INICIAR SESIÓNKlik, klak, klik, klak!Sepatu hak pendek Renata bergema pelan di lantai marmer. Lobi Rumah Sakit Jiwa itu ternyata elegan, tidak seram seperti bayangannya. Ada sofa putih, meja resepsionis dengan vas bunga segar. Bahkan musik instrumental pelan mengalun dari speaker tersembunyi. Tapi ….Brak!!Suara pintu darurat di ujung lorong terbanting kasar. Teriakan menggema seperti bom yang meledak, keras.“Hey, jangan lari. Berhenti!”“Aku bilang berhenti!”Langkah kaki berat berlari seperti gempa. Renata cuma sempat menengok ke kiri sebelum dua sosok perawat laki-laki berpakaian seragam biru tua mengejar seseorang yang melesat seperti anak panah. Renata melihat sedikit pasien laki-laki itu yang rambutnya acak-acakan. Matanya liar, mengenakan jubah putih pasien yang berkibar-kibar ia melaju langsung ke arah dirinya. “Bu—!”Hampir. Tubuh Renata sudah oleng ke belakang, bersiap nyungsep ke lantai marmer yang dingin itu dengan tangan otomatis mengayun ke depan untuk menahan benturanNamun
Tubuh Renata dihempas ke ranjang, Julian merangkak naik ke atas tubuhnya. Kedua tangan Renata lalu diangkatnya ke atas kepala hingga wanita itu tidak bisa leluasa bergerak. "Aku tidak mengizinkanmu ke mana-mana selain dalam dekapanku, Rene." Mata Renata memicing menatap Julian sampai keningnya mengerut. Posesif sekali pria satu ini. Bisa-bisanya ia juga terlena saat dicium pria itu.Pasrah begitu saja, bahkan menikmati dan mengimbangi ciumannya yang seperti menyedot bibirnya sampai tak mau lepas. Apa pria itu sedang mengguna-gunanya agar Renata mau kembali? Tapi ketika ia membuka mulut, Julian yang tau gelagatnya seperti akan memprotes. Tiba-tiba pria itu menarik tengkuknya dan membekap mulutnya dengan lumatan yang sangat ganas. "Julian—hpphh!" Mata Renata membulat seperti kelereng, ciuman Julian sampai sulit ia imbangi. Namun Renata juga tak mampu menolaknya. Tubuhnya memanas akan gairah yang menjalar ke setiap nadi darahnya, tanpa sadar membiarkan tangan Julian menyingkap rok g
Julian seketika bangkit berdiri. Posturnya yang tinggi membuat orang-orang di sekitarnya merasa kecil. Wajahnya yang tadi lelah kini berubah menjadi topeng kemarahan yang dingin, wanita penggoda itu sampai ketakutan.“Aku tidak tertarik sedikitpun dengan hadiah yang kalian tawarkan!” geram pria itu mengepak jasnya sebagai ancaman, menyoroti tajam dengan matanya yang seperti mesin pemotong itu. “Tujuanku datang ke sini karena kau menyebutkan soal komite. Tapi jika ini yang kalian sebut sebagai strategi politik, menyuap dengan seks dan alkohol. Kalian salah besar. Aku keluar!!”Salah satu anggota dewan, seorang pria gemuk bernama Sterling tampak menyeringai sinis begitu Julian yang pergi lewat di depannya. “Jangan sok suci, Julian! Semua orang di ruagan ini bermain dengan aturan yang sama. Kami menawarkan kau kursi di Komite Infrastruktur yang posisinya strategis. Banyak uang mengalir di sana. Tapi sebagai gantinya, kami hanya meminta satu hal kecil padamu.”Sudut bibir Julian terangk
Wajah Renata langsung memanas. Rasa malu merambat cepat dari leher hingga ke ujung telinganya. Ia merasa seperti anak kecil yang ketahuan mencuri permen. Mulutnya terbuka, lalu tertutup lagi. Ia kehilangan kata-kata untuk membela diri di depan neneknya.Renata sulit menjelaskan sesuatu yang menariknya kali ini pada Julian. Bagaimana cara pria itu mengendalikan ribuan orang dengan hanya suara dan logika, tapi sudah membuatnya terlihat begitu ... berbahaya dan menonjol?"Rene," panggil Ruth karena Renata terus bergeming dan memilin jarinya dengan kuat."Tidak apa-apa. Minumlah jusnya," suruh Renata yang tampak salah tingkah."Oh, ya?" Ruth masih tak percaya."Aku... Aku hanya tak menyangka dia punya kemampuan berbicara yang luar biasa, Ruth, " bual Renata canggung, mengalihkan pandangan ke gelas jus stroberinya yang mulai mencair. "Itu saja."Jus yang diminumnya sedikit mendadak bikin serik di tenggorokannya. Renata tak nyaman dengan kondisi itu, ia sampai terburu-buru pergi dan menabra
Renata yang berjalan pulang menuju rumah menoleh ke belakang saat ia mendengar suara daun kering terinjak di belakang pohon besar dekat jalanan."Ada apa Rene?" tanya Nate menata keranjang stroberi sebelum pemanen lain datang. Ia melihat Renata celingukan ke arah belakangnya."Tadi sepertinya aku mendengar suara langkah kaki menginjak dedaunan kering di sana!" Renata menunjuk pohon besar itu, bersamaan sekelebat mobil yang lewat. Namun ia hanya sempat melihat bagian belakangnya saja sekilas.Nate berhenti memetik stroberi sesaat lalu mengikuti telunjuk Renata ke arah sana."Tidak ada siapa-siapa."Renata mengerutkan kening lalu bicara pelan. "Perasaan tadi ada? Kenapa sekarang sepi?""Mungkin itu tupai," timpal Nate. "Hewan itu suka muncul di pohon sana."Renata mengangguk lalu berpamitan pergi. Namun Nate mengejarnya, melesat cepat dengan tangan membawa sekotak stroberi yang montok-montok."Untukmu, bawalah pulang.""Wah! Banyak sekali, Nate?" Renata terkesima menatap buah stroberi m
"Tuan, kita harus kembali hari ini ke London. Besok perwakilan dari kementrian luar negeri akan menemui Anda terkait pemilu yang akan datang." Namun Julian hanya diam saja sambil menyesap rokoknya berdiri di balkon. Matanya tak beralih menatap ke bangunan rumah-rumah tua di sekitar hotel kecil - hotel melati tempatnya menginap. Salah satu rumah itu mirip dengan rumah Renata, yang membuat Julian terus teringat istrinya itu. Ia membayangkan, di salah satu kamar itu. Ia sedang berada di ranjang memeluk Renata setelah berolahraga ekstrem. Membahas perencanaan soal anak, lalu bertengkar manis berapa jumlahnya. Ia ingin anak sebelas, alhasil Renata ngambek dan hal itu memicu senyum tipis di bibir Julian. "Tuan," panggil Jun sekali lagi, kali ini lebih keras karena Julian tak merespon. "Apakah aku terlalu jelek sampai Renata menolakku?" Malah Julian menyahut begini. Jun menaikkan alisnya. Sudah ia duga kalau hati bosnya tertinggal di rumah Ruth. "Tuan sangat tampan. Apalagi
Aroma gandum yang terpanggang sempurna, berpadu dengan gurihnya mentega yang meleleh, merayap lembut memenuhi setiap sudut rumah pinggir kota itu. Bau semerbaknya bagaikan undangan tak kasat mata yang menggelitik indra penciuman Julian. Di dalam kamar, pria itu tengah merapikan simpul dasinya di
Saat tangan Julian sudah di dada Renata, tiba-tiba alarm sistem keamanan rumah berbunyi pelan. Julian melepaskan Renata dan melihat ke ponselnya dengan tatapan tak biasa, wajahnya yang dingin berubah memucat. "Ada apa?" tanya Renata cemas melihat ekspresi yang jarang terjadi pada pria sedingin sua
"Aku punya tawaran yang lebih menarik darimu, Tuan Cooper," ucap Renata, suaranya kini tenang, hampir menggoda ketika turun sejenak ke bahunya yang masih dicengkeram oleh Julian. "Katakan." Julian melepas tangannya sambil memperhatikan posisi duduk Renata yang menyamping, menyilangkan kaki den
Di dalam rumah itu sangat sunyi, setiap tarikan napas bahkan samar-samar dapat didengar. Rasanya seperti berada di rumah kosong yang angker. Ia tidak melihat siapapun kecuali dia dan Julian. Entah ke mana Jun tiba-tiba menghilang? Kondisi ini terlalu kontras dengan debar jantungnya setelah insiden







