เข้าสู่ระบบKalimat Cakka membuat jantung Erin berdebar. Dia melirik sang sahabat yang lanjut berkata, “Apa mungkin kalian sebenarnya—”
“Kami rival,” sela Erin cepat seraya membasahi bibir bawahnya. “Ah?” Cakka menatap Erin penuh selidik, tidak langsung percaya. “Rival …?” Erin menelan makanannya dan menatap Cakka. “Sifat kami tidak cocok, dan selalu ada saja hal yang kami jadikan kompetisi.” Dia menyendok makanannya lagi. “Intinya, kami tidak akur, tapi tidak sepenuhnya benci. Jadi … rival.” Kerutan di dahi Cakka terlihat dalam. “Hanya itu?” Usai menyuapkan makanan ke dalam mulut dan menelannya, Erin mengalihkan pandangan dari bento yang sudah kosong kembali ke Cakka. “Apa lagi yang kamu harapkan?” Cakka menyandarkan punggungnya ke kursi dan menghela napas kasar. Raut wajah yang semula tampak antusias pun sirna. “Tidak seru. Kukira kalian mantan pacar, makanya kamu tidak suka saat mendengar namanya.” Erin hampir tersedak mendengar tebakan sahabatnya itu, tapi cepat dia berusaha menjawab tenang, “Jangan mengada-ada.” Balasan tegas Erin membuat Cakka langsung percaya. “Ya, masuk akal juga. Kalau kamu ada kenalan sehebat Rama Mahanta, kenapa kamu takut klinik ini tidak terkenal dan repot-repot bekerja sama dengan Gravion? Cukup minta bantuannya saja ‘kan bisa!” Erin hanya tersenyum canggung untuk membalas ucapan temannya itu. Dalam hati, dia sedikit memaki insting sahabatnya yang sangat akurat itu. Sungguh, tidak bisa Erin bayangkan kalau Cakka tahu tentang hubungannya dengan Rama di masa lalu. Bisa-bisa Cakka terus menginterogasi dan menghantuinya soal itu! Terlebih karena Cakka adalah fans berat seorang Rama Mahanta! ‘Hah … Rama … semoga kita tidak saling terlibat lagi.’ *Tiga hari kemudian* Thump! Thump! Thump! Suara langkah sepatu yang mantap terdengar bergema di lorong sekolah Gravion. Pria dengan seragam basket putih bernomor punggung sebelas itu berjalan penuh percaya diri, membuatnya memancarkan aura maskulinitas kuat. Di depannya, sang manajer berpenampilan selayaknya bodyguard dengan sigap membukakan pintu, mempersilakan Rama masuk ke satu ruangan khusus yang diperuntukkan baginya selama berada di Gravion. Rama kemudian duduk di kursi rehatnya diikuti sang manajer yang duduk di kursi lain. Keduanya tampak berbincang tentang sesuatu yang serius hingga akhirnya manajer Rama menyerahkan dokumen padanya. “Ini hasil investigasi yang kamu minta tadi.” “Mm, oke.” Selagi menunggu kabar dari kru syuting untuk adegan selanjutnya, Rama tampak serius membaca dokumen tersebut. David Lee atau yang lebih akrab disapa manajer Lee memperhatikan lekat-lekat sosok Rama. Tak bisa menahan rasa ingin tahunya, dia pun memilih bertanya, “Kenapa kamu begitu ingin tahu soal orang ini? Bukannya hubungan kalian sudah berakhir?” “Kata siapa?” dengus Rama. Sontak manajer Lee terkejut mendengar jawaban itu. “Hah?” Rama kemudian menatap manajernya dan mengulangi ucapannya. Penuh penekanan. “Siapa yang bilang hubungan kami sudah berakhir?” Manajer Lee kemudian menghela napas dan menyisir rambut frustrasi. “Rama, kalian sudah putus lama! Saat kalian bertemu kemarin, dia bahkan ingin cepat-cepat menjauh darimu! Apa kurang kentara kalau dia tidak ingin lagi ada hubungan denganmu?” Ekspresi manajer yang telah mendampingi Rama sejak pria itu berusia dua puluh tahun tersebut tampak rumit. “Dan lagi, setelah yang dia lakukan padamu dulu, akan lebih pantas kalau kamu—” “Jaga batasanmu,” potong Rama selagi menatap manajernya dingin. “Apa yang kulakukan di luar karir sama sekali tidak perlu campur tanganmu, Manajer Lee.” Ketegangan di udara membuat sang manajer menelan ludah, terutama karena tatapan Rama yang seperti ingin menelan seseorang. Sesungguhnya, Manajer Lee tidak tahu jelas detail masa lalu Rama dengan wanita bernama Erin itu. Yang dia tahu … adalah keduanya pernah memiliki hubungan, tapi berakhir begitu buruk karena alasan yang tidak diketahui. Masalahnya sekarang, di saat karir Rama sedang berada di puncak tertinggi, masa paling bersinar–sekaligus paling berbahaya—kenapa wanita itu malah muncul dan menjadi ancaman terhadap kestabilan emosi Rama?! Apa tidak cukup perbuatannya di masa lalu yang membuat Rama sempat berada di titik kelam hidupnya?! Sebagai seorang manajer, bagaimana mungkin Manajer Lee diam saja? Ini juga menyangkut karir dan tanggung jawabnya! Tepat di saat ini, seseorang dari kru film mengetuk pintu dan masuk ke dalam. “Rama, ayo kita lanjut lagi!” serunya. Panggilan itu membuat Rama mengalihkan pandangan lalu menganggukkan kepala. Dia kemudian berdiri dari kursi rehatnya dan membuang dokumen di tangan ke tong sampah. “Manajer Lee.” Panggilan Rama membuat sang manajer tersentak. “Pastikan segala urusan menyangkut wanita itu, entah itu hari ini maupun nanti, hanya diketahui kita berdua. Mengerti?” Ditatap intens penuh ancaman oleh Rama, manajer Lee menjawab dengan terpaksa, “Aku mengerti.” Ekspresi gelap Rama perlahan menghilang. Dia berkata, “Bagus.” Sebelum dia benar-benar menghilang ke balik pintu, Rama mendadak berhenti dan berkata, “Kudengar wanita itu sempat bertemu Kepala Sekolah untuk sebuah kerja sama.” Manajer Lee tersentak. “Ah? Ah … ya ….” Rama lanjut berkata, “Kamu tahu apa yang harus dilakukan, bukan?” “... Ya.” Mendengar jawaban itu, Rama pun cepat berbalik dan pergi untuk melanjutkan syutingnya. Manajer Lee menghela napas dan langsung berbalik untuk menghampiri ruang kepala sekolah. Di dalam hati, dia hanya bisa mengasihani sosok Erin—pun mereka tidak pernah saling mengenal—dan membatin, ‘Dosa apa yang sebenarnya sudah kamu perbuat pada iblis itu, Erin Kayonna?’ ***Erin tidak segan mendorong bahu Rama agar menjauh. “Pergi,” pintanya sambil tanpa sadar mulai memukul dada pria di hadapannya dengan lemah. “Tolong, Rama, jangan seperti ini.” Erin menggeleng-gelengkan kepalanya. Entah untuk menolak Rama atau menolak kenyataan yang akhirnya terbongkar juga. Kedua tangan Rama menahan lengan Erin di dadanya. “Kamu yang membuatku tampak menyedihkan seperti ini, Erin.” Suara Rama terdengar jauh lebih lirih dibandingkan sebelumnya. Selama sepuluh tahun, dia percaya kalau Erin–cinta pertamanya telah mengkhianatinya. Jadi, Rama terus memupuk kebencian terhadap sosok Erin. Bahkan dengan kejamnya, dia sengaja membuat wanita itu kesulitan. “Kalau memang alasanmu memutuskanku dulu karena permintaan Ayah …,” Rama menjeda ucapannya. Rahangnya mengeras, seakan kalimat berikutnya terlalu berat untuk keluar dari bibirnya. Dia berusaha menelan egonya. “Lalu, bagaimana dengan kamu yang memacari rival basketku?” Tidak sedikit pun Rama menggeser pandangannya dari
“Jangan-jangan kamu berpikir bisa balikan dengan Rama?”Di balik pintu ruang fisioterapi yang ternyata tidak tertutup rapat, Rama yang baru saja tiba mengernyit ketika mendengar suara Rowan.Jadi … benar ayahnya ada di sini?Tangannya yang semula hendak mendorong pintu seketika mengurungkan niat untuk masuk. Entah pembicaraan apa yang sedang berlangsung di dalam, Rama memilih diam dan memutuskan mendengarkan terlebih dahulu.“Aku bertanya, Nona Erin.”Suara Rowan kembali terdengar mengudara.Sebelum benar-benar menjawab, pandangan Erin tidak sengaja bergeser ke arah pintu.Mungkin karena Siska tadi pergi terlalu terburu-buru, pintu itu tidak tertutup sepenuhnya. Karena di balik kaca buramnya, samar-samar terlihat bayangan seseorang yang berdiri di sana. Erin tidak bisa mengenali siapa sosok itu. Mungkin hanya seseorang yang kebetulan lewat, pikirnya, sebelum dehaman Rowan membuat pandangannya kembali teralihkan.Wanita itu mengembuskan napas pelan, berusaha menenangkan dirinya sendir
Beberapa saat sebelum memutuskan bergabung ke kafetaria untuk makan siang, Erin masih memiliki satu pekerjaan yang menurutnya tanggung jika ditinggalkan. Jadi, dia memilih menyelesaikannya lebih dulu di ruang fisioterapi yang saat itu hanya dihuni dirinya seorang.Erin tetap fokus pada pekerjaannya sampai suara pintu terbuka terdengar dari belakang.“Ada yang bisa kubantu?” tanyanya sambil mengangkat wajah.Dalam sekejap, tubuhnya membeku. Bahu Erin tampak menegang. Napasnya terasa tercekat di tenggorokan. Sebenarnya kakinya juga sulit untuk digerakkan. Namun, Erin tetap memaksakan diri melangkah mendekat. Dia menundukkan kepala sedalam mungkin.“Pak Rowan … lama tidak bertemu dengan Anda.” Erin menyapa sosok pria yang datang dengan suara yang terdengar sedikit gemetar.Di hadapannya, Rowan Mahanta menatapnya intens dari atas kepala hingga ujung kaki Erin, membuat kedua tangan wanita itu meremas erat sisi celananya.“Jadi …,” Rowan mendengus pelan. “Kamu wanita yang bersama Rama di da
Malam itu Erin menyadari kalau dirinya sudah terlalu banyak ikut campur terhadap apa yang terjadi dengan Rama.Entah ada masalah apa di antara Rama dan Sena, wanita pengirim pesan tanpa nama, hal-hal seperti itu seharusnya dibiarkan berlalu saja.Ah, dan satu hal lagi.Erin juga sempat menanyakan nama lengkap Manajer Lee.Mendapati pertanyaan yang tiba-tiba itu, Rama jelas dibuat penasaran. “Kenapa tiba-tiba menanyakan manajerku?”Karena tidak ingin menjelaskan lebih lanjut, Erin pun menarik kembali pertanyaannya. Dia beralibi, “Itu … cuma penasaran saja. Kalau Manajer Lee tahu apa yang baru saja kamu lakukan, dia pasti juga akan kesal sepertiku.”Erin menambahkan, “Sejak awal aku sudah memanggilnya Manajer Lee, tapi sebenarnya aku tidak tahu nama aslinya.”“Cukup panggil Manajer Lee saja.”Sampai di situ, Rama tidak memberikan jawaban lain. Oleh karena itu, Erin tidak bertanya lebih lanjut.Tidak mungkin dia terang-terangan memberitahu asumsi konyolnya kalau pria bernama ‘Pak Lee’ ya
“Kalau kamu tidak mencoba menghentikkan permainan, aku tidak akan kalah, Erin.”Begitu menyusul Erin masuk ke ruang fisioterapi, Rama tidak segan menyuarakan kekesalannya. Namun, dia sengaja menjaga jarak, seakan tidak ingin kekesalannya memuncak.Erin yang sedang menyiapkan alat terapi di dekat salah satu bed menatap Rama setengah tidak percaya. “Dalam situasi tadi, kamu masih memikirkan hal itu?”Tidak hanya Rama yang kesal. Erin pun sama. Kedua alisnya bertaut tidak kalah tajam. “Kalau cederamu memburuk, kamu bisa absen bertanding berbulan-bulan.”Bukan hanya proses terapinya yang akan berjalan lebih lama, tetapi juga kesempatan Rama untuk kembali bermain di lapangan. Tidakkah seharusnya pria itu menyadari hal tersebut?Keduanya masih saling bertatapan sengit sampai akhirnya Rama yang lebih dulu membuang pandangan. Dia mendengus pelan. “Kamu tidak mengerti.”“Apa yang tidak aku mengerti?” balas Erin seakan menantang Rama.Apa yang dia lakukan adalah mencoba memahami pria keras kepa
Apa mau dikata, Erin tidak punya pilihan lain selain berlari ke tengah lapangan, tepat di mana baik Rama maupun Sena masih sibuk memperebutkan bola.“Fisio Erin, apa yang kamu lakukan?” Coach Teknik terdengar panik begitu melihat wanita itu berada di jalur permainan, seakan memaksa kedua pria itu untuk menyadari kehadirannya.Sebenarnya Rama langsung bisa merasakan kehadiran sosok lain. Dari suara yang terdengar menyerukan nama Erin, demi memastikan Rama sempat menolehkan pandangan dan menukikkan alis saat benar-benar melihat wanita itu tepat ada di sampingnya.“Berikan bolanya padaku,” pinta Erin sambil mengulurkan kedua tangannya pada Sena.Mendengarnya, Sena yang sedang menggiring bola tertawa pelan. Selama lebih dari lima belas menit berduel dengan Rama, Coach Teknik yang sejak tadi berusaha menghentikkan mereka pun hanya bisa memanggil dari pinggir lapangan.Apa yang membuat fisioterapis tim ini sampai nekad untuk menghentikkan mereka?“Kamu mau ikut bermain, Fisio Erin?” goda Se
“Sekali lagi, saya minta maaf karena kerja sama ini tidak terjadi, Bu Erin. Selamat sore.”BIP.Panggilan itu berakhir sebelum Erin sempat memberikan respons.Tangannya yang memegang ponsel kemudian merosot turun. Dia memejamkan mata dan menghela napas, berusaha menenangkan api kemarahan yang mulai
Di sisi lain, tepatnya di dalam kamar sebuah rumah, Erin bersin dengan cukup keras.“Hachi!”“Astaga, Erin. Kamu sakit, Nak?” ucap sang ibu yang terbaring di tempat tidurnya dengan wajah khawatir. “Maaf ya, Nak. Kamu pasti kecapekan rawat Ibu. Makanya sakit.”“Nggak kok, Bu. Tenang aja. Erin nggak
“Erin, jangan marah! Aku benar-benar tidak sengaja!”Rengekan itu membuat Erin, yang sedang menyantap makan siangnya di klinik, mengangkat pandangan dan menatap ke depan.Seorang pria dengan warna rambut blonde dan mata biru terang indah tampak memasang wajah memelas di hadapannya.“Tolong, maafkan
Lahir di keluarga yang cukup harmonis dan penuh cinta kasih, membuat Erin pernah berandai-andai, apa rasanya jatuh cinta dan dicintai seseorang?Sampai ketika dirinya masuk SMA, Erin bertemu dengan seorang Rama Mahanta. Dari sejumlah teman, Erin mengetahui satu-dua hal tentang pemuda itu. Tampan,







