya. Eryas bangkit dari kursinya, jas dokternya berayun ringan. Ia mengulurkan tangan ke arah Eira dengan sikap penuh wibawa tapi lembut. “Benar. Kita a
Di ruang pemeriksaan, Eira hanya duduk diam di atas ranjang pasien yang terasa dingin. Bau antiseptik menusuk hidungnya, membuat dada terasa sedikit sesak. Tubuhnya tegang ketika alat-alat medis mulai dipasang satu per satu di kulitnya—beberapa terasa dingin, sebagian lainnya menggelitik. Eira menoleh ke samping, matanya menangkap gelembung aneh yang perlahan membesar di lengannya. Cairan transparan di dalamnya beriak lembut, seperti hidup. Jantungnya berdetak lebih cepat. 'Apa ini normal? Kenapa rasanya seperti tubuhku sedang diperiksa sampai ke tulang?' pikirnya, menelan ludah gugup. Beberapa menit kemudian, suara pena dokter yang menari di atas kertas terdengar begitu jelas di telinganya. Ketika pemeriksaan selesai, dokter itu menutup berkas hasil dengan suara klik lembut, lalu menyerahkan selembar catatan ke tangan Eira. "Ini adalah hasil pemeriksaan dan masa suburmu. Silakan tunjukkan ke suamimu," ucap dokter Marisa dengan suara lembut namun tegas. Eira memandangi lembaran it
Ara masuk ke dalam rumah sakit dengan langkah ringan, sebelah tangannya membawa segelas es teh manis yang masih berembun dingin. Cairan kecokelatan itu bergoyang lembut setiap kali ia melangkah cepat di lantai rumah sakit yang mengilap. Udara di dalam terasa jauh lebih dingin dibanding di luar, membuat embun pada gelas plastik itu menetes perlahan di sepanjang jari Ara. Tatapannya berputar mencari Eira, hingga matanya menangkap sosok berambut silver terang yang berdiri kaku di tengah koridor. Eira terlihat mencolok—seperti potongan cahaya yang tersesat di antara lautan jas putih dan seragam perawat. Ara segera berlari menghampiri, langkahnya bergema pelan di lantai ubin. “Kak Eira, ada apa?” tanyanya cepat, nada suaranya sedikit terengah namun tetap ceria. Begitu mendekat, senyum Ara perlahan memudar. Ia menatap wajah Eira yang tampak pucat, matanya berair, dan bibirnya sedikit bergetar. Ada sesuatu yang tidak beres. Ara mengikuti arah pandang Eira. Matanya menajam, menyipit sedik
"Memangnya kenapa?" tanya Eira dengan ekspresi bingung. Tatapan matanya polos, seolah tidak paham kenapa Ara tiba-tiba berubah nada. "Lupakan saja! Yang terpenting sekarang, kita harus berjalan ke arah rumah sakit itu. Kau mau bertemu dengan suamimu, kan?" Ara menunjuk lurus ke depan, ke arah gedung tinggi berwarna putih keabu-abuan yang menjulang di kejauhan. Logo rumah sakit di atasnya berkilau terkena sinar matahari, tampak megah dan sedikit menakutkan bagi orang yang belum pernah ke sana. Dari tempat mereka berdiri, gedung itu terlihat tidak terlalu jauh—tapi cukup untuk membuat keringat mengalir jika harus berjalan kaki ke sana. Eira mengangguk cepat, matanya berbinar seperti anak kecil yang baru melihat taman hiburan. "Ayo!" serunya bersemangat, lalu berlari ke arah rumah sakit tanpa pikir panjang. Langkahnya ringan, namun penuh energi—seolah semua rasa lelah di perjalanan tadi menguap begitu saja. "Kak Eira! Aku bilang berjalan saja! Jangan berlari!" teriak Ara sambil berus







