LOGINLantaran hidup sederhana dan sering kekurangan. Utami dan Akbar kerap dibandingkan dengan rumah tangga adiknya yang sudah mapan oleh ibunya. Mariah pun memperlakukan kedua anaknya itu dengan cara yang berbeda. Selain itu, prinsip Utami dan suaminya yang tidak mau membeli barang secara kredit menjadi cemoohan dan buah bibir para tetangganya. Diledek karena di rumahnya minim barang-barang karena tidak mau berutang. Satu hal yang belum diketahui Utami selama sepuluh tahun pernikahannya dengan Akbar adalah asal usul suaminya itu. Bagaimana juga sikap Ibu mertuanya setelah tahu siapa sebenarnya menantu yang dianggapnya miskin itu.
View More“Selamat datang di dunia orang dewasa, Gemma.”
“Yeah… menyebalkan.”
Gemma dan Jo menempelkan botol bir satu sama lain, menimbulkan suara denting yang memecah kesunyian malam. Mereka duduk di tangga depan rumah sembari menyesap bir dan menikmati udara malam yang dingin.
Gemma menenggak birnya sementara Jo meletakkan botol dan meraup setangkup keripik kentang dari mangkuk.
“Jadi… usahamu tidak berhasil?” tanya Jo, sebelum memasukkan keripik-keripik itu ke dalam mulutnya.
Gemma sebenarnya enggan untuk membahas soal ini. Namun Jo sudah meluangkan waktunya yang padat untuk menemani Gemma melewati keterpurukan, jadi Gemma tak punya pilihan lain selain menceritakan kegagalannya.
Setelah sekitar satu tahun mencoba mendirikan kelas pelatihan untuk anak-anak yang ingin menjadi Archturian, Gemma gagal karena kebanyakan dari mereka tidak kembali setelah waktu percobaan gratisnya habis. Pemasukan yang ia peroleh tidak sebanding dengan biaya hidupnya dan Lysis. Ya, Lysis tidak bisa bekerja di tempat lain dengan wajah kriminalnya, kecuali dia melakukan operasi plastik. Dan itu butuh biaya besar.
“Ya,” jawab Gemma sembari memandangi label yang menempel pada botol bir. Dia mengulurkan tangan dan mengayun-ayunkan botol sementara dirinya memeluk lutut dan menyandarkan dagu di situ. “Ini tidak semudah kelihatannya. Menjalani hidup seperti ini.”
“Apa Michael tidak meninggalkan apapun padamu?”
Gemma menggeleng. “Setidaknya dia tidak meninggalkan hutang.”
Mengucapkan kata hutang membuat Gemma kembali teringat pada masa lalunya, dan apa yang sudah ia lakukan untuk melunasi hutang-hutangnya. Dengan menjual temannya sendiri. Gemma rasa dia tak akan pernah bisa menyingkirkan perasaan bersalah itu sampai kapanpun.
Seandainya ia bisa memutar waktu, dia akan menolak tawaran itu. Mungkin dengan begitu, Maya akan tetap hidup.
Gemma menyandarkan kepala menyamping agar bisa melihat Jo, kemudian dia tersenyum masam. “Pasti ada jalan keluar,” kata Gemma. “Ini bukan pertama kalinya aku hidup susah.”
Jo membalas senyuman Gemma dan menepuk punggungnya pelan. “Yeah,” katanya. “Kau pasti bisa.”
Namun Jo terdengar tak yakin dengan kata-katanya sendiri... dan Gemma pun begitu.
Dia tak punya keahlian selain bertarung dan suaranya yang lumayan. Gemma mencoba peruntungan dengan kembali menjadi penyanyi, tetapi tidak ada tempat di Fiend yang bisa menyalurkan bakatnya. Dengan kondisi keuangannya sekarang, Gemma tak mungkin kembali ke Ayria. Dia tak punya tempat tinggal di sana dan biaya hidup di ibukota jauh lebih tinggi ketimbang di kota menyedihkan seperti Fiend.
“Apa kau tahu sekarang perpustakaan daerah digunakan untuk apa?” tanya Gemma.
“Mereka menghancurkannya lalu membangun gedung baru. Tetapi aku belum mengetahui gedung itu akan digunakan untuk apa.”
Gemma mengembuskan udara melalui mulut, membuat rambut yang menutupi keningnya berterbangan. Setelah itu dia berdiri dan membersihkan bagian belakang celana pendeknya.
“Aku akan tidur. Dan mungkin besok, saat aku bangun, akan ada sebuah keajaiban,” ucap Gemma, sembari mencoba untuk tersenyum, membesarkan hatinya sendiri.
Namun tentu saja, Jo tidak mudah dibohongi. Dia telah mengenal Gemma hampir seumur hidupnya. Ada sengatan air mata yang mengancam keluar dari balik mata Gemma dan ia mati-matian menahannya agar tidak mengalir keluar.
Jo menatap Gemma untuk sejurus lamanya, kemudian menghela napas. “Yah… semoga saja.”
Gemma masuk ke rumah, lalu Jo menyusulnya dengan membawa botol bir dan mangkuk keripik.
Lysis tengah tertidur di sofa dengan televisi yang masih menyala.
Gemma mengambil remote dan hendak mematikan televisi saat judul berita yang tertulis di situ menarik perhatiannya.
PENEMUAN MAYAT YANG MENGERING SEPERTI MUMI DI ULYOS
Ulyos adalah nama kota yang terletak di daerah utara Elenio. Tempatnya berlawanan dengan Fiend.
Gemma terpaku ketika melihat sepotong tangan yang tidak tertutup sensor. Kulit tangan itu kering dan keriput, memang terlihat seperti mumi. Terdapat alur-alur hitam di sepanjang tangan itu, bagaikan pembuluh darah yang dialiri tinta. Jo yang menyusul Gemma tak lama kemudian, ikut terdiam melihat berita itu.
“Apakah kau punya pemikiran yang sama denganku?” tanya Gemma, setelah topik berita berganti.
Gemma mendongak dan memandang Jo, yang balas memandangnya.
“Ya,” kata Jo. “Tapi… apa itu mungkin? Bukankah Lanaya sudah memusnahkan semuanya?”
“Ya, aku pikir juga begitu,” Gemma menelan ludah lalu mengerling ke arah Lysis yang sedang tertidur, “aku berpikir begitu sampai Lysis mengatakan sesuatu… dan menunjukkan sesuatu.”
Kedua alis Jo mengerut hingga ujung-ujungnya nyaris bertaut. “Mengatakan dan menunjukkan apa?”
“Lebih baik kita bangunkan dia.”
Gemma meletakkan botol birnya ke atas konter dapur lalu menghampiri sofa tempat Lysis tidur dan menendangnya sekuat tenaga. Sofa itu bergeser, menimbulkan derit yang memekakkan telinga, dan membuat Lysis terlonjak. Dia berguling hingga terjatuh ke lantai dengan bunyi debam yang menyakitkan.
“Wow, wow, wow! Gemma! Tidak bisakah kau membangunkannya dengan cara yang lebih manusiawi?!” seru Jo. Dia memegang kepala dengan dua tangan karena terlalu terkejut.
“Aku sudah pernah mencobanya, Jo. Tidak berhasil,” sahut Gemma seraya melipat tangan di depan dada, menunggu Lysis berdiri. “Ini cara paling ampuh untuk membuatnya bangun.”
“Tuan Putri!” pekik Lysis, yang langsung berdiri. Kedua kakinya goyah dan kepalanya berputar seperti orang mabuk. “Tuan Putri! Saya tahu Anda akan kembali!”
Gemma menghampiri Lysis dan menamparnya. “Sadarlah, Lysis!” seru Gemma. “Lanaya sudah mati!”
Lysis mengerjap-ngerjapkan mata, nampak bingung dengan keadaan sekitar. Kemudian pandangannya berfokus pada Gemma dan bibirnya mencebik sedih. “Tuan Putri!” dia mengerang.
Gemma muak karena harus melihat rengekan Lysis setiap kali dia bangun tidur. Seolah ingatannya kembali ke masa dimana Lanaya masih hidup.
“Cuci mukamu dan kembali kemari,” perintah Gemma. “Aku tidak mau mendengar rengekan apapun saat kau kembali ke hadapanku.”
Dengan langkah gontai, Lysis menyeret kakinya menuju ke kamar mandi. Sekitar satu menit kemudian, dia kembali dengan wajah segar dan kedua mata yang sudah fokus sepenuhnya.
“Jonathan,” sapanya pada Jo.
Jo mengangguk, mengerling ke arah Gemma dan mengatakan ‘kau tinggal dengan orang aneh’ tanpa suara, lalu kembali memandang Lysis.
Gemma mengedikkan kepala ke arah Jo sembari berbicara kepada Lysis. “Tunjukkan padanya apa saja hal yang sudah kau temukan.”
Lysis terdiam dan berkacak pinggang. “Ini hanya dugaanku saja,” katanya. “Aku tidak ingin menimbulkan keributan atau—“
Gemma melotot dan berdecak kesal. “Bisa tidak, kau tidak banyak bicara dan tunjukkan saja padanya?”
Lysis mengangguk dan menghilang ke balik pintu yang menuju ke kamar Michael. Semenjak tinggal di sini, dia menempati kamar Michael. Gemma senang karena Lysis tidak mencoba mengubah atau menyingkirkan barang-barang ayahnya.
“Bagaimana bisa kau hidup satu atap dengan manusia seperti dia?” desis Jo, sembari menunggu Lysis keluar dari kamar.
Terdengar suara-suara gaduh dari dalam kamar, kemudian teriakan Lysis yang berkata, “Aku baik-baik saja!”
Gemma menghela napas panjang. “Dia bukan manusia,” balas Gemma. “Aku berpegang teguh pada kenyataan itu. Dia bukan manusia. Jadi aku bisa memaklumi semua tingkah bodohnya.”
Tepat setelah Gemma selesai mengatakannya, Lysis keluar dengan sebuah buku besar dan tebal. Beberapa kertas koran mencuat dari tepi-tepi buku itu. Dia melewati Gemma dan Jo, menuju ke meja di depan sofa dan meletakkan buku itu di sana.
Gemma dan Jo mendekat. Jo mencondongkan tubuh agar bisa melihat isi dari buku yang Lysis bawa, sementara Gemma hanya berdiri di dekat mereka sembari melipat kedua tangan.
“Ini,” kata Lysis, “adalah artikel yang aku kumpulkan semenjak kejadian itu.”
“Ini—“ Jo tidak meneruskan kata-katanya. Matanya sibuk menelusuri setiap judul berita yang ada di situ.
“Menurut Lysis,” kata Gemma, “Draconian belum musnah dari Elenio.”
*
Kepergian Bapak membuatku semakin merasa bersalah. Pasalnya Bapak terkena serangan jantung setelah ada dua orang polisi mencari Mas Firman ke rumahnya. Mas firman memang akhir-akhir ini tengah dicari oleh banyak pihak. Kesalahannya semakin bertambah. Terakhir ia dilaporkan oleh salah satu temannya karena terlibat utang ratusan juta. Usut punya usut, ternyata uang itu ia gunakan untuk bermain judi online, selain bersenang-senang dengan jalang itu.Hidupku kini benar-benar kembali ke nol. Menumpang hidup di rumah Teh Tami dan mau tak mau harus bekerja untuk mencukupi hidupku bersama dua orang anak dan juga Ibu. Orang tuaku juga ikut-ikutan bangkrut karena ulah Mas firman. Untuk biaya tahlilan Bapak, Teh Tami yang menanggung. Saat ini aku mengandalkan uang kiriman Teh Tami untuk makan sehari-hari. "Tari, kita tidak mungkin terus menerus mengandalkan kakakmu. Kedepannya harus bisa mandiri. Kamu harus cari kerjaan. Anak-anak biar Ibu yang urus," ucap Ibu sore ini selepas acara tahlilan
Tangisku pecah setelah gundukan tanah basah dihadapanku ditaburi bunga-bunga beraneka rupa. Di dalamnya, jasad Bapak terbujur. Sore kemarin aku mendapat kabar dari Ibu kalau bapak berpulang secara mendadak. Padahal paginya kami masih berbincang di telepon. Lebih dari dua bulan aku tinggal di Jakarta, belum sempat pulang menengok beliau. Kami cukup direpotkan dengan urusan pindah sekolah anak-anak. Saat melakukan panggilan video, Bapak terlihat segar. Aku juga setengah tidak percaya kalau Bapak akan pergi secepat ini. "Sudah, Ma, ikhlaskan. Tidak baik meratapi kepergian seseorang yang kita sayang sebabkan itu akan menjadi beban baginya." Mas Akbar merangkulku kemudian tangan kekarnya terasa mengusap punggungku. Aku bukannya tidak ikhlas, tapi keinginanku untuk membawa Bapak berkunjung ke rumahku di Jakarta belum sempat terkabul. Beliau sempat memintaku untuk menunjukkan keadaan rumah kami di Jakarta saat kami melakukan panggilan video. Saat itu Bapak tak hentinya mengucap syukur
Niat menanyakan tentang Saras pada Mas Akbar masih harus aku tunda sampai anak-anak tidur. Biasanya mereka tidur cepat, tapi karena tadi di mobil sempat terlelap, jadi Farah sampai di rumah sangat susah disuruh masuk kamar. Begitupun dengan Suci. Setelah aku bujuk dengan alasan besok harus sekolah, akhirnya kedua anak perempuanku mau masuk kamar. Aku pun berganti pakaian dan membersihkan wajah. Lepas itu berjalan ke ruang tengah untuk menemui Mas Akbar. Meskipun dalam hati masih bingung, kalimat apa yang harus kusampaikan pada beliau untuk menanyakan perihal Saras. "Ponselmu tadi menyala dua kali." Belum juga aku duduk di sampingnya, Mas Akbar sudah menunjuk benda pipih yang tergeletak di atas meja. Aku baru ingat, ponsel itu tadi berada di tas. Mungkin karena berbunyi, Mas Akbar mengeluarkannya untuk melihat siapa yang menghubungiku. "Siapa yang telepon?" tanyaku seraya duduk di sampingnya. Lalu meraih benda tersebut. "Bi Ica." Mataku menyipit. Ada apa Bi Ica malam-malam telep
Minggu ketiga kami berada di Jakarta. Hari ini menjadi hari yang paling mendebarkan. Bagaimana tidak, kemarin sore pada saat Mas Akbar baru pulang dari kantor, beliau mengabarkan bahwa Papa dan Mama mertuaku ingin bertemu dengan kami. Kabar itu pun diperkuat oleh telepon dari Tante Devi, katanya papanya Mas Akbar, orang yang dulu paling menentang hubungan kami, sangat gembira ketika mendengar kabar menantu dan cucunya ini sudah ada di Jakarta. "Ini berkat kesabaranmu, Tami. Selama ini sudah mendampingi Akbar meskipun hidup kalian pas-pasan. Tante yakin kamu punya doa yang baik-baik untuk suami dan keluarganya." Itu yang diucapkan Tante Devi di akhir percakapan kami melalui telepon. Anak-anak pun begitu bahagia ketika mendengar akan bertemu dengan omah dan opahnya. Mereka juga bersemangat bangun pagi. Meski demikian, aku tidak lupa lupa memberi nasihat pada tiga anakku. Supaya mereka bisa menjaga sikap di rumah omah dan opahnya nanti. Terutama Farah yang sudah besar. Keluarga Mas
Segera aku menyusulnya ke rumah dan mendapati Lestari tengah menangis di pelukan Ibu. Ibu merangkul anak kesayangannya itu. "Ada apa? Apa Tari baik-baik saja?" Sebagai kakak, meski sering diabaikan, aku tetap peduli dengan adikku. "Belum pulang juga?" Ibu malah bertanya dengan raut tidak suka."Tadi
Aku hanya bisa memutar bola mata ketika mendengar Lestari bersikukuh ingin tidur di kamar depan. Kamar yang disiapkan untuk Farah dan anak itu terpaksa harus kubujuk susah payah. Malam ini anak-anak tidur di kamar satunya, bertiga dalam satu kasur. Sementara aku tidur di lantai. Hanya itu satu-satu
Seminggu kemudian, anak-anak sudah selesai ulangan. Aku pun sudah menemui kepala sekolah mereka untuk meminta izin dan mengurus surat-surat pindah. Tentu saja beliau tidak mengizinkan dengan alasan tunggu sampai kenaikan kelas. Tetapi, kalau mau izin pergi ke Jakarta diperbolehkan. Akan tetapi, su
Selesai menemani Bapak ke dokter, aku langsung berpamitan. Selain karena sudah tidak begitu khawatir, aku juga penasaran pada Bi Ica. Dari nada bicaranya aku tahu kalau wanita itu serius. Rasa ingin tahuku cukup besar, apalagi yang dilakukan oleh Siska lantaran Bi Ica terdengar sangat emosi. Tiba d






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews