LOGINSesaat, Iris lupa cara bernapas. Suara deru napasnya yang terengah-engah tidak lagi terdengar. Suasana mendadak hening dan dia membatu. Matanya menatap lurus Silas. Tidak berkedip, tidak berpaling. Dia tidak melihat bagaimana ekspresi Silas atau Dominic yang masih ada di sana. Satu hal yang dia rasakan hanyalah emosinya yang mulai naik. Perasaan lelah yang menumpuk dan belum sepenuhnya hilang. "Kau bercanda."Iris tidak bertanya. Dia hanya berharap Silas benar-benar bercanda. Walau dia tahu, pria itu tidak sedang melakukannya. "Mulai dari awal."Rahang Iris mengetat. Kedua tangannya mengepal saat Silas kembali mengulang perintah yang sama. Tidak memberikannya sedikit pun rasa kasihan. Dia menyelesaikan lima putaran dalam keadaan setengah mati, tapi pria itu menyuruhnya mengulang seakan yang dilakukannya hanya menghitung angka. Rasa membakar di dadanya perlahan naik hingga kepala dan mencapai ubun-ubun. Wajahnya yang memerah karena lelah, kini bertambah merah karena amarah. "Leta
Seseorang pernah berkata kepadanya, semakin banyak seseorang berbicara, semakin bodoh dia akan terlihat.Sialnya itulah yang Iris rasakan saat ini. Dia harus mengutuk mulutnya yang bicara tanpa rem hingga berakhir terjebak dalam ucapannya sendiri. Iris tahu Silas bukan orang normal yang biasa mengajaknya berdebat, tapi meski tahu itu, dia terus melakukan kesalahan di depannya. "Tuan, tempat ini sudah dikosongkan sesuai yang Anda perintahkan."Seorang pria bersetelan hitam membungkuk di depannya dan Silas. Tepat di depan pintu masuk sebuah bangunan yang Iris sendiri tidak tahu apa. Dia hanya dibawa Silas tepat jam tujuh malam, ke tempat yang tidak terlalu jauh dari pelabuhan. Namun lebih tersembunyi dan dia melihat tempat itu dijaga. Lebih banyak orang dari rumah besar di tepi laut yang sempat dimasuki penyusup. "Tempat apa ini? Kau mau membawaku ke mana?" tanya Iris penasaran. Dia menatap pintu yang tertutup di depa
Dua hari berlalu. Pelaku tetap tidak ditemukan. Iris tidak mendengar kabar apa pun dari Dominic. Pencarian itu tak berarti apa-apa. Tidak ada titik terang. Sialnya karena itu, dia tidak memiliki semangat sama sekali. Iris hanya mengaduk makan siangnya tanpa benar-benar menyantapnya. "Nona, berhenti mengaduk makanan. Itu tidak akan membuat Anda kenyang."Iris mendengkus mendengar teguran Berta. Dia meletakkan garpunya dengan kasar. Tatapannya tampak menahan rasa frustrasi. "Aku bahkan tidak merasa lapar." "Tidak merasa lapar bukan berarti tubuh Anda tidak butuh makan.""Kau sangat cerewet, Berta," keluh Iris saat mendengar nasihat pelayan tua itu. Namun meski memprotes, dia akhirnya tetap menyantap makan siangnya dengan terpaksa. Meski rasa lapar itu tidak berarti apa-apa dibanding rasa takut yang masih terus membayanginya setiap saat. Iris masih tidak percaya musuh-musuh Silas berpikir dia bisa mengendalik
"Maafkan saya! Ampuni saya, Tuan!"Suara permohonan ampun yang berisik dan melengking, mengganggu Iris dalam tidurnya. Dia mengernyit, sebelum akhirnya membuka mata dan mendapati dia tidur sendirian. Iris mengucek matanya dan turun dari ranjang. Matahari telah naik. Sinarnya menembus area balkon, tapi suara ribut itu masih terdengar jelas. Memaksa Iris untuk membuka pintu balkon kamar Silas dan melirik ke arah bawah. Sesuai dugaannya, keributan itu berasal di bawah. Dia melihat beberapa orang berkumpul di halaman. Bahkan Dominic ada di sana. "Apa yang terjadi di sana?""Tuan Dominic menemukan ada pengkhianat atas insiden semalam, Nona."Iris terperanjat saat mendengar suara seseorang menyahut. Dia menoleh dan melihat Berta berjalan sambil membawa makanan. Hampir saja dia memprotes pelayan itu yang datang tiba-tiba, jika tidak teringat semalam Berta membantu menenangkannya. Iris mendengkus dan keluar dari balkon. Dia menghampiri Berta. "Pengkhianat? Maksudmu, orang itu bersekongkol
Sorot mata Iris berubah menusuk. Menatap lurus Dominic yang kini tersentak dan berkedip. Pria paruh baya itu terdiam beberapa saat, sebelum tersadar dan mengurut pelipisnya. "Astaga. Bukan begitu. Paman bukan tidak percaya padamu," ucapnya mengoreksi kesalahpahaman Iris.Namun Iris tidak langsung mempercayainya. Dia mengalihkan pandangannya ke arah lain. Memeluk tubuhnya dengan wajah ditekuk. Dominic melihat itu, hanya menghela napas. "Paman tidak berbohong. Paman hanya merasa aneh. Kenapa mereka menargetkanmu. Apa mereka benar-benar mengincarmu?"Wajah Iris yang ditekuk, perlahan kembali serius. Dia menoleh. Keningnya berkerut dalam. "Orang yang mau menculikku satu orang. Aku mendengarnya menelepon. Dia mengatakan bosnya melarang untuk menyakitiku. Dia mau membawaku melalui balkon, Paman.""Satu orang?"Dominic berkedip, lalu mengusap dagunya. Tampak seperti berpikir. Iris tidak tahu apa yang dipikirkan pria tua itu. Namun entah mengapa dia merasa ada sesuatu yang lain yang terjadi
Waktu menunjukkan tengah malam saat Iris tertidur di ranjangnya. Suara-suara di pelabuhan yang berisik, tidak terlalu terdengar ke rumah. Di sana suasana jauh lebih tenang. Terlalu tenang sampai suara benda jatuh dari arah balkon kamar, spontan membangunkan Iris. Matanya terbuka perlahan. Rasa kantuk masih terasa, tapi suara barusan terlalu jelas untuk diabaikan. Meski setelahnya, yang dilihatnya hanyalah kegelapan. Lampu kamar itu dalam keadaan mati. Satu-satunya cahaya yang terlihat hanyalah cahaya bulan dari luar balkon. Tempat yang juga merupakan asal suara berisik sebelumnya. Dia membiarkan lampu dalam keadaan mati. Sementara pandangannya sontak tertuju ke arah balkon, sampai telinganya menangkap sebuah suara langkah dan tampak siluet seseorang. Kesadaran Iris pulih seketika. Matanya membulat ketika menyaksikan siluet seseorang mendekati pintu balkon.Sosok yang entah siapa itu tampak mengotak-atik lubang kunci, seolah hendak membuka paksa. Iris bisa melihat pintu balkon yan
"Nona, Anda tidak serius kan?"Wajah Berta memucat. Pelayan tua itu memegang tangan Iris, tapi Iris tidak menoleh atau sekadar menepis kekhawatirannya. Fokus Iris sepenuhnya tertuju pada Silas yang kini berbalik dan berjalan kembali ke area lapangan bebatuan. "Nona, Tuan Silas bukan lawan Anda. A
Silas tidak menjawab. Pria itu hanya berjalan berdampingan dengan Marcus. Iris kembali diabaikan, tapi kali ini, dia tidak punya pilihan lain selain mengikuti keduanya. Mereka keluar dari ruangan dan kembali berjalan menyusuri lorong bangunan permanen itu. Hawa dingin dan segar yang beberapa menit
Black opal, Black Meridian, ular hitam dan sketsa senjata api. Empat hal itu berputar di kepala Iris sejak semalam dan dia tidak bisa berhenti memikirkannya sampai dengan pagi ini. Silas juga sama sekali tidak memberinya penjelasan lebih lanjut dan itu membuat rasa penasarannya semakin menjadi. K
"Aku tidak melihatnya. Apa dia pergi?"Iris menyantap makanannya seorang diri siang itu. Dia mengunyah daging tanpa melirik Berta yang ada di sebelahnya. Sudah terhitung dua hari sejak dia pulang dalam keadaan terluka. Silas tidak terlihat batang hidungnya dan dia tidak tahu seperti apa kondisinya







