MasukDua hari kemudian. Iris tidak bisa membuat Silas mengurungkan niat untuk pergi. Silas terlihat baik-baik saja. Wajahnya segar, nyaris tidak memperlihatkan bekas luka yang beberapa hari lalu membuat Iris kehilangan kesabaran. Sangat. Hingga dia merasa kesal sendiri. Walau di sisi lain, Iris juga tidak bisa menampik, dia penasaran ke mana Silas akan membawanya kali ini. "Aku tidak melihat Elliot dua hari ini," ucap Iris yang berjalan santai menyusuri jalanan di pelabuhan. Matanya melirik Silas yang berjalan lebih dulu. Santai, tanpa ada yang mengganggu. Pelabuhan itu adalah tempat publik, di mana semua orang dari berbagai negara berkumpul, tapi Silas tampak sangat tenang, seolah itu tempat paling aman. Meski beberapa waktu lalu, pria itu diserang. Sialnya, Iris juga harus mengakui, tempat itu terasa dijaga lebih ketat. Jauh sebelum dia datang. "Dia sibuk.""Sibuk? Memang dia sibuk apa selain mengikutimu sepanjang waktu?" tanyanya setengah menyindir, tapi Silas tidak merespons, pri
"Lusa? Ke mana?"Iris spontan menatap serius Silas saat pria itu tiba-tiba mengajaknya pergi. Alisnya berkerut dalam. Tidak bisa tidak langsung curiga kalau pria itu memiliki rencana. Dia melepaskan paksa tangan pria itu yang menggenggamnya. "Kau akan tahu nanti."Mata Iris menyipit. Dia ingin memprotes, tapi merasa itu semua percuma. Penolakannya tidak akan pernah didengar. "Kau bahkan masih dalam keadaan terluka dan kau berpikir untuk mengajakku pergi? Kau mau musuhmu datang dan membunuhmu?"Silas yang sedang merapikan ikatan perban di lengannya, tampak berhenti sejenak. Mata birunya menatap Iris sebelum kembali tertuju pada perban di lengan. "Ini hanya luka kecil." Mulut Iris terkatup. Dia tidak bisa menyangkal kalau perkataan Silas benar. Itu hanya luka kecil, karena jauh sebelum itu, Silas pernah terluka akibat serpihan blm dan pria itu masih hidup! Meski sekarang lengannya tampak robek dan jejak darah bisa terlihat di lantai, tetap belum seberapa dari yang dialaminya waktu it
Iris memutar tubuhnya. Menghadap tepat ke arah Silas dengan wajah ditekuk. Dia tidak yakin Silas benar-benar berpikir dia adalah penyusup. Apalagi dengan baju tidur dan tanpa alas kaki. Hanya dengan melihat punggungnya saja, harusnya pria itu sudah tahu. "Mana ada penyusup masuk ke lorong utama. Kau pikir bisa membodohiku?" Tangan Iris mengepal di kedua sisi. Dia berdecak, tapi tidak terlihat rasa bersalah di wajah Silas. Pria itu juga tidak menjelaskan apa pun. Hanya keheningan malam yang mengisi suasana di antara mereka. Sampai detik selanjutnya, Iris membuang napas kasar dan berbalik untuk pergi. Tetapi, belum selangkah dia berjalan, lengannya digenggam. Ditarik mundur hingga punggungnya menabrak tubuh di belakangnya. "Siapa yang menyuruhmu pergi?"Iris tersentak dan bergidik saat merasakan embusan napas Silas di telinganya. Tubuhnya seketika menjadi kaku. Sejenak dia mengalami disorientasi. Sampai beberapa detik kemudian, Iris kembali tersadar. Dia bisa merasakan detak jantu
Tiga hari berlalu sejak pertemuan terakhirnya dengan Elara. Iris tidak bisa berhenti memikirkannya. Tidak juga bisa menanyakan langsung pada Silas. Pria itu sibuk dan hampir belum pulang ke rumah. Dia tidak tahu di mana Silas berada. Satu-satunya orang yang sering terlihat hanyalah Elliot. Tentu saja, semenjak Silas meminta Elliot melatihnya, dia jadi sering bertemu dengan pria itu. Sampai rasanya Iris benar-benar muak melihat wajahnya. "Berta, apa yang kau tahu soal Elara?" tanya Iris tiba-tiba saat dirinya sedang duduk di sebuah bangku taman belakang. Matanya melirik helipad yang tidak terdapat helikopter. Beberapa hari sebelumnya, Dominic pergi dengan itu. "Elara? Nona Elara Ravenshade?"Iris menoleh. Dia melihat Berta menatap bingung. "Siapa lagi? Memang ada Elara yang kukenal?"Alih-alih tersinggung, Berta hanya tertawa kecil saat nada bicara Iris sedikit ketus. "Saya tidak tahu banyak soal beliau. Saya hanya tahu kalau keluarga Ravenshade memiliki hubungan baik dengan kelu
Iris keluar gedung masih memikirkan jawaban Silas. Dia sama sekali tidak fokus pada hal lain, bahkan ketika penjaga menyapanya. Sampai nyaris saja Iris menabrak seorang pekerja yang melintas. "Astaga, maaf," ucapnya refleks. Namun alih-alih mendapat tanggapan baik, pekerja tersebut malah mendelik sambil menggerutu, sebelum akhirnya melanjutkan langkahnya. Meninggalkan Iris yang terdiam sambil meringis. "Pelabuhan ini akan diperluas?""Iya, kami butuh tempat yang lebih cukup untuk kapal-kapal yang semakin banyak."Suara Dominic. Tepat ketika suara itu tertangkap telinganya, Iris tanpa sadar langsung mencari asal suaranya. Hingga dia mendapati keberadaan Dominic yang berada beberapa meter darinya. Pria paruh baya itu tidak sendiri. Di sana rupanya masih ada Elara. Keduanya berdiri menghadap area pelabuhan, menyaksikan pembangunan baru yang masih setengah jadi. "Pelabuhan ini berkembang pesat di tangan Paman."Dominic tersenyum. "Paman merasa tersanjung mendengarnya, tapi sejujurny
Perkataan Iris terputus tepat saat pintu ruangan dibuka. Tiga pasang mata spontan tertuju padanya. Iris bisa melihatnya. Itu adalah Dominic, Silas dan.... "Elara?" panggilnya setengah berbisik. Napas Iris tercekat. Matanya membulat ketika dia mendapati kehadiran seseorang yang tidak asing. Seperti dugaannya, memang ada wanita yang bersama Silas saat ini, tapi ini sama sekali bukan seperti yang dia bayangkan. Iris melihat sofa saling berhadapan dan sebuah meja tepat di tengahnya. Di mana Silas duduk bersama Dominic, sedangkan Elara berada di seberangnya. Di atas meja tersebut, matanya menemukan map-map yang tidak dia tahu apa itu."Tolong kau pikirkan dulu sebelum menjawabnya. Ini tidak akan membuatmu rugi, aku janji."Dahi Iris berkerut saat suara Elara memecah keheningan beberapa detik sebelumnya. Perhatian Elara tertuju kembali pada Silas, begitu pun pria itu. Seolah keduanya tidak peduli dengan dia yang masuk tanpa mengetuk. Satu-satunya orang yang memerhatikanya hanyalah Domi
"Apa yang—hentikan!"Iris menggeliat. Napasnya memburu. Tubuh mereka terlalu menempel, sampai-sampai dia bisa merasakan bentuk dada lebar Silas. Panas dan sesak. Iris mengerang frustrasi saat dia tidak bisa menggeser Silas sama sekali. Alih-alih mundur, pria itu justru menunduk
"Hayes? Aku belum pernah mendengar nama itu. Di mana kamu tinggal? Orang tuamu bekerja di pemerintahan mana?"Suara seorang wanita paruh baya terdengar ikut menimpali percakapan. Membuat Iris mengerjap dan menatap wanita yang duduk di samping Octavian. Wanita berambut hitam panjang dengan senyum r
"Rumah orang tuaku."Iris menoleh ke arah Silas. Rasa penasarannya terjawab, tapi jawaban itu juga membuat pertanyaan lain muncul di kepalanya. Meski pertanyaan tersebut tertahan di mulutnya ketika dia menyaksikan Silas keluar dari mobil, diikuti oleh pintu di sebelahnya yang dibuka Elliot. Dia me
Iris tidak bergerak. Tidak juga berbalik. Dia diam di tempat ketika mendengar langkah kaki mendekat. Sampai suara langkah itu berhenti tepat di belakangnya. Kehangatan tubuh asing mulai terasa di punggungnya. Menyadarkan Iris jika pria itu berdiri terlalu dekat. “Aku tidak memanggilmu,”







