Home / Fantasi / The Empress / 42. Kabut Merah

Share

42. Kabut Merah

Author: Lord Devil
last update publish date: 2026-06-18 11:20:35

Ruang nama yang mulai terbakar cahaya putih menjadi tempat pertama Bab 42 bergerak. Setelah seluruh luka bulan merah mulai terbuka, tidak ada satu pun orang di keluarga Qin yang benar-benar memiliki kesempatan untuk beristirahat. Qin Lang masih menyimpan wajah dingin seorang raja, tetapi semua orang yang mengenalnya tahu bahwa ketenangan itu sedang menahan badai. Wang Yin berdiri di sisinya, lebih pucat daripada yang ingin ia akui, namun sorot matanya kembali menyala seperti hari ketika ia pe

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • The Empress   59. Jejak di Kertas Abu

    Ruang arsip terbuka yang masih dijaga tiga lapis prajurit setelah insiden dupa perak seharusnya memberi keluarga Qin kesempatan untuk bernapas. Akan tetapi, kerajaan yang baru saja selamat dari bulan merah tidak langsung berubah menjadi rumah yang tenang. Abu lentera masih menempel pada batu sungai, para penjaga masih menoleh dua kali setiap kali mendengar bunyi langkah asing, dan para pelayan masih berbicara lebih pelan ketika melewati kamar Wang Yin. Tidak ada yang mau mengucapkan kata bahaya, seolah kata itu sendiri bisa memanggil musuh baru. Namun justru dalam kesunyian seperti itulah tanda-tanda kecil biasanya datang. kertas abu peninggalan Qin Jun yang dulu dianggap surat pengakuan ternyata menyimpan lapisan tulisan kedua. Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi bagi orang-orang yang baru melewati makam, ritual nama, dan pengkhianatan, pertanyaan sederhana bisa lebih menyakitkan daripada pedang.Qin Lang tidak langsung menjawab. Ia telah menjadi raja cukup lama untuk ta

  • The Empress   58. Dewan Lima Kerajaan

    Aula besar kerajaan yi yang untuk pertama kalinya menerima bendera lima kerajaan sekaligus setelah tragedi bulan merah seharusnya memberi keluarga Qin kesempatan untuk bernapas. Akan tetapi, kerajaan yang baru saja selamat dari bulan merah tidak langsung berubah menjadi rumah yang tenang. Abu lentera masih menempel pada batu sungai, para penjaga masih menoleh dua kali setiap kali mendengar bunyi langkah asing, dan para pelayan masih berbicara lebih pelan ketika melewati kamar Wang Yin. Tidak ada yang mau mengucapkan kata bahaya, seolah kata itu sendiri bisa memanggil musuh baru. Namun justru dalam kesunyian seperti itulah tanda-tanda kecil biasanya datang. setiap kerajaan datang dengan wajah berduka, tetapi tidak semua duka datang tanpa kepentingan. Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi bagi orang-orang yang baru melewati makam, ritual nama, dan pengkhianatan, pertanyaan sederhana bisa lebih menyakitkan daripada pedang.Qin Lang tidak langsung menjawab. Ia telah menjadi raj

  • The Empress   57. Tamu Bernama Hua Ning

    Paviliun tamu bagian timur, tempat rombongan kerajaan zhao diberi tempat tinggal dengan penjagaan sopan tetapi ketat seharusnya memberi keluarga Qin kesempatan untuk bernapas. Akan tetapi, kerajaan yang baru saja selamat dari bulan merah tidak langsung berubah menjadi rumah yang tenang. Abu lentera masih menempel pada batu sungai, para penjaga masih menoleh dua kali setiap kali mendengar bunyi langkah asing, dan para pelayan masih berbicara lebih pelan ketika melewati kamar Wang Yin. Tidak ada yang mau mengucapkan kata bahaya, seolah kata itu sendiri bisa memanggil musuh baru. Namun justru dalam kesunyian seperti itulah tanda-tanda kecil biasanya datang. Hua Ning tidak berbicara sejak memasuki Kerajaan Yi, namun matanya terlalu sadar untuk disebut anak yang hanya trauma. Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi bagi orang-orang yang baru melewati makam, ritual nama, dan pengkhianatan, pertanyaan sederhana bisa lebih menyakitkan daripada pedang.Qin Lang tidak langsung menjawab

  • The Empress   56. Resep Rahasia Qin Yue

    Ruang obat istana yang dipenuhi gulungan resep, mangkuk tanah liat, akar kering, dan bau pahit yang melekat di dinding seharusnya memberi keluarga Qin kesempatan untuk bernapas. Akan tetapi, kerajaan yang baru saja selamat dari bulan merah tidak langsung berubah menjadi rumah yang tenang. Abu lentera masih menempel pada batu sungai, para penjaga masih menoleh dua kali setiap kali mendengar bunyi langkah asing, dan para pelayan masih berbicara lebih pelan ketika melewati kamar Wang Yin. Tidak ada yang mau mengucapkan kata bahaya, seolah kata itu sendiri bisa memanggil musuh baru. Namun justru dalam kesunyian seperti itulah tanda-tanda kecil biasanya datang. Qin Yue menemukan satu resep lama yang tidak pernah dicatat dalam buku pengobatan resmi untuk merawat tubuh Wang Yin selama koma. Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi bagi orang-orang yang baru melewati makam, ritual nama, dan pengkhianatan, pertanyaan sederhana bisa lebih menyakitkan daripada pedang.Qin Lang tidak lang

  • The Empress   55. Pedang Pertama Qin Lian

    Lapangan latihan belakang istana yang masih basah oleh embun dan penuh bekas kaki prajurit muda seharusnya memberi keluarga Qin kesempatan untuk bernapas. Akan tetapi, kerajaan yang baru saja selamat dari bulan merah tidak langsung berubah menjadi rumah yang tenang. Abu lentera masih menempel pada batu sungai, para penjaga masih menoleh dua kali setiap kali mendengar bunyi langkah asing, dan para pelayan masih berbicara lebih pelan ketika melewati kamar Wang Yin. Tidak ada yang mau mengucapkan kata bahaya, seolah kata itu sendiri bisa memanggil musuh baru. Namun justru dalam kesunyian seperti itulah tanda-tanda kecil biasanya datang. Qin Lian datang membawa pedang kayu terlalu besar dan keyakinan yang jauh lebih besar daripada tubuhnya. Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi bagi orang-orang yang baru melewati makam, ritual nama, dan pengkhianatan, pertanyaan sederhana bisa lebih menyakitkan daripada pedang.Qin Lang tidak langsung menjawab. Ia telah menjadi raja cukup lama

  • The Empress   54. Paviliun Pemulihan

    Paviliun lama yang dulu menjadi kamar koma wang yin dan kini diubah menjadi tempat tinggal sementara bagi anak-anak korban seharusnya memberi keluarga Qin kesempatan untuk bernapas. Akan tetapi, kerajaan yang baru saja selamat dari bulan merah tidak langsung berubah menjadi rumah yang tenang. Abu lentera masih menempel pada batu sungai, para penjaga masih menoleh dua kali setiap kali mendengar bunyi langkah asing, dan para pelayan masih berbicara lebih pelan ketika melewati kamar Wang Yin. Tidak ada yang mau mengucapkan kata bahaya, seolah kata itu sendiri bisa memanggil musuh baru. Namun justru dalam kesunyian seperti itulah tanda-tanda kecil biasanya datang. Qin Lian menolak menyebut tempat itu paviliun sakit karena menurutnya anak-anak tidak boleh merasa seperti barang rusak. Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi bagi orang-orang yang baru melewati makam, ritual nama, dan pengkhianatan, pertanyaan sederhana bisa lebih menyakitkan daripada pedang.Qin Lang tidak langsung

  • The Empress   16. Saudara yang Hilang

    Lorong bawah tanah itu terbakar dari dalam.Asap hitam merayap di langit-langit rendah seperti makhluk hidup, mencari celah untuk keluar. Api menjalar di sepanjang garis minyak yang sengaja dituangkan di lantai batu, menyambar kain-kain tua, rantai berkarat, dan tumpukan kayu kering yang rupanya su

  • The Empress   11. Kolam Pemandian

    Setelah tujuh tahun hanya bisa menggenggam tangan Wang Yin yang dingin, Qin Lang akhirnya dapat merasakan kehangatan tubuh istrinya kembali.Hal sesederhana itu hampir membuatnya kehilangan kendali.Sepanjang hari, Wang Yin dikelilingi begitu banyak orang. Anak-anak mereka menempel padanya tanpa mau

  • The Empress   6. Kunjungan

    Beberapa bulan kemudian, Qin Lang memutuskan untuk mengajak kedua anaknya berkunjung ke Kerajaan Ling. Li Yan, sepupu Wang Yin menikah dengan pangeran mahkota, Xiao Zixuan dan dia hendak membawa si kembar bertemu dengan bibi mereka.Barangkali bisa memberikan sedikit informasi yang lebih soal Wang Y

  • The Empress   5. Bukit Ying

    Setelah lelah membaca cerita yang dituliskan oleh Qin Lang, Qin Lian merasa mengantuk dan tertidur dengan kepalanya di atas buku tebal itu."Qin Lian apa yang kau lakukan?" Qin Yue terkejut mendapati adiknya malah mengiler di atas buku kesayangan ayah mereka itu."Kenapa? Aku kenapa?" tanya anak itu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status