LOGINLahir di keluarga yang cukup harmonis dan penuh cinta kasih, membuat Erin pernah berandai-andai, apa rasanya jatuh cinta dan dicintai seseorang?
Sampai ketika dirinya masuk SMA, Erin bertemu dengan seorang Rama Mahanta. Dari sejumlah teman, Erin mengetahui satu-dua hal tentang pemuda itu. Tampan, populer, dan berasal dari keluarga kaya. Hal-hal itu membuat Erin awalnya mengira Rama adalah sosok yang arogan. Akan tetapi, tidak disangka, pria itu jauh berkebalikan dari ekspektasinya. Rama cerdas, hangat, perhatian, dan memiliki empati tinggi. Ditambah beberapa kegiatan yang mengharuskannya menjadi partner Erin, keduanya pun menjadi dekat dengan sangat cepat. Sampai akhirnya, Rama pun mengutarakan perasaannya pada Erin. “Erin, ayo kita pacaran.” Berusia tujuh belas tahun dan mudah terbuai perasaan, Erin pun langsung menerima Rama dengan dasar keduanya nyaman menghabiskan waktu bersama. Di masa-masa itu, Erin merasa sangat bahagia, hidupnya terasa sempurna. Dia bahkan percaya bahwa Rama akan menjadi cinta pertama dan terakhirnya. Akan tetapi, roda memang terus berputar, dan kebahagiaan tidak pernah bertahan lama. Karena suatu hal yang tidak bisa diselesaikan, hubungan keduanya pun harus berakhir dengan buruk. Sangat buruk. Erin masih ingat tatapan Rama padanya saat itu. Penuh kekecewaan, kemarahan, dan … kebencian mendalam. “Erin, jangan sampai kita bertemu lagi. Karena kalau ya, maka … aku akan pastikan untuk membuatmu menyesal pernah mengenalku.” Dan sekarang, belasan tahun setelah masa itu, kenapa takdir harus mempertemukan mereka kembali? Selagi Erin sibuk dengan isi pikirannya sendiri, mendadak suara kepala sekolah terdengar berucap, “Rama, tentu kamu masih ingat Erin ‘kan?” “Kalian dulu sempat dipasangkan jadi model untuk mempromosikan sekolah Gravion. Ingat tidak?” Kening Erin berkerut, tidak nyaman mengingat masa lalu itu. Tapi, tak dia sangka— “Tentu, itu momen yang tidak mungkin saya lupakan.” Jawaban Rama membuat Erin tersentak. Dia menoleh cepat ke arah pria itu dan terkejut dengan tatapan pria itu padanya. Lurus, tajam, dan intens. Terkejut, Erin langsung kembali membuang muka. Pria itu jelas sedang berbasa-basi. Setelah apa yang terjadi di antara mereka, Rama mungkin sudah lama menghapus momen tersebut dari memorinya. Tanpa menyadari ketidaknyamanan Erin, Kepala sekolah hanya tertawa. “Kalian sepertinya memang berjodoh karena Gravion, ya!” Mendengar itu, Erin melirik sang kepala sekolah dengan tatapan tajam. Dari dulu sampai sekarang, kepala sekolahnya ini memang tidak bisa berhenti bicara sembarangan. Tapi di saat itu, tawa rendah terdengar, membuat Erin membeku. Dengan hati-hati, dia menoleh, melihat Rama yang ternyata tertawa. “Berjodoh?” Dia melirik Erin dan dengan nada penuh arti berkata, “Bisa jadi.” Tatapan Rama membuat napas Erin sesak dan jantungnya berdebar was-was. Dirinya dan Rama adalah mantan kekasih yang hubungannya tidak pernah diketahui orang lain. Tak hanya itu, mereka juga putus dengan cukup buruk. Jadi, apa maksud Rama mengucapkan hal seperti itu? Apa pria tersebut sedang mengejek masa lalu mereka? Menepis dugaan tersebut, Erin menggelengkan kepala. Dia tidak peduli apa maksud Rama. Tapi yang jelas, pertemuan ini membuatnya tidak nyaman, dan dia ingin segera pergi dari sini! “Pak kepala, saya—” Namun, belum sempat kalimat Erin selesai, mendadak kepala sekolah berucap dengan mata berbinar, “Benar juga! Bagaimana untuk merayakan reuni dadakan kalian, sekaligus membantu mempromosikan dokumenter Rama dan klinik Erin, kalian jadi model untuk banner promosi Gravion lagi?!” Pak kepala sekolah menatap Erin dan Rama bergantian. “Kalian pasti bersedia, bukan?” Tanpa berpikir panjang, Erin ingin langsung menolak. Akan tetapi, Rama telah terlebih dulu mendahuluinya. “Saya tidak keberatan, tapi …,” matanya melirik Erin, melemparkan keputusan di tangan wanita tersebut. Lantas kepala sekolah menoleh ke arah Erin, “Erin! Kamu tidak akan menolak, buk—” “Maaf!” Semua orang terkejut. Tidak menyangka reaksi Erin akan begitu keras. Saat sadar reaksinya berlebihan, Erin tergagap. “Ah … itu … aku—” Dia ingin menjelaskan, tapi tidak ada kalimat lengkap yang bisa diucapkan. Semua orang sudah mendengar penolakan kerasnya dan sedang menilai gerak-geriknya dalam hati. Di saat Erin merasa kacau, pandangannya tak sengaja terarah pada Rama. Dan di saat itu, pemandangan tak terduga terlihat olehnya. Rama … tersenyum. Walau samar, tapi Erin bisa melihat sudut bibir pria itu terangkat, seperti menertawakan dirinya karena kehilangan ketenangan! Merasa dipermalukan, wajah Erin memerah. Cepat, dia menundukkan wajah dan segera berkata, “Maaf, saya masih banyak urusan! Pak kepala sekolah, tolong kabari saya segera ketika kontraknya selesai! Permisi!” Tanpa bahkan menunggu balasan kepala sekolah, Erin langsung pergi. Menatap kepergian Erin yang tergesa-gesa, kepala sekolah menggaruk kepala dan bergumam, “Kenapa … rasanya dia seperti gelisah begitu?” Sementara itu, Rama menatap punggung Erin dari belakang dalam diam, dan matanya berkilat penuh makna. *** ‘Haahh ….’ Helaan napas terlontar berat dari bibir Erin saat dia sedang menyandarkan kepalanya di kaca jendela bus. ‘Tadi … sepertinya aku keterlaluan …,’ batinnya dalam hati. Selepas berpamitan, Erin langsung meninggalkan Gravion dan masuk ke dalam bis pertama yang berhenti untuk pulang ke klinik. Akan tetapi, sudah beberapa waktu berlalu, dia masih belum bisa melupakan pertemuannya dengan Rama di sekolah. Tercetak jelas di benaknya mengenai bagaimana Rama tersenyum mengejek saat melihat dirinya kelepasan meneriaki kepala sekolah. ‘Dia seperti sengaja …,’ duga Erin. Ekspresinya tampak kesulitan. ‘Tapi, kenapa? Apa dia masih dendam karena kejadian dulu? Itu alasannya dia mempersulitku seperti tadi?’ tebaknya. Sontak, Erin tertawa dingin, mengejek dirinya sendiri. ‘Tentu saja, setelah diperlakukan seperti itu, siapa yang tidak akan dendam? Aku pun ….’ Sadar bahwa dirinya mulai melamunkan masa lalu, Erin langsung menggelengkan kepalanya. Pertemuan tadi hanya kebetulan, dan mereka kemungkinan besar tidak akan bertemu lagi. Jadi, untuk apa Erin terus memikirkan pria itu? Saat bus tiba di halte tujuan, Erin pun turun dan berjalan menyusuri bahu jalan untuk menuju area ruko tempat klinik berada. Selagi berjalan, Erin melihat sederet mobil mewah yang memasuki gerbang kompleks perumahan di seberang kawasan rukonya. Ini adalah alasan Erin dan temannya menyewa tempat di kawasan ini untuk klinik mereka. Berada tepat di depan kompleks perumahan mewah, tempat tersebut tepat untuk membangun usaha lantaran calon-calon klien kebanyakan berasal dari orang berada! Erin pun mengepalkan tangan dan menyemangati dirinya. Dibandingkan memikirkan masa lalu yang sudah selesai, lebih baik dia mulai membangun rencana untuk mencerahkan masa depan kliniknya! Tapi, begitu Erin tiba di depan klinik, dia membeku. Kenapa pintu kliniknya yang biasa tertutup … terbuka begitu lebar? Lalu, detik berikutnya Erin terkesiap. Maling?! Dengan cepat, Erin langsung berlari untuk memasuki klinik. Dia menoleh ke kiri dan ke kanan untuk mengecek situasi, berharap tidak ada benda penting yang hilang. Kemudian, tepat ketika Erin kebingungan lantaran semua barang berada di tempat yang seharusnya, sebuah suara terdengar berkata, “Akhirnya kamu kembali juga, Erin ….” Sontak, Erin tersentak dan langsung menoleh. Seketika, matanya terbelalak. “Kamu—” ***Erin tidak segan mendorong bahu Rama agar menjauh. “Pergi,” pintanya sambil tanpa sadar mulai memukul dada pria di hadapannya dengan lemah. “Tolong, Rama, jangan seperti ini.” Erin menggeleng-gelengkan kepalanya. Entah untuk menolak Rama atau menolak kenyataan yang akhirnya terbongkar juga. Kedua tangan Rama menahan lengan Erin di dadanya. “Kamu yang membuatku tampak menyedihkan seperti ini, Erin.” Suara Rama terdengar jauh lebih lirih dibandingkan sebelumnya. Selama sepuluh tahun, dia percaya kalau Erin–cinta pertamanya telah mengkhianatinya. Jadi, Rama terus memupuk kebencian terhadap sosok Erin. Bahkan dengan kejamnya, dia sengaja membuat wanita itu kesulitan. “Kalau memang alasanmu memutuskanku dulu karena permintaan Ayah …,” Rama menjeda ucapannya. Rahangnya mengeras, seakan kalimat berikutnya terlalu berat untuk keluar dari bibirnya. Dia berusaha menelan egonya. “Lalu, bagaimana dengan kamu yang memacari rival basketku?” Tidak sedikit pun Rama menggeser pandangannya dari
“Jangan-jangan kamu berpikir bisa balikan dengan Rama?”Di balik pintu ruang fisioterapi yang ternyata tidak tertutup rapat, Rama yang baru saja tiba mengernyit ketika mendengar suara Rowan.Jadi … benar ayahnya ada di sini?Tangannya yang semula hendak mendorong pintu seketika mengurungkan niat untuk masuk. Entah pembicaraan apa yang sedang berlangsung di dalam, Rama memilih diam dan memutuskan mendengarkan terlebih dahulu.“Aku bertanya, Nona Erin.”Suara Rowan kembali terdengar mengudara.Sebelum benar-benar menjawab, pandangan Erin tidak sengaja bergeser ke arah pintu.Mungkin karena Siska tadi pergi terlalu terburu-buru, pintu itu tidak tertutup sepenuhnya. Karena di balik kaca buramnya, samar-samar terlihat bayangan seseorang yang berdiri di sana. Erin tidak bisa mengenali siapa sosok itu. Mungkin hanya seseorang yang kebetulan lewat, pikirnya, sebelum dehaman Rowan membuat pandangannya kembali teralihkan.Wanita itu mengembuskan napas pelan, berusaha menenangkan dirinya sendir
Beberapa saat sebelum memutuskan bergabung ke kafetaria untuk makan siang, Erin masih memiliki satu pekerjaan yang menurutnya tanggung jika ditinggalkan. Jadi, dia memilih menyelesaikannya lebih dulu di ruang fisioterapi yang saat itu hanya dihuni dirinya seorang.Erin tetap fokus pada pekerjaannya sampai suara pintu terbuka terdengar dari belakang.“Ada yang bisa kubantu?” tanyanya sambil mengangkat wajah.Dalam sekejap, tubuhnya membeku. Bahu Erin tampak menegang. Napasnya terasa tercekat di tenggorokan. Sebenarnya kakinya juga sulit untuk digerakkan. Namun, Erin tetap memaksakan diri melangkah mendekat. Dia menundukkan kepala sedalam mungkin.“Pak Rowan … lama tidak bertemu dengan Anda.” Erin menyapa sosok pria yang datang dengan suara yang terdengar sedikit gemetar.Di hadapannya, Rowan Mahanta menatapnya intens dari atas kepala hingga ujung kaki Erin, membuat kedua tangan wanita itu meremas erat sisi celananya.“Jadi …,” Rowan mendengus pelan. “Kamu wanita yang bersama Rama di da
Malam itu Erin menyadari kalau dirinya sudah terlalu banyak ikut campur terhadap apa yang terjadi dengan Rama.Entah ada masalah apa di antara Rama dan Sena, wanita pengirim pesan tanpa nama, hal-hal seperti itu seharusnya dibiarkan berlalu saja.Ah, dan satu hal lagi.Erin juga sempat menanyakan nama lengkap Manajer Lee.Mendapati pertanyaan yang tiba-tiba itu, Rama jelas dibuat penasaran. “Kenapa tiba-tiba menanyakan manajerku?”Karena tidak ingin menjelaskan lebih lanjut, Erin pun menarik kembali pertanyaannya. Dia beralibi, “Itu … cuma penasaran saja. Kalau Manajer Lee tahu apa yang baru saja kamu lakukan, dia pasti juga akan kesal sepertiku.”Erin menambahkan, “Sejak awal aku sudah memanggilnya Manajer Lee, tapi sebenarnya aku tidak tahu nama aslinya.”“Cukup panggil Manajer Lee saja.”Sampai di situ, Rama tidak memberikan jawaban lain. Oleh karena itu, Erin tidak bertanya lebih lanjut.Tidak mungkin dia terang-terangan memberitahu asumsi konyolnya kalau pria bernama ‘Pak Lee’ ya
“Kalau kamu tidak mencoba menghentikkan permainan, aku tidak akan kalah, Erin.”Begitu menyusul Erin masuk ke ruang fisioterapi, Rama tidak segan menyuarakan kekesalannya. Namun, dia sengaja menjaga jarak, seakan tidak ingin kekesalannya memuncak.Erin yang sedang menyiapkan alat terapi di dekat salah satu bed menatap Rama setengah tidak percaya. “Dalam situasi tadi, kamu masih memikirkan hal itu?”Tidak hanya Rama yang kesal. Erin pun sama. Kedua alisnya bertaut tidak kalah tajam. “Kalau cederamu memburuk, kamu bisa absen bertanding berbulan-bulan.”Bukan hanya proses terapinya yang akan berjalan lebih lama, tetapi juga kesempatan Rama untuk kembali bermain di lapangan. Tidakkah seharusnya pria itu menyadari hal tersebut?Keduanya masih saling bertatapan sengit sampai akhirnya Rama yang lebih dulu membuang pandangan. Dia mendengus pelan. “Kamu tidak mengerti.”“Apa yang tidak aku mengerti?” balas Erin seakan menantang Rama.Apa yang dia lakukan adalah mencoba memahami pria keras kepa
Apa mau dikata, Erin tidak punya pilihan lain selain berlari ke tengah lapangan, tepat di mana baik Rama maupun Sena masih sibuk memperebutkan bola.“Fisio Erin, apa yang kamu lakukan?” Coach Teknik terdengar panik begitu melihat wanita itu berada di jalur permainan, seakan memaksa kedua pria itu untuk menyadari kehadirannya.Sebenarnya Rama langsung bisa merasakan kehadiran sosok lain. Dari suara yang terdengar menyerukan nama Erin, demi memastikan Rama sempat menolehkan pandangan dan menukikkan alis saat benar-benar melihat wanita itu tepat ada di sampingnya.“Berikan bolanya padaku,” pinta Erin sambil mengulurkan kedua tangannya pada Sena.Mendengarnya, Sena yang sedang menggiring bola tertawa pelan. Selama lebih dari lima belas menit berduel dengan Rama, Coach Teknik yang sejak tadi berusaha menghentikkan mereka pun hanya bisa memanggil dari pinggir lapangan.Apa yang membuat fisioterapis tim ini sampai nekad untuk menghentikkan mereka?“Kamu mau ikut bermain, Fisio Erin?” goda Se
Erin Kayonna berdiri di depan gerbang SMA Gravion dengan satu tangan menggenggam erat dokumennya.Setelah sepuluh tahun lalu meninggalkan kota ini dengan memori buruk, Erin tidak menyangka dia malah kembali ke tempat ini lagi. Tapi, keadaan memaksa, jadi Erin tidak memiliki pilihan lain.Kesehatan
Ditanya tanpa basa-basi seperti itu, Erin berusaha menjawab dengan tenang selagi menggenggam ujung bajunya sendiri, “Aku ke sini untuk bicara padamu.” Rama tidak langsung membalas. Pria itu hanya diam menatap Erin, menunggu lanjutan penjelasannya. “Aku dengar … kamu merekomendasikan fisioterapis
Wanita berambut ikal itu langsung tersentak dan buru-buru melepaskan lengan Erin. “Ka-Kak Rama, aku cuma—” wanita itu buru-buru memasang senyum canggung. “Tadi dia bikin rusuh, jadi aku—” Namun, Rama bahkan tidak meliriknya. Pria itu langsung berjalan mendekati Erin dan berhenti tepat di depanny
“Sekali lagi, saya minta maaf karena kerja sama ini tidak terjadi, Bu Erin. Selamat sore.”BIP.Panggilan itu berakhir sebelum Erin sempat memberikan respons.Tangannya yang memegang ponsel kemudian merosot turun. Dia memejamkan mata dan menghela napas, berusaha menenangkan api kemarahan yang mulai







