تسجيل الدخولDi sisi lain, tepatnya di dalam kamar sebuah rumah, Erin bersin dengan cukup keras.
“Hachi!” “Astaga, Erin. Kamu sakit, Nak?” ucap sang ibu yang terbaring di tempat tidurnya dengan wajah khawatir. “Maaf ya, Nak. Kamu pasti kecapekan rawat Ibu. Makanya sakit.” “Nggak kok, Bu. Tenang aja. Erin nggak sakit. Erin bersin cuma karena debu,” balas Erin cepat sambil tersenyum hangat. Dia kemudian menaikkan selimut untuk menghangatkan tubuh ibunya yang kini berbaring di ranjang tidur. Menatap sang ibu yang tampak lemas, senyuman Erin sedikit goyah. Hari ini terhitung bulan ketiga sejak dia kembali ke kota asal untuk membangun klinik sekaligus menjaga kedua orang tuanya. Tapi sejauh ini … kondisi ibunya yang didiagnosis Alzheimer tidak menunjukkan perbaikan. Justru semakin menurun. Beberapa saat lalu, saat Erin berjaga di klinik, dia mendadak menerima telepon dari sang ayah yang mengatakan bahwa ibunya keracunan makanan. Panik, Erin langsung pulang dan membawa sang ibu ke rumah sakit. Untungnya, kondisi sang ibu berhasil ditangani dengan cepat, dan dia bisa langsung diperbolehkan pulang. Kejadian seperti itu bukan yang pertama kali terjadi. Hera—ibu Erin—sudah beberapa kali membahayakan diri akibat penyakitnya. Bukan cuma pernah mendadak menghilang hingga malam dan membuat panik seisi rumah, tapi Hera juga pernah menyalakan kompor lalu melupakannya hingga dapur hampir terbakar. Hal-hal seperti itulah yang membuat Wisam, yang tadinya adalah seorang guru di Gravion, berhenti dari pekerjaannya dan memilih bekerja sebagai pengemas hasil panen jeruk di toko dekat rumah. Semua agar dia bisa terus mengawasi sang istri. Sebelumnya, adik laki-laki Erin selalu berusaha pulang setiap libur semester untuk membantu ayah mereka untuk menjaga sang ibu. Akan tetapi, karena harus fokus dengan tugas kelulusannya, dia semakin sulit pulang. Alhasil, sebagai anak tertua sekaligus yang paling mapan, Erin memutuskan untuk pulang dan membangun bisnisnya di kota ini. Semua demi bisa memiliki waktu untuk menjaga ibu dan ayahnya. Erin sungguh berharap bisnisnya dengan Cakka bisa segera makmur. Karena hal tersebut bukan hanya akan membantunya secara finansial, tapi juga memberikannya lebih banyak waktu untuk menjaga kedua orang tuanya sendiri. ‘Semoga hari ini Kepala Sekolah kirim kontraknya,’ batin Erin. Lalu pintu kamar terbuka. Erin menoleh ke sana dan menemukan Wisam datang sambil membawa air kelapa untuk Hera agar tidak mengalami dehidrasi. Namun, ada hal lain di tangan ayahnya yang membuat Erin menghela napas. “Yah, Erin sudah pernah bilang, kurangi minuman manis begitu.” “Oh, ini?” Usai memberikan air kelapa itu pada Hera untuk diminum, Wisam menunjuk minuman botol yang ada di tangannya. “Ini minuman isotonik, bukan soda,” jelasnya. Dia lalu memutar botol tersebut ke arah Erin dan berkata, “Perhatikan baik-baik, siapa model iklan minuman ini?” “ … Rama?” Itu bukan Erin yang menjawab, melainkan Hera. Erin terdiam dan langsung menatap sang ibu. Dia membatin, ‘Ibu ingat soal Rama?’ Pasalnya ingatan Hera memburuk setelah adanya diagnosis penyakit tersebut. Hera bahkan pernah lupa wajah ibunya yang sudah lama meninggal. Lalu, bagaimana bisa Hera bisa mengingat soal Rama? “Loh, Ibu masih ingat siapa Rama?” Wisam menyuarakan pertanyaan yang sama persis dengan yang ada di benak Erin. Hera menjauhkan gelas yang berisi air kelapa di bibirnya dan menganggukkan kepala. “Ibu tahu. Wajahnya sering Ibu lihat di televisi.” Jawaban Hera tak cukup sampai di sana. Dia melanjutkan, “Wajahnya mirip dengan teman Erin yang pernah datang ke sini. Apa mereka orang yang sama?” Mendengar Hera mengingat itu dengan baik, Erin tidak tahu harus merasa bersyukur atau tidak. Karena dari sekian banyak hal yang bisa Hera ingat, kenapa harus sosok Rama? Seseorang yang Erin sendiri ingin sekali lupakan. “Ya, mereka Rama yang sama, Bu!” sahut Wisam antusias. Dia juga tidak menyangka Hera mengingat Rama yang sering berkunjung ke rumah karena berteman dengan Erin. “Rumornya Rama sedang ada di kota kita loh!” Wisam terdengar antusias. Dia menatap Erin dan Hera dengan semangat. “Waktu Ayah beli air kelapa tadi, di lapangan basket situ banyak warga berkerumun. Dan saat ayah tanya, katanya Rama sedang di sana.” “Sayang sekali, Ayah tidak sempat ketemu karena terlalu ramai,” keluhnya sambil menghela napas. “Tapi, untungnya Ayah masih dapat minuman isotonik gratis dari petugas.” Terdengar Wisam berdecak kagum. “Rama hebat sekali ya, sekarang. Kamu sudah ketemu belum, Erin?” Ditembak pertanyaan itu, Erin meneguk ludah. Mendadak dia gelagapan. “K–kemarin sempat ketemu, tapi Rama sibuk. Jadi, cuma bertegur sapa saja.” Erin tak menjelaskan banyak. Orang tuanya hanya mengetahui bahwa dia dan Rama berteman. Tidak lebih daripada itu. Di tengah rasa takut ditanyai lebih lanjut, beruntung ponsel di saku celana Erin berdering panjang. “Bu … Yah, Erin izin angkat telepon dulu ya,” pamitnya sebelum langsung keluar untuk mengangkat panggilan. Saat melihat layar, mata Erin terbelalak. “Pak Kepsek?” Ini pasti tentang kontrak kerja sama mereka! Tanpa berpikir panjang, Erin langsung menerima sambungan telepon itu. “Selamat sore, Pak,” sapanya dengan ramah. “Sore. Apa saya mengganggu waktunya, Erin? Saya ingin bicarakan tentang kontrak kerja sama.” Langkah Erin berbelok menuju kamar miliknya. Dia masuk ke dalam dan menyahut antusias, “Sama sekali tidak mengganggu, Pak. Bagaimana jadinya, Pak?” “Emm, jadi ….” Mendengar kecanggungan di suara pak kepala sekolah, senyuman Erin sedikit memudar. Dia pun duduk di sisi ranjang dan berkata, “Ada apa, Pak? Bisa katakan saja langsung. Apa ada masalah dengan klausanya? Ada yang perlu dirundingkan kembali?” cecarnya. “Bukan, Erin. Begini …,” Erin mendengar suara kepala sekolah menarik napas panjang sebelum lanjut berucap, “Yayasan berakhir tidak menyetujui bekerja sama dengan klinikmu.” “Apa?” Erin membeku sesaat. Lalu, kepanikan menyelimutinya. “Bukannya sebelumnya Bapak sendiri sudah setuju dengan kontrak kerja sama yang saya ajukan?” protesnya yang merasa keberatan. “Lalu, apa masalahnya, Pak? Apa perlu ada klausa yang diubah? Atau apa, Pak?” Dua sampai lima detik menunggu, belum ada tanggapan. Sayup-sayup Erin mendengar kepala sekolah tengah berbicara dengan seseorang sebelum akhirnya membalas, “Maaf, Erin, ini sudah keputusan yayasan. Mereka ingin bekerja sama dengan fisioterapis yang lain.” Tanpa jeda, Erin langsung menimpali, “Fisioterapis lain?” Erin sudah memeriksa beberapa lokasi di sekitaran Gravion, tidak ada klinik fisioterapi terdekat dari sana. Alhasil, Erin bertanya untuk memastikan, “Fisioterapis yang mana yang Pak Kepala maksud?” “Ah, itu … sebenarnya kemarin Rama merekomendasikan fisioterapis yang lebih cocok untuk bisa bekerja sama dengan Gravion.” DEG Jantung Erin seperti dipukul keras. Napasnya tercekat di tenggorokan. Kenapa lagi-lagi harus Rama?! **Erin tidak segan mendorong bahu Rama agar menjauh. “Pergi,” pintanya sambil tanpa sadar mulai memukul dada pria di hadapannya dengan lemah. “Tolong, Rama, jangan seperti ini.” Erin menggeleng-gelengkan kepalanya. Entah untuk menolak Rama atau menolak kenyataan yang akhirnya terbongkar juga. Kedua tangan Rama menahan lengan Erin di dadanya. “Kamu yang membuatku tampak menyedihkan seperti ini, Erin.” Suara Rama terdengar jauh lebih lirih dibandingkan sebelumnya. Selama sepuluh tahun, dia percaya kalau Erin–cinta pertamanya telah mengkhianatinya. Jadi, Rama terus memupuk kebencian terhadap sosok Erin. Bahkan dengan kejamnya, dia sengaja membuat wanita itu kesulitan. “Kalau memang alasanmu memutuskanku dulu karena permintaan Ayah …,” Rama menjeda ucapannya. Rahangnya mengeras, seakan kalimat berikutnya terlalu berat untuk keluar dari bibirnya. Dia berusaha menelan egonya. “Lalu, bagaimana dengan kamu yang memacari rival basketku?” Tidak sedikit pun Rama menggeser pandangannya dari
“Jangan-jangan kamu berpikir bisa balikan dengan Rama?”Di balik pintu ruang fisioterapi yang ternyata tidak tertutup rapat, Rama yang baru saja tiba mengernyit ketika mendengar suara Rowan.Jadi … benar ayahnya ada di sini?Tangannya yang semula hendak mendorong pintu seketika mengurungkan niat untuk masuk. Entah pembicaraan apa yang sedang berlangsung di dalam, Rama memilih diam dan memutuskan mendengarkan terlebih dahulu.“Aku bertanya, Nona Erin.”Suara Rowan kembali terdengar mengudara.Sebelum benar-benar menjawab, pandangan Erin tidak sengaja bergeser ke arah pintu.Mungkin karena Siska tadi pergi terlalu terburu-buru, pintu itu tidak tertutup sepenuhnya. Karena di balik kaca buramnya, samar-samar terlihat bayangan seseorang yang berdiri di sana. Erin tidak bisa mengenali siapa sosok itu. Mungkin hanya seseorang yang kebetulan lewat, pikirnya, sebelum dehaman Rowan membuat pandangannya kembali teralihkan.Wanita itu mengembuskan napas pelan, berusaha menenangkan dirinya sendir
Beberapa saat sebelum memutuskan bergabung ke kafetaria untuk makan siang, Erin masih memiliki satu pekerjaan yang menurutnya tanggung jika ditinggalkan. Jadi, dia memilih menyelesaikannya lebih dulu di ruang fisioterapi yang saat itu hanya dihuni dirinya seorang.Erin tetap fokus pada pekerjaannya sampai suara pintu terbuka terdengar dari belakang.“Ada yang bisa kubantu?” tanyanya sambil mengangkat wajah.Dalam sekejap, tubuhnya membeku. Bahu Erin tampak menegang. Napasnya terasa tercekat di tenggorokan. Sebenarnya kakinya juga sulit untuk digerakkan. Namun, Erin tetap memaksakan diri melangkah mendekat. Dia menundukkan kepala sedalam mungkin.“Pak Rowan … lama tidak bertemu dengan Anda.” Erin menyapa sosok pria yang datang dengan suara yang terdengar sedikit gemetar.Di hadapannya, Rowan Mahanta menatapnya intens dari atas kepala hingga ujung kaki Erin, membuat kedua tangan wanita itu meremas erat sisi celananya.“Jadi …,” Rowan mendengus pelan. “Kamu wanita yang bersama Rama di da
Malam itu Erin menyadari kalau dirinya sudah terlalu banyak ikut campur terhadap apa yang terjadi dengan Rama.Entah ada masalah apa di antara Rama dan Sena, wanita pengirim pesan tanpa nama, hal-hal seperti itu seharusnya dibiarkan berlalu saja.Ah, dan satu hal lagi.Erin juga sempat menanyakan nama lengkap Manajer Lee.Mendapati pertanyaan yang tiba-tiba itu, Rama jelas dibuat penasaran. “Kenapa tiba-tiba menanyakan manajerku?”Karena tidak ingin menjelaskan lebih lanjut, Erin pun menarik kembali pertanyaannya. Dia beralibi, “Itu … cuma penasaran saja. Kalau Manajer Lee tahu apa yang baru saja kamu lakukan, dia pasti juga akan kesal sepertiku.”Erin menambahkan, “Sejak awal aku sudah memanggilnya Manajer Lee, tapi sebenarnya aku tidak tahu nama aslinya.”“Cukup panggil Manajer Lee saja.”Sampai di situ, Rama tidak memberikan jawaban lain. Oleh karena itu, Erin tidak bertanya lebih lanjut.Tidak mungkin dia terang-terangan memberitahu asumsi konyolnya kalau pria bernama ‘Pak Lee’ ya
“Kalau kamu tidak mencoba menghentikkan permainan, aku tidak akan kalah, Erin.”Begitu menyusul Erin masuk ke ruang fisioterapi, Rama tidak segan menyuarakan kekesalannya. Namun, dia sengaja menjaga jarak, seakan tidak ingin kekesalannya memuncak.Erin yang sedang menyiapkan alat terapi di dekat salah satu bed menatap Rama setengah tidak percaya. “Dalam situasi tadi, kamu masih memikirkan hal itu?”Tidak hanya Rama yang kesal. Erin pun sama. Kedua alisnya bertaut tidak kalah tajam. “Kalau cederamu memburuk, kamu bisa absen bertanding berbulan-bulan.”Bukan hanya proses terapinya yang akan berjalan lebih lama, tetapi juga kesempatan Rama untuk kembali bermain di lapangan. Tidakkah seharusnya pria itu menyadari hal tersebut?Keduanya masih saling bertatapan sengit sampai akhirnya Rama yang lebih dulu membuang pandangan. Dia mendengus pelan. “Kamu tidak mengerti.”“Apa yang tidak aku mengerti?” balas Erin seakan menantang Rama.Apa yang dia lakukan adalah mencoba memahami pria keras kepa
Apa mau dikata, Erin tidak punya pilihan lain selain berlari ke tengah lapangan, tepat di mana baik Rama maupun Sena masih sibuk memperebutkan bola.“Fisio Erin, apa yang kamu lakukan?” Coach Teknik terdengar panik begitu melihat wanita itu berada di jalur permainan, seakan memaksa kedua pria itu untuk menyadari kehadirannya.Sebenarnya Rama langsung bisa merasakan kehadiran sosok lain. Dari suara yang terdengar menyerukan nama Erin, demi memastikan Rama sempat menolehkan pandangan dan menukikkan alis saat benar-benar melihat wanita itu tepat ada di sampingnya.“Berikan bolanya padaku,” pinta Erin sambil mengulurkan kedua tangannya pada Sena.Mendengarnya, Sena yang sedang menggiring bola tertawa pelan. Selama lebih dari lima belas menit berduel dengan Rama, Coach Teknik yang sejak tadi berusaha menghentikkan mereka pun hanya bisa memanggil dari pinggir lapangan.Apa yang membuat fisioterapis tim ini sampai nekad untuk menghentikkan mereka?“Kamu mau ikut bermain, Fisio Erin?” goda Se
“Erin, jangan marah! Aku benar-benar tidak sengaja!”Rengekan itu membuat Erin, yang sedang menyantap makan siangnya di klinik, mengangkat pandangan dan menatap ke depan.Seorang pria dengan warna rambut blonde dan mata biru terang indah tampak memasang wajah memelas di hadapannya.“Tolong, maafkan
Lahir di keluarga yang cukup harmonis dan penuh cinta kasih, membuat Erin pernah berandai-andai, apa rasanya jatuh cinta dan dicintai seseorang?Sampai ketika dirinya masuk SMA, Erin bertemu dengan seorang Rama Mahanta. Dari sejumlah teman, Erin mengetahui satu-dua hal tentang pemuda itu. Tampan,
Erin Kayonna berdiri di depan gerbang SMA Gravion dengan satu tangan menggenggam erat dokumennya.Setelah sepuluh tahun lalu meninggalkan kota ini dengan memori buruk, Erin tidak menyangka dia malah kembali ke tempat ini lagi. Tapi, keadaan memaksa, jadi Erin tidak memiliki pilihan lain.Kesehatan
Ditanya tanpa basa-basi seperti itu, Erin berusaha menjawab dengan tenang selagi menggenggam ujung bajunya sendiri, “Aku ke sini untuk bicara padamu.” Rama tidak langsung membalas. Pria itu hanya diam menatap Erin, menunggu lanjutan penjelasannya. “Aku dengar … kamu merekomendasikan fisioterapis







