Share

Bab 3

Author: Yuki Norin
Tak ada keterkejutan. Tak ada kepanikan. Bahkan riak emosi sekecil apa pun tidak tampak di wajah Darwis. Rasanya seolah kata cerai yang baru saja diucapkan Nikita hanyalah ucapan sesaat yang sama sekali tak berarti.

Dia hanya berkata singkat, "Apa lagi yang kamu ributkan?"

Nada suaranya tenang, santai, dan nyaris tanpa emosi. Namun, di balik ketenangan itu terselip sedikit rasa tidak sabar.

Di matanya, Nikita adalah istri yang penurut, tahu diri, dan tak pernah merepotkannya.

Maka, ancaman cerai malam ini pun dianggapnya tak lebih dari ulah seorang wanita yang sedang merajuk. Hanya sikap kekanak-kanakan yang tak perlu ditanggapi.

Pada akhirnya, Darwis tetap pergi.

Pintu terbuka. Angin malam yang dingin menerobos masuk, mengusir sisa kehangatan yang masih tertinggal di dalam kamar. Bersamaan dengan itu, harapan terakhir di hati Nikita pun ikut lenyap.

Kata cerai yang dia ucapkan dengan sepenuh hati tadi benar-benar hanya dianggap sebagai rengekan yang tak berarti.

Nikita menyandarkan tubuhnya ke dinding yang dingin. Perlahan, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman pahit yang penuh ejekan pada dirinya sendiri.

Sungguh ironis.

Tadi dia masih bodoh menyimpan sedikit harapan, berharap semua ini hanyalah kesalahpahaman, berharap masih ada sedikit tempat untuk dirinya di hati Darwis.

Bahkan ketika kata cerai terucap, diam-diam dia masih berharap pria itu mau berhenti sejenak, bertanya mengapa atau setidaknya menunjukkan sedikit kepedulian.

Namun, kenyataan menghantamnya tanpa ampun.

Baru kinilah Nikita sadar, di hati Darwis dirinya memang tidak pernah berarti.

Malam itu, Darwis tidak pulang lagi.

Nikita pun tidak merasa kecewa, bahkan tak sedikit pun terkejut.

Wanita yang benar-benar ingin Darwis jaga siang dan malam memanglah Nirina yang kini dirawat di rumah sakit.

....

Keesokan paginya ....

Kabut tebal menyelimuti langit di luar jendela. Hujan rintik membuat suasana makin suram. Langit tampak kelabu.

Pada saat itulah ponsel Nikita berdering.

Telepon dari institut penelitian.

"Niki, ada proyek penelitian farmakologi tingkat nasional. Tim kita punya peluang besar untuk mendapatkannya. Besok malam ada rapat koordinasi. Kamu tertarik ikut nggak?"

Nikita tidak ragu sedikit pun.

Pernikahannya sudah berada di ambang kehancuran. Daripada terus terjebak dalam urusan cinta yang menyakitkan, lebih baik dia mencurahkan seluruh tenaga untuk pekerjaan. Karier adalah satu-satunya sandaran yang benar-benar bisa dia andalkan.

"Oke. Tolong siapkan semuanya dulu. Aku akan segera ke sana."

Setelah telepon ditutup, Nikita sama sekali tidak tahu bahwa sejak semalam beberapa foto diam-diam telah beredar di internet.

Foto-foto itu memperlihatkan kejadian di lobi rumah sakit. Saat Darwis berdiri di depan Nirina, menghalau para wartawan dengan ekspresi dingin sambil menjaga wanita hamil di belakangnya.

Seorang wartawan hiburan yang cukup berani mengunggahnya pada malam itu juga. Meski tidak menyebut nama siapa pun, orang-orang yang mengenal kalangan pemerintahan langsung tahu bahwa pria dalam foto itu adalah Darwis, wakil direktur termuda di Kementerian Luar Negeri.

Tak lama setelah kabar itu muncul, Darwis segera memanfaatkan semua koneksi dan pengaruhnya. Topik itu langsung diturunkan dari daftar pencarian populer. Unggahan dihapus. Komentar dikendalikan. Dalam waktu singkat, gelombang opini publik berhasil diredam.

Namun, sepandai-pandainya menyimpan bangkai, baunya tetap akan tercium.

Foto-foto itu akhirnya sampai juga ke rumah lama Keluarga Susanto dan jatuh ke telinga Nyonya Tua Susanto.

Sejak dahulu Nyonya Tua Susanto sangat menjunjung tinggi nama baik keluarga. Terutama reputasi rumah tangga Darwis. Begitu melihat cucunya melindungi perempuan lain di depan umum dengan sikap yang begitu intim, ditambah kabar bahwa wanita itu sedang hamil, beliau langsung murka.

Saat itu juga, dia memerintahkan seseorang menyampaikan pesan. Darwis harus segera mengajak Nikita pulang ke rumah keluarga.

Tak lama setelah menutup telepon, Nikita mendengar suara mesin mobil mendekat dari luar.

Darwis pulang. Selama tiga tahun bertugas di luar negeri, dia hanya sesekali kembali ke tanah air untuk urusan dinas. Kesempatan mereka bertemu pun bisa dihitung dengan jari.

Meskipun tahun pertama pernikahan mereka sempat menyimpan sedikit kehangatan, tiga tahun perpisahan telah menghapus semuanya. Kini, mereka tak ubahnya dua orang asing.

Melalui jendela, Nikita melihat pria itu turun dari mobil hitam.

Tubuhnya tinggi tegap. Mantel wol hitam yang dikenakannya membuat auranya makin dingin.

Dia memegang payung hitam bertangkai panjang sambil melangkah masuk ke rumah.

Makin dekat jarak di antara mereka, makin jelas pula wajah tampan dengan garis rahang tegas dan raut tajam. Namun anehnya, rasa asing di dalam hatinya justru makin kuat.

Pria yang berdiri di hadapannya itu memang adalah suaminya secara sah. Namun, selama tiga tahun pernikahan mereka, dia tidak pernah benar-benar masuk ke dalam kehidupan Nikita, apalagi menjadi bagian dari dunianya.

Saat Darwis masuk, Nikita sudah duduk tenang di sofa ruang tamu. Di atas meja masih tergeletak surat perjanjian cerai yang semalam dia cetak.

Darwis menutup payung, tetesan air hujan jatuh perlahan dari ujungnya. Nikita sudah berdiri di ambang pintu.

"Kenapa kamu nggak di kamar?"

Nada suara Darwis tetap datar. Meski terdengar seperti sedang menunjukkan perhatian, tak ada sedikit pun kehangatan yang bisa dirasakan.

Dahulu Nikita mengira sikap itu adalah bentuk ketenangan dan pengendalian diri. Kini dia baru sadar, semua itu hanyalah kepura-puraan.

Darwis sudah menjalin hubungan dengan Nirina, bahkan membuatnya hamil. Namun, dia masih sanggup berpura-pura menjadi suami yang baik di depannya.

Nikita membuka mulut. Dia sudah siap memintanya menandatangani surat perjanjian cerai.

Namun sebelum sempat berbicara, Darwis lebih dulu berkata.

"Ikut aku pulang ke rumah keluarga."

Nikita langsung mengerti. Kalaupun mereka ingin berpisah secara baik-baik, mereka tetap harus bekerja sama menghadapi keluarga.

Sesampainya di rumah keluarga nanti, mereka tetap harus berpura-pura menjadi pasangan yang harmonis di depan para tetua.

Sejak awal, pernikahan ini memang sebuah kesalahan.

Yang seharusnya menikah dengan Darwis adalah Nirina, putri kandung Keluarga Alinskie yang baru ditemukan kembali. Status kedua keluarga sangat sepadan. Semua orang tua tentu mengharapkan pernikahan itu.

Namun, saat itu Nirina entah dari mana mendengar rumor bahwa Darwis memiliki kelainan fisik sebagai pria. Dia menolak menikah mati-matian.

Karena baru saja kembali ke Keluarga Alinskie, dia juga tak ingin dicap sebagai wanita yang terlalu memilih pasangan. Akhirnya, dia menyusun rencana.

Dia memberi obat kepada Nikita, lalu menuduh Nikita telah menggoda tunangannya sendiri.

Di bawah tekanan kedua keluarga, Nikita akhirnya menikah dengan Darwis.

Mungkin saat itu Darwis bersedia menikahinya hanya karena rasa tanggung jawab dan berbudi. Sedangkan Nikita, dengan bodohnya percaya bahwa ketulusan bisa membuat seseorang jatuh cinta seiring waktu.

Dia bahkan menganggap hubungan mereka yang saling menghormati pada tahun pertama pernikahan sebagai awal dari cinta.

"Ada sesuatu yang ingin kubicarakan," ujar Nikita.

Tatapan Darwis sempat melewati surat perjanjian cerai di meja. Namun, dia sama sekali tidak menganggapnya penting.

"Kita bicarakan nanti setelah pulang. Jangan terus bersikap kekanakan."

Nikita menarik napas panjang.

Jelas sekali, kalau dia tidak ikut ke rumah keluarga, Darwis sama sekali tidak berniat membicarakan perceraian dengan serius.

Pria itu lebih dahulu keluar.

Nikita menghela napas, lalu masuk ke kamar untuk berganti pakaian seadanya sebelum menyusul.

Seperti biasa, dia membuka pintu kursi penumpang depan. Namun, pandangannya langsung terpaku. Beberapa boneka plushie tersusun rapi di dalam mobil.

Dahulu Nikita pernah ingin meletakkan boneka di sana, tetapi Darwis menolaknya. Katanya terlalu kekanak-kanakan. Sekarang ... dia justru membiarkan orang lain menghias mobilnya sesuka hati.

Nikita mengalihkan pandangan. Ujung jarinya menyentuh panel pintu mobil yang dingin. Bahkan duduk di dalam mobil ini saja sudah membuatnya merasa muak.

Melihat Nikita masuk, Darwis menutup map dokumen di tangannya, lalu melirik sekilas ke arahnya.

Tatapan mereka bertemu. Sorot mata Darwis tetap acuh tak acuh.

"Kenapa wajahmu pucat sekali?" tanya Darwis sekadarnya.

Nikita memalingkan wajah dengan jijik. "Bukan urusanmu."

Darwis menyalakan mesin mobil.

Dengan suara tenang, dia berkata, "Sudah sebesar ini masih juga ngambek."

Nikita mencibir dalam hati.

Jadi menurut Darwis, sekalipun dia melihatnya tidur dengan wanita lain, dia tetap harus diam, menerima semuanya, dan menjadi istri yang penurut?

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Terlambat: Setelah Cerai Baru Mengaku Cinta   Bab 94

    “Sedang makan malam dengan teman,” jawab Nikita. Setelah terdiam sejenak, dia berkata pelan, “Dulu aku sempat masuk bekerja di Evergreen Biotech, tapi dipecat oleh Adler.”Evelyn mengernyitkan keningnya. “Dengan latar belakang dan pendidikan sepertimu, apa perlu kamu dipilih-pilih orang? Lagi pula ada Darwis, kamu bisa bekerja di mana saja.”“Aku ingin mengandalkan kemampuanku sendiri,” jawab Nikita dengan tenang, “Hanya saja, aku nggak menyangka Ibu akan bekerja sama dengan Evergreen Biotech. Tadinya aku kira Pak Adler hanya akan selalu memihak Nikita ….”“Memihak dia?” Evelyn tersenyum dingin. “Apa dia bisa dibandingkan dengan kamu?”“Kalau bukan karena dia, kamu dan Darwis yang sudah bersama sejak kecil pasti sudah bersama. Mana mungkin dia dapat giliran menjadi Nyonya Susanto.”“Adikmu itu memang terlalu pencemburu. Aku sudah memperlakukannya seperti anak kandung, memberinya begitu banyak selama belasan, bahkan hampir dua puluh tahun, tapi dia tetap tidak bisa menerimamu. Justru ka

  • Terlambat: Setelah Cerai Baru Mengaku Cinta   Bab 93

    Rasa mabuk perlahan mulai menyerang. Nikita bersandar di dekat jendela lorong untuk menghirup udara segar.Suasana di dalam ruang VIP begitu bising. Nikita benar-benar merasa sesak berada di sana, sehingga mencari alasan untuk keluar sejenak.Jamuan makan malam yang dihadiri Evergreen Biotech kali ini untuk membahas pengadaan peralatan laboratorium.Adler juga harus berusaha memperoleh arus kas yang cukup bagi perusahaan agar dapat mendukung penelitian berikutnya, apalagi peralatan laboratorium tersebut memang sangat dibutuhkan.Mereka tidak seperti lembaga pemerintah yang memiliki pendanaan stabil. Bagi mereka yang memilih merintis usaha sendiri, setiap pemasukan terasa sangat berharga.Angin malam berembus sepoi-sepoi dan langsung menyadarkan Nikita.Di sekitar sana, tiba-tiba terdengar suara tawa. Nikita spontan mengangkat pandangannya.Darwis dan yang lain sedang berjalan ke dalam restoran. Nirina bersandar di sisi Darwis, sementara Devina dan yang lain mengikuti dari belakang.“Ka

  • Terlambat: Setelah Cerai Baru Mengaku Cinta   Bab 92

    Baru setelah kenyataan menamparnya dengan keras, akhirnya Nikita sadar bahwa sedalam apa pun cintanya, semuanya begitu murah hingga terasa menggelikan di hadapan sikap dingin seseorang.Tidak mencintai tetaplah tidak mencintai. Sebanyak apa pun ketulusan yang diberikan, tetap tidak akan ada gunanya.Sesaat sebelum jam pulang kerja, telepon internal dari meja resepsionis tersambung ke ruangannya.“Bu Nikita, ada seorang pria di bawah yang mengaku sebagai suamimu. Dia sedang menunggumu.”Jari tangan Nikita sedikit tertegun. Dia mengiakan dengan datar tanda dirinya telah mengerti, lalu mengambil tasnya untuk berjalan ke lantai bawah.Di sisi pintu masuk gedung, mobil Darwis terparkir di bawah cahaya lampu yang remang-remang.Nikita menghampiri, lalu mengetuk pelan kaca jendela mobil.Kaca jendela perlahan terbuka. Sorot mata pria itu tampak dingin dan tenang. “Masuk mobil.”“Kalau ada urusan, langsung saja.”“Soal ruang rawat nenekmu,” ucap Darwis datar tanpa nada emosi. “Aku sudah menyur

  • Terlambat: Setelah Cerai Baru Mengaku Cinta   Bab 91

    Isi perjanjian perceraian yang disusun oleh Darwis sebenarnya cukup menguntungkan. Dia bersedia membagi rata harta di dalam negeri.Namun, itu juga berarti sebagian saham Evergreen Biotech yang menjadi bagian dari asetnya akan ikut terbagi.Berhubung Darwis terus menunda dan tidak mau membicarakan soal perceraian, Nikita tidak punya pilihan selain menempuh jalur hukum.….Keesokan harinya.Nikita menerima pesan singkat yang dikirim dari pengadilan. Permohonan gugatan yang diajukannya telah lolos proses pemeriksaan dan resmi diterima untuk disidangkan. Seluruh dokumen terkait sudah dikirim melalui layanan kurir.Berdasarkan perkiraan waktu pengiriman, Darwis akan menerima surat panggilan sidang perceraian tersebut pada hari ini.Saat menatap tulisan di atas layar, Nikita yang awalnya merasa gelisah sudah bisa mulai merasa tenang.….Setelah Darwis sadar dari mabuknya, kepalanya terasa sangat sakit.Saat turun dari tangga, dia spontan berkata, “Nikita, tuangkan susu.”Ketika Bibi Eva men

  • Terlambat: Setelah Cerai Baru Mengaku Cinta   Bab 90

    Nirina melihat notifikasi panggilan masuk sekilas dan keningnya seketika berkerut. Setelah memastikan Darwis bisa berdiri dengan stabil, dia pun berpesan dengan acuh tak acuh, “Kamu bantu aku jaga dia sebentar.”Selesai berbicara, Nirina langsung berjalan ke luar untuk mengangkat telepon.Nikita tersenyum sinis sembari melirik sinis, kemudian tubuhnya yang berat langsung jatuh bersandar ke arah Nikita. Dia tidak menghiraukan Darwis sama sekali, hendak berjalan pergi.Kesadaran Darwis sudah mulai kabur. Langkahnya juga sempoyongan. Namun, seolah-olah hanya mengenali Nikita, dia menghampiri Nikita dengan terhuyung-huyung, kemudian tubuhnya yang berat langsung jatuh bersandar ke arah Nikita.Bau alkohol yang bercampur dengan aroma parfum Nirina langsung menyeruak, membuat Nikita mengernyit.Nikita mendorong Darwis sekuat tenaga. Namun, tubuh pria yang tinggi itu sama sekali tidak bergeming.Nikita menggertakkan giginya hendak melepaskan tangan yang disandarkan di atas pundaknya.Namun, ce

  • Terlambat: Setelah Cerai Baru Mengaku Cinta   Bab 89

    Nikita tentu tidak bermaksud seperti itu.Hanya saja, Nikita sudah terlalu lama meninggalkan industri ini. Dia baru kembali, tetapi malah menikmati fasilitas seperti ini, dia pun sungguh merasa tidak tenang.Nikita menggigit bibirnya. “Aku bisa terima gaji, tapi mengenai pembagian laba ….”“Jangan menolak.”Alice yang berada di samping berjalan mendekat dan langsung merangkul pundak Nikita. “Kamu memang punya bagian dalam Evergreen Biotech. Hanya saja, waktu itu kamu fokus dalam pernikahanmu dan menyia-nyiakannya selama bertahun-tahun. Sekarang kamu sudah bisa kembali secara resmi dan mencurahkan seluruh perhatianmu untuk Evergreen Biotech. Semuanya tetap seperti semula.”“Aku dan Pak Adler adalah pemegang saham besar. Kami nggak keberatan, jadi kamu nggak usah bersikap sungkan.”Nikita menggenggam kontrak itu dengan semakin kuat.Rasa percaya ini terlalu berat. Nikita tidak boleh mengecewakan mereka lagi.Nikita mengambil pena, lalu menandatangani kontrak tersebut.“Begini baru betul!

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status