공유

Bab 4

작가: Yuki Norin
Suasana di ruang utama rumah Keluarga Susanto terasa begitu khidmat.

Nyonya Tua Susanto, Mega, duduk di kursi utama dengan ekspresi dingin. Tatapannya tertuju pada Nikita, dipenuhi rasa iba dan sayang. Namun, saat beralih ke arah Darwis, amarahnya tak disembunyikan sedikit pun.

Di hadapan seluruh anggota keluarga, Mega langsung membela Nikita dengan tegas, "Darwis, selama tiga tahun kamu bertugas di luar negeri, Nikita tinggal sendirian di rumah. Dia menjalani semuanya dengan baik, menjaga rumah tangga tanpa pernah sekali pun mengeluh."

"Sedangkan kamu? Baru beberapa hari pulang, sudah bikin masalah sebesar ini. Berita di luar sana sudah menyebar ke mana-mana. Foto-fotomu beredar di mana-mana. Kamu ini benar-benar sudah nggak tahu lagi batasan ya?"

Usai menegur cucunya, Mega menoleh kepada Nikita. Melihat tubuhnya yang kurus dan wajahnya yang pucat, nada suaranya langsung melunak.

"Niki, kamu sudah terlalu banyak menderita."

"Kalian sudah menikah tiga tahun. Sudah waktunya mulai memikirkan soal anak. Sekarang tugas Darwis di luar negeri juga sudah selesai. Mulai sekarang kalian bisa menetap di sini. Jangan ditunda lagi, segera rencanakan kehamilan. Selain mempererat hubungan suami istri, itu juga bisa membungkam semua gosip di luar."

Ucapan itu memang terdengar seperti desakan agar mereka segera memiliki anak. Namun sesungguhnya, Mega sedang membela Nikita. Mega sengaja menegaskan status Nikita sebagai istri sah Darwis agar semua rumor di luar sana kehilangan pijakan.

Nikita hanya menundukkan kepala. Dadanya terasa sesak dan perih. Namun, dia tidak mampu mengatakan apa pun.

Semua mata kemudian beralih kepada Darwis.

Pria itu tetap tenang. Tak tampak sedikit pun kepanikan saat menghadapi pertanyaan sang nenek maupun tatapan para tetua keluarga. Dia juga tidak menjelaskan hubungannya dengan Nirina.

Yang dia katakan hanyalah, "Itu cuma berita yang dibesar-besarkan wartawan. Mereka sengaja mengambil sudut foto yang menyesatkan, lalu membuat isu tanpa dasar. Nggak ada hal seperti itu. Nenek nggak perlu memikirkannya."

Hanya dengan beberapa kalimat ringan, dia berusaha menghapus semua kedekatan, semua keberpihakan, dan semua batas yang telah dia langgar.

Dia tidak mau memberikan keadilan sedikit pun kepada Nikita, tak mau menjelaskan kesalahpahaman itu, bahkan tak sudi menjaga sedikit saja harga dirinya.

Hanya dengan alasan "wartawan membesar-besarkan masalah", dia berharap Nikita menelan semua kepahitan itu, berpura-pura tidak terjadi apa-apa, lalu tetap menjadi Nyonya Susanto yang patuh dan bersedia merencanakan kehamilan.

Suasana di ruang tamu menjadi hening.

Mega memandang cucunya yang tetap keras kepala dan enggan memberi penjelasan, lalu menatap wajah Nikita yang pucat dan berusaha menahan semua luka di dalam hati. Rasa kecewa memenuhi mata Mega. Namun demi menjaga nama baik keluarga, dia tidak bisa terus mempermasalahkan hal itu di depan semua orang.

Sementara Nikita, harapan terakhir yang selama ini masih dia genggam akhirnya benar-benar hancur.

Pada saat itu juga dia menyadari, pernikahan ini sudah tidak mungkin diselamatkan lagi.

Tentu saja Darwis tidak terburu-buru.

Toh dia sudah punya anak.

Nikita kembali menunduk dan memilih diam.

Melihatnya seperti itu, Mega tahu suasana hatinya sedang buruk. Dia pun tak lagi membicarakan soal anak.

Sepanjang makan malam, pembicaraan hanya berisi basa-basi seperti biasanya, tak berbeda dengan jamuan-jamuan sebelumnya.

Namun hari ini, dada Nikita terasa seolah dipenuhi kabut dingin yang tak kunjung menghilang. Semua makanan terasa hambar di lidahnya.

Saat makan malam itu pula, adik Darwis, Dariel, juga pulang.

Dia adalah putra bungsu kesayangan Keluarga Susanto yang lahir saat kedua orang tuanya telah lanjut usia. Kini dia masih duduk di bangku SMA, sedang berada di usia yang paling penuh energi dan emosional.

Begitu melihat Nikita masuk, tak sedikit pun keramahan terlihat di wajahnya. Sebaliknya, dia mengernyit sambil menatap Nikita dengan rasa benci yang sama sekali tidak disembunyikan.

Nikita sudah terbiasa dengan sikap itu. Dia berpura-pura tidak melihatnya dan langsung duduk di tempatnya.

Usai makan malam, salju di luar turun makin lebat. Jalan pegunungan telah tertutup lapisan es sehingga tak mungkin dilewati. Semua orang akhirnya terpaksa menginap di rumah keluarga.

Nikita tak menyangka suhu di pegunungan akan sedingin ini. Dia juga tak menduga jalan pulang akan tertutup salju.

Pakaian yang dikenakannya terlalu tipis. Udara dingin menembus hingga ke tulang. Tiba-tiba, perut bagian bawahnya dilanda rasa nyeri yang menusuk. Wajahnya langsung memucat.

Dengan susah payah, dia berdiri, berpamitan singkat, lalu berjalan menuju kamar.

Saat melewati lorong yang diselimuti embun beku, dia melihat Darwis sedang menelepon di ujung lorong. Raut wajah pria itu begitu lembut. Itu adalah kelembutan yang belum pernah sekali pun dia tunjukkan kepada Nikita. Tak perlu ditebak lagi, orang di seberang telepon pasti Nirina.

Nikita tak ingin lagi memikirkan hubungan mereka.

Yang dia inginkan hanya kembali ke kamar dan berbaring.

Namun, rasa sakit di perutnya membuat kepalanya pening. Langkahnya menjadi goyah. Saat melewati Darwis, kakinya terpeleset dan tubuhnya kehilangan keseimbangan.

Darwis yang baru saja mengakhiri panggilan pun menangkap tubuhnya dengan sigap. "Kamu ini kenapa?"

Kalimat itu terdengar ambigu.

Sepintas seperti teguran karena dia tidak hati-hati saat berjalan. Namun di telinga Nikita, maknanya justru berbeda. Pria itu seolah berkata dirinya sengaja menjatuhkan diri ke pelukannya.

Tak jauh dari sana, Dariel melihat semua itu. Dia langsung mencibir sambil berjalan mendekat. "Buat apa pura-pura sakit segala?"

"Nenek memang gampang dibohongi sampai nggak bisa lihat sifatmu yang sebenarnya. Tapi aku beda. Mau menarik simpati siapa? Kamu pikir kakakku benar-benar menyukaimu?"

Nikita menarik napas dalam-dalam. Dia menahan nyeri di perutnya, juga menahan rasa sesak di dadanya.

Kini siapa pun merasa berhak menginjak harga dirinya.

Semua itu berawal dari sikap Darwis yang tak pernah peduli dan selalu membiarkannya menghadapi semuanya sendirian.

Sikap seorang suami akan menentukan bagaimana keluarga suaminya memperlakukan sang istri.

Jelas ... di mata keluarga Susanto, keberadaannya memang tak penting.

Nikita langsung mendorong Darwis yang masih menopangnya. "Aku nggak butuh belas kasihan dari siapa pun di Keluarga Susanto. Memangnya kamu pikir terlalu banyak?"

Dariel jelas tak menyangka dia akan membalas. Selama ini, Nikita selalu bersikap penurut dan menerima semua perlakuan keluarga mereka.

Wajahnya langsung menjadi muram. Dia spontan berkata, "Kamu ...! Pantas saja kakakku nggak pernah suka sama kamu. Yang dia sukai itu Kak Nirina!"

Tatapan Darwis langsung beralih kepadanya. "Dia kakak iparmu."

Nikita hanya tertawa dingin dalam hati.

Jawaban yang luar biasa. Kalau bicara soal berpura-pura, memang para pejabatlah ahlinya.

Sebagai seorang diplomat, Darwis pun termasuk yang paling piawai.

Sepintas dia terdengar sedang membela status Nikita sebagai kakak ipar. Namun, nadanya yang acuh tak acuh jelas menunjukkan bahwa orang yang dia sukai adalah Nirina. Mungkin, "dia" yang dimaksud pun adalah Nirina.

Nikita tak ingin mengatakan apa-apa lagi. Dia berbalik dan langsung menuju kamar tamu.

Setelah meminum obat pereda nyeri yang selalu dia bawa, dia meringkuk di atas kasur. Namun, rasa sakit di perutnya belum juga mereda. Rasanya seperti ribuan jarum menusuk tanpa henti.

Tak lama kemudian, seorang pelayan masuk sambil membawa semangkuk obat.

"Nyonya, tadi Nyonya Mega lihat wajah Nyonya kurang sehat. Beliau tahu Nyonya masuk angin, jadi minta dapur rebuskan obat. Silakan diminum selagi hangat."

Di rumah sebesar ini, mungkin hanya Mega yang benar-benar tulus mengkhawatirkannya.

Tenggorokan Nikita sedikit tercekat. Dia berkata dengan lirih, "Tolong letakkan saja di sana. Sampaikan terima kasihku kepada Nenek."

Setelah pelayan pergi, efek obat dan rasa lelah yang menumpuk membuat Nikita tertidur.

Semula dia mengira malam ini Darwis akan tidur di ruang kerja. Lagi pula, dia tidak mungkin berlama-lama di tanah air. Ditambah lagi hubungan mereka sudah berada di ambang perceraian, tak ada alasan bagi mereka untuk tetap tidur seranjang.

Sekitar pukul 11 malam, pintu kamar perlahan terbuka. Nikita terbangun.

Dia mendengar suara langkah kaki Darwis yang menuju kamar mandi. Suara air mengalir terdengar beberapa saat, lalu kembali hening.

Tak lama kemudian, kasur di sampingnya sedikit berguncang. Darwis naik ke tempat tidur.

Nikita menarik napas panjang. Dia hendak berbalik untuk mengatakan bahwa mereka sebaiknya tidur terpisah. Namun baru saja bergerak, Darwis sudah menahan belakang kepalanya. Bibir hangat pria itu langsung menempel di bibirnya.

Ciuman Darwis begitu lembut. Namun di balik kelembutan itu, tersembunyi hasrat untuk menguasai yang tak memberi ruang baginya untuk menolak.

Dahulu ... setelah lama tak bertemu, Nikita mungkin akan menyambut keintiman seperti ini dengan bahagia. Namun sekarang ... yang tersisa hanya rasa muak dan penolakan.

"Darwis!" Nikita memalingkan wajah sambil berusaha melepaskan diri. "Lepaskan aku!"

Namun, Darwis sama sekali tidak berniat melepaskannya.

Seluruh tubuh dan penciuman Nikita dipenuhi aroma khas pria itu.

Dengan gigi terkatup rapat, Nikita berkata, "Kalau ingin menggila, pergi cari Nirina saja!"

Begitu kata-kata itu terlontar, gerakan Darwis langsung terhenti.

Namun, lengannya yang melingkari pinggang Nikita tetap tidak dilepaskan. Dia hanya menghentikan ciumannya. Ujung hidung mereka hampir bersentuhan. Tatapan Darwis begitu gelap.

Perlahan, ibu jarinya mengusap bibir Nikita yang memerah akibat ciumannya. Dengan suara yang begitu pelan, dia berbisik, "Kamu memang bukan dia ...."

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Terlambat: Setelah Cerai Baru Mengaku Cinta   Bab 94

    “Sedang makan malam dengan teman,” jawab Nikita. Setelah terdiam sejenak, dia berkata pelan, “Dulu aku sempat masuk bekerja di Evergreen Biotech, tapi dipecat oleh Adler.”Evelyn mengernyitkan keningnya. “Dengan latar belakang dan pendidikan sepertimu, apa perlu kamu dipilih-pilih orang? Lagi pula ada Darwis, kamu bisa bekerja di mana saja.”“Aku ingin mengandalkan kemampuanku sendiri,” jawab Nikita dengan tenang, “Hanya saja, aku nggak menyangka Ibu akan bekerja sama dengan Evergreen Biotech. Tadinya aku kira Pak Adler hanya akan selalu memihak Nikita ….”“Memihak dia?” Evelyn tersenyum dingin. “Apa dia bisa dibandingkan dengan kamu?”“Kalau bukan karena dia, kamu dan Darwis yang sudah bersama sejak kecil pasti sudah bersama. Mana mungkin dia dapat giliran menjadi Nyonya Susanto.”“Adikmu itu memang terlalu pencemburu. Aku sudah memperlakukannya seperti anak kandung, memberinya begitu banyak selama belasan, bahkan hampir dua puluh tahun, tapi dia tetap tidak bisa menerimamu. Justru ka

  • Terlambat: Setelah Cerai Baru Mengaku Cinta   Bab 93

    Rasa mabuk perlahan mulai menyerang. Nikita bersandar di dekat jendela lorong untuk menghirup udara segar.Suasana di dalam ruang VIP begitu bising. Nikita benar-benar merasa sesak berada di sana, sehingga mencari alasan untuk keluar sejenak.Jamuan makan malam yang dihadiri Evergreen Biotech kali ini untuk membahas pengadaan peralatan laboratorium.Adler juga harus berusaha memperoleh arus kas yang cukup bagi perusahaan agar dapat mendukung penelitian berikutnya, apalagi peralatan laboratorium tersebut memang sangat dibutuhkan.Mereka tidak seperti lembaga pemerintah yang memiliki pendanaan stabil. Bagi mereka yang memilih merintis usaha sendiri, setiap pemasukan terasa sangat berharga.Angin malam berembus sepoi-sepoi dan langsung menyadarkan Nikita.Di sekitar sana, tiba-tiba terdengar suara tawa. Nikita spontan mengangkat pandangannya.Darwis dan yang lain sedang berjalan ke dalam restoran. Nirina bersandar di sisi Darwis, sementara Devina dan yang lain mengikuti dari belakang.“Ka

  • Terlambat: Setelah Cerai Baru Mengaku Cinta   Bab 92

    Baru setelah kenyataan menamparnya dengan keras, akhirnya Nikita sadar bahwa sedalam apa pun cintanya, semuanya begitu murah hingga terasa menggelikan di hadapan sikap dingin seseorang.Tidak mencintai tetaplah tidak mencintai. Sebanyak apa pun ketulusan yang diberikan, tetap tidak akan ada gunanya.Sesaat sebelum jam pulang kerja, telepon internal dari meja resepsionis tersambung ke ruangannya.“Bu Nikita, ada seorang pria di bawah yang mengaku sebagai suamimu. Dia sedang menunggumu.”Jari tangan Nikita sedikit tertegun. Dia mengiakan dengan datar tanda dirinya telah mengerti, lalu mengambil tasnya untuk berjalan ke lantai bawah.Di sisi pintu masuk gedung, mobil Darwis terparkir di bawah cahaya lampu yang remang-remang.Nikita menghampiri, lalu mengetuk pelan kaca jendela mobil.Kaca jendela perlahan terbuka. Sorot mata pria itu tampak dingin dan tenang. “Masuk mobil.”“Kalau ada urusan, langsung saja.”“Soal ruang rawat nenekmu,” ucap Darwis datar tanpa nada emosi. “Aku sudah menyur

  • Terlambat: Setelah Cerai Baru Mengaku Cinta   Bab 91

    Isi perjanjian perceraian yang disusun oleh Darwis sebenarnya cukup menguntungkan. Dia bersedia membagi rata harta di dalam negeri.Namun, itu juga berarti sebagian saham Evergreen Biotech yang menjadi bagian dari asetnya akan ikut terbagi.Berhubung Darwis terus menunda dan tidak mau membicarakan soal perceraian, Nikita tidak punya pilihan selain menempuh jalur hukum.….Keesokan harinya.Nikita menerima pesan singkat yang dikirim dari pengadilan. Permohonan gugatan yang diajukannya telah lolos proses pemeriksaan dan resmi diterima untuk disidangkan. Seluruh dokumen terkait sudah dikirim melalui layanan kurir.Berdasarkan perkiraan waktu pengiriman, Darwis akan menerima surat panggilan sidang perceraian tersebut pada hari ini.Saat menatap tulisan di atas layar, Nikita yang awalnya merasa gelisah sudah bisa mulai merasa tenang.….Setelah Darwis sadar dari mabuknya, kepalanya terasa sangat sakit.Saat turun dari tangga, dia spontan berkata, “Nikita, tuangkan susu.”Ketika Bibi Eva men

  • Terlambat: Setelah Cerai Baru Mengaku Cinta   Bab 90

    Nirina melihat notifikasi panggilan masuk sekilas dan keningnya seketika berkerut. Setelah memastikan Darwis bisa berdiri dengan stabil, dia pun berpesan dengan acuh tak acuh, “Kamu bantu aku jaga dia sebentar.”Selesai berbicara, Nirina langsung berjalan ke luar untuk mengangkat telepon.Nikita tersenyum sinis sembari melirik sinis, kemudian tubuhnya yang berat langsung jatuh bersandar ke arah Nikita. Dia tidak menghiraukan Darwis sama sekali, hendak berjalan pergi.Kesadaran Darwis sudah mulai kabur. Langkahnya juga sempoyongan. Namun, seolah-olah hanya mengenali Nikita, dia menghampiri Nikita dengan terhuyung-huyung, kemudian tubuhnya yang berat langsung jatuh bersandar ke arah Nikita.Bau alkohol yang bercampur dengan aroma parfum Nirina langsung menyeruak, membuat Nikita mengernyit.Nikita mendorong Darwis sekuat tenaga. Namun, tubuh pria yang tinggi itu sama sekali tidak bergeming.Nikita menggertakkan giginya hendak melepaskan tangan yang disandarkan di atas pundaknya.Namun, ce

  • Terlambat: Setelah Cerai Baru Mengaku Cinta   Bab 89

    Nikita tentu tidak bermaksud seperti itu.Hanya saja, Nikita sudah terlalu lama meninggalkan industri ini. Dia baru kembali, tetapi malah menikmati fasilitas seperti ini, dia pun sungguh merasa tidak tenang.Nikita menggigit bibirnya. “Aku bisa terima gaji, tapi mengenai pembagian laba ….”“Jangan menolak.”Alice yang berada di samping berjalan mendekat dan langsung merangkul pundak Nikita. “Kamu memang punya bagian dalam Evergreen Biotech. Hanya saja, waktu itu kamu fokus dalam pernikahanmu dan menyia-nyiakannya selama bertahun-tahun. Sekarang kamu sudah bisa kembali secara resmi dan mencurahkan seluruh perhatianmu untuk Evergreen Biotech. Semuanya tetap seperti semula.”“Aku dan Pak Adler adalah pemegang saham besar. Kami nggak keberatan, jadi kamu nggak usah bersikap sungkan.”Nikita menggenggam kontrak itu dengan semakin kuat.Rasa percaya ini terlalu berat. Nikita tidak boleh mengecewakan mereka lagi.Nikita mengambil pena, lalu menandatangani kontrak tersebut.“Begini baru betul!

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status