مشاركة

Bab 2

مؤلف: Yuki Norin
Chicco maju sedikit. Sikapnya tetap sopan, tetapi tangannya memberi isyarat agar Nikita segera pergi.

Saat Darwis berbalik, dia kembali melirik Nikita sekilas dengan ekspresi datar. Suaranya tenang tanpa sedikit pun emosi. "Wartawan mungkin terus mengawasi. Di depan orang lain, kuharap kamu tahu apa yang boleh dan nggak boleh dikatakan."

"Jangan lupa posisimu. Jaga hubungan kita sebagaimana mestinya. Jangan sampai melibatkan orang lain. Untuk hal sesederhana itu, kurasa aku nggak perlu mengajarimu."

Nada bicaranya tetap lembut dan terkendali. Namun, setiap kata yang keluar dari mulutnya terasa seperti belenggu yang mengikat Nikita makin erat.

Sekilas terdengar seperti sebuah nasihat, padahal itu jelas sebuah peringatan.

Darwis memperingatkannya agar tidak bicara sembarangan di luar, tidak mengusik kehidupannya dengan Nirina, apalagi sampai membuat Nirina menjadi bahan gunjingan.

Dia menjaga harga diri semua orang, melindungi Nirina tanpa menyisakan sedikit pun celah.

Namun, dia melupakan satu hal. Orang yang menyandang gelar Nyonya Susanto adalah Nikita. Di antara kekacauan hubungan ini, dialah yang seharusnya paling dilindungi dan dipedulikan.

Tidak semua hal perlu diucapkan terus terang. Melalui sikapnya saja, Darwis sudah menginjak-injak harga dirinya hingga tak bersisa.

Nikita hanya mampu mencibir dalam hati.

Detik itu juga, dia akhirnya memahami perbedaan antara dicintai dan tidak dicintai.

Dia menahan semua rasa perih dan kecewa yang menggenang di matanya, lalu berbalik meninggalkan rumah sakit tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

....

Mobil melaju hingga memasuki halaman vila di Laguna Bay.

Itu adalah rumah yang secara nama menjadi rumah pernikahan mereka. Namun, selama tiga tahun terakhir hanya Nikita yang tinggal di sana. Dia menjalani hari demi hari dalam kesunyian di rumah yang begitu besar.

Dia tahu, malam ini Darwis pasti tidak akan pulang.

Nirina mengalami kontraksi akibat guncangan emosional dan kini dirawat di rumah sakit. Dengan kondisi sedang hamil, Darwis pasti akan tetap berada di sisinya dan menjaganya tanpa beranjak sedikit pun.

Tiga tahun menunggu, tiga tahun mencintai orang yang salah. Belum lagi penyakit yang terus menggerogoti tubuhnya, kini dia harus mengecap pengkhianatan dari orang yang paling dia cintai.

Sudah tidak ada lagi alasan baginya untuk terus membohongi diri sendiri. Kalau cinta memang sudah tak tersisa, setidaknya dia masih harus menyisakan sedikit harga diri.

Nikita menyalakan laptop, lalu menyusun surat perjanjian cerai dengan cepat. Setelah mencetaknya, dia meletakkannya dengan rapi di meja ruang tamu. Kemudian, dia menyeret tubuhnya yang lelah menuju kamar dan merebahkan diri di ranjang.

Kepalanya terasa berat. Ucapan dokter di ruang praktik, pemandangan Darwis yang melindungi Nirina di lobi rumah sakit, suara para wartawan, semua terus berputar di kepalanya tanpa henti.

Tanpa sadar, dia meringkuk. Kedua tangannya memeluk erat perut bagian bawahnya.

Selama dua tahun ini, dia bertahan menjalani pengobatan yang menyakitkan hanya demi bisa memberi Darwis seorang anak.

Namun sekarang ... tak ada lagi alasan untuk bertahan.

Sekitar pukul 3 dini hari, malamnya sepi. Saat Nikita tertidur dan setengah sadar, dia mendengar suara langkah kaki yang begitu pelan.

Sebelum kesadarannya pulih sepenuhnya, kasur di sampingnya sedikit turun. Sesaat kemudian, tubuh hangat seorang pria mendekat. Lengan yang kuat itu langsung merangkul pinggangnya, menariknya erat ke dalam pelukan.

Aroma cedar dan cemara yang dingin memenuhi penciumannya. Itu adalah aroma yang begitu dikenalnya. Aroma khas Darwis.

Tubuh Nikita langsung menegang. Darahnya seolah membeku.

Dia tetap memejamkan mata, berpura-pura masih tertidur.

Di awal pernikahan mereka, dia begitu menikmati kelembutan Darwis yang sesekali muncul di balik sikap dinginnya. Saat itu dia begitu bodoh hingga mengira itulah cinta.

Seandainya dia tidak melihat kejadian di rumah sakit siang tadi, mungkin pelukan Darwis yang tiba-tiba di tengah malam ini akan membuatnya bahagia. Dia pasti akan mengira penantian selama tiga tahun akhirnya berakhir.

Namun, yang dia rasakan sekarang hanyalah rasa jijik yang menusuk hingga ke tulang.

Pelukan Darwis makin erat. Tangannya mulai bergerak perlahan, berniat melakukan sesuatu yang lebih jauh.

Nikita tak sanggup lagi menipu dirinya sendiri. Dia mendorong tubuh pria itu sekuat tenaga, lalu turun dari tempat tidur tanpa mengenakan alas kaki dan menyalakan lampu di samping ranjang.

Cahaya hangat langsung memenuhi kamar. Wajah tampan Darwis yang dingin dan nyaris tanpa ekspresi pun terlihat jelas.

"Aku membangunkanmu?"

Nada bicaranya tetap rendah dan tenang. Tak ada sedikit pun rasa bersalah, juga tak selembut saat dia berbicara kepada Nirina.

Nikita hanya menatapnya dengan wajah dingin. Tak sepatah kata pun keluar dari bibirnya. Sorot matanya hanya menyisakan hawa dingin.

Darwis duduk perlahan. Pandangannya tertuju pada wajah Nikita yang pucat dan kuyu. Tak ada sedikit pun kegembiraan karena akhirnya bertemu kembali setelah sekian lama. Ekspresinya pun makin sulit ditebak.

Tanpa sengaja, matanya menangkap selembar hasil pemeriksaan rumah sakit yang terlipat di atas nakas. "Kamu sakit?"

Darwis mengulurkan tangan hendak mengambilnya.

Namun, Nikita lebih cepat. Dia menggenggam kertas itu erat-erat hingga ujung jarinya memutih. "Cuma flu biasa." Jawabannya terdengar datar dan penuh jarak.

Perhatian yang datang terlambat seperti ini terasa begitu tak berharga dan munafik, bahkan hanya membuatnya ingin tertawa.

Suasana kamar kembali sunyi. Di permukaan, mereka masih tampak seperti pasangan suami istri yang saling menghormati. Persis seperti saat baru menikah dahulu.

Namun, Nikita tahu sejak kejadian di rumah sakit tadi siang, semua kehangatan palsu itu telah hancur berkeping-keping dan tak mungkin disatukan kembali.

Ada begitu banyak pertanyaan yang ingin dia lontarkan. Dia ingin bertanya, apakah janji Darwis sebelum berangkat ke Negara Marenda, bahwa setelah pulang mereka akan memiliki anak, benar-benar ditujukan kepadanya? Atau janji yang sama juga pernah dia ucapkan kepada Nirina?

Dia juga ingin bertanya, kepulangannya kali ini untuk memenuhi tanggung jawab sebagai suami atau justru demi menemani Nirina menunggu hari persalinannya?

Namun, sebelum sempat membuka mulut, ponsel Darwis tiba-tiba berdering.

Layar ponsel menyala. Di sana hanya tertulis Bby.

Tiga huruf itu bagaikan jarum tajam yang menusuk jantung Nikita. Rasa sakit menjalar ke seluruh tubuhnya.

Tak lama kemudian, terdengar suara Nirina dari seberang. Lembut, manja, diselingi isak tangis. "Kak Darwis ... perutku sakit lagi. Aku takut .... Kamu bisa balik ke rumah sakit dan menemani aku nggak?"

Ekspresi Darwis sama sekali tidak berubah. Dia menutup telepon, mengambil jas yang tergantung di sandaran kursi, lalu berkata singkat, "Aku keluar sebentar."

Nikita menatap punggungnya yang tegap dan dingin. Akhirnya, dia berkata dengan suara serak, "Darwis, aku ingin bicara denganmu."

Hati Darwis sudah berada di tempat lain. Tak ada gunanya lagi mempertahankan pernikahan ini.

"Kita bicarakan setelah aku pulang."

Jawabannya terdengar asal. Langkahnya bahkan tidak berhenti. Dia terus berjalan menuju pintu. Tak sedikit pun terlihat niat ingin tinggal.

Melihat sikapnya yang begitu tegas, Nikita tersenyum sinis. "Kalau sekarang juga kamu melangkah keluar dari pintu itu ... kita cerai."

Suaranya pelan.

Namun, langkah Darwis langsung terhenti. Pria itu perlahan membalikkan badan. Matanya yang gelap dan dalam tertuju lurus ke arah Nikita.

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Terlambat: Setelah Cerai Baru Mengaku Cinta   Bab 92

    Baru setelah kenyataan menamparnya dengan keras, akhirnya Nikita sadar bahwa sedalam apa pun cintanya, semuanya begitu murah hingga terasa menggelikan di hadapan sikap dingin seseorang.Tidak mencintai tetaplah tidak mencintai. Sebanyak apa pun ketulusan yang diberikan, tetap tidak akan ada gunanya.Sesaat sebelum jam pulang kerja, telepon internal dari meja resepsionis tersambung ke ruangannya.“Bu Nikita, ada seorang pria di bawah yang mengaku sebagai suamimu. Dia sedang menunggumu.”Jari tangan Nikita sedikit tertegun. Dia mengiakan dengan datar tanda dirinya telah mengerti, lalu mengambil tasnya untuk berjalan ke lantai bawah.Di sisi pintu masuk gedung, mobil Darwis terparkir di bawah cahaya lampu yang remang-remang.Nikita menghampiri, lalu mengetuk pelan kaca jendela mobil.Kaca jendela perlahan terbuka. Sorot mata pria itu tampak dingin dan tenang. “Masuk mobil.”“Kalau ada urusan, langsung saja.”“Soal ruang rawat nenekmu,” ucap Darwis datar tanpa nada emosi. “Aku sudah menyur

  • Terlambat: Setelah Cerai Baru Mengaku Cinta   Bab 91

    Isi perjanjian perceraian yang disusun oleh Darwis sebenarnya cukup menguntungkan. Dia bersedia membagi rata harta di dalam negeri.Namun, itu juga berarti sebagian saham Evergreen Biotech yang menjadi bagian dari asetnya akan ikut terbagi.Berhubung Darwis terus menunda dan tidak mau membicarakan soal perceraian, Nikita tidak punya pilihan selain menempuh jalur hukum.….Keesokan harinya.Nikita menerima pesan singkat yang dikirim dari pengadilan. Permohonan gugatan yang diajukannya telah lolos proses pemeriksaan dan resmi diterima untuk disidangkan. Seluruh dokumen terkait sudah dikirim melalui layanan kurir.Berdasarkan perkiraan waktu pengiriman, Darwis akan menerima surat panggilan sidang perceraian tersebut pada hari ini.Saat menatap tulisan di atas layar, Nikita yang awalnya merasa gelisah sudah bisa mulai merasa tenang.….Setelah Darwis sadar dari mabuknya, kepalanya terasa sangat sakit.Saat turun dari tangga, dia spontan berkata, “Nikita, tuangkan susu.”Ketika Bibi Eva men

  • Terlambat: Setelah Cerai Baru Mengaku Cinta   Bab 90

    Nirina melihat notifikasi panggilan masuk sekilas dan keningnya seketika berkerut. Setelah memastikan Darwis bisa berdiri dengan stabil, dia pun berpesan dengan acuh tak acuh, “Kamu bantu aku jaga dia sebentar.”Selesai berbicara, Nirina langsung berjalan ke luar untuk mengangkat telepon.Nikita tersenyum sinis sembari melirik sinis, kemudian tubuhnya yang berat langsung jatuh bersandar ke arah Nikita. Dia tidak menghiraukan Darwis sama sekali, hendak berjalan pergi.Kesadaran Darwis sudah mulai kabur. Langkahnya juga sempoyongan. Namun, seolah-olah hanya mengenali Nikita, dia menghampiri Nikita dengan terhuyung-huyung, kemudian tubuhnya yang berat langsung jatuh bersandar ke arah Nikita.Bau alkohol yang bercampur dengan aroma parfum Nirina langsung menyeruak, membuat Nikita mengernyit.Nikita mendorong Darwis sekuat tenaga. Namun, tubuh pria yang tinggi itu sama sekali tidak bergeming.Nikita menggertakkan giginya hendak melepaskan tangan yang disandarkan di atas pundaknya.Namun, ce

  • Terlambat: Setelah Cerai Baru Mengaku Cinta   Bab 89

    Nikita tentu tidak bermaksud seperti itu.Hanya saja, Nikita sudah terlalu lama meninggalkan industri ini. Dia baru kembali, tetapi malah menikmati fasilitas seperti ini, dia pun sungguh merasa tidak tenang.Nikita menggigit bibirnya. “Aku bisa terima gaji, tapi mengenai pembagian laba ….”“Jangan menolak.”Alice yang berada di samping berjalan mendekat dan langsung merangkul pundak Nikita. “Kamu memang punya bagian dalam Evergreen Biotech. Hanya saja, waktu itu kamu fokus dalam pernikahanmu dan menyia-nyiakannya selama bertahun-tahun. Sekarang kamu sudah bisa kembali secara resmi dan mencurahkan seluruh perhatianmu untuk Evergreen Biotech. Semuanya tetap seperti semula.”“Aku dan Pak Adler adalah pemegang saham besar. Kami nggak keberatan, jadi kamu nggak usah bersikap sungkan.”Nikita menggenggam kontrak itu dengan semakin kuat.Rasa percaya ini terlalu berat. Nikita tidak boleh mengecewakan mereka lagi.Nikita mengambil pena, lalu menandatangani kontrak tersebut.“Begini baru betul!

  • Terlambat: Setelah Cerai Baru Mengaku Cinta   Bab 88

    Dariel juga menulis di kolom komentar. [Kak Darwis sungguh memanjakannya. Bikin iri saja.]Seolah-olah air dingin seketika disiramkan dari atas kepalanya. Jari tangan Nikita terasa dingin, raut wajahnya seketika memucat.Semalam, di acara jamuan perayaan hari jadi pernikahan, Darwis masih berpura-pura menjaga hubungan baik dengannya. Namun, begitu acara selesai, Darwis langsung menemani Nirina menjalani pemeriksaan kehamilan. Cara Darwis menginjak-injak harga dirinya seperti ini benar-benar menunjukkan betapa dingin pria itu.Melihat raut wajah Nikita yang berubah muram, Alice segera menghiburnya, “Jangan dimasukkan ke hati. Wanita itu memang sengaja memancing emosimu.”Nikita menahan rasa isak tangisnya, lalu mengembalikan ponsel kepada Alice. Suaranya terdengar agak serak. “Aku nggak apa-apa.”“Apa ini namanya nggak apa-apa? Jelas-jelas dia lagi menginjak kepalamu!” Alice sungguh merasa emosi. “Sekarang, kamu telepon tanya Darwis!”Nikita tidak berbicara. Dia mengeluarkan ponsel hend

  • Terlambat: Setelah Cerai Baru Mengaku Cinta   Bab 87

    Di ruang makan lantai bawah, sarapan sudah disusun semuanya.Ketika Nenek melihat Nikita turun, dia segera melambaikan tangan dengan tersenyum. “Niki, kemari untuk sarapan.”“Aku sudah masak sup sarang burung walet khusus untuk kamu. Belakangan ini kamu capek hingga kurus sekali.”Nikita menarik napas dalam-dalam. Dia berusaha menahan emosinya, lalu duduk di tempat. “Terima kasih, Nenek.”Nenek sangat menyayangi Nikita. Dia tidak seharusnya melampiaskan amarahnya terhadap Darwis kepada sang nenek.Ketika melihat raut wajah Nikita tidak begitu bagus, Nenek mencedok bubur sembari bertanya, “Semalam turun hujan deras, Darwis malah pergi mengantar Nirina. Aku merasa nggak tenang. Aku pun sengaja telepon dia untuk panggil dia kembali.”“Tanganmu kan masih belum pulih. Kamu juga nggak membawa mobil. Mana pantas dia sebagai suami malah nggak menemanimu di rumah?”“Setelah selesai makan nanti, aku akan suruh dia antar kamu pulang.”Baru saja ucapan selesai dilontarkan, Darwis yang sudah mengga

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status