MasukKinan Maharani tak menyangka bahwa hidupnya akan berakhir seperti ini. Menikah dengan kakak ipar sendiri adalah hal yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Hanya perkara sang keponakan yang harusnya memiliki seorang ibu di usianya yang semakin bertambah, sehingga kedua keluarga berinisiatif untuk menikahkan dua insan dengan perbandingan sifat yang sangat jauh berbeda. Kinan sama sekali tak menyukai Rangga. Meski laki-laki itu termasuk jajaran makhluk good looking sekaligus good rekening. Tidak etis rasanya jika menikahi laki-laki yang bergelar kakak ipar. Namun, siapa yang akan menolak perintah dari ras tertinggi di muka bumi ini? Emak-emak berdaster, yang galaknya mengalahkan singa betina. Menolak akan dikatai anak pembangkang dan durhaka, tetapi jika menerima akan dicap sebagai gadis tak punya malu oleh para tetangga.
Lihat lebih banyak***
"Wah, ada Neng Nina. Mau belanja apa nih, biar Mamang siapkan!" Mamang Sayur tersenyum ramah di depanku. Suasana gerobak Tukan Sayur yang kebetulan sedang sepi, membuatku leluasa memilih sayuran segar untuk memasak hari ini.Jika dihitung, ini adalah kali kedua aku kembali pulang ke kampung setelah 3 tahun aku mengabdikan diri di kota seberang. Bukan tanpa alasan, aku bekerja banting tulang untuk menyokong hidup Bapak dan Ibu, serta biaya sekolah kedua adikku, Sari dan Dana.Ayah yang notabenenya hanyalah seorang tukang becak, seringkali penghasilannya tidak menentu. Apalagi sekarang Dana sudah menginjak kelas tiga Sekolah Menengah Pertama, dan Sari yang setahun lagi lulus Sekolah Menengah Atas.Setelah lulus Sekolah Menengah Atas, aku berangkat ke kota untuk mengadu nasib. Terbayang wajah Ayah dan Ibu jika aku harus berdiam diri di rumah hanya menunggu jodoh datang. Sudah menjadi hal lumrah disini, perempuan tidak perlu sekolah tinggi, karena kodratnya berada di dapur, sumur dan kasur.
Namun, aku bersyukur ketika Ayah dan Ibu tidak mengekang keinginanku untuk bekerja mengadu nasib di kota sebelah. Sempat mendapat penolakan. Tentu. Orang tua mana yang rela hidup jauh dari anak-anaknya, apalagi di jaman yang sudah mulai rawan melepas anak gadis sendirian di kota orang. Ayah sempat menentang keras permintaanku untuk bekerja dengan jarak yang lumayan jauh dari rumah. Tapi aku berhasil meyakinkan Ayah dan Ibu, hingga akhirnya mereka memberikan restunya padaku."Wah mau belanja ya, Nin?" seloroh Bu Nurma.
Melihat beberapa Ibu-ibu sudah datang dan memutari gerobak Mamang Sayur, aku mengulurkan tangan pada mereka satu per satu. Di kampungku, menjadi hal yang wajib ketika kita baru saja kembali bersua dengan tetangga setelah merantau cukup lama.
Para Ibu-ibu yang memang masih bertetangga dekat dari rumah menyambut uluran tanganku. Wajar saja jika mereka kaget tiba-tiba aku berada di tempat Mamang Sayur mengingat baru hari ini aku bisa keluar rumah dan bertemu beberapa tetangga dekat disini. Biasanya Ibu yang berbelanja, tapi karena hari ini Ibu sedikit masuk angin, maka aku yang menggantikannya.
Bukan karena aku tidak ingin keluar rumah. Bukan. Dua hari yang lalu aku datang hampir tengah malam. Beruntung suasana terminal masih sedikit ramai hingga tidak membuatku khawatir saat menunggu jemputan dari Ayah. Ketika pagi menjelang, Ibu malah jatuh sakit, membuatku harus ekstra merawatnya. Ayah bahkan melarangku memasak, dia rela membeli lauk jadi untuk makan kami sekeluarga."Iya, Bu. Kebetulan ibu sedang masuk angin, jadi saya yang menggantikan belanja," sahutku."Makanya, makanan itu harus yang sehat. Jangan taunya tahu sama tempe doang, Nin! Bilangin tuh Ibumu, masa anak kerja di kota belanjanya suka bayem sama tempe melulu. Malu dong sama Kang Sayur," seloroh Bu Nurma dengan melirik sinis ke arahku.
"Kalau untuk belanja bahan pokok, Ibu sudah beli di pasar gede, Bu. Disini tinggal beli yang belum ada aja. Lagian tempe dan tahu juga kaya protein kok. Kenapa harus malu, kan nggak ngutang sama Mamang. Ya nggak, Mang?" Mamang mengacungkan jempolnya lalu kembali berkutat menghitung belanjaan seseibu di sampingku."Halah, sok-sokan bilang protein. Dimana-mana itu ikan yang bikin sehat, bukan tahu sama tempe. Pantes saja ayah kamu terlihat lemas. La wong makannya nggak empat sehat lima sempurna!" Pedasnya ucapan Bu Nurma menelusup ke gendang telingaku sepagi ini. Jika saja tidak menjaga unggah-ungguh, sudah kulibas mulutnya dengan ulekan cabe sekilo.
Saat hendak membalas ucapan pedas Bu Nurma, kurasakan ada tangan yang mengusap punggungku. Kulirik Bu Tari tersenyum sambil berbisik, "Ngalah aja, bisa kemana-mana nanti yang dibahas. Sabar ya!" Aku mengangguk dan tersenyum.
"Wong susah aja gayanya bikin aku eneg! Ayahnya juga cuma tukang becak tapi kalo ngomong sok bilang tempe sama tahu itu protein. Bilang aja nggak bisa beli ayam atau ikan. Gitu kan beres! Sok pinter!""Ada yang salah kalau Ayah saya tukang becak, Bu? Saya mau beli tempe, tahu atau ayam sekalipun, kenapa Bu Nurma sewot?" Tidak kuperdulikan usapan tangan Bu Tari. Jika sudah menyangkut pekerjaan Ayah, hatiku mendadak panas. "Meskipun tukang becak, tapi pekerjaan Ayah saya halal. Ibu ngiri karena melihat saya kerja di kota, iya?"
"Eh, aku ini udah pengalaman kerja di kota. Siapa bilang kerja di kota itu enak, bayaran gede. Nyatanya nih, di depan mata, pulang dari kota malah beli tempe sama tahu. Nggak ibunya, nggak anaknya, sama aja!"Tanganku terkepal mendengar cibiran demi cibiran yang keluar dari mulut Bu Nurma. Kenapa dia yang kebakaran jenggot kalau keluargaku makan tempe atau tahu? Toh, selama ini kami memang terbiasa makan seadanya meskipun emang penghasilanku cukup untuk membeli makanan enak. Bagiku, tidak melulu pakai lauk ikan atau ayam, tempe dan tahu juga kaya akan protein.Berkali-kali kurasakan usapan lembut di punggung. Aku tau, Bu Tari mungkin tidak ingin aku meladeni Bu Nurma yang memang terkenal tidak mau kalah itu. Akhirnya, dengan sekuat tenaga menutup mulut, aku berhasil meredam emosiku agar tidak memuncak saat ini juga. Bu Tari ada benarnya juga, untuk apa aku melawan ucapan Bu Nurma, yang ada dia malah mencari topik lain untuk menyudutkanku."Sudah Mang! Cepat ini hitung, lama-lama mual aku kalau ngeliat tempe sama tahu." Bu Nurma menyerahkan sekantong kresek hitam pada Mamang."Tujuh puluh lima ribu, pas nggak pake koma," ujar Mamang Sayur dengan candanya yang khas."Ini lima puluh ribu dulu, kurangnya besok. Uangku seratus ribuan semua. Malas mau bolak balik kesini," ucapnya ketus dengan kembali menyelipkan dompet di sela-sela ketiaknya."Eh, biar nanti saya ambil ke rumah Bu Nurma aja. Saya ada kok kembaliannya," sahut Mamang dengan memainkan kedua alisnya.Bu Nurma membanting seikat kangkung di depan Mamang. Aku sedikit kaget dengan tingkahnya yang tiba-tiba anarkis begini.
"Aku bilang besok ya, besok, Mang!" bentak Bu Nurma. Dia kembali berbalik dan melanjutkan langkahnya."Utang maneh," gumam Mamang Sayur sembari mengelap peluh menggunakan topi usang miliknya.Beberapa Ibu-ibu menertawakan Mamang yang sudah kecolongan. Mungkin bagi mereka, gumaman Mamang barusan hanyalah sebuah kelakar. Tapi tidak menurutku, ada sebuah kekecewaan yang tergambar jelas di wajahnya. Aku paham, berjualan seperti ini memang harus pandai-pandai memutar modal. Jika banyak pembeli yang berhutang, tidak menutup kemungkinan Mamang akan kehabisan modal dan akhirnya berhenti berjualan.Kasihan. Meskipun dipaksanya senyuman tipis terbit di bibir Mamang, aku mengerti, rasa tidak enak hati membuat dirinya harus kembali mengalah pada pembeli.BersambungAku tersenyum masam saat menyadari pandangan orang lain terhadapku. Apa yang salah? Hanya karena aku berjalan dengan seorang pria, mereka lantas mengatakan bahwa aku adalah perawan tua yang haus kasih sayang. Seharusnya mereka senang, karena aku akhirnya bisa keluar dari belenggu kesesatan. Dosen-dosen muda itu malah mengejekku mengatakan bahwa aku perawan tua yang gatal. Mereka bahkan berdoa agar aku tak memiliki kekasih sampai tua. Dasar! Kukira mereka kawan, ternyata aku salah, merekalah lawan sesungguhnya. “Kau tahu siapa pria tampan yang berjalan bersama Bu Mega? Apakah pria itu pengganti Pak Rangga?”“Bu Mega benar-benar gila ya, muka pas-pasan, tapi gaetnya cowok elit. Dilihat dari pakaian dan postur tubuhnya, kemungkinan besar pria itu jauh lebih kaya dari Pak Rangga.”“Sekarang Bu Mega pasti gencar cari pengganti, wong usianya sudah tua. Bentar lagi kadaluarsa, kan?”Tawa keduanya membuat gendang telingaku terasa ingin pecah. Aku masih setia mendengarkan perbincangan panas m
Kutatap adegan yang tak pernah kuharapkan. Hatiku masih saja merasakan sensasi yang sama. Terluka, kecewa, dan iri. Padahal, aku sudah berusaha untuk terhindar dari kedua insan yang membuat perasaanku menjadi terguncang dan porak-poranda. Disana, Rangga dan Kinan sedang memamerkan kemesraan yang membuat dadaku sesak. Mengapa masih saja seperti ini? Kukira hatiku sudah berpaling, kukira tak akan terluka jika melihat keduanya, tetapi aku salah. Semuanya masih saja sama. Rangga masih saja berada di tempat yang sama di hatiku. Tersimpan dengan apik dan sempurna.Aku segera berpaling dan merubah haluan. Jika ada yang melihat, mungkin mereka beranggapan bahwa aku masih menyukai Rangga. Ya, meski itu benar, tetapi aku harus menutupinya. Aku tak berusaha memperbaiki pandangan orang-orang terhadapku, karena sebesar apa pun aku berusaha memperbaiki namaku, mereka tak akan mudah percaya. Ingat, ketika orang membencimu, mereka tak akan pernah melihat kebaikan yang kau lakukan. Karena kebaikan ter
“Sekarang aku tahu mengapa kau menyetujui perjodohan ini. Apa kau sangat menderita hidup di keluarga seperti itu?”Aku menoleh, menatap wajahnya dari samping. Dia tampak berkharisma saat duduk di balik kursi kemudi. Kacamata yang bertengger di hidung mancungnya tampak sangat sempurna, meninggalkan kesan dewasa. Ah, inilah definisi pria matang sempurna. Matang di pohon, bukan hasil karbitan.“Ya, begitulah. Aku sudah muak dengan tingkah keduanya. Kau ingin tahu apa yang diucapkan Aldrich tadi?”Dia sejenak menoleh, lalu kembali fokus ke jalan. “Memangnya dia berkata apa?”“Dia akan mencari cara agar hubungan kita bisa berakhir lebih cepat.” Aku menghembuskan napas kasar. “Aku ingin terbebas dari kukungan mereka, tetapi sepertinya keinginan itu sulit untuk kudapatkan.”“Mengapa kau terdengar pesimis. Aku akan membantumu untuk keluar dari situasi tersebut. Percayalah padaku.”Ada senyum tipis yang samar-samar terlihat di mataku. Apa aku bisa mempercayai pria ini? Pria yang baru kukenal b
“Kau dari bersenang-senang bersama Davin?” Aldrich duduk di sofa, menyilangkan kedua kaki sambil tersenyum masam.“Lihatlah! Dia terlihat sangat bahagia.” Tatapanku beralih pada Austin yang ternyata berdiri di tangga, ia pun menatapku tak suka. Selalu saja seperti ini. Aku selalu menjadi pihak yang tersudut. Mereka tak menyukai jika aku bersenang-senang bersama orang lain. “Ya, kalian benar. Aku bersenang-senang dengan calon suamiku.” Tak apa berbohong. Biarkan mereka kesal, karena saat aku bahagia bersama orang lain, mereka akan tersulut emosi. Entahlah, tetapi kedua saudaraku ini benar-benar berbeda.Austin melangkah dengan cepat, menuruni tangga dengan tatapan yang sulit kuartikan, seperti orang yang marah, atau terluka. “Kau tak bisa bersenang-senang dengan orang lain, Mega. Kau hanya bisa bahagia jika bersamaku.”“Apa kau bilang?!” Aldrich berdiri, mendekat dan merangkul pundakku. “Hei, Austin, jangan berkata seperti itu. Hanya aku yang bisa membuat Mega bahagia.”“Benarkah? Ap
Aku mengepalkan jari saat berada di hadapan ketiga sahabatku-–ya, aku masih menyebut mereka sebagai sahabat. Saat masih kecil dulu, kami bahkan tak pernah bertengkar lebih dari tiga hari, karena katanya hal itu tidak baik, tapi sekarang hubungan kami merenggang hampir sebulan. Aku tahu bahwa ini be
Mas Rangga bermain dengan Lala, pemandangan yang sangat jarang kulihat. Terlihat sangat harmonis dan hal itu sontak membuatku mengembangkan senyuman. Aku ingin ikut bergabung, tetapi rasa malu akibat perbuatanku tadi siang, sungguh membuat diriku ingin menjauh dari radarnya. “Bunda!” Panggilan it
Aku lagi-lagi tersenyum bahagia kala kembali mengingat kejadian tadi, di mana Devan mengajakku untuk makan bersama di salah satu kedai makan yang tak jauh dari kampus. Meski bukan di tempat mewah, tetapi aku tetap menyukainya. Di mana pun ia membawaku, meski itu warung pinggiran jalan sekali pun asa
Aku benar-benar tak tahu bagaimana lagi menghadapi dosen yang mengalahkan singa dan para jajarannya. Apa salahnya jika Devan yang menyelesaikan tugas yang diberikan padaku? Katanya aku melimpahkan tugas kepada orang lain dan tidak bertanggung jawab akan amanah yang diberikan. Hello! Dia pikir hanya












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasanLebih banyak