LOGINEsther berdiri di depan istananya, melambaikan tangan dengan senyum lebar saat kereta kuda Marianne menjauh perlahan dari lingkungan Istana. Emma berdiri di samping Esther dengan senyum yang tak kalah lebar. "Seharian ini Yang Mulia sudah lelah, kan? Mari kita masuk, mandi dan makan malam, Yang Mulia."Esther tertawa. "Kapan lagi aku punya kesempatan untuk mengambil banyak waktu berbasa-basi seperti ini, Emma."Ia berjalan masuk dan mengikuti perkataan Emma dengan baik. "Kira-kira, William akan kembali pukul berapa, ya?" "Tadi Sir Theron bilang, saat dia datang ke sini Baginda sedang mengobrol dengan Duke Luthadel. Sepertinya mereka mengambil beberapa waktu bekerja bersama." ***Esther mendudukkan tubuhnya di tepi ranjang setelah selesai mandi dan makan, ia mengenakan kain selendang tebal untuk menutupi menyelimuti tubuhnya. Ia bersandar pada tumpukan bantal, lalu bunyi ketukan pintu terdengar, ia segera menegakkan tubuhnya lagi dengan senyum lebar penuh semangat. Pintu pun ter
Pada petang hari seusai pesta teh kecil itu, Esther mengajak Marianne ke dalam Istana segera setelah semua tamu membubarkan diri. "Sepertinya kau sangat merindukan waktu mengobrol bersamaku, ya …." Marianne berjalan mengikutinya sambil meledek. "Ini benar-benar karena kita tidak berkabar dalam jangka waktu yang lama." Esther menyeretnya ke kamarnya. "Aku sempat pulang ke rumah sebelum ke sini. Aku juga sempat mengobrol dengan Ayah meski sangat sebentar." Marianne duduk di sofa dengan senyum lebar. "Hei, kami berdua sama-sama tidak menyangka akan ada hari di mana kamu memiliki bayi." Esther tersipu sambil menyelipkan rambut ke belakang daun telinga. "Kurasa aku belum memberitahu Ayah secara langsung …." "Tidak perlu, memang sudah tahu, kok. Kalau ada waktu, beliau mungkin akan datang sesekali untuk menjengukmu." Esther tersenyum mengangguk. "Omong-omong, Marianne …." Ia berkata dengan suara lebih pelan. "Hm? Ya?" Marianne menatapnya dengan lembut. "Kau …, apakah baik-ba
"Baginda." Pintu diketuk dua kali, Raymond tampak melongokkan kepala dengan senyum lebar. William yang sedang menyesap teh melirik sejenak ke arah pintu. Ia meletakkan gelasnya dengan tenang. "Datang juga tamu dari jauhku."Raymond menyipitkan mata. "Apakah saya pernah benar-benar dinanti-nanti kehadirannya?" "Lumayan. Kalau kau sudah datang, itu artinya Esther juga sedang bahagia.""Bagaimana bisa begitu? Baginda, Anda tidak mengira saya masih menyukai Yang Mulia Permaisuri, kan?""Tentu saja tidak. Bahkan aku tidak peduli kau masih suka atau tidak, yang terpenting itu adalah hati Esther sepenuhnya dipenuhi olehku." William memasang wajah datar. Raymond menaikkan sebelah alis dengan tatapan remeh. "Itu sama sekali tidak menjawab pertanyaan saya.""Itu karena kedatanganmu berarti kedatangan Marianne juga. Kehadiran siapa lagi yang bisa membuat Esther-ku tersenyum lebar selain keluarganya, kan?" Raymond tersenyum tipis. "Bagaimana pula Anda tahu kalau saya datang dengan Lady Marian
Dua minggu berlalu secepat gugurnya dedaunan mapel yang kini mulai menyelimuti pelataran Istana Ravenshire. Jalan penghubung besar antar-wilayah akhirnya resmi dibuka kembali dua minggu lalu setelah tabib istana memastikan wabah telah musnah sepenuhnya.Suasana istana pun terasa jauh lebih lega dan damai, terlebih setelah Claire memilih untuk undur diri dari Istana dan kembali menetap di Kuil Ibu Kota guna memulihkan diri pasca pemberkatan massal dan pesta penyambutan yang melelahkan. Sebenarnya, dia melakukan itu karena William memang tidak mengizinkannya tinggal lebih lama saja. Tidak ada yang bisa Claire lakukan di Istana sampai Esther melahirkan anaknya nanti. Sore ini, di dalam rumah kaca taman Istana Permaisuri yang hangat, Esther duduk dengan tenang sembari menyesap teh kamomil hangatnya. Pesta teh yang telah direncanakan sebelumnya akhirnya digelar dengan penuh antusias. Wanita-wanita bangsawan mulai merapatkan kereta kuda di halaman luar Istana Permaisuri. Emma menyambut
Lima belas menit kemudian, pesta dansa pun dimulai. Claire duduk di kursinya, mencoba untuk tenang dan menerima sapaan setiap orang dengan senyum ramah yang tak canggung. Musik latar mulai berbunyi lebih kencang untuk mengiringi dansa yang dimulai. Kali ini, Esther mengajukan permintaan untuk melewatkan dansa pertama karena ia merasa lelah. Lalu Duke Evander dan istrinya mewakilinya untuk membuka pesta. William menuntun Esther untuk kembali ke Istana Permaisuri supaya bisa beristirahat dengan baik. Dalam perjalanan di kereta kuda, sesekali William melirik Esther, suasana hatinya masih terlihat baik. 'Apakah hal yang tadi tidak dipikirkannya sama sekali?' William bertanya-tanya dalam hati. "Kalau bukan karena lelah, aku ingin berada di sana sedikit lebih lama." Esther mengeluh. William menaikkan sebelah alis. "Ingin di sana lebih lama, maksudmu?" "Aku belum bertemu dengan teman-temanku.""Untuk hal itu, bukankah sudah sepakat akan menggelar pesta teh saja? Kenapa? Kau tidak sa
Keheningan yang menjalar di dalam aula dansa setelah tuntutan Claire terasa begitu pekat.Para anggota dewan yang sebelumnya sempat bernapas lega kini malah menahan napas dengan raut wajah cemas, buru-buru menundukkan kepala sebelum mendengar komentar William mengenai permintaan itu. Sementara di tempat duduknya, William masih menatap tajam ke arah Claire dengan kedua tangan terkepal di atas lutut. Ia kesulitan mengambil keputusan dalam situasi yang tak terduga ini. Ia tidak mungkin menolak apa yang sudah membuat seorang Saintess sampai merundukkan kepalanya untuk memohon. Terlebih, permintaan ini sebenarnya sama sekali tidak merugikan. Tapi apakah kenyamanan Esther tetap terjamin? Ia tidak punya rencana lain untuk menghindari permohonan itu. Tidak punya sesuatu yang lebih layak untuk dijadikan pengganti. Di tengah ketegangan itu, Esther dengan senyum lembut menyentuh punggung tangan William dan menenangkannya. Esther mengangguk pelan sambil menatap William dengan tenang. "Esth







