로그인“Menggantikan Ratu?”“Apa maksudnya?”Bisik-bisik para bangsawan masih berdesir pelan, seperti angin yang menolak reda. Ancaman perang dari Edevane dan ucapan Howarth tentang pengganti Ratu barusan jelas mengguncang mereka.Mempertanyakan bagaimana nasib mereka selanjutnya di Kerajaan Valenroth. Isi dalam istana yang berantakan, ditambah tidak ada yang ingin menjadi alasan kehancuran keluarga mereka sendiri.Dan Raja tahu itu.Ia menarik napas pelan, lalu mengangkat tangannya sedikit. Satu gerakan kecil—cukup untuk membungkam seluruh ruangan.Matanya menyapu kerumunan. Lalu berhenti pada satu orang.“Ah… aku ingat sekarang.”Suaranya berubah lebih ringan. Hampir seperti percakapan biasa.Semua mata mengikuti arah pandangnya.Clarissa.Gadis itu menegang seketika ketika namanya disebut tanpa benar-benar dipanggil.“Kau… sepupu Josselyn, bukan?” lanjut Raja, seolah baru menyadari. “Dan kau pernah mengatakan ingin menikah dengan Putra Mahkota.”Clarissa membeku.Josselyn ikut menatapnya.
“Jalan!”Suara prajurit itu lantang. Mendorong Josselyn dan kelima pria lainnya di hadapan singgasana Raja. Lantai marmer itu dingin ketika tubuh mereka dijatuhkan tanpa belas kasihan.Rantai di pergelangan tangan beradu dengan suara nyaring.Josselyn mengangkat wajahnya perlahan.Aula itu penuh.Para menteri. Para bangsawan. Mata-mata yang terbiasa menilai tanpa berbicara. Semua berkumpul, berdiri dalam setengah lingkaran, menyisakan ruang kosong di tengah—ruang yang kini mereka isi.Di ujung ruangan, di atas tangga marmer yang tinggi, duduk Raja.Diam. Menunggu.Killian menghela napas pelan, lalu menyeka darah tipis di sudut bibirnya dengan punggung tangan yang terikat.“Jadi menurutmu ini ide bagus?” gumamnya, suaranya rendah tapi jelas terdengar di keheningan itu.Howarth berdiri sedikit di belakangnya, bahu santai seolah tidak sedang dihadapkan pada eksekusi.“Kalau tidak,” jawabnya ringan, “Jossie tidak akan menyetujuinya.”Killian menoleh tajam.“Berhenti memanggilnya Jossie.”
Kamar itu masih menyisakan bau besi dari darah yang belum sepenuhnya kering.Prajurit-prajurit yang tadi menyerbu telah tumbang. Sebagian tak sadarkan diri, sebagian lain tak lagi bergerak. Pedang-pedang tergeletak, napas berat memenuhi udara sempit yang kini terasa lebih panas dari sebelumnya.Dan di tengah semua itu—mereka berdiri.Tegang.Tak satu pun benar-benar saling percaya.Josselyn berdiri sedikit terpisah. Jubah milik Sebastian masih menutupi tubuhnya yang belum sepenuhnya rapi. Rambutnya berantakan, napasnya belum stabil, tapi matanya—tajam.Mengawasi.Menilai.Menahan diri agar tidak kembali meledak.“Josselyn benar,” ujar Yorick akhirnya, memecah keheningan. “Kita tidak bisa tinggal diam lebih lama lagi. Kita harus memutuskan—sekarang.”Killian menyeka darah tipis di sudut bibirnya dengan punggung tangan.“Keluar dari istana,” katanya tegas. “Itu satu-satunya pilihan yang masuk akal.”“Howarth?” tanya Sebastian singkat.Howarth menggeleng pelan. “Justru sebaliknya.”Killi
Tok. Tok. Tok.Suara ketukan itu terdengar pelan—terlalu pelan untuk disebut sopan, tapi cukup untuk membuat darah Josselyn langsung membeku.Tubuhnya menegang seketika.Killian juga berhenti. Bukan karena ragu. Tapi karena ia mendengar sesuatu yang lain.Suara langkah. Lebih dari satu. Dan terlalu dekat.“Diam,” bisik Killian, napasnya rendah di dekat telinga Josselyn.Josselyn menggigit bibirnya, menahan suara sekecil apa pun. Dadanya naik turun cepat, efek dari situasi sebelumnya, ditambah ketegangan yang tiba-tiba berubah arah.Tok. tok.Kali ini lebih keras.“Buka pintu. Pemeriksaan.”Suara prajurit terdengar datar dari luar.Josselyn menelan ludah.Killian tidak langsung menjauh.Ia justru sedikit menggeser posisinya, menarik Josselyn lebih dekat ke tubuhnya—bukan untuk melanjutkan apa pun, tapi untuk menahannya tetap stabil.Dan gerakan itu cukup membuat Josselyn mencengkeram dada Killian yang terekspos akibat kancing bajunya yang terbuka.“Aku akan ke pintu,” bisik Josselyn, n
Malam itu menjadi malam menegangkan sejak Josselyn berada di istana ini. Dengan penuh kehati-hatian, Sebastian mengarahkan mereka keluar dari penjara bawah tanah.Tentunya dengan berbagai trick dan berusaha keras tanpa “kekerasan” —jika maksudnya adalah memukul atau menendang hingga berdarah.Sebastian dan Howarth hanya perlu memberi tekanan lebih kuat di beberapa titik untuk melenyapkan kesadaran mereka.“Semuanya aman?” tanya Sebastian saat mereka sampai di lorong istana yang sepi dan gelap.Josselyn mencondongkan tubuhnya ke depan, tangannya bertumpu di atas kedua lututnya.“Aman.” jawabnya dengan napas terengah.“Baiklah, segera masuk ke kamar, Jossie.” ucap Howarth.Tangannya membelai puncak kepalanya dengan lembut, turun ke belakang kepalanya lalu mendekatkan wajahnya ke telinga gadis itu.“Jika efeknya muncul. Datanglah padaku.”Josselyn mengerjapkan matanya beberapa kali. Napasnya belum teratur, dan kini bertambah dengan rasa panas yang naik ke wajahnya.‘Ah, iya. Aku tadi men
Keheningan di dalam sel itu terasa lebih berat daripada rantai yang melilit pergelangan tangan Killian.Tatapan Josselyn tidak goyah.“Kami tidak datang untuk menyelamatkanmu.”Suara itu dingin. Seolah-olah ia sedang membicarakan sesuatu yang tidak memiliki emosi sama sekali.Killian tersenyum tipis, napasnya tersengal. Sesekali ia terbatuk, meringis, lalu menekan dadanya.“Bagus.”Ia mengangkat sedikit kepalanya, meski gerakan itu membuat luka di lehernya kembali terbuka.“Aku hanya khawatir kau datang dengan niat bodoh.”Josselyn tidak menjawab. Tapi matanya menyapu seluruh tubuh Killian.Darah. Luka terbuka. Memar. Bekas cambukan yang bahkan belum sempat mengering sepenuhnya.Satu titik di hati terdalamnya merasakan perih.Ia seperti melihat dirinya. Disiksa, dikhianati oleh sosok yang seharusnya melindunginya.Terdengar suara tarikan napas yang terseret dari Killian.Dan itu cukup untuk membuat satu hal jelas—dia tidak akan bertahan lama.“Howarth,” gumamnya pelan tanpa menoleh.L
Yang Josselyn rasakan saat itu hanya: telapak tangan dingin Killian yang mencengkeram tengkuknya. Wajah mereka nyaris bersentuhan. Bau anggur dan amarah bercampur di udara sempit itu. “Semua ini…” suara Killian rendah, serak. “Karena kau.” Josselyn menatap lurus ke mata biru keabuan itu. Tidak m
“Denyut nadinya melemah lagi.” Josselyn menempelkan dua jarinya ke pergelangan tangan Ratu. Kulitnya dingin. Terlalu dingin di ruangan yang hangat. “Sudah berapa kali darah keluar?” tanyanya. “Dua kali sampai malam ini,” jawab pelayan istana. “Tidak banyak, tapi—” “Setiap tetes berarti,” pot
‘Edevan?’ Josselyn melirik badge di dada dua pria itu—lambang sama, warna berbeda. Sepersekian detik cukup untuk menyimpulkan: satu kerajaan. Namun jika mereka bersaudara, darah tak cukup kuat membuat wajah mereka serupa. “Namamu…” “Saya Josselyn.” jawabnya sedikit canggung. Rasanya keliru mempe
Ketukan tergesa terdengar dari balik pintu kamarnya. Seorang pelayan berdiri di sana, wajahnya pucat. “Nona Josselyn… Ratu tak bisa tidur. Tubuhnya berkeringat hebat, perutnya melilit,” kata pelayan. Tubuh Josselyn menegang. Kilatan pedang Killian terbayang di depan matanya. Tanpa menunggu waktu







