LOGIN"Mas..." Daniel mengetuk pintu ruang kerja Sagara sebelum melangkah masuk. Wajahnya terlihat lebih serius dari biasanya."Mas, dugaan kita ternyata benar."Sagara mengangkat pandangannya dari berkas di meja. "Soal sengketa tanah itu?"Daniel mengangguk. Ia meletakkan sebuah map berisi salinan dokumen dan hasil penelusuran di hadapan Sagara."Tim legal baru selesai mencocokkan riwayat kepemilikan tanah dengan arsip di kantor pertanahan. Ada satu nama yang terus muncul sebagai pihak yang berkepentingan."Sagara membuka map itu, matanya bergerak cepat menelusuri setiap lembar."Keluarga Kusumawardhana," gumamnya."Iya, Mas. Awalnya mereka nggak muncul sebagai pihak dalam gugatan, makanya sempat luput dari perhatian. Tapi setelah kami telusuri alur transaksi dan hubungan antarperusahaan, ternyata beberapa aset yang dipersoalkan pernah berada di bawah kendali keluarga Kusumawardhana sebelum dialihkan ke perusahaan perantara."Sagara terdiam, mencerna setiap informasi."Motifnya mulai masuk
Malam itu Sagara pulang jauh lebih larut dari biasanya. Sejak sore ia berpindah dari satu rapat ke rapat lain, disusul pembahasan dengan tim legal mengenai sengketa lahan yang mulai mengganggu proyek perusahaannya. Saat mobilnya akhirnya memasuki halaman rumah, jarum jam telah melewati tengah malam.Begitu membuka pintu, suasana rumah menyambutnya dengan keheningan yang menenangkan. Lampu ruang tamu masih menyala redup. Langkahnya terhenti ketika pandangannya jatuh pada sosok yang meringkuk di sofa.Latisha tertidur di sana.Sebuah buku masih terbuka di pangkuannya, sementara selimut tipis yang semula menutupi kakinya telah bergeser ke lantai. Kepalanya bersandar pada sandaran sofa, napasnya teratur, jelas menunjukkan ia berusaha menunggu hingga tanpa sadar tertidur.Sudut bibir Sagara terangkat membentuk senyum tipis.Ada kehangatan yang perlahan mengikis lelahnya seharian. Di luar rumah, ia harus menghadapi rapat, negosiasi, dan berbagai persoalan yang menuntutnya selalu tenang. Nam
Daniel kembali membuka map yang sempat ditutupnya. Kali ini ia mengeluarkan beberapa lembar dokumen yang sejak tadi dipisahkan—salinan sertifikat hak milik, peta bidang tanah, surat permohonan pengukuran ulang dari kantor pertanahan, serta beberapa dokumen lama yang sudah mulai menguning."Mas, lihat yang ini."Sagara menerima berkas itu tanpa banyak bicara. Tatapannya bergerak cepat menelusuri setiap halaman. Semakin lama ia membaca, sorot matanya semakin tajam, meski wajahnya tetap tenang."Mereka mengajukan permohonan pengukuran ulang.""Bukan cuma itu." Daniel menggeser surat lainnya. "Mereka juga mengajukan keberatan atas batas bidang tanah yang sekarang jadi lokasi proyek Mas."Sagara meletakkan berkas itu di atas meja."Alasannya?""Mereka mengklaim sebagian bidang tanah yang Mas beli dulu masih tercatat sebagai bagian dari aset perusahaan lama.""Padahal seluruh proses jual belinya sudah selesai.""Betul." Daniel mengangguk mantap. "Akta jual beli lengkap, sertifikatnya terbit
Hari-hari Latisha berubah perlahan.Tak ada lagi suara alarm yang memaksanya bangun terburu-buru karena harus mengejar jam masuk kantor. Pagi-paginya kini dimulai dengan membuka jendela kamar, membiarkan cahaya matahari dan udara segar memenuhi rumah, sebelum menyiapkan secangkir kopi dan sarapan untuk Sagara.Ia mulai menikmati rutinitas sederhana yang dulu terasa mustahil dilakukan. Menyiapkan sarapan, membantu Sagara mengenakan dasinya, mengantar sang suami hingga ke depan pintu, lalu berdiri di teras sambil melambaikan tangan sampai mobil itu menghilang di ujung jalan.Setelah rumah kembali tenang, Latisha membereskan meja makan, merapikan setiap sudut rumah, menyiram tanaman yang mulai bermekaran di halaman, lalu sesekali pergi ke supermarket untuk membeli bahan makanan segar. Di waktu luangnya, ia membaca buku-buku yang selama ini hanya tersusun rapi di rak, mencoba resep-resep baru, bahkan beberapa kali mengikuti kelas memasak daring hanya karena ingin menyajikan masakan yang
Keesokan paginya, rumah mereka kembali dipenuhi rutinitas sederhana yang kini terasa jauh lebih damai.Sagara berdiri di depan pintu dengan setelan jas yang rapi, bersiap berangkat ke kantor. Sebelum melangkah, ia menghampiri Latisha yang sejak tadi mengantarnya hingga ke teras.Jemarinya terangkat, menyelipkan beberapa helai rambut yang tertiup angin ke belakang telinga sang istri."Makasih yang semalam," ucapnya pelan.Latisha tersenyum kecil. "Sama-sama.""Dan soal keputusan kamu..." Tatapannya begitu teduh. "Nggak usah buru-buru. Pikirkan baik-baik. Apa pun yang kamu pilih nanti, saya akan tetap dukung."Latisha mengangguk pelan."Iya."Sagara mengecup lembut keningnya sebelum berbisik, "Hati-hati di rumah.""Kamu juga. Hati-hati di jalan."Pria itu baru saja berbalik ketika Latisha memanggilnya pelan."Mas."Sagara menoleh.Latisha melangkah mendekat, lalu merapikan kerah jas dan simpul dasinya yang sebenarnya sudah rapi. Jemarinya bergerak perlahan, seolah sengaja memperpanjang
"Kan saya sudah bilang, saya setuju kalau kamu mau resign." Suaranya tenang, tanpa sedikit pun nada memaksa. "Kalau kamu memang capek, atau ingin fokus sama hal lain, nggak masalah. Saya juga masih mampu mengurus kamu."Jemarinya mengusap lembut tangan sang istri."Jadi... kenapa sekarang malah bingung?"Latisha mengembuskan napas panjang sebelum memiringkan tubuhnya menghadap Sagara."Tadi aku ketemu Nadya.""Hm.""Dia bilang lebih baik aku tetap kerja." Tatapannya beralih ke langit-langit kamar. "Katanya aku harus buktiin ke semua orang kalau aku bisa ada di posisi sekarang bukan karena aku istri CEO. Kalau aku resign sekarang, orang bisa aja mikir aku mundur karena nggak kuat sama omongan mereka."Sagara mendengarkan tanpa menyela."Aku jadi kepikiran," lanjut Latisha lirih. "Takut keputusan buat resign ini bukan karena aku benar-benar pengin berhenti kerja... tapi karena aku lagi berusaha menghindari pandangan orang."Ia menatap suaminya."Aku nggak mau lari, Mas."Senyum tipis te
Hari ini, Latisha memilih mengajukan izin tidak masuk kerja. Keadaannya benar-benar tidak memungkinkan baginya untuk tampil di hadapan publik. Kabar yang beredar sejak kemarin nyaris sudah melebar ke mana-mana, apalagi nama papanya adalah salah satu yang kerap menjadi sorotan. “Mama mau bicara seb
Sagara baru saja kembali dari dapur dengan segelas air di tangan ketika suara lembut namun tegas itu menghentikan langkahnya. Malam sudah larut, rumah hampir sepenuhnya sunyi, namun satu panggilan itu menghentikan langkahnya.“Sagara.”Ia menoleh.“Ya, Ma?” tanyanya pelan, menatap Hana yang berjala
Pagi ini seharusnya menjadi pagi yang paling membahagiakan bagi Latisha. Pagi yang ringan setelah semua beban yang ia lepaskan lewat deeptalk bersama Sagara semalam. Untuk pertama kalinya dalam berbulan-bulan, ia merasa bisa bernapas tanpa beban.Namun semua itu runtuh begitu ia melangkah masuk ke
“Ada masalah?” tanya Sagara tiba-tiba. Suaranya tenang, tapi cukup untuk membuat Latisha yang sejak tadi melamun mengangkat kepala. Tatapannya bingung, sedikit kaget.“Enggak kok,” jawabnya cepat sambil tersenyum tipis. “Emangnya kenapa, Mas? Ada yang aneh dari aku?”Sagara tidak langsung menjawab.







