Share

Menguji Batas

last update publish date: 2026-07-04 20:58:08

Seseorang pernah berkata kepadanya, semakin banyak seseorang berbicara, semakin bodoh dia akan terlihat.

Sialnya itulah yang Iris rasakan saat ini. Dia harus mengutuk mulutnya yang bicara tanpa rem hingga berakhir terjebak dalam ucapannya sendiri.

Iris tahu Silas bukan orang normal yang biasa mengajaknya berdebat, tapi meski tahu itu, dia terus melakukan kesalahan di depannya.

"Tuan, tempat ini sudah dikosongkan sesuai yang Anda perintahkan."

Seorang pria
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Tertawan oleh Don Mafia    Pertanyaan yang Sama

    Iris keluar gedung masih memikirkan jawaban Silas. Dia sama sekali tidak fokus pada hal lain, bahkan ketika penjaga menyapanya. Sampai nyaris saja Iris menabrak seorang pekerja yang melintas. "Astaga, maaf," ucapnya refleks. Namun alih-alih mendapat tanggapan baik, pekerja tersebut malah mendelik sambil menggerutu, sebelum akhirnya melanjutkan langkahnya. Meninggalkan Iris yang terdiam sambil meringis. "Pelabuhan ini akan diperluas?""Iya, kami butuh tempat yang lebih cukup untuk kapal-kapal yang semakin banyak."Suara Dominic. Tepat ketika suara itu tertangkap telinganya, Iris tanpa sadar langsung mencari asal suaranya. Hingga dia mendapati keberadaan Dominic yang berada beberapa meter darinya. Pria paruh baya itu tidak sendiri. Di sana rupanya masih ada Elara. Keduanya berdiri menghadap area pelabuhan, menyaksikan pembangunan baru yang masih setengah jadi. "Pelabuhan ini berkembang pesat di tangan Paman."Dominic tersenyum. "Paman merasa tersanjung mendengarnya, tapi sejujurny

  • Tertawan oleh Don Mafia   Dia Berbeda

    Perkataan Iris terputus tepat saat pintu ruangan dibuka. Tiga pasang mata spontan tertuju padanya. Iris bisa melihatnya. Itu adalah Dominic, Silas dan.... "Elara?" panggilnya setengah berbisik. Napas Iris tercekat. Matanya membulat ketika dia mendapati kehadiran seseorang yang tidak asing. Seperti dugaannya, memang ada wanita yang bersama Silas saat ini, tapi ini sama sekali bukan seperti yang dia bayangkan. Iris melihat sofa saling berhadapan dan sebuah meja tepat di tengahnya. Di mana Silas duduk bersama Dominic, sedangkan Elara berada di seberangnya. Di atas meja tersebut, matanya menemukan map-map yang tidak dia tahu apa itu."Tolong kau pikirkan dulu sebelum menjawabnya. Ini tidak akan membuatmu rugi, aku janji."Dahi Iris berkerut saat suara Elara memecah keheningan beberapa detik sebelumnya. Perhatian Elara tertuju kembali pada Silas, begitu pun pria itu. Seolah keduanya tidak peduli dengan dia yang masuk tanpa mengetuk. Satu-satunya orang yang memerhatikanya hanyalah Domi

  • Tertawan oleh Don Mafia   Wanita Lain?

    Matahari bersinar sangat cerah pagi itu. Cahayanya yang hangat, cukup untuk menyinari kamar Iris. Di mana saat ini dia sedang bercermin. Pakaian olahraga melekat di tubuhnya. Tidak terlalu ketat, tapi tidak juga longgar. Tubuhnya yang dulu tampak ringkih, kini terlihat sedikit berisi. Iris bisa melihat pergelangan tangannya yang tidak sekecil dulu. Wajahnya yang tirus pun, tidak terlihat lagi. Meski kulitnya masih sedikit pucat. Iris memutar tubuhnya untuk memerhatikan lebih detail, sebelum dia melihat tengkuknya. Luka-luka dulu yang disebabkan oleh Silas dan Elliot, kini tampak memudar. Walaupun gara-gara itu, tubuhnya tidak semulus dulu. Saat Iris mencoba menurunkan sedikit bajunya di bagian bahu, pintu ruangan tiba-tiba dibuka. Menyentaknya seketika dan refleks membuatnya mengalihkan pandanga."Oh, Nona, Anda sedang apa? Apa saya mengganggu?"Iris menghela napas kasar saat melihat orang yang membuka pintu adalah Berta. Kedua bahunya seketika terkulai lemah. "Berta, aku kira si

  • Tertawan oleh Don Mafia   Perasaan Diawasi

    "Istirahatlah, Paman akan kembali ke pelabuhan."Iris menatap Dominic yang kembali berjalan menuju mobilnya. Pria tua itu hanya mengantarnya kembali ke rumah setelah makan malam yang tidak direncanakan. "Hati-hati, Paman," ucapnya saat Dominic melambaikan tangan sebelum mobilnya kembali pergi. Matanya terus memerhatikan mobil tersebut yang melaju ke jalanan menuju pelabuhan. Tidak terlalu jauh, hingga Iris masih bisa melihat dengan jelas perjalanannya. Dia berbalik dan melangkah masuk ke dalam ketika mobil Dominic sudah sangat jauh. Tampak beberapa pelayan masih berkeliaran. Lampu juga masih dalam menyala terang. Iris tidak melihat kiri kanan saat dia melewati ruang tengah. Setidaknya sampai telinganya mendengar suara seseorang menegurnya. "Bersenang-senang?"Langkah Iris langsung terhenti. Dia tersentak di tempat, sebelum tubuhnya perlahan berbalik, hanya untuk melihat Silas yang duduk bersandar di sofa. Pria itu menatapnya dengan ekspresi santai sembari meletakkan kertas yang

  • Tertawan oleh Don Mafia   Guru Terbaik

    "Jadi, bagaimana latihanmu tadi? Silas sibuk, kau latihan sendiri?"Iris melirik Dominic yang duduk di depannya. Pria itu benar-benar membawanya ke restoran yang berada tak jauh dari pelabuhan. Menjauh dari lokasi di mana Silas berada. Hingga setelah sekian lama, akhirnya Iris bisa melihat suasana luar yang berbeda. Tidak seperti saat Silas membawanya ke gala atau ke rumah orang tua pria itu. Sekarang, dia hanya pergi ke restoran, di mana orang-orang makan tanpa menatapnya penasaran. Mereka sibuk masing-masing. Tidak terganggu sama sekali dengannya. Kehadiran Dominic juga tidak menarik perhatian. Tidak seperti Silas yang selalu berhasil menyedot seluruh atensi semua orang. "Latihannya lancar. Tidak, Elliot menggantikannya. Dia yang mengawasiku," gumamnya sambil tersenyum kecut. Iris tiba-tiba merasa tidak nyaman saat dia mengucap nama Elliot atau berbohong pada Dominic. Latihannya sama sekali tidak lancar, dan sialnya, kejadian yang sempat dilupakannya tiba-tiba kembali muncul da

  • Tertawan oleh Don Mafia   Tamu Penting?

    "Katakan sekali lagi."Mata Iris menyipit. Kedua tangannya mengepal. Dia spontan melempar botol minum yang telah kosong dan berjalan mendekat. Menatap Elliot yang tidak bergeser. Tidak ada rasa bersalah di wajah itu. Tidak ada ekspresi kaget sama sekali. Sampai dia berdiri tepat di depan Elliot. Hanya mata itu turun dari wajahnya, semakin ke bawah. Lalu kembali tertuju padanya. "Tidak ada yang Anda miliki selain tu—"Tangan Iris terangkat dan melayang sebelum Elliot menyelesaikan kalimatnya. Namun sayangnya, sebelum tangannya mendarat di wajah pria itu, Elliot menangkap pergelangan tangannya erat. Sangat erat dan membuat Iris meringis sambil mengerutkan keningnya. Dia sama sekali tidak bisa menarik tangannya menjauh atau menggesernya. "Lepas!"Iris setengah membentak. Wajahnya memerah dengan rahang mengeras. Sayangnya Elliot hanya menatap datar. Melirik tangannya tanpa ada niat melepaskan. "Anda tidak perlu tersinggung kalau perkataan saya salah, kecuali saya benar.""Lalu kau be

  • Tertawan oleh Don Mafia   Kehadiran yang Tak Diharapkan

    "Rumah orang tuaku."Iris menoleh ke arah Silas. Rasa penasarannya terjawab, tapi jawaban itu juga membuat pertanyaan lain muncul di kepalanya. Meski pertanyaan tersebut tertahan di mulutnya ketika dia menyaksikan Silas keluar dari mobil, diikuti oleh pintu di sebelahnya yang dibuka Elliot. Dia me

  • Tertawan oleh Don Mafia   Bukan Kesepakatan

    Iris tidak bergerak. Tidak juga berbalik. Dia diam di tempat ketika mendengar langkah kaki mendekat. Sampai suara langkah itu berhenti tepat di belakangnya. Kehangatan tubuh asing mulai terasa di punggungnya. Menyadarkan Iris jika pria itu berdiri terlalu dekat. “Aku tidak memanggilmu,”

  • Tertawan oleh Don Mafia   Perlawanan

    "Masuklah!" Bruk! Tubuh Iris didorong kasar oleh Elliot, membuat keseimbangannya hilang kendali. Dia jatuh, tapi kali ini lututnya tidak merasakan sakit. Karena sebuah karpet bulu lembut menahannya. Iris terdiam, lalu menatap ruangan ketika menyadari Elliot telah membawanya ke ruangan lain. Buka

  • Tertawan oleh Don Mafia   Menjadi Sandera

    Suasana mendadak hening. Ketukan sepatu Silas berhenti. Elliot juga tak bersuara. Hanya detak jam tangan yang terdengar dan jelas, ini bukan keheningan yang Iris inginkan. Iris menunduk semakin rendah. Tak berani mengangkat kepalanya untuk melihat reaksi Silas atau Elliot, tapi matanya melihat seb

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status